21 November 2010

‘GURU SI BASO’ DALAM RITUAL ORANG KARO:

Bertahannya Sisi Tradisional dari Arus Modernisasi
oleh Sri Alem Sembiring
Departemen Antropologi FISIP USU
Abstract

This paper aimed to describe the role of a Guru Si Baso. Guru Si Baso is a Karonese term to call an indigenous medical practitioner who roling as a ’spirit-medium’ in Karonese traditional belief. The survival of some of these traditional rituals in modern era in 21st century become an unusual phenomenon that attrackted to be talked about. Everything that talk about on this article shows that ‘magic-religious’ attitude gives impact to several Karoness. People look at this ritual as a kind of ‘shock therapy’ to remain everyone to keep the balance of soul and environment. A ritual of a ‘Guru Si Baso’ is able to create corelation physically and non-physically between ‘micro’ and ‘macro’ cosmos. This corelation gives movement and comfort feeling, peace and safety which are need by all human being.
Keywords: Guru si baso, spirit-medium

A. Pengantar

Era Globalisasi di abad XXI dan kemajuan teknologi dunia maya ternyata tidak mampu ‘melengserkan’ beberapa praktik-praktik ritual tradisional dari sekelompok orang-orang Karo yang tinggal di dataran tinggi Karo Provinsi Sumatera Utara dan juga di beberapa wilayah Kabupaten Deli Serdang. Praktik ritual tersebut berasal dari kepercayaan tradisional Karo yang dikenal dengan penyebutan pemena.46

Ritual tradisional yang dimaksudkan dalam tulisan ini merupakan ritual yang dipimpin oleh seorang atau beberapa orang wanita. Mereka terutama memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan roh gaib atau jiwa orang yang telah meninggal. Para wanita ini memiliki roh pelindung. Dalam memimpin upacara, mereka selalu berkomunikasi dengan mahluk gaib melalui keadaan kesurupan.

Bagi orang Karo, wanita ini disebut Guru Si Baso.47 Mereka berperan sebagai ‘spirit-medium’ dalam ritual yang dipimpinnya. Kesurupan yang mereka alami secara universal dikenal dengan sebutan ‘spirit-possession’.48 Bagi orang Karo disebut dengan selok. Roh pelindung yang senantiasa menyertai mereka dalam bahasa Karo disebut jenunung.49 Dalam kajian religi, jenujung dikenal dengan sebutan ‘quardiant-spirit’ atau ‘ghost-spirit’.50 Menurut Murdock (1974), dengan pengaruh ‘quardiant-spirit’ atau ‘ghost-spirit’, seorang ‘spirit-medium’ dapat menyembuhkan penyakit yang disebutnya dengan ‘soul-lost’, yaitu memanggil jiwa yang pergi meninggalkan tubuh untuk sementara waktu karena peristiwa-peristiwa khusus yang dialami seseorang. ‘Spirit –medium’ atau ‘shaman’ juga mempunyai lebih dari satu roh pelindung.

Beberapa ritual yang melibatkan Guru si Baso dan cenderung dilakukan orang-orang Karo saat ini antara lain perumah begu, raleng tendi, erpangir ku lau, ataupun perumah dibata (perumah jenujung).51 Salah satu ritual perumah jenujung dilakukan di Pancur Batu (Kabupaten Deli Serdang) 18 Agustus 2005 lalu.52 Erpangir ku lau dilakukan di Lau Debuk-Debuk di kaki Gunung Sibayak 14 Desember 2005.53 Ritual ini dilakukan setiap bulan pada hari ke 13 menurut penanggalan hari Karo yang disebut hari cukera dudu (cukera ku lau). Perumah Begu juga dilakukan beberapa warga di desa X (nama samaran) Kecamatan Juhar Kabupaten Karo.

Para guru ini juga memiliki sebuah organisasi dengan nama Sada Perarih yang merupakan Perkumpulan Guru Perjinujung Deleng Sibayak di Medan.54 Apa menariknya ritual ini dan apa manfaat yang diperoleh para partisipan dalam ritus ini sehingga keberadaannya tetap bertahan?

