21 July 2011

Tanah Karo 1946-1950



1 augustus 1947. Brastagi. Bij hun aankomst inBrastagi deden onze troepen een lugubere vondst. In een massagraf werden 18 gemutileerde lijken aangetroffen. Elders in het dorp werden nog 40 vreselijke verminkte lijken gevonden van andere slachtoffers van de TNI




Vrijdag 18 maart werd een team van de militaire waarnemers van de Verenigde Naties, dat zich per jeep van Medan naar Brastagi begaf, dicht bij de laatste plaats beschoten. Enkele militaire waarnemers stelden een onderzoek in en inspecteerden de jeep.



Van 13 t/m 16 september maakte de terr.tvs.trpn.cdt. van Noord-Sumatra, generaal majoor P. Scholten een inspectietocht in de omgeving van Brastagi. De generaal bezocht vele posten van de daar gelegerde onderdelen. De kampongbevolking uit zijn dank aan de "Toean Djenderal" de kepala woning van Pergin Mangan tijdens zijn toespraak tot de generaal. Voor diens voeten enkele geschenken, tastbaar bewijs van de dank dezer mensen.



Dicht bij het Toba-meer ligt in het plaatsje Brastagi het 5e Bat. van 10 Reg. Infanterie. Het is een prachtige omgeving in het Batakland waar zij hun diensten moeten verrichten en kunnen genieten van het natuurschoon. Merdinding is een plaatsje aan de Status Quo-lijn. Hier is dus ook de Veiligheidspolitie gelegerd. Dagelijks komen er nog evacues over de grens, die dan met een drietonner naar de eerstvolgende post van het Rode Kruis worden gebracht. Serg. Maj. G. Breukhof uit Ellen is net weer met een volle wagen aangekomen.



Karo-Hoogvlakte: De OVW-ers midden in de rimboe en moeten zich met alle middelen behelpen maar toch de MT-afdeling een hoekje gevonden, waar de wagens een flinke opknapbeurt kunnen krijgen.


Diversen. Een groep Karo Bataks geheel rechts een 2e Luitenant van de TNI



S.O.K. 6 en 7 maart heeft de Wali Negara van de Negara Soematera Timoer, Dr. Mansoer in gezelschap van Tengkoe Hafar en het hoofd van de Voorlichtingsdienst, de heer O.K. Ramli een orientatie-bezoek gebracht aan een gedeelte van de Oostkust n.l. de Karo-hoogvlakte. Dr. Mansoer spreekt tot de Off. O.O. en manschappen en dankt tevens namens het volk voor hetgeen zij tot stand hebben helpen brengen.



Augustus 1947. Brastagi. In gezelschap van zijn stafofficieren bracht Kolonel Scholten de Troepencommandant van Noord Sumatra, een bezoek aan Brastagi, waar de massamoorden van de TNI op Indonesiers plaats vonden


Augustus 1947. Medan-Brastagi: Zuiveringsactie in het Medangebied. Een gevechtswagen beschermt de Genie, die de weg vrijgemaakt heeft van de brokken steen, door de TNI als versperring opgeworpen




Augustus 1947. Medan-Brastagi: Zuiveringsactie in het Medangebied. Het doel van de tocht is bereikt. Seriboe Delok op de Piso-Piso hoogvlakte. Terreurbenden van de TNI hebben het dorp in de as gelegd.


source : gahetna.nl

Sultan Hamengku Buwono IX Saat Berkunjung ke Tanah Karo


De Republikeinse Minister van Oorlog, de sultan van Djokja, Hamengku Buwono IX arriveerde op zaterdag 24 september op het vliegveld Medan, vergezeld van ca. 20 andere republikeinse autoriteiten w.o. de vice-premier Sjafrudin Prawiranegara, de Minister van Voorlichting mr. Samsudin en de voorzitter van het werkcomite van het KNIP, mr. Asaat. Zij brachten een kort bezoek aan de stad en inspecteerden enige TNI-posten op de Karo-hoogvlakte. Te Batukarang begeeft de sultan zich onder groot gejuich van de menigte naar de school, waar een maaltijd zal worden gebruikt.


De Republikeinse Minister van Oorlog, de sultan van Djokja, Hamengku Buwono IX arriveerde op zaterdag 24 september op het vliegveld Medan, vergezeld van ca. 20 andere republikeinse autoriteiten w.o. de vice-premier Sjafrudin Prawiranegara, de Minister van Voorlichting mr. Samsudin en de voorzitter van het werkcomite van het KNIP, mr. Asaat. Zij brachten een kort bezoek aan de stad en inspecteerden enige TNI-posten op de Karo-hoogvlakte. De sultan tijdens zijn toespraak tot de bevolking van Batukarang en omliggende desa's.




De Republikeinse Minister van Oorlog, de sultan van Djokja, Hamengku Buwono IX arriveerde op zaterdag 24 september op het vliegveld Medan, vergezeld van ca. 20 andere republikeinse autoriteiten w.o. de vice-premier Sjafrudin Prawiranegara, de Minister van Voorlichting mr. Samsudin en de voorzitter van het werkcomite van het KNIP, mr. Asaat. Zij brachten een kort bezoek aan de stad en inspecteerden enige TNI-posten op de Karo-hoogvlakte. De sultan spreekt de bevolking van Batukarang en omgeving toe.



De Republikeinse Minister van Oorlog, de sultan van Djokja, Hamengku Buwono IX arriveerde op zaterdag 24 september op het vliegveld Medan, vergezeld van ca. 20 andere republikeinse autoriteiten w.o. de vice-premier Sjafrudin Prawiranegara, de Minister van Voorlichting mr. Samsudin en de voorzitter van het werkcomite van het KNIP, mr. Asaat. Zij brachten een kort bezoek aan de stad en inspecteerden enige TNI-posten op de Karo-hoogvlakte. Gevolgd door de andere autoriteiten begeeft de sultan zich over de reeds tweemaal vernielde brug bij Tigapantjoer.

source : http://www.gahetna.nl

19 July 2011

Karo di Tahun 1991 oleh Kamera Hans R van der Woude

Barusjahe, 1991.



Ajujulu (1991)



Kampung Lingga (1991)




sumber : Hans R van der Woude (klik)

15 July 2011

Rumah Adat Karo dan Kekaroan

Oleh Juara R. Ginting

Di jaman Pre Kolonial, kebanyakan rumah adat Karo terdiri dari 4 jabu (rumah si empat jabu). Rumah adat yang terdiri dari 8 jabu (rumah si waluh jabu) menjadi lebih disukai di Jaman Kolonial. Namun begitu, baik di Jaman Pre Kolonial maupun di Masa Kolonial, bisa didapati rumah 4 jabu dan rumah 8 jabu. Di samping itu, ada rumah-rumah 6 jabu dan 12 jabu. Di Batukarang pernah dibangun rumah 16 jabu dan di Seberaya pernah ada rumah 24 jabu.


Dokan 1990 (Foto: Juara R. Ginting)
Apa yang kita katakan sekarang ini rumah adat dulunya cuman disebut rumah oleh orang-orang Karo karena memang hanya itu satu-satunya rumah di masa lampau. Bangunan lain yang biasa juga dijadikan tempat tinggal adalah barung, yaitu dangau atau gubuk tempat tinggal satu keluarga di ladang.
Sebuah daerah pertanian memiliki status sebagai kuta (desa) bila di sana dibangun paling tidak sebuah rumah adat. Tanpa adanya rumah adat, sebuah wilayah pertanian disebut perjuman (perladangan) atau barung-barung bila sekelompok warga membangun gubuk-gubuk tempat tinggal di sana.

Batu Umang di Sembahe

Pussis Temukan Batu Kemang di Sembahe
Medan, Kompas - Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan menemukan batu kemang atau batu umang di Sembahe, Deli Serdang. Batu Kemang merupakan peninggalan tradisi masyarakat Karo yang mulai tidak dikenal di kalangan masyarakat Sumatera Utara ataupun masyarakat Karo sendiri.

Batu kemang digunakan untuk menyimpan mayat. ”Menurut kepercayaan tradisional pada masyarakat Karo, kemang atau umang adalah semacam roh orang yang meninggal. Demikian pula pada orang Simalungun yang menyebutnya sebagai homin atau homing,” kata staf Pussis Unimed Erond Damanik, Selasa (23/11), melalui surat elektronik.

Erond terlibat dalam kegiatan itu bersama dengan Edmund Edward McKinnon, peneliti dan arkeolog berkebangsaan Inggris, Sabtu pekan lalu.

Batu kemang di Sembahe itu berada pada batu besar yang di dalamnya terdapat lubang hasil pahatan. Di bagian depan terdapat semacam pintu berukuran 60 x 60 sentimeter sebagai jalan untuk memasukkan kerangka dan mayat. Di dalamnya terdapat parit, tempat menyimpan mayat atau kerangka.

Ornamen-ornamen di dalamnya menyerupai rumah. ”Kepercayaan dan tradisi seperti ini sangat jelas merupakan pengaruh kepercayaan Hindu,” ujar McKinnon.

McKinnon menjelaskan, tradisi Hindu itu terbawa dan masuk ke Masyarakat Karo sewaktu penetrasi Hindu sejak abad ke-9. Ia menambahkan, batu-batu sejenis seperti batu kemang sangat banyak ditemukan di Tamilado, India Selatan. Tradisi yang mirip seperti ini juga ditemukan pada masyarakat Toraja yang menguburkan mayat di goa-goa di perbukitan.

Selain di Sembahe, lanjutnya, beberapa batu kemang dia jumpai di desa Perbesi, Kabanjahe. Beberapa batu kemang sejenis dipastikan masih ada di tempat lain, hanya saja belum teridentifikasi dengan baik. batu kemang sejenis juga ditemukan pada masyarakat Simalungun, yakni di Silau Kahean.

Batu kemang di Sembahe ditemukan pertama sekali oleh JH Neumann pada 1892, saat ia mengunjungi daerah Karo. (MHF). 

Sumber : Kompas.com

14 July 2011

Kota Rentang dan Hubungannya Dengan Kerajaan Aru


Oleh: Suprayitno
Dosen Sejarah Fakultas Sastra USU Medan

PADA April 2008, Tim Peneliti Gabungan dari Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat menemukan situs Kota Rantang yang terletak di Kec. Hamparan Perak, Deli Serdang. Temuan itu berupa keramik, potongan kayu bekas kapal, batu bata dan nisan. Koordinator kegiatan penggalian situs, Nani H Wibisono dalam salah satu media Jakarta terbitan 24 April 2008 mengatakan, aneka keramik yang ditemukan paling banyak berasal dari Dinasti Yuan abad ke-13-14. Selain itu ada keramik dari Dinasti Ming abad ke-15, keramik Vietnam abad ke-14-16, keramik Thailand abad ke-14-16, keramik Burma abad ke-14-16, dan keramik Khmer abad ke-12- 14. Adapun batu nisan yang ditemukan di lokasi bergaya Islam bertuliskan syahadat tanpa ada angka tahun.

Temuan situs Kota Rantang kembali mengingatkan kita kepada temuan situs Kota China di Labuhan Deli yang ditemukan pada tahun 1970-an. Yang menarik dari komentar para ahli sejarah dan arkeologi tentang temuan itu adalah, temuan di kedua situs itu selalu dihubungkaitkan dengan keberadaan Kerajaan Aru. Pertanyaannya: benarkah demikian? Bagaimanakah temuan-temuan di lokasi tersebut berkaitan dengan Kerajaan Aru, dan bisa dipahami oleh publik secara logik? Tulisan singkat ini berupaya menjawab soalan itu berdasarkan batu nisan Aceh yang berada di situs Kota Rantang.

Kerajaan Aru

Dimanakah lokasi Kerajaan Aru dan benarkah Kerajaan Aru itu wujud dalam sejarah Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Jika benar, siapakah nama rajanya, bagaimanakah kehidupan sosial-ekonomi penduduk dan hasil bumi negeri itu. Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan lebih awal sebagai entri point untuk menjelaskan isu tersebut diatas. Sebagaimana diketahui, catatan atau rekord tentang Kerajaan Aru sangat terbatas sekali. Menurut Ma Huan dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal dengan “fresh water estuary”. A.H. Gilles sebagaimana dikutip J.V.G. Mills menyatakan “fresh water estuary” adalah muara Sungai Deli. Oleh karena itu Gilles menegaskan bahwa lokasi Aru berada di sekitar Belawan (3o 47` U 98o 41` T) wilayah Deli Pantai Timur Sumatera. Di sebelah selatan, Aru berbatasan dengan Bukit Barisan, di sebelah utara dengan Laut, di sebelah barat bertetangga dengan Sumentala (Samudera Pasai) dan di sebelah timur berbatasan dengan tanah datar.  Untuk sampai ke Kerajaan Aru, dibutuhkan pelayaran dari Melaka selama 4 hari 4 malam dengan kondisi angin yang baik.

Dalam Hsingcha Shenglan (1426) disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan dengan Pulau Sembilan (wilayah pantai Negeri Perak, Malaysia), dan dapat ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin yang baik. Sementara menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325 disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari. Semua sumber China itu mengarahkan bahwa lokasi Kerajaan Aru itu berada di daerah Sumatera Utara, karena sebelah barat Aru disebutkan adalah Samudera Pasai. Samudera Pasai sudah jelas terbukti berdasarkan bukti arekologi berupa makam Sultan Malik Al-Saleh posisinya berada di daerah antara Sungai Jambu Air (Krueng Jambu Aye) dengan Sungai Pasai (Krueng Pase) di Aceh Utara.

Namun, lokasi pusat Kerajaan Aru yang disebutkan dalam sumber China itu memang belum dapat dikenali pasti karena, bukti-bukti pendukung lainnya, khususnya bekas istana, makam-makam diraja Aru dsb. belum ditemukan. Dua lokasi tempat ditemukannya sisa-sisa keramik China, nisan, dan lain-lainnya sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini belum dapat dijadikan bukti yang kuat. Hasil-hasil penggalian di kota China (Labuhan Deli) dan Kota Rantang sementara hanya membuktikan bahwa wilayah itu merupakan wilayah ekonomi yang penting sebagai tempat aktifitas perdagangan dengan para pedagang asing dari China, Siam dan lain-lain.