08 Desember 2011

“Pasar Baru” Menuju Kabanjahe Menghantarkan Dunia Baru


Bis milik Deli Spoor di Brastagi
Autobus van de Deli Spoorweg Maatschappij bij Brastagi
Date 1900-1940
Source Tropenmuseum
Sampai tahun 1909, diperlukan setidaknya 3 hari untuk pergi dari Medan ke dataran tinggi di utara Danau Toba. Biasanya perjalanan dimulau dengan kereta api sampai Deli Tua, dilanjutkan dengan kereta sampai perbatasan perkebunan Belanda, kemudian jalan kaki sampai Buluh Hawar, kantor pusat misi (missionaris) Belanda, dan akhirnya sampai di pintu dataran tinggi di Cingkem. (1)

Tahun 1906, pemerintah Kolonial memulai pembangunan sebuah jalan menuju Kabanjahe di dataran tinggi melalui Arnhemia, Sibolangit, Bandar Baru dan Brastagi. Jalan itu selesai 3 tahun kemudian, dan Kabanjahe pun hanya beberapa jam perjalanan mobil jaraknya dari Medan.

Pekerja-pekerja pembangunan jalan di Karo
Wegaanleg door koelies naar de Karohoogvlakte, Sumatra
Source Tropenmuseum
Pembangunan jalan di Tanah Karo
Arbeiders werken aan de aanleg van wegen in de Karolanden, Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum
Poros Kabanjahe-Medan, yang disebut “pasar baru,” dalam arti “jalan baru,” dengan cepat dipenuhi oleh ratusan gerobak sapi yang dapat mengangkut orang (2) dan beban menuju dataran rendah sampai 16 kali lipat beban yang dapat diangkut  seorang pengangkut. (3)

Sekitar tahun 1909 itu juga dibuka jalan raya menuju dataran tinggi sebelah barat, antara Kabanjahe dan Kuta Bangun melalui Sarinembah, dan menuju dataran tinggi bagian selatan, dari Kabanjahe juga ke arah Saribu Dolok kemudian ke Pematangsiantar.

Tahun 1914, empat perkebunan membuka layanan bis dua kali seminggu antara Arnhemia dan Brastagi. Dua tahun kemudian Deli Spoor memperpanjang jalur sampai Kabanjahe. Jumlah penumpang selama tahun pertama setelah jalur dibuka mencapai 3.600 orang, dan tahun 1918 jumlah itu sudah melebihi 6.300 orang. (4)
Deli Spoor membuka layanan hingga Kabanjahe
Date 1910-1921
Source Tropenmuseum
Mulai tahun 1917, jalur perhubungan pesisir timur-pesisir barat menjadi lebih mudah. Dari Medan, Pematangsiantar dapat dicapai lewat jalan raya atau dengan kereta api, dan dari sana perjalanan dapat dilanjutkan melalui jalan raya menuju Prapat di tepi Danau Toba. (5a) Tersedia dua kapal motor (5b) untuk pergi ke Balige. Dari sana perjalanan dapat dilanjutkan sampai Barus, Sibolga atau Fort de Kock dengan mobil gouvernement Tapanuli.

Tobaweg (Pematangsiantar-Balige) dibuka tahun 1922 dan empat tahun kemudian dapat dilakukan perjalan mobil dari Kuataraja (Aceh) ke Padang (gouvernement Pesisir Barat). Sementara itu jalur kereta api antara Deli dan Aceh sudah dibuka sejak Desember 1919.

Dibukanya jejaring baru perhubungan itu membawa sejumlah dampak penting. Yang pertama adalah semakin banyaknya orang yang berjalan dari dataran rendah ke dataran tinggi. Sejak saat itu, lebih banyak perempuan dan anak gadis dari dataran tinggi melakukan perjalanan. (6)

Dengan dibukanya jejaring baru perhubungan itu, hilanglah jejaring sebelumnya yang bertumpu pada orang pengangkut. Bersamaan dengan itu, di dataran tinggi muncullah suatu daerah pertanian berdasarkan budi daya sayur mayur Eropah yang dimaksudkan untuk memasok kebutuhan di Medan dan untuk ekspor.

Sebelumnya Bataksch Institut didirikan tahun 1908 di Leiden, yang tujuannya mengembangkan “Tanah-tanah Batak” dengan mengirimkan seorang ahli pertanian ke dataran tinggi tahun 1911 untuk mengajarkan metode rasional budi daya sayuran yang hasilnya ditujukan untuk memasok Medan.

Strategi ini tentunya berkaitan dengan keberadaan “pasar baru” yang menghubungkan Kabanjahe dan Medan sejak 1909. Mulai tahun 1914, produksi bulanan kebun-kebun kentang yang terhampar di antara Brastagi dan Kabanjahe sudah mencapai 150 ton. Dibukanya jalur bis antara Medan dan Kabanjahe tahun 1915 memungkinkan pengakungkutan hasil pertanian ke pesisir dengan cepat.