B. Guru dan Kepercayaan Tradisional

Dalam kepercayaan pemena, upacara ritual dipimpin oleh seorang guru. Guru merupakan sebutan bagi orang-orang tertentu yang dianggap memiliki keahlian melakukan berbagai upacara tradisional Karo, antara lain meramal, memimpin ritual, berkomunikasi dengan roh/mahluk gaib, perawatan, serta penyembuhan kesehatan.55 Ginting, J.G. menyebutkan secara harfiah guru sama artinya dengan kata guru (lehrer) dalam bahasa Indonesia, yaitu orang yang memiliki pengetahuan yang mendetail mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan. Tetapi sebagai sebuah peran cenderung diartikan dengan dukun dalam bahasa Indonesia (lihat Ginting, J.R.1990). Siebeth, A (1991: 64) menyebut guru sebagai ‘magician-priests’.

Guru dalam kehidupan orang Karo memiliki banyak klasifikasi berdasarkan keahlian dan keampuhannya.56 Salah satu di antaranya adalah guru si baso, yaitu seseorang yang dapat berhubungan dan mengundang roh gaib memasuki tubuhnya dan roh gaib itu dapat berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup melalui guru si baso yang berperan sebagai ‘spirit-medium’. Mereka juga dapat melihat mahluk-mahluk halus dari dunia gaib. Beberapa orang Karo menyebut mereka dengan sebutan guru perjenujung (guru perjinujung). Jenis guru ini cenderung tidak memiliki keahlian meramu obat dari tumbuhan.

Pentingnya peran guru dalam kepercayaan tradisional Karo tidak hanya dalam kegiatan yang berhubungan dengan roh gaib dan ritual, ataupun suatu kompleks penyembuhan, guna-guna dan ilmu gaib. Seorang guru berfungsi untuk mencapai kembali keseimbangan (‘equilibrium’) bagi kelompok warganya. Dalam fungsi ini, guru punya banyak pengetahuan tentang alam semesta (‘kosmos’).57 Keseimbangan ‘kosmos’ yang terusik dengan sengaja atau tidak oleh manusia harus segera dikembalikan ke kondisi semula. Keseimbangan perlu diciptakan dalam diri manusia sendiri sebagai sebuah ‘mikro-kosmos’ (semesta kecil) untuk menciptakan suasana kedamaian hati dan kesehatan. Sementara, keseimbangan dalam konteks yang lebih luas dengan lingkungannya sebagai sebuah ‘makro-kosmos’ juga perlu diciptakan untuk kesejahteraan bersama, keberhasilan usaha, dan mencegah bencana alam.

Konsepsi tentang ‘kosmos’ menurut kepercayaan tradisional Karo menyatakan bahwa alam semesta sudah terbentuk sejak Dibata (Tuhan) menciptakan manusia dan dunia. Si nasa lit (segala yang ada) dikuasai oleh Dibata. Alam semesta merupakan satu kesatuan menyeluruh yang dapat dibagi secara vertikal (tegak lurus) dan horizontal (mendatar). Secara vertikal, alam dibagi ke dalam tiga bagian yang disebut benua; benua atas dikuasai oleh Dibata Atas, benua tengah dikuasai oleh Dibata Tengah, dan benua teruh yang dikuasai oleh Dibata Teruh. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang disebut Dibata Si Telu sebagai tritunggal atau penguasa tunggal. Secara horizontal, alam semesta dibagi ke delapan penjuru mata angin.

Orang-orang Karo juga sangat dekat dengan suatu bentuk kepercayaan atau keyakinan terhadap tendi (jiwa).58 Tendi dipandang sebagai sebuah kehidupan jiwa yang keberadaannya dibayangkan sama dengan roh-roh gaib. Alam semesta dikuasai oleh sekumpulan tendi. Setiap titik dalam alam semesta mengandung tendi. Dunia gaib disebuit juga dunia pertendin. Tendi juga adalah sebutan untuk roh manusia yang masih hidup. Jika orang itu telah meninggal, tendinya akan berubah menjadi begu (roh).

