31 March 2011

Bunga Gundur


BUNGA GUNDUR

Sumber Motif adalah tumbuh-tumbuhan. 
Ragam hias bunga gundur atau bunga labu gunanya sebagai penolak bala dan juga sebagai hiasan. Ornamen ini dapat dibuat dengan corak anyaman bambu yang digunakan sebagai ayo ayo rumah adat, jambur, geriten pada masyarakat Karo.

Restorasi Rumah Adat Karo Sebagai Kepedulian Nyata


Membangun dan memelihara itu sama susahnya, seperti juga menjaga apa yang diwariskan. Sebuah kenangan mungkin akan lekang oleh waktu, tetapi sebuah identitas diri tak akan luntur. Begitulah saat ini, ketika jaman berjalan dan modrenisasi mau tak mau harus dihadapi. 

Dari foto-foto yang ada, kita diwariskan budaya yang agung, walau yang terlihat dari foto-foto itu hanyalah produk kebudayaan. Sementara budaya yang sebenarnya ada dalam prilaku kehidupan sehari-hari. Namun ketika produk-produk kebudayaan itu kian luntur menuju punah, ditakutkan sumbernyapun akan mengering. Apa yang bisa diceritakan, bila tak ada cermin untuk berkaca. Apa yang bisa dikatakan bila tak ada ingatan yang bisa dikenang kembali.


Salah satu produk kebudayaan itu adalah rumah adat, tempat kelahiran, kehidupan hingga kematian. Di dalamnya juga terdapat tranformasi budaya, bisa dikatakan sebagai rumah komunal. Pembangunannyapun memiliki keunikan dan mengikutkan peran serta penghuninya maupun perangkat adat.

Nederlands: foto. Het houten- en bamboe skelet van een Karo Batak huis in aanbouw
Date : 1900-1940
Source : Tropenmuseum
Melihat kondisi terkini sebuah gerakan Restorasi Rumah Adat Karo bangkit dan mengajak semua masyarakat Karo untuk terlibat dan peduli untuk menjaga dan memelihara yang sudah ada, agar rumah adat Karo yang indah dan bernilai tinggi itu tak punah seketika. Seperti dikatakan oleh Soehardi Hartono, Direktur Eksekutif Badan Warisan Sumatera, 

Rumah Komunal Bernama si Waluh Jabu

rumah adat karo
rumah adat karo
Orang Karo mendiami wilayah dataran tinggi Karo di Kabupaten Tanah Karo sebelah utara Danau Toba, Sumatera Utara. Orang Karo sendiri menyebutnya sebagai Taneh Karo Simalem, Tanah Karo yang Indah. Para antropolog Indonesia, seperti Koentjaraningrat, Masri Singarimbun dan Junus Melalatoa, menggolongkan suku Karo ini ke dalam suku Batak menjadikannnya sub suku Batak Karo.

Orang Karo mempunyai bermacam-macam bangunan adat yang berbeda-beda berdasarkan fungsinya :
  • 1. Si Waluh Jabu, berfungsi sebagai tempat tinggal karena ruang yang ada berfungsi sebagai tempat istirahat dan tungku untuk memasak dan sebagai penghangat.
  • 2. Geriten, mempunyai fungsi sebagai tempat tulang-tulang nenek moyang. Tulang-tulang ini pada umunya diletakkan pada bagian atap yang tertutup. Kebiasaan masyarakat Karo untuk melakukan ritual penguburan kedua kalinya masih bisa kita jumpai.
  • 3. lesung, adalah bentuk bangunan yang menyimpan lesung dan di situ perempuan biasa menumbuk padi beramai-ramai.
  • 4. jambur, merupakan bangunan tempat berkumpul biasanya untuk para tetua adat dan lelaki.
  • 5. sapo page, sebagai tempat penyimpanan beras atau page.
sapo page
sapo page
Si Waluh Jabu

Orang Karo terkenal dari unsur teknologinya yang berkaitan dengan arsitektur tempat tinggalnya. Menurut Soehardi Hartono, Direktur Eksekutif Badan Warisan Sumatera, "Rumah adat Karo bernilai tinggi karena merupakan bukti fisik kehebatan nenek moyang dalam membangun rumah. Secara arsitektural, rumah-rumah itu juga memilki keunikan dan teknik bangunan tinggi." (Kompas, Selasa, 21/12/2004). Keunikan tersebut terutama adalah pembangunan rumah tanpa penggunaan paku, sedangkan keunikan yang lain adalah nilai sosial budayanya sebagai sebuah rumah Komunal.

Berastagi di tahun 1947

Berastagi di tahun 1947

Wanita Karo dan Wine?

lukisan wanita Karo dalam pameran seni rupa "10 Perupa Perempuan" di Salihara

Dalam memperingati Hari Perempuan Sedunia (Women's International Day) yang jatuh pada 8 Maret 2009, Komunitas Salihara mengadakan rangkaian pertunjukan dan pameran bertema Enam Pekan Perempuan dan ini juga dilaksanakan untuk memperingati Hari Kartini 21 April 2009.

Acara pertama pada April adalah pameran seni rupa “10 Perupa Perempuan” yang menampilkan lukisan, patung, obyek, dan instalasi, karya-karya sepuluh perupa perempuan. Yaitu Ay Tjoe Christine, Ayu Arista Murti, Arahmaiani, Astari, Dolorosa Sinaga, Yani Mariani, Mella Jaarsma, Tere, Wara Anindyah dan Titarubi. Mereka adalah para seniman perempuan yang ini karya-karyanya banyak diperbincangkan dalam kurun waktu satu dekade belakangan ini. Pameran ini berlangsung dari tanggal 3 hingga 17 April 2009 di Galeri Salihara.

Salah satunya adalah lukisan wanita Karo lengkap dengan pakaian adat dan perhiasannya. Tapi entah mengapa di atas tudung ada sebuah tas kecil bertuliskan "Lisoi" dan di dalam tasnya terlihat sebotol wine (anggur). Bahasa karo tak memakai kata "lisoi" dan kira-kira apa makna lukisan ini?




sumber foto : komunitas salihara

13 March 2011

Meriam Puntung (kisah dalam Putri Hijau)

Bagian dari meriam Putri Hijau yang terletak di istana Sultan Deli, Medan (sumber KITLV)




Bagian lain dari meriam Putri Hijau yang terletak di Sukanalu, Tanah Karo (sumber KITLV)

Lukisan Gadis Karo

Lukisan Gadis Karo (sumber KILTV Leiden)

Lukisan Sinabung

Gunung Sinabung
De Sinaboeng (sumber KITLV Leiden)

Lukisan Pasar Kabanjahe


Pasar Kabanjahe
Passer te Kaban Djahè, Sumatra (sumber KITLV Leiden)

10 March 2011

Legacy in cloth; Batak textiles of Indonesia

by Niessen, Sandra


Menenun di daerah Batak Sumatera Utara adalah sebuah seni kuno yang dilakukan oleh perempuan, dan memperlihatkan beberapa desain dan fitur teknik tertua di kepulauan Indonesia. Sejak pencaplokan wilayah oleh kolonial Belanda pada peralihan abad kedua puluh, inovasi para penenun Batak dari daerah Danau Toba di Sumatera Utara telah berhasil menyesuaikan seni mereka dengan keadaan ekonomi dan sosial baru - tetapi dengan biaya besar. Dalam beberapa dekade terakhir, tenun telah jatuh ke penurunan dan tradisi terancam, sementara pada saat yang sama tekstil Batak sangat dihargai di koleksi museum di seluruh dunia..


Legacy in Cloth menawarkan studi definitif pertama dari warisan tenunan dari Batak Toba, Simalungun, dan Karo. Analisis paling lengkap tekstil Batak yang pernah diterbitkan, memberikan catatan lebih dari 100 jenis desain yang berbeda, termasuk foto-foto arsip dan kontemporer yang menunjukkan bagaimana tekstil tenunan dan bagaimana mereka digunakan dalam budaya Batak. Sandra Niessenis seorang antropolog yang berbasis di Belanda. Dia mengajar di Departemen Ekologi Manusia di University of Alberta, di mana dia mengkhususkan diri dalam tradisi tekstil di seluruh dunia dan gaya hidup yang berkelanjutan. Nies memiliki gelar Ph.D. dari Universitas Leiden, ia telah mempublikasikan secara luas tentang tekstil Batak. Pada tahun 2006, ia menjadi kurator tamu pada acara WOVEN WORLDS (baca tulisan sebelumnya), sebuah pameran tentang sejarah tekstil Batak pengumpulan oleh Tropenmuseum di Amsterdam

 
 

Pameran Tenunan Batak di Tropenmuseum, Amsterdam

WOVEN WORLDS (WERELD VAN WEEFSELS)
Exhibition in the Park Room of the Tropenmuseum, Amsterdam
 
Kurator Tamu oleh Dr. Sandra Niessen
17 February – 2 July 2006 .

ditulis oleh Pamela (admin www.tribaltextiles.info )

Pameran ini menampilkan contoh-contoh indah dari tekstil Batak, dan kisah koleksi mereka. Selama berabad-abad Batak tinggal keberadaan relatif independen di dataran tinggi Sumatera Utara. Setelah datang kontak dengan kekuasaan kolonial pada abad kedelapan belas, budaya mereka berubah secara signifikan. Pada saat yang sama, museum mulai mengumpulkan tekstil mereka. Batak objek dalam pameran menawarkan wawasan ke dalam pengembangan budaya mereka serta prioritas, motif, dan strategi dari empat kolektor: Herman Neubronner van der Tuuk, Johan Ernst Jasper, Tassilo Adam dan Sandra Nies.

Saya sangat menikmati kedua pameran. Ada beberapa sangat khusus ulos Batak (terutama Batak Toba) dalam pameran Worlds Woven dan ada beberapa dari mereka - terutama potongan-potongan yang lebih tua - yang saya sangat tertarik. Saya sangat beruntung memang bahwa kurator tamu pameran dan penulis dua buku yang diterbitkan dan beberapa artikel mengenai Batak, Dr Sandra Nies, membawaku berkeliling pameran dan berbagi pengetahuan dan pemikiran di balik pameran dengan saya. Saya juga mendengar tentang sebuah buku baru pada tekstil Batak ditulis oleh Sandra yang diharapkan akan diterbitkan pada pertengahan-2007. Aku akan menaruh informasi tentang buku yang akan datang di forum buku-buku kami karena hal ini benar-benar akan menjadi salah satu yang harus diperhatikan.

08 March 2011

PENGOEMOEMAN !!!

Vacature advertentie 1889
 DAG INLANDER... HAJOO URANG MELAJOE... KOWE MAHU KERDJA???
GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN-PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE

DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:

1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak-pemberontak ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI JANG BERTOEGAS:

1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja
Kowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera Batam, Soerabaja, Djakarta en Riaoeeiland.

Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :
1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3. Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago.

Haastig kalaoe kowe mahoe...

Pertanggal 31 Maart 1889
Niet Laat te Zijn Hoor..Batavia 1889
Onder de naam van Nederlandsch Indie
Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij

Potret Buruh Perkebunan Sumatra Timur Masa Belanda

Judul                      : Coolie
Penulis                   : Madelon H. Lulofs
Penterjemah           : G.J. Renier dan Irene Clephane
Edisi asli                 : Belanda
Edisi terjemahan     : Inggris
Penerbit                 : Oxford University Press, Singapore,
                                1953, 216 + x hlm.

Kapitalisme perkebunan awal di Indonesia muncul sejak abad 17-18 di Jawa dan Sumatra Timur. Kapitalisme perkebunan ini merupakan kolonisasi resmi Belanda, yang sebelumnya dirintis oleh kapitalisme dagang Belanda, yakni VOC. Berkembang biaknya kapitalisme perkebunan di Jawa dan Sumatra Timur akibat berkurangnya peran negara kolonial dalam memaksa penduduk-penduduk pribumi menyediakan produk komoditi tertentu, yang dikerjakan secara paksa. Setelah mengalami pergeseran politik di negeri Belanda, akibat banyaknya kritikan dari tanah jajahan dan dari Belanda sendiri, di samping mulai bangkrutnya VOC, maka kaum kapitalis Belanda memaksa menghapuskan monopoli negara kolonial atas sistem kapitalis dagang. Kaum borjuis baru ini mengusulkan untuk mengembangkan sistem kapitalis perkebunan di tanah jajahan, seperti Jawa dan Sumatra Timur, yang cocok untuk sejumlah komoditi ekspor dan ditemukan sumber energi baru, seperti minyak bumi.

Akan tetapi, sejarah kapitalisme perkebunan di Sumatra Timur ternyata menarik perhatian seorang putri tuan kebun G. Lulofs. Madelon Lulofs berhasil mengangkat dan memotret kehidupan buruh perkebunan di Sumatra Timur, khususnya perkebunan karet di Asahan. Madelon Lulofs (1899-1958) lahir di Surabaya, dan menghabiskan 30 tahun pertama masa hidupnya di Indonesia. Ayahnya, G. Lulofs merupakan pegawai pertama pemerintahan Netherland Indies. Madelon selalu mengikuti ke tempat bapaknya bertugas, yang selalu berpindah-pindah wilayah. Bahkan, harus tinggal di tengah-tengah perkebunan karet di daerah pelosok Sumatra Timur, di Asahan. Usianya kala itu baru 19 tahun.

Resume Buku "Lintasan Sejarah Peradaban Sumatera Timur 1612-1950

Pengarang        :  Tengku H.M. Lah Husny
Penerbit            :  Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan Dan Sastra
                           Indonesia Dan Daerah
Tahun               :  1978

Pembukaan perkebunan tembakau yang dilakukan oleh Nienhuys yang mendapatkan hasil yang menguntungkan membuat banyak pemodal asing yaitu orang-orang Eropa mengikuti jejak Nienhuys membuka perkebunan di Sumatera Timur. Akibatnya Sumatera Timur menjadi ramai. Pada tahun 1913 telah ada 127.700 orang buruh kontrak di sumatera Timur. Tahun 1916 meningkat menjadi 198.093 orang. 

Orang-orang Karo dan orang-orang Melayu tidak mau bekerja diperkebunan-perkebunan ini, biar dikantor apalagi menjadi kuli/buruh. Mereka tidak mau masuk perangkap dan lebih suka bekerja bebas. Oleh sebab itu Belanda mengatakan bahwa “orang Melayu dan orang Karo itu pemalas, tidak dapat dipercaya, lebih suka menghabiskan waktunya dengan memancing dan uduk-duduk di lepau saja”. Malahan seorang Belanda bernama A.J. Van Der Aa dalam bukunya Aardrijkskunde Woordenboek, jilid III tahun 1841 halaman 253 mengatakan: “orang Melayu di tanah Deli adalah perompak dan lanun-lanun”. Sudah menjadi adat dunia, orang yang tidak disukai apalagi orang yang tidak mau diperintah selalu dicerca.

Di perkebunan-perkebunan asing itu bekerja juga orang-orang keling yang didatangkan dari negerinya: mereka juga mengadakan perjanjian ikatan kerja selama tiga tahun. Setelah habis kontrak kerjanya, sebagian besar dari mereka dan orang-orang Cina ini menetap di tanah Deli. Itulah sebabnya hanya disekitar Medan terdapat orang keling (India), di luar Sumatera Timur hampir tidak terdapat orang Keling di Indonesia ini. Menjaga agar kegiatan-kegiatan mereka ini dapat dibatasi dan diawasi, pada mereka diberi perkampungan sendiri, umpamanya: kampung Keling dan kampung Cina yang terdapat di kota Medan ini dulu. Mereka tidak dibenarkan tinggal di daerah perkampungan bumiputera, yang ada dalam sebuah kota maupun diluar kota. Cina-cina itu dulu dipanggil oleh orang-orang Melayu dengan sebutan ‘Singkek’ artinya dalam bahasa cina ‘tamu baru’. Semua mereka itu masih memakai rambut panjang dikepala yang dijalin menjadi satu, istilahnya dulu ‘taucang’.

Sebagian besar cina-cina itu masuk perkumpulan-perkumpulan yang langsung dikendalikan dari negeri asal mereka. Dua diantara perkumpulan itu yang terkenal ialah Siang Hwee dan Siang Bu. Kekuasaan dan pengaruh perkumpulan kongsi gelap cina ini jauh lebih besar daripada Mayor atau kapten Cina setempat yang diangkat oleh pemerintah Belanda pada waktu itu untuk mengepalai orang-orang Cina di Sumatera Timur.

07 March 2011

Kalung

Kalung Berahmeni.
Seorang anak dengan perhiasan perak.
Karolanden.Een kind met zilveren sieraden, Karolanden.
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)

06 March 2011

Karo-Batak inscription on bone comprising on one


L0031388 Credit: Wellcome Library, London
Karo-Batak inscription on rib bone of a water buffalo comprising on one side the text of an amulet against bullets and on the other magical drawings. Batak people, Sumatra
19th Century
Collection: Asian Collection
Library reference no.: Or Batak MS 331834

Copyrighted work available under Creative Commons by-nc 2.0 UK: England & Wales, see http://images.wellcome.ac.uk/indexplus/page/Prices.html

Perhiasan-perhiasan Karo (bagian 2)

Kalung. Perhiasan ini dibuat dari perak di Kabanjahe. 
Rantai ini digunakan di leher oleh perempuan muda dan  
laki-laki saat mengenangkan tudung (kain penutup kepala)..
Halssieraad. Dit sieraad is vervaardigd door een zilversmid te Kabanjahé. De motieven zijn Karo, maar de uitvoering is mogelijk aangepast aan het gebruik door Europeanen.. Ketting die door jonge 
vrouwen om de hals en door mannen in de hoofddoek wordt gedragen
Date : voor/before 1920
Author : Tropenmuseum

Perhiasan, Karo
Sieraden, Karolanden.
Date : 1914/1921
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)
Perhiasan, Karo
Sieraden, Karolanden.
Date : 1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)
Aksesori pakaian. Perhiasan ini dibuat dari bahan perak di Kabanjahe.
Kledingaccessoire. Dit sieraad is vervaardigd door een zilversmid te Kabanjahé. De motieven zijn Karo, maar de uitvoering is mogelijk aangepast aan het gebruik door Europeanen.. Stalen hoedenpen
Date : voor/before 1920
Author : Tropenmuseum
Gold-plated silver breast ornament
Perhiasan dada. Perhiasan dada ini berbentuk bulan sabit, identik  
dalam bentuk ke tengah hiasan payudara (Layang-Layang), dikenakan oleh mempelai pria Karo-Batak.  
Namun, rantai spesimen ini kurang rinci. Perhiasan perak disepuh.
Borstsieraad. Dit halve-maanvormige borstsieraad is identiek in vorm aan het middenstuk van een borstsieraad (layang-layang), gedragen door een Karo-batakse bruidegom. Echter is de ketting van dit exemplaar minder gedetailleerd.. Verguld zilveren borstsieraad.
Date : voor/before 1920
Author : Tropenmuseum

Perhiasan dada. Perhiasan ini dibuat dari perak di Kabanjahe. Desain Karo, Disepuh perak bros.
Borstsieraad. Dit sieraad is vervaardigd door een zilversmid te Kabanjahé. De motieven zijn Karo, maar de uitvoering is mogelijk aangepast aan het gebruik door Europeanen.. Verguld zilveren broche.
Date : voor/before 1920
Author : Tropenmuseum

Cincin tapak gaja.
Perhiasan jari. Perhiasan ini dibuat dari perak di Kabanjahe. Berlapis emas cincin perak, untuk pria.
Vingersieraad. Dit sieraad is vervaardigd door een zilversmid te Kabanjahé. 
Vergulde zilveren ring met opstaande knop voor mannen.
Date : voor/before 1920
Author : Tropenmuseum

Perhiasan-perhiasan Karo (bagian 1)

Perhiasan di tangan dan tongkat
Handen met sieraden en een staf, Karolanden.
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)


Gelang dikenakan oleh seorang kepala desa di Karo, Sumatera Utara, Indonesia awal abad ke-20.
Foto diambil di Wiki Loves Seni lokakarya Belanda di Museum Tropis  
di Amsterdam pada tanggal 26 Juni 2009.
Bracelet worn by a village headman Karo Batak, North Sumatra, Indonesia gold early 20th century
Foto gemaakt tijdens Wiki Loves Art Nederland workshop 
in het Tropenmuseum in Amsterdam op 26 juni 2009.


 
Kalung desain Karo. Perhiasan ini dibuat dari perak di Kabanjahe.
Halssieraad. Dit sieraad is vervaardigd door een zilversmid te Kabanjahé. De motieven zijn Karo, maar de uitvoering is mogelijk aangepast aan het gebruik door Europeanen.. Halsketting
Date : voor/before 1920
Author : Tropenmuseum


Tabung kapur sirih yang digunakan oleh perempuan Karo. 
Tabung kapur sirih ini terbuat dari bahan gading dan tanduk.
Kalkkoker. Karo-Batak sirih kalkkoker die door vrouwen wordt gebruikt. Het eingelijke kokertje bestaat uit geel geworden ivoor met een bamboe binnenkant. Aan de uiteinden zitten zwart hoornen ringen die weer in houten uiteinden uitlopen.. Sirih kalkkoker van ivoor en hoorn
Date : voor/before 1929
Author : Tropenmuseum


Perhiasan Kepala. Perhiasan ini dibuat dari perak di Kabanjahe.  
Ornamen pada rambut perempuan mengenakan tudung atau penutup kepala.
Hoofdsieraad. Dit sieraad is vervaardigd door een zilversmid te Kabanjahé. . Versiersel dat vrouwen in het haar of hoofddoek dragen
Date : voor/before 1920
Author : Tropenmuseum