Tahun 1916, kentang yang dikirim ke Penang sebanyak 972 ton, ke Singapuran sebanyak 1.036 ton dan 131 ton ke pulau-pulau lain.  (7)

Tahun ini dimulailah budi daya kol. Ternyata, pada awalnya pertanian kol dilakukan oleh orang Tionghoa yang datang menyewa tanah di dataran tinggi. Kemungkinan besar mereka tertarik dengan keberhasilan pertanian kentang. Sepuluh tahun kemudian, Belanda mengekspor lebih dari 4.000 ton kentang dan lebih dari 2.000 ton kol yang berasal dari dataran tinggi. (8)

Perdagangan memang tetap dikuasai oleh orang Tionghoa, tetapi mulai pertengahan tahun 1920-an pekebun sayur Tionghoa semakin disaingi oleh pekebun setempat. Penduduk setempat sendiri mendapat saingan dari pekebun asal utara Tapanuli yang tertarik oleh keuntungan yang diperoleh dari aktivitas pertanian baru itu. (9)

Pembukaan daerah pertanian baru diiringi dengan berkembangnya bank-bank koperasi kampung (dorpbanken) yang muncul tahun 1916 atas inisiatif pemerintah kolonial. Onderafdeeling Karolanden sudah mempunyai 16 buah Bank. (10)

Middendorp mengelola pembukaan bank-bank itu yang bertujuan memberikan pinjaman untuk keperluan membuka sawah, bercocok tanaman sayur dan berternak. (11) Sepuluh tahun kemudian, jumlah bank sejenis sudah mencapai 26 buah, sementara modalnya meningkat dari 4.510 gl. menjadi 35.485 gl. (12)

Budi daya sayur di dataran tinggi berkembang berkat dibukanya jalan yang menghubungkan dataran tinggi dan Medan, bersama itu juga mendorong pembangunan Kabanjahe dan Brastagi.

Pembukaan poros jalan itu, membuat ketertarikan pada orang-orang Eropah itu akan keindahan alam dan kesejukan iklimnya. Sejak akhir dasawarsa pertama abad ke -20, Brastagi menjadi tempat peristirahatan dan pariwisata. (13)

Perkembangan-perkembangan pesat itu diiringi dengan munculnya elit-elit baru. Yang khusus di antaranya adalah pemilik-pemilik tanah yang menyewakan lahan kepada orang –orang Tionghoa dan orang Tionghoa itu sendiri, yang pada mulanya bertani dan berdagang, kemudian bertumpu pada perdagangan.

# Tulisan ini dipetik dari buku “Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur laut” karangan Daniel Perret (2010) halaman 283-287.

Catatan Kaki :
(1) Veth, 1877, hlm. 167
(2) Tahun 1912, tercatat ada 150 gerobak sapi di dataran tinggi (Quast, Mvo Simalungun en Karolanden, 1913, hlm.69)
(3) Quast, Mvo Simalungun en Karolanden, 1913, hlm. 68 ; Bodaan, 1913, hlm. 157 : Joustra, 1915, hlm. 2 ; Middendorp, 1929, hlm. 63.
(4) Broersma, 1919-1922, jil. 2 hlm. 285
(5a) Tahun 1917, gouvernement Pesisir Timur mencatat ada 656 mobil dan 5g truck yang terdaftar (Pewarta Deli 26/03/1917)
(5b) Yang satu milik Pemerintah Simalungun, yang lain milik S.N Mohamad marican, kapitan orang Keling di Siantar (Pewarta Deli 12/04/1920)
(6) Joustra, 1915 hlm. 2
(7) Joustra, 1918, hlm. 22
(8) Brouwer, Mvo Karolanden, 1927, hlm. 42-43
(9) Ezerman, Mvo Simalungun en Karolanden, 1926, hlm. 16 ; Hollman, Mvo Karolanden, 1933, hlm. 20 dan 36 ; Luckman Sinar (wawancara, 08/1990). Tahun 1951, satu pikul kentang dijual seharga 5-6 gulden (ENI, 1918, jil. 2, hlm. 278).
(10) Winckel, Mvo Deli-Serdang, Bijlage C, 1924, hlm. 3
(11) PewDeli, 07/11/1919
(12) Brouwer, Mvo Karolanden, 1927, hlm. 60-61.
(13) Inisiatifnya berasal dari Joost van Vollenhoven, saat itu pengelola utama Deli-Maatschappij, yang membangun rumah gaya Eropa pertama di sana tahun 1907 (Berg, Mvo Karolanden, 1934, hlm. 11)

2 komentar:

  1. Hebat kali. Ini adalah sejarah awal transportasi di Sumatera Utara. Dan mulai berkembangnya usaha pertanian sayur mayur di Tanah Karo.
    Salut.

    Bernat Padang

    BalasHapus