Sebuah ritual akan dilakukan apabila terjadi ketidakseimbangan antara tubuh-tendi jiwa-perasaan, nafas, dan pikiran dalam diri seseorang sebagai sebuah semesta kecil (‘mikro-kosmos’). Ketidakseimbangan ini kan menyebabkan berbagai kerugian, seperti; bangger (sakit), mara (malapetaka) dan akhirnya kematen (kematian). Daya pikiran manusia dianggap bertanggungjawab ‘ke luar’ guna menjaga keseimbangan dalam diri manusia dengan keseimbangan luar sebagai ‘makro-kosmos’ (alam semesta) yang meliputi dunia gaib, kesatuan sosial, dan lingkungan alam sekitar. Keseimbangan alam semesta ini akan terganggu jika terganggunya beberapa inti kehidupan (beraspati) : inti kehidupan tanah, air, udara, dan rumah.59

Salah satu contoh dari ketidakseimbangan dalam diri seseorang adalah jika terjadi sebuah kemalangan (kematian) dari salah satu anggota keluarga. Ritual perumah begu akan dilakukan untuk mengatasinya. Apa yang dilakukan seorang guru si baso dalam ritual tersebut, peristiwa apa saja yang terjadi dalam ritual itu?

C.Guru Si Baso dan Perumah Begu

Perumah begu bagi orang yang baru saja meninggal dunia dilakukan pada malam pertama setelah mayat dikebumikan. Pada awal upacara, Si baso akan melakukan tahap awal upacara yang bersifat menegaskan perbedaan dunia antara manusia dan roh orang meninggal. Selama prosesi ritual, si baso memainkan dua peran penting, yaitu sebagai ‘master of ceremony’ atau pemimpin utama ritual dan juga berperan sebagai ‘story teller in dramatical ritual’. Si baso sebagai penceritera kembali kisah hidup dari orang yang baru meninggal.

• Si Baso sebagai ‘Master of Ceremony’

Sebelum upacara memasuki tahap inti, si baso meminta izin pada beberapa inti kehidupan (nini beraspati) sebagai penguasa alam dan memanggil jenujungnya hingga ia berhasil mencapai keadaan ‘possessed’ (kesurupan). Nyanyian guru si baso memanggil jenujung adalah memanggil raja kepultaken dan raja kesunduten (penguasa matahari terbit dan penguasa matahari terbenam):

“Enda maka kurudangken rudang kapias, ras pe rimo malem. Kuturangken kam melias dapet ate malem. O…turang rudang kapias rudang tara tinggi, e bandu kepe rudangta. Mare nini raja keputaken berkat kam kerina raja kesunduten, maka si dungi dahinta. Adi la kam reh la aku beloh. Kuleboh kel kam kerina, masok kel kam kerina ku dagingku, adi la kem reh la aku beloh ermag-mag.”

(Ini telah kubungakan bunga kapias, juga jeruk kesejukan. Kujadikan kamu saudara yang baik untuk mendapat perasaan damai. O… saudara bunga kapias bunga tara tinggi kiranya itu jadi bunga kita.. Mari penguasa matahari terbit berangkatlah kamu beserta penguasa matahari terbenam, supaya kita selesaikan pekerjaan kita. Jika kamu tidak datang tidak mampu aku melakukannya sendiri. Kupanggil kamu semua masuklah ke dalam tubuhku, kalau kamu tidak datang tidak mampu aku bercerita dan bernyanyi).

Kehadiran jenujung ditandai dengan perubahan prilaku guru; memicingkan mata karena merasa ada sinar yang sangat terang dan menyilaukan, badannya terasa panas, seolah-olah merasa diawang-awang, tubuhnya bergetar dan tiba-tiba sangat gembira sambil berkata “ih… kai ndai tenahndu, enda aku enggo reh” (ih…apa pesan anda, ini aku sudah datang). Guru si baso dapat langsung menari, memakan sirih, atau meminta rokok. Jenujung ini yang akan memanggil para roh keluarga yang telah meninggal dari dunia kematian. Roh keluarga itu akan memasuki tubuh guru si baso kemudian berkomunikasi dengan keluarganya yang menyelenggarakan ritual.

Ritual ini dimulai malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dan berakhir pukul 09.00 WIB keesokan harinya. Selama acara berlangsung, si baso memimpinnya dengan bernyanyi.60 Lirik dan nada lagu sangat menyentuh dengan tone tertentu untuk menggugah perasaan peserta ritual. Dalam proses komunikasi dengan arwah melalui tubuh guru si baso, adakalanya juga terjadi pemeriksaan penyakit untuk keluarga yang masih hidup ataupun ramalan akan keberhasilan, penyakit, atau malapetaka yang akan dihadapi. Ramalan ini dilakukan oleh arwah yang memasuki tubuh si baso dengan menggunakan media sebutir telur ayam negeri yang disebut tambul.

Si baso juga berperan sebagai perantara antara dua kerabat yang berselisih paham. Dalam hal ini, peran si baso sebagai perantara perdamaian untuk dua kelompok kerabat yang berkonflik. Begu (roh) atau arwah yang memasuki tubuh si baso bertindak sebagai juru damai dan memberi beberapa nasihat.

• Si Baso sebagai ‘Story Teller in Dramatical Ritual’

Peran sebagai penceritera kembali kisah hidup dari orang yang telah meninggal ini dilakukan pada saat begu yang datang adalah orang yang baru dikebumikan pada sore harinya. Dalam keadaan kesurupan, si baso akan berkisah mengenai dirinya dengan tokoh aku (saya). Aku yang dimaksud adalah diri si begu (roh) yang datang memasuki tubuh si baso. Kisah yang dipaparkan dapat dikelompokkan dalam tiga bagian. Pertama mengenai pribadi aku, kisah antara aku dan kerabat, dan mengenai harapan-harapan aku. 61

Suasana dalam ritual ini terlebih dahulu dikondisikan oleh si baso agar peserta ‘siap’ menerima kedatangan begu (roh) yang baru saja meninggal. Penciptaan suasana dramatis, mengharukan dan sedih ini diciptakan dengan tujuan agar seluruh peserta upacara, khususnya pembuat ritual merasa kebutuhan batinnya terpenuhi. Si baso harus dapat bernyanyi dengan bagus dan merangkai kata-kata untuk menciptakan suasana gaib di ritual tersebut. Suasana ini dibutuhkan untuk menciptakan ‘keterbukaan’ agar para penyelenggara dapat meluapkan segala sesuatu yang mengganjal perasaannya selama ini untuk semua masalah yang berhubungan dengan orang yang baru meninggal itu semasa hidupnya.
 
Setelah semua roh keluarga selesai berkomunikasi dengan keluarga yang masih hidup, jenujung kembali memasuki tubuh guru si baso dan berkomunikasi dengan peserta upacara untuk menanyakan kepuasan mereka. Selesai bertanya dan setelah semua merasa puas, jenujung akan bernyanyi kembali dengan gembira seperti nada pantun;

“Iket-iket rimo padang….ale padang mardokan-dokan. Inget-inget enggo longge, enggo mbuah kerina bibi diang pertubuh. O…keltah- keltuh, terung gedang, lampas empo teruh medem…jenujungku rudangku rudang kapias, kuturangken kam melias dapet ate malem. O…bibi nande mulih ku kalang ulu, temalem-temalem.”

Ungkapan-ungkapan jenujung ini berupa ungkapan kegembiraan hati karena kesuksesan upacara. Terakhir sekali guru si baso mengangkat kedua tangannya dan menutupkan ke wajahnya untuk beberapa detik (sekitar 7 detik). Kemudian membukanya kembali. Guru si baso telah sadar dari keadaan kesurupan. Jenujung telah keluar dari tubuhnya dan upacara telah selesai. Guru si baso telah menjadi dirinya sendiri.

D. Guru Si Baso Sepanjang ‘Life-Cycle’

Guru si baso memiliki peran penting sepanjang daur hidup. Seorang dukun beranak juga disebut sebagai guru si baso. Proses kelahiran manusia baru dipandang sama dengan datangnya sesuatu dari dunia gaib (rahim ibu) ke dunia nyata (dunia manusia). Kelahiran merupakan awal kehidupan suatu tendi baru. Pemotongan tali pusat dipandang sebagai sebuah legitimasi pemutusan hubungan dengan dunia gaib. Manusia baru telah hidup di dunia nyata dan tendinya adalah milik pribadinya seutuhnya.

Selama masa pertumbuhan hingga dewasa, jika terjadi gangguan kesehatan fisik atau gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan ketidakseimbangan dari tendi (jiwa), maka guru si baso akan berperan dalam proses penyembuhan. Beberapa ritual yang dipimpin si baso , seperti: raleng tendi atau ndilo tendi, ngombak belo, erpangir ku lau, perumah dibata/jenujung, nuan galoh, buah huta-huta,muncang/ngeluncang, mulahken manok, dan upah tendi.62

Dalam kasus penyakit yang disebabkan karena kehilangan tendi untuk sementara. Seorang guru si baso akan melakukan diagnosis penyebab sakit dan metode penyembuhannya dengan bertanya pada jenujungnya melalui suara siulan di lehernya (i sendongken). Si baso harus tahu apakah sakit itu disebabkan campur tangan pihak luar seperti guna-guna, roh jahat, atau karena kondisi fisik tertentu si pasien, bagaimana proses kejadiannya (apakah melanggar tabu, mempunyai musuh), kapan gejala dimulai, serta di mana kejadian pertama sekali. Perlu juga informasi mengenai latar belakang keadaan fisik, keturunan (apakah dari keluarga guru atau orang biasa), persoalan keluarga dan masalah dalam hubungan kekerabatan, kondisi ekonomi, dan beberapa hal-hal lain yang dipandang perlu oleh guru si baso.

Setelah seseorang meninggal, maka guru si baso juga berperan melalui ritual perumah begu. Bahkan apabila akan dilakukan upacara memindahkan tulang-belulang dari makam lama ke geriten,63 guru si baso juga memimpin ritualnya dengan nama ngampeken tulan-tulan. Perpindahan makam dipandang sebagai suatu perpindahan tempat juga bagi begu (roh) orang yang telah meninggal itu. Roh itu harus kembali diintegrasikan dalam tempat peristirahatan terakhirnya yang baru.

Guru si baso akan menyanyi dan menari dalam memimpin upacara ini sembari menjujung sekumpulan tulang-belulang leluhur di atas kepalanya. Roh pemilik tulang tersebut diharapkan mengikuti langkah guru si baso menuju geriten baru. Selesai acara ini, maka akan dilakukan perumah begu pada malam harinya, khusus bagi begu (roh) yang dipindahkan tulangnya.

E. Fungsi Sosial Guru Si Baso
Sebagai seseorang yang memiliki kekuatan supranatural, seorang guru si baso memiliki fungsi untuk pemenuhan kebutuhan rohani bagi warganya. Sebagai penyambung rasa antara manusia dan Dibata la idah (Tuhan penguasa alam semesta yang tidak kelihatan), seperti pada ritual mere buah huta-huta atau muncang.

Sebagai orang yang menguasai pengetahuan tentang kosmos (alam semesta), guru si baso juga berfungsi sebagai biak penungkunen (biro konsultasi). Warga akan meminta penjelasan mengenai mimpi mereka, peristiwa aneh yang dialami, dan mengharapkan nasehat-nasehat sebagai tindakan lanjutan. Nasehat terutama sangat dibutuhkan dalam kasus konflik antarwarga atau antar kerabat. Jika kasus terjadi dalam lingkup kerabat dekat, si baso akan menyarankan diadakannya perumah dibata dan disusul dengan perumah begu pada malam harinya dengan hanya melibatkan kerabat terdekat yang bersengketa. Fokus dalam acara diarahkan pada penyelesaian konflik. Dalam kasus ini, si baso juga berfungsi sebagai pengikat solidaritas sosial.

Selain menjaga keseimbangan (equilibrium) dalam diri manusia, secara tidak langsung si baso juga berperan menjaga keseimbangan berjalannya norma dan nilai adat-istiadat. Pergeseran norma dan nilai adat dapat menjadikan jalannya adat menyimpang dan menyebabkan para leluhur marah dan mencelakakan manusia.

Dalam kasus kesehatan, si baso juga berperan sebagai penyembuh tradisional. Ritual penyembuhan ditentukan setelah tahap konsultasi dengan jenujung. Dalam beberapa kasus penyakit tertentu, si baso juga bekerjasama dengan jenis guru lain, misalnya guru pertawar (penyembuh yang menggunakan ramuan-ramuan tradisional) jika si baso merasa si pasien memerlukan ramuan tumbuhan untuk diminum atau dimakan.

F. PENUTUP

Peran Guru si baso demikian kompleks dalam kehidupan tradisional orang Karo. Sebagai ‘spirit-medium’, si baso tidak hanya menjadi perantara antara dunia manusia dengan dunia gaib, melainkan juga perantara di antara sesama manusia untuk menciptakan kembali keseimbangan dalam kehidupan sosial budaya. Mengingat ritual yang dipimpinnya berhubungan dengan menjaga dan menciptakan kembali keseimbangan jiwa (tendi), maka keuntungan yang diperoleh para penyelenggara ritual berorientasi dengan hal-hal seperti, rasa aman, rasa senang, rasa tenang, rasa bangga. Orang karo menyebutnya dengan ukur malem (pikiran tenang), malem ate (kesejukan hati), malem pusuh (perasaan tenang) sehingga tercipta kondisi sehat sejahtera lahir dan batin (mejuah-juah).

Daftar Pustaka

Favazza, A.M. dan M. Oman.“Anthropology and Psychiatri.” Dalam H.I. Kaplan, A.M.Freedman, B.J.Sodock, (eds). Comprehensive Textbookof Psychiatri/III Vol. 1Baltimore-London: William and Wilkins. Hal. 492-494.

Ginting, Juara. G. 1986. Pandangan Tentang Gangguan Jiwa dan Penanggulangannya secara Tradisional pada Masyarakat Karo. [Skripsi]. Fakultas Sastra USU.

---------------------- 1990. “Karo Guru and His Practices.” Artikel untuk Katalog Museum Stuttgard-Jerman.

Karo, Karmila. 2005. ”Ritual Perumah Jenujung di Pancurbatu.” Dalam Tabloid Sora Mido edisi XIX/II, hal.10.

Neuman, J.H. 1910. “De Bataksche Guru.” Dalam „Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap.” Hal 1-18 dalam Juara R.Ginting Pandangan tentang Gangguan Jiwa dan Penanggulangannya secara Tradisional pada Masyarakat Karo. [Skripsi]. Fak. Sastra USU.

Pettit, George A. 1966. “The Vision Quest and The Quardiant Spirit” dalam Reading in Anthropology. USA: Mc.Graw – Hill Book Company.

Sembiring, Sri Alem. 1992. Guru Si Baso: Peranan dan Fungsi Sosial Dukun Wanita sebagai Spirit di Lingkungan Sosial Masyarakat Karo. [Skripsi]. Universitas Sumatera Utara.


------------------------- 2005. “Sinetron dan Jenujung: Universalkah?” Dalam Tabloid Sora Mido edisi XXI/II, hal.3.

Sibeth, Achim. 1991. The Batak: People of the Island of Sumatera with Contributions by Uli Kozok dan Juara R.Ginting. London: Thames and Hudson Ltd.

Siti Dahsiar, A. 1976. “Shamanisme di Jepang.” Dalam Berita Anthropogy, Thn VIII No.20, Januari. Jakarta.

Spradle, James P. dan David W. Mc Curdy. 1975. Anthropology: The Cultural Perspective. New York:John Wiler &Sons, Inc.

Tarigan, H.G. 1990. Percikan Budaya Karo. Bandung: Yayasan Merga Silima.

Tarigan, Ita Apulina. 2005. “Suatu Hari Cukera Dudu di Lau Debuk-debuk.” Dalam Tabloid Sora Mido, edisi XXIII/II, hal.12.
 
Catatan kaki :
46 Pada awalnya, kepercayaan tradisional Karo disebut dengan Perbegu. Kata begu dalam bahasa Karo berarti mahluk halus, yaitu keyakinan kepada mahluk halus Untuk menghindari pemahaman yang salah akan kata begu dalam pengertian hantu/setan atau penyembahan kepada setan atau hantu, maka penyebutan perbegu diganti menjadi pemena Pemena berarti asli yang berasal dari kata bena yang berarti awal/asli. Dengan demikian pemena berarti kepercayaan yang asli (pertama) dari orang Karo sebelum masuknya pengaruh agama baru seperti Katolik, Kristen Protestan, Islam, Hindu dan Budha (lihat juga dalam Tarigan, H.G 1988)


47 Tulisan Siti Dahsiar A “Shamanisme di Jepang” (1976) mengemukakan bahwa 99% dari para ‘shaman’ atau ‘spirit-medium’ adalah wanita dan struktur pemanggilan roh dengan jalan kesurupan.

48 Menurut Foster dan Anderson (1986:125), terdapat perbedaan antara ‘spirit-medium’ dan ‘shaman’. ‘Spirit-medium’ merupakan orang yang berperan sebagai perantara antara manusia dengan dunia gaib, yang mana roh gaib tersebut dapat memasuki tubuhnya. Sedangkan ‘shaman’ adalah seseorang yang jiwanya dapat pergi ke alam gaib. Oleh karena itu secara konseptual, kesurupan yang mereka alami berbeda. Kesurupan pada ‘spirit-medium’ disebut ‘spirit-possession’ dan kesurupan pada ‘shaman’ disebut ‘trance’. Selain itu, Favazza dan Oman (n.d): 492-494) menjelaskan bahwa ‘trance’ merupakan keadaan kesurupan yang dicapai dimana seseorang itu memberitakan pengalaman pribadinya dari keadaan jiwanya yang ke luar dari tubuhnya ke alam gaib (trance, a private experience of the person). Sedangkan, ‘spirit-medium’‘spirit-possession’ melibatkan penerimaan orang lain dalam dirinya yang menyebabkan Dia kemasukan roh.

49 Lihat tulisan Sembiring, Sri Alem “Sinetron dan Jenujung: Universalkah ?” dalam Tabloid Sora Mido edisi XXI/II hal.3.

50 Lihat dalam Pettit, George A (1966:237-243)

51 Perumah begu adalah ritual yang bertujuan untuk memanggil kembali roh orang yang telah meninggal (begu). Releng tendi adalah ritual yang memanggil kembali roh orang yang masih hidup (tendi) yang ke luar dari tubuh disebabkan suatu peristiwa khusus dan menyebabkan si pasien sangat terkejut atau karena peristiwa yang tidak diduga-duga. Pasien akan bertingkah laku tidak seperti biasanya, dapat menjadi sangat pendiam dan tidak menghiraukan apa pun terjadi di sekitarnya atau pasien menjadi tertawa sendiri, menangis secara tiba-tiba, atau marah tanpa sebab. Jiwanya dianggap ke luar dari tubuh dan tinggal pada tempat tertentu dikuasai atau dipenjarakan roh gaib tertentu. Erpangir ku lau atau berlangir merupakan ritual untuk menyembuhkan penyakit tertentu atau dilakukan sebagai rentetan dari acara perumah dibata sebagai sebuah ucapan syukur terhadap roh gaib tertentu.Perumah dibata adalah ritual memanggil seluruh roh gaib pelindung dari suatu keluarga atau seorang individu sebagai ucapan terimakasih karena telah melindungi suatu kelurga (kata Dibata secara harafiah berarti Tuhan, tetapi dalam ritual ini berarti roh gaib yang menjaga keluarga).


52 Lihat laporan Karmila br Kaban (2005) ”Ritual Perumah Jenujung di Pancurbatu” dalam Tabloid Sora Mido edisi XIX/II hal.10.

53 Lihat laporan Ita Apulina Tarigan (2005) “Suatu Hari Cukera Dudu di Lau Debuk-debuk” dalam Tabloid Sora Mido edisi XXIII/II hal.12.

54 Lihat laporan Ita Apulina Tarigan (2005) “Suatu Hari Cukera Dudu di Lau Debuk-debuk” dalam Tabloid Sora Mido edisi XXIII/II hal.12.

55 Dalam tulisannya berjudul “De Bataksche Guru” dalam Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, J.H. Neumamnn (1910: 1-18) memandang guru sebagai suatu kumpulan informasi; ahli sejarah, ahli penyembuhan, ahli teologi, ahli ekonomi dan juga merupakan suatu ‘ensiklopedi’ yang mengembara di tengah-tengah masyarakat (dalam Ginting, Juara.R. 1986)

56 Lihat dalam Ginting, Juara.G. “Karo Guru and His Practices.” Artikel untuk Katalog Museum Stuttgard-Jerman, 1990.p.1. Juga lihat dalam Sembiring, Sri Alem. Guru Si Baso: Peranan dan Fungsi Sosial Dukun Wanita Sebagai Spirit Medium di Lingkungan Sosial Masyarakat Karo. Skripsi Sarjana.1992. USU.Tidak dipublikasikan.
 
57 Sebagaimana yang dituliskan Spradley dan Mc. Curdy dalam bukunya Anthropology: the Cultural Perspective: “Religion is the Cultural Knowledge of the Supranatural that People Use to Cope with the Ultimate Problems of Human existence.1975.p.423-432.


58 Lihat juga dalam Siebeth, A. (1991: 66-75). Tendi dijelaskan sebagai sebuah konsep yang kompleks dari orang Karo dan sulit mencari padanan katanya dalam bahasa Inggeris jika disesuikan dengan konsep lokal.

59 Dalam ornamen Karo, nini beraspati dilambangkan dengan seekor cecak putih yang dianggap sebagai pelindung manusia.
 
60 Selama acara berlangsung, si baso tidak boleh makan, hanya minum sesekali saja.


61 Aku dalam bahasa Karo berati saya. Aku yang dimaksud adalah sebutan bagi diri si begu yang baru meninggal untuk menyebut dirinya melalui si baso sebagai medium. Si baso yang telah kerasukan roh aku akan menceiterakan ulang sejarah hidupnya, suka dukanya dengan gaya bahasa yang sangat menarik, penuh dengan perumpamaan. Semuanya dilakukan dengan nyanyian.
 
62 Lihat dalam Sembiring, Sri Alem Guru Si Baso: Peranan dan Fungsi Sosial Dukun Wanita Sebagai ‘Spirit-Medium’ di Lingkungan Sosial Masyarakat Karo. Skripsi Sarjana.1992. USU.Tidak dipublikasikan.


63 Geriten adalah suatu bangunan yang dibuat megah sebagai makam (seperti tugu pada orang Batak Toba). Model bangunan geriten tradisional dibuat sama dengan rumah adat karo. Bangunan ini merupakan tempat menyimpan tulang-belulang seorang leluhur atau beberapa orang leluhur sebagai penghormatan.
 
sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15280/1/etv-des2005-%202.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar