26 November 2012

Anak Desa Jadi Profesor, Profil Prof.Dr.Ir.Meneth Ginting, MADE


 
Prof.Dr.Ir.Meneth Ginting, MADE

CAWIR PURNABAKTI GURU BESAR

1. Anak Desa Jadi Profesor

Pak Meneth Ginting yang telah menjadi Guru Besar (Profesor) tahun 2002 dan dikukuhkan tahun 2003, lulus Sarjana (S1) dari Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), S2 dari Australian National University (ANU) Canberra dan S3 diperoleh dari Institut Pertanian Bogor.

Banyak jabatan yang telah dipegang Pak Meneth Ginting (lihat Curriculum Vitae), sebelumnya beliau pernah menjabat Ketua Survey Agro Ekonomi Indonesia (SAEI) Sumatera Utara, Penasehat Bappedasu, Risearch Fellow Asian Studies Australian National University (ANU) Canberra, Deputy Ketua Tim Pembangunan Desa Pantai Sumatera Utara, Ketua Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) USU, Dekan Fakultas Pertanian USU dan Bupati Kabupaten Karo.

Jabatan beliau sekarang adalah : (1) Dosen Tetap Fakultas Pertanian USU, (2) Dosen Pascasarjana Agribisnis Fakultas Pertanian USU, (3) Dosen Pascasarjana Jurusan Perencanaan Wilayah dan Desa (PWD), (4) Dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jurusan Ekonomi Islam, (5) Rektor Universitas Quality (d/h Universitas Karo-UKA), (6) Koordinator Dewan Pakar Badan Koordinasi Pembangunan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT), (7) Anggota Ahli Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Utara, (8) Anggota Pembina Penyuluhan Kabupaten Pakpak Bharat, (9) Anggota Yayasan Leuser International (YLI).

Catatan :
(6) dan (7) berdasarkan SK Gubernur Provinsi Sumatera Utara dan (8) berdasarkan SK Bupati Kabupaten Pakpak Bharat.

Saat ini Pak Meneth Ginting akan menjalani masa Purnabakti Guru Besar USU setelah umur beliau 70 tahun (15 Juli 2010) dengan pangkat Pegawai Negeri Sipil (PNS) : IV/E.

Gambaran usia lanjut mulai jelas terlihat : kaca mata tebal, rambut putih merata namun terlihat bahwa Pak Meneth Ginting tetap sehat dan semangat. Beliau secara rutin memeriksa kondisi kesehatannya. Rutinitas beliau tidak banyak berubah dalam beberapa tahun ini, kegiatan mengajar, memberikan konsultasi, ceramah dan lainnya. Satu hal yang patut menjadi contoh bahwa Pak Meneth Ginting selalu tepat waktu. Pernah beliau katakan bahwa waktu yang terkelola dengan baik tidak membuat kita terlambat. “Terburu-buru membuat kita stress, hasil kerja tidak maksimal, jalan keluarnya adalah ketepatan mengelola waktu”, kata beliau.

Sehari-hari beliau tetap melakukan olah raga teratur wai tan kung atau jalan pagi, membaca dengan rutin, makan teratur dan komunikasi dengan keluarga tetap terjalin harmonis. Mungkin dengan rutinitas inilah membuat Pak Meneth Ginting tetap sehat dan semangat.

Pak Meneth Ginting dilahirkan pada tanggal 15 Juli 1940 di Desa Bukit Karo Kecamatan Tiga Lingga Kabupaten Dairi Sumatera Utara. Putra pertama dari pasangan H. Imaddullah Panegoh Ginting dan Hj. Tetap Malem br Tarigan. Pak Meneth Ginting memulai pendidikan dasar yang dulu disebut Sekolah Rakyat di Desa Bukit Karo Tigalingga, SMP di Sidikalang dan SMA di Kabanjahe. Setelah tamat SMA, Pak Meneth Ginting melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Sumatera Utara dan tamat tahun 1966.


Tahun 1976 mengikuti Program Pasca Sarjana di Development Study Centre Australian National University (ANU) Canberra dan memperoleh gelar Master of Agricultural Development Economics (M.A.D.E) tahun 1978. Tahun akademi 1991/1992 mengikuti Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) sejak tahun akademi 1994/1995 pindah mengikuti Program Studi Program Penyuluhan Pembangunan (PPN) Program Pascasarjana IPB, dan memperoleh gelar Doktor pada tahun 1999.

Perjalanan hidup Pak Meneth Ginting yang dilalui dalam menuju keberhasilan penuh dengan pahit dan getir. Orang tua beliau adalah seorang petani subsisten namun berkat kerja keras, semangat dan ketekunan, empat orang bersaudara dalam keluarga ini tiga diantaranya menjadi Sarjana. “Tigan dan Laki mengutamakan pendidikan anak-anaknya, dengan keyakinan melalui pendidikan akan mengangkat taraf hidup di masa mendatang”, kata Pak Meneth Ginting, (Tigan sebutan untuk Ibunda dan Laki untuk Ayahanda beliau).

Pada masa kuliah di Fakultas Pertanian USU, Pak Meneth Ginting ingin hanya sampai Sarjana Muda, setelah itu bekerja. Oleh karena adik-adik beliau juga sekolah dan membutuhkan banyak biaya, sementara pendapatan keluarga terbatas. Untung saja pada saat itu ada penerimaan petugas Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE) sebagai petugas lapang untuk Demonstrasi Massal Swa Sembada Bahan Makanan (Demas SSBM). Dari seleksi yang sangat ketat hanya 6 orang saja yang diterima dan nomor satu adalah Pak Meneth Ginting. Sejak itu beliau terus kuliah, mempersiapkan skripsi sambil bekerja. Akhirnya, pada tahun 1966 Pak Meneth Ginting memperoleh gelar Sarjana Pertanian dengan hasil yang sangat memuaskan.

Setelah tamat kuliah dan menjadi Dosen Muda di Fakultas Pertanian USU, beliau menikah dengan Reh Malem br. Sitepu (8 Agustus 1966) yang dikenalnya di arena perpeloncoan kampus. Dari perkawinan yang harmonis dan berbahagia ini keluarga Pak Meneth Ginting dikaruniai tiga orang putri dan satu orang, putra yaitu Dra. Pelita Hati Ginting, M.Si, Nana Cahaya Hati Ginting, SH, dr. Suci Hati Ginting, M.Kes dan Yusuf Budi Baik Ginting, ST, Aff. Semua putra-putri telah berkeluarga dan cucu Pak Meneth Ginting saat ini 11 orang.

Pak Meneth Ginting sejak awal menempatkan posisi istri sebagai mitra yang diagungkan. Baginya istri bukan sub-ordinat melainkan sebagai pendamping, penolong dan sahabat yang setara dengan laki-laki. Salah satu contoh kecil namun sangat berarti Pak Meneth Ginting tidak pernah menyebutkan istilah untuk Sang Istri sebagai orang rumah, (perempuan yang hanya mengerjakan pekerjaan domestik di rumah), sirukat nakan (dalam Bahasa Karo dengan arti harfiah istri yang bertugas menyendokkan nasi) atau istilah lain yang merendahkan harkat dan martabat kaum perempuan. Pak Meneth Ginting senantiasa menyebutkan istilah untuk istri adalah kemberahen yang berarti perempuan yang diagungkan.

Namun pada tanggal 27 Juli 1997, kemberahen : Dra. Hj. Reh Malem br Sitepu telah dipanggil Sang Pencipta, duka menyelimuti seluruh anggota keluarga, sahabat dan teman sejawat. Namun keadaan ini tidaklah membuat surut semangat keluarga Pak Meneth Ginting dalam menjalani kehidupan. Dalam masa duka ini juga beliau harus segera menyelesaikan S3 di IPB Bogor, menyiapkan proposal Disertasi, penelitian lapangan, tabulasi dan pengolahan data, interpretasi hasil olahan data yang tentunya merupakan pekerjaan yang cukup berat. Dengan tekat dan kerja keras akhirnya tugas tersebut terselesaikan juga.

Setelah ± 3 tahun dalam kesendirian, Pak Meneth Ginting memulai kehidupan baru dengan drg. Sofiani Adelly MHA, wanita yang dipilih Sang Pencipta untuk mendampingi beliau dalam menjalani kehidupan ini. Sampai sekarang kehidupan beliau dengan Oma (panggilan kesayangan cucu-cucu dalam keluarga ini) terlihat harmonis dan berbahagia.

Anak-anak dan cucu-cucu secara rutin mengunjungi beliau, demikian halnya dengan saudara-saudara Pak Meneth Ginting, datang untuk melepas rindu, berbagi cerita dan saling menguatkan. Ketika anak, cucu dan saudara silih berganti datang membuat hati beliau gembira dan kegembiraan itu menjadi obat yang mujarab.

2. Pegangan Hidup

Ada beberapa pegangan Pak Meneth Ginting yang dijadikan prinsip dalam menjalani kehidupan. Menurut beliau prinsip ini sangat membantu dalam kehidupan nyata. Sebahagian prinsip ini merupakan ajaran dari orang tua Pak Meneth Ginting.

a. Kerja Keras dan Kecukupan

Pak Meneth Ginting lahir 15 Juli 1940 setelah hampir setahun Perang Dunia Kedua (PD II) yang dimulai September 1939. PD-II membawa pemerintahan baru di Indonesia yaitu pemerintahan penjajahan Jepang yang ternyata lebih buruk dari penjajahan Belanda. Pada zaman itu menurut orang-orang tua, keadaan sangat parah, pakaian terbuat dari laklak (kulit kayu) ataupun dari karung tepung goni dan makanan adalah nasi jagung atau nasi ubi yaitu nasi dicampur jagung atau nasi dicampur ubi. Dampak PD II ini cukup lama, setelah lebih 10 tahun, masih banyak orang memakai rotan sebagai tali pinggang, sabun menggunakan lerak (buah yang berbusa bila digosokkan ke kain) dan umumnya orang desa tidak pakai sepatu. Alas kaki yang dipakai saat itu seperti selop terbuat dari kayu yang diraut dan ditambah tali ban sebagai penahan yang disebut terompah.

Sewaktu kecil beliau memulai pendidikan dasar yang dulu namanya Sekolah Rakyat di desa. Ke sekolah dengan berjalan kaki, jarak cukup jauh (pulang pergi mencapai 10 km). Siswa menggunakan gerip dan batu tulis kecil yang bisa dihapus sebagai pengganti buku dan alat tulis. Gerip ditajami dengan cara mengasah ke batu, dan bila gerip sudah pendek, dibuatkan sarung dari bambu kecil yang diukir. Kalau ada pelajaran pendidikan jasmani..... main bola, dengan kaki ayam, (tanpa mengenakan sepatu), bolanya adalah jeruk bali dan bermain di tanah lapang yang banyak lalangnya. Bola jeruk bali ini dikejar, digiring, disepak dan kaki terasa sakit, tetapi Meneth Ginting Kecil tidak peduli sebab nanti di rumah akan diobati oleh Tigan dengan mengunyah sirih, dan setelah sirih lumat lalu disemburkan pada bagian kaki yang sakit. Cairan sirih berwarna merah, menyembuhkan rasa sakit pada betis dan kaki.

Selain bertani dengan pola yang masih tradisionil, pada hari tertentu Tigan berdagang ke pekan. Interaksi dengan orang-orang dari luar mampu merubah pola pikir Tigan. “Hari esok harus lebih baik, dan hanya dapat diperbaiki dengan kerja keras”, ungkapan Tigan kepada anak-anaknya. Tigan mendidik anak-anaknya agar mampu bertahan (survive) dalam situasi yang paling sulit. Prinsip hidup yang diterapkan keluarga ini adalah dalam hal kesederhanaan dan prinsip cukup. Tujuan hidup bukan hanya untuk mengumpulkan kekayaan melainkan memenuhi kebutuhan hidup yang hakiki. Enough is enough. Ketika memiliki uang jangan cepat-cepat dihabiskan dengan membeli yang tidak perlu. Lebih baik ditabung untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak yang tidak kita sangka. Meskipun saat itu di kampung Pak Meneth Ginting terdapat sumber daya yang relatif cukup, namun Tigan selalu mengingatkan agar dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga tetap tersedia di masa mendatang, karena orang lain juga membutuhkannya.

b. Tertarik pada Pembangunan Masyarakat Desa

Tidak banyak orang yang tertarik dengan pembangunan pedesaan. Padahal wilayah Indonesia didominasi oleh pedesaan, bahwa sektor pertanian yang notabene di pedesaan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembangunan wilayah.

Pak Meneth dalam pembangunan masyarakat desa terlihat dari pengabdian dan penelitian yang dilakukan. Musyawarah Mufakat Pembangunan Desa (MMP-D), konsepsi beliau adalah salah satu metode dalam pembinaan partisipasi. Pak Meneth Ginting telah menjual konsepsi Musyawarah Mufakat Pembangunan Desa (MMP-D) kepada Pusat Penelitian dan Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri tahun 1983 sebagai karya ilmiah pada waktu beliau menjadi Ketua LPPM-USU.

Ide dari MMP-D : (1) Pembangunan yang terpenting adalah pembangunan manusia (jiwa dan raga dalam lagu Indonesia Raya) dan manusia yang terbanyak ada di desa. Jadi pembangunan desa sangatlah penting, (2) Bahwa musyarakat desa yang paling tahu mengenai apa yang perlu dibangun untuk desanya, (3) Bahwa musyawarah antar warga desa dan warga atas desa adalah perlu untuk saling isi mengisi dalam pembangunan desa sehingga tertampung aspirasi masyarakat desa dan pembangunan nasional, dan (4) Perlu metode baru untuk musyawarah mufakat.

Metode MMP-D adalah penetapan kesepakatan mengenai Pembangunan Desa : (1) Apa idaman bersama (2) Apa hambatan dalam mencapai idaman (3) Apa usul atau saran untuk memecahkan persoalan (menghalau hambatan untuk mencapai idaman) dan (4) Implementasi : Siapa yang mengerjakan? (apa, dimana, kapan dan bagaimana).

Dalam musyawarah, setelah fasilitator menjelaskan Idaman (yang rasional), apa yang diharapkan terjadi di desa, hal yang mungkin untuk point (3) dan 4) di tahun mendatang. Lalu kepada para peserta diminta menuliskan 3 Idamannya. Yang terpenting dari 3 Idaman diajukan untuk didiskusikan disepakati (atau tidak), semua anggota musyawarah mengajukan usulnya, tidak perlu dijelaskan panjang-panjang hanya dalam kalimat pendek. Proses yang sama juga terhadap Hambatan, Usul dan Implementasi.

Di masa pemerintahan Orde Baru yang mana pola pembangunan masih bersifat top-down, ide ini diuji coba untuk menghasilkan Dokumen Strategi Pembangunan Kabupaten Daerah Tingkat II Karo (1985) dan Pembangunan Pedesaan di Kabupaten Karo (1985), namun dalam implementasinya mendapat banyak kendala.

Catatan :

(1)    Konsep MMP-D yang merupakan Orasi Pengukuhan Guru Besar Pak Meneth Ginting telah diterbitkan oleh Universitas Indonesia (UI), Forum Innovasi UI No 6 Tahun 2003. Dan juga bagian dari Buku 4 USU Press, 2006.

(2)     Telah terbit 3 buku buah tangan Pak Meneth Ginting sehubungan dengan MMP-D yaitu (1) Idaman dan Harapan Masyarakat Kabupaten Karo, USU Press 1990, (2) Idaman Masyarakat Desa Sekitar Danau Toba, Duta Azhar, Bappedaldasu dan Universitas Karo Tahun 2008, (3) Idaman Dan Harapan Pembangunan Masyarakat Desa (PMD), Rumusan Strategi Pembangunan Masyarakat Desa Kabupaten Pakpak Bharat Universitas Quality, 2009.

Pengetahuan dan wawasan yang dimiliki Pak Meneth Ginting tidak terlepas dari pendidikan tambahan yang pernah diikuti baik dalam dan luar negeri. Pendidikan tambahan ini berkaitan dengan permasalahan pembangunan pedesaan dan pembangunan wilayah. Pengalaman selama menjadi Petugas Lapang Demonstrasi Massal Swa Sembada Bahan Makan (DEMAS-SSBM) Sumatra Utara tahun 1964-1965 dan Staf Ahli Bimbingan Massal Swa Sembada Bahan Makanan (Bimas) Sumatera Utara (Anggota Komando Tertinggi Operasi Ekonomi-KOTOE) tahun 1965-1967 menempa pengalaman Pak Meneth Ginting dalam bidang pembangunan masyarakat desa.

Bersama rekan-rekannya di Fakultas Pertanian USU dan instansi lain Pak Meneth Ginting sudah mempublikasikan banyak hasil penelitian berkaitan dengan persoalan pembangunan pertanian dan masyarakat tani. Satu hal yang unik, dimana orang tidak terlalu konsentrasi membahas pekarangan (halaman rumah), nilai ekonomis dan ekologis pemanfaatannya maka Pak Meneth Ginting bersama Prof. DR. D.H. Penny menulis hasil penelitiannya menjadi buku yang berjudul Pekarangan Petani dan Kemiskinan (1984) diterbitkan Gadjah Mada University Press & Yayasan Agro Ekonomika.

Keberpihakan dengan kaum marginal di pedesaan juga terimplikasi dari partisipasi Pak Meneth dan teman-temannya di LPPM USU dalam pembentukan Bintarni (cikal bakal Bitra Indonesia). Dalam tulisan Ir. Soekirman tentang Pak Meneth Ginting (dalam Buku 1) dikatakan, “Dalam sejarah LSM yang sekarang banyak mengisi sejarah hidup saya, Pak Meneth Ginting adalah tokoh yang tidak bisa dilupakan. Kedatangan orang-orang seperti M.M. Billah, George Yunus Adicondro di Medan selalu bertemu beliau”. Ide tentang LSM ini pertama kali dipelajari Pak Meneth Ginting di Philipina namun belum bisa langsung diimplementasikan karena di masa pemerintahan Orde Baru gerakan rakyat ini “masih jauh panggang dari api”.

c. Mencintai Orang Tua

Ternyata dalam membahagiakan orang tua, Pak Meneth Ginting memiliki konsep yang sederhana. “Tanyakan kepada orang tua kita apa yang mesti kita perbuat supaya mereka bahagia. Apa Idaman dan Harapannya. Orang tua bijak tidak pernah menginginkan uang dan kekayaan, melainkan perhatian dan kasih sayang dari anak-anak dan cucu-cucunya”, kata beliau.

Ketika Laki, Ayahanda Pak Meneth Ginting mulai sakit-sakitan, atas persetujuan keluarga, mereka tinggal bersama-sama di rumah beliau, di Jl. Sumarsono 26 Kompleks Kampus USU. “Mammy dulu (begitu panggilan Pak Meneth Ginting kepada kemberahen/istri beliau : Dra. Hj. Reh Malem br Sitepu), sangat perhatian kepada Tigan dan Laki, sehingga mereka betah tinggal di rumah ini”. Kedua orang tua Pak Meneth Ginting, Laki dan Tigan, dimakamkan di pemakaman keluarga di Juma Ciger Berastagi dan secara rutin dikunjungi oleh Pak Meneth Ginting dan keluarga.

Bahagiakan orang yang kita kasihi sekarang ! Bukan nanti. Dalam sepucuk surat Pak Meneth Ginting kepada anaknya dikatakan, “Bila Ananda ingin membahagiakan orang tua, lakukan sekarang. Karena bahagia itu perlukannya sekarang bukan nanti. Jangan punya pikiran, sekarang bekerja keras setelah berhasil baru membahagiakan orang tua. Tomorrow... Nobody knows what will happen.”

d. Kata-kata Bijak
Secara umum suku-suku di Indonesia memiliki slogan salah satunya kata-kata bijak yang mampu memberikan motivasi kepada manusia untuk hidup lebih baik. Di masyarakat Karo ada banyak kata-kata bijak berupa nasihat yang disampaikan orang tua kepada anak-anaknya. Kata-kata bijak yang selalu diungkapkan Pak Meneth Ginting dalam berinteraksi dengan keluarga antara lain La Lolo, Erpaksa-paksa (kedua kata ini berasal dari Bahasa Karo) dan Waktu akan berlalu, kenangan indah akan tertinggal.

• La Lolo

La berasal dari kata Ula/Ola yang berarti jangan, sedangkan lolo artinya terbengkalai. La Lolo mengandung pengertian suatu ajakan untuk tidak membuat sesuatu menjadi terbengkalai atau ajakan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

• Erpaksa-paksa

Semua ada masanya ada waktunya (dalam bahasa Karo disebut epaksa-paksa). Ada masa gemilang dan keterpurukan. Sama halnya dengan fungsi roda dalam menjalankan aktivitas membawa beban, berputar, di bawah, kadang di atas, terus bergulir sampai pada tujuan tertentu. Pada saat roda berada di atas, tidaklah membuat kita sombong dan pongah, karena seiring perputaran waktu posisi pasti akan berubah.

Erpaksa-paksa. Semua ada masanya. Pernyataan ini sering diucapkan Pak Meneth Ginting dalam pembicaraan pada pertemuan keluarga, ngobrol dengan kolega, sahabat dan mahasiswa. “Bila kita menyadari kenyataan hidup ini, ada masa pahit dan getir, ada masa gemilang dan kebahagiaan, dan bila dijalani dengan rasa syukur, kita akan tetap merasa bahagia”.

e. Waktu Akan Berlalu Kenangan Indah Akan Tertinggal

Ini adalah judul buku Pak Meneth Ginting yang berisikan surat-surat beliau kepada anak-anak ketika menjabat sebagai Bupati Karo 1985–1990 (Buku 2). Secara rutin beliau berkomunikasi dengan anak-anak melalui surat yang isinya tentang rutinitas pekerjaan seperti dalam menjalankan administrasi pemerintahan di kantor, membangun masyarakat desa, kunjungan kerja ke dalam dan luar negeri dan tetap saja ada terselip pepatah dan nasihat bijak yaitu waktu akan berlalu kenangan indah akan tertinggal.

Waktu yang sudah berlalu telah meninggalkan kenangan yang indah, oleh sebab itu dalam setiap tindakan/perbuatan sebaiknya meninggalkan kesan yang baik sehingga dapat menjadi kenangan teladan bagi orang lain yang melihat atau mengetahuinya.



***************

Tulisan di atas adalah bahagian pertama  dari buku : CAWIR, PURNABAKTI GURU BESAR Prof. DR. Ir. H. Meneth Ginting,M. A. D. E.

Selengkapnya bisa dibaca dalam buku :


CAWIR
PURNABAKTI GURU BESAR
Prof. DR. Ir. H. Meneth Ginting, M. A. D. E.
(1940-2010)

USU Press
Art Design, Publishing & Printing
Gedung F, Pusat Sistem Informasi (PSI) Kampus USU
Jl. Universitas No. 9
Medan 20155, Indonesia
Telp. 061-8213737; Fax 061-8213737
usupress.usu.ac.id
© USU Press 2009
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang; dilarang memperbanyak menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
ISBN 979 458 429 0
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Dicetak di Medan, Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar