12 August 2011

Teater Tembut-tembut


Salah satu teater tradisional di Sumatera Utara yang cukup terkenal dalam konteks pariwisata global adalah tembut-tembut dari budaya Karo. Di Simalungun terdapat teater Toping-toping atau Huda-huda. Sementara dalam kebudayaan Melayu contohnya adalah bangsawan, tonil, dan sandiwara. Pada masyarakat Toba adalah Opera Batak.

Tembut-tembut di daerah Karo yang terkenal sampai sekarang adalah yang ada di daerah Karo yang terkenal sampai sekarang adalah yang ada di daerah Seberaya sehingga sering disebut tembut-tembut Seberaya. Tema ceritanya adalah hiburan bagi raja yang ditinggal mati anaknya.

Kapan terciptanya tembut-tembut Seberaya tidak dapat dipastikan secara tepat. Namun dapat diperkirakan berdasarkan tahun serta penyajiannya di Batavia fair yaitu tahun 1920. Berdasarkan tahun di atas, para informan memperkirakan terciptanya tembut-tembut adalah sekitar tahun 1915. Awalnya berfungsi hiburan.

Dalam arti digunakan untuk menyenangkan hati masyarakat yang menontonnya. Namun dalam perkembangan selanjutnya penyajiannya digunakan dalam konteks upacara ndilo wari udan (upacara memanggil hujan). Kapan mulai pemakaian tembut-tembut dalam konteks ndilo wari udan pun tidak diketahui secara pasti.

Tembut-tembut Seberaya terdiri dari dua jenis karakter (perwajahan) yaitu karakter manusia dan karakter hewan. Karakter manusia terdiri dari empat tokoh (peran) yaitu satu bapa (ayah) satu nande (ibu), sat anak dilaki (putra) dan satu anak diberu (putri). Karakter binatang hanya mempunyai satu tokoh (peran) yaitu di gurda-gurdi (burung enggang).

Jalannya pertunjukan tembut-tembut adalah dimulai dengan membawa tembut-tembut serta kelengkapannya ke tempat penyajian. Di tempat penyajian masing-masing pemain memakai tembut-tembut dan pakaiannya sesuai dengan perannya masing-masing.

Selepas itu, pemimpin penyajian menyuruh pemain musik supaya memainkan gendang dengan ucapan : “Palu gendang enda” artinya “Mainkan musik.” Pemain musik memainkan gendang dan pemain tembut-tembut mulai menari. Posisi pemain tembut-tembut menari pada mulanya sejajar membelakangi pemain musik. Posisi ini dipertahankan hingga pemusik memainkan dua buah lagu yaitu lagu Perang Empat Kali dan lagu Simalungen Rayat.

Pada lagu ketiga , yaitu lagu kuda-kuda posisi penari mulai berubah, pola tarinya tidak mempunyai struktur yang baku dilakukan secara improvisasi. Penari yang memainkan karakter burung enggang selalu seolah-olah ingin mematuk tokoh (peran) anak diberu (anak perempuan). Penari yang berkarakter ayah berusaha menghalangi gangguan burung enggang tersebut. (sn)

Sumber: Harian Waspada
Etnomusikologian.wordpress.com

Masyarakat Karo dan Seni Pertunjukannya


Oleh Muhammad Takari
Ketua Jurusan Etnomusikologi F. Ilmu Budaya USU 2011

SETIAP kumpulan masyarakat di dunia ini, dalam bentuk etnik, religi, tas, society, bangsa, dan lainnya selalu memiliki ciri-ciri, cita-cita, atau tujuan yang sama, atau didukung oleh gagasan kolektif yang bersamaan. Mereka membentuk kebudayaan atau peradaban yang digunakan untuk menanggapi tantangan yang datang baik dari luar maupun dari dalam kebudayaannya. Mereka mengekspresikan wujud kebudayaan dalam tiga bentuk, yaitu: ide, aktivitas, dan artifak. Sementara isi kebudayaan manusia di dunia ini terdiri dari tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu: agama, organisasi sosial, teknologi, pendidikan, bahasa, ekonomi, dan kesenian. Kesenian adalah unsur dan ekspresi kebudayaan manusia yang berhubungan erat dengan unsur-unsur kebudayaan lain. Setiap masyarakat di dunia ini selalu memiliki kesenian sebagai bagian dari pemenuhan fungsional akan rasa keindahan. Demikian pula kesenian dalam masyarakat Karo.

Masyarakat Karo telah menyumbangkan identitas budaya Sumatera Utara ke tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Kini kita mengenal dengan baik genre keyboard Karo, lagu-lagu Karo seperti Biring Manggis, Mbuah Page, Lasam, komponis Djaga Depari, landek, dan lain-lainnya. Bahkan melalui album Dua Dimensi dengan penyanyi kenamaan Melayu Syaiful Amri dan Laila Hasyim kita dapat sekilas menikmati pertunjukan landek dan melodi-melodi dari etnik Karo yang dimainkan oleh Ismed Barus. Dalam album ini terjadi fusi secara menarik antara seni pertunjukan masyarakat Melayu dan Karo. Selanjutnya, tulisan ini akan mendeskripsikan secara umum keberadaan masyarakat Karo di Sumatera Utara dan seni pertunjukannya.

Masyarakat Karo
Masyarakat Karo, berdasarkan etnosains mereka, membagi wilayah budayanya ke dalam dua kategori: (a) Karo gugung atau orang-orang Karo yang berada di wilayah pegunungan, terutama di kawasan Kabupaten Karo, Langkat, dan Deli Serdang, (b) Karo jahe, yaitu mereka yang berada di kawasan pesisir terutama di wilayah Kabupaten Deli Serdang dan Langkat. Masyarakat Karo Gugung dianggap lebih murni menerapkan kebudayaan Karo, sedangkan KaroJahe lebih banyak mengalami akulturasi dengan kebudayaan sekitarnya terutama dengan etnik Melayu. Misalnya Guru Patimpus yang mendirikan Medan. Satu hal yang paling penting dalam masyarakat Karo adalah adanya sistem klen eksogamus, yang mendasarkan hubungan perkawinan kepada kelompok klen luarnya.

Beru Dayang dan Padi dalam Kepercayaan Orang Karo


Sejarah Padi di Karo

Sejarah darimana datangnya padi di Karo sampai saat ini masih belum di ketahui dengan pasti. Namun banyak pendapat-pendapat para ahli menerangkan asal mula padi di Karo. Menurut Brandes bahwa penanaman padi di sawah di mulai sejak sebelum pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha datang ke Karo. (Brandes, 1889 dalam Ferdinandus,1990:426). Ini diperkuat lagi dengan peninggalan-peninggalan yang masih di lihat dalam masyarakat Karo yaitu marga-marga yang ada di Karo. Sembiring Brahmana, Colia, Pandia, Manik, Dan Lingga. Dan sampai sekarang marga-marga ini masih di gunakan oleh orang Karo.

Pendapat lain mengatakan bahwa penanaman padi dengan system perladangan diperkirakan  di kenal oleh orang Karo jauh sebelum sekitar 2500-1500 SM, yaitu bersamaan masuknya kebudayaan megalituk tua ke Indonesia (Golden, 1945:138-141). Namun dalam teorinya ini masih ada keraguan karena tidak disertakan dengan bukti-bukti yang kuat.

Namun ada satu cerita dalam kebudayaan Karo bahwa padi itu berasal dari Beru Dayang. Awalnya nenek moyang orang Karo hidup di hutan-hutan belantara dan berpindah-pindah. Dan yang menjadi  makanan mereka adalah buah-buah pohon masak yang ada di hutan, dimana merka menemukan buah disitulah mereka tinggal sampai buah tersebut habis.  Dan Karena buah itu, sering terjadi pertengkaran sesama mereka dan saling membunuh. Artinya makananlah yang membuat mereka sering bertengkar.

Hal ini dilihat oleh dibata maka ia berkata kepada Beru Dayang Jile-jile (nama dewi padi) yang menjadi perantara untuk manusia.

"Bawalah benih padi dan ajarilah manusia untuk menanam padi supaya padilah yang menjadi makanan meraeka nantinya, agar mereka tidak bertengkar dan memperebutkan buah pohon dan tidaklagi hidup berpindah-pindah ketika buah pohon itu habis dan kesulitan mencari buah pohon yang masak”.

Sentabi kami man bandu Beru Dayang…


Upacara Merdang – “Sentabi kami man bandu Beru Dayang…”


Dahulu sebelum agama Kristen memasuki Tanah Karo, masyarakat tradisional Karo merupakan masyarakat yang bersistem kepercayaan animisme dan dinamisme, sama seperti masyarakat tradisional di daerah Sumatera Utara lainnya.

Banyak ritual-ritual yang dilakukan masyarakat Karo waktu itu untuk mencapai keselamatan mereka bersama, demi mempertahankan dan melestarikan hidupnya. Ritual-ritual tersebut antara lain: Upacara Mindo Udan (meminta hujan), Upacara Erpangkir Ngarkari (berkeramas membersihkan diri untuk membuang sial), atau Upacara Merdang (menabur benih).

Apa dan Bagaimana Upacara Merdang

Merdang adalah upacara yang diadakan pada saat pertama kalinya menanam bibit padi di ladang. Nama lain upacara ini adalah nuan page; nuan berarti menanam, page berarti padi, dan secara keseluruhan berarti upacara menanam padi.

Maksud upacara ini adalah untuk memohon kepada beraspati taneh (dewa penguasa tanah) agar memelihara padi yang ditanam, tumbuh subur dan hasilnya melimpah ruah. Bibit padi yang ditanam diumpamakan sebagai anak perempuan kecil, biasa disebut beru dayang. Agar beru dayang merasa betah tinggal di perladangan, maka harus dibuat tempat tinggalnya yaitu perbenihan (tempat persemaian).

Beru Dayang

The concept of female spirits and the movement of fertility in Karo Batak culture

Source: Asian Folklore Studies
Publication Date: 10/01/1997
Author: Goes, Beatriz van der
COPYRIGHT 1997 Asian Folklore Studies


This paper describes and analyzes the concept of a female spirit, called Beru Dayang, among the Karo, one of the six Batak peoples of North Sumatra, Indonesia. The term beru dayang(1) appears in ritual chants, in the process and rituals of growing dry rice, in the composition of equipment, and in elements that contribute to the constitution of human life.

In Karo ritual chants the beru dayang are addressed as grandparents (nini).(2) They inhabit various parts of specific domains that belong to deities called beraspati.(3) In this paper I will present appearances of the beru dayang in the domains belonging to the deity of the land(scape), Beraspati Taneh, and the deity of the house, Beraspati Rumah.

The concept of beru dayang or si dayang becomes eminently clear in the process and rituals of dry rice cultivation. A variety of plants are planted at the rice field's center, its "navel": these are thought to shelter and protect the rice spirit, Beru Dayang (or Si Dayang), during the time the rice is growing. In this context the Karo Batak conceive of Si Dayang as female and as the spiritual element of the rice (tendi page).(4) Her character changes in accordance with the different stages of the growing of rice, which are reflected in the names given to her between sowing and the harvest.

Beru Dayang, as rice, is part of the rainy and dry seasons and has a mythical affinity with the arenga palm (pola) and the rainbow. The spirit of the arenga palm, Beru Sibo, and the spirit of the rainbow, Beru Tole, accompany Beru Dayang into the field as elder (kaka) and younger (agi) cousins. A similar affinity is conceived to exist in the female body in the form of a specific interaction between the breasts (pola), the uterus (mbuyak), and the vagina (tele memek). At birth si dayang reappears in the constitution of the relationship between the child and his/her spiritual siblings: the elder (kaka) amniotic fluid (gala-gala) and the younger (agi) placenta.

Beru Dayang, or Si Dayang, appears as the essence of the existence of many things. In Karo Batak creation myths she lives in the moon (Beru Dayang sinu bulan) and produces sunshine (Beru Dayang sindar mata ni ari). She appears by various names in the tools of the forge, in the components of the gun, and in the equipment for chewing betel (NEUMANN 1922, 2-3).

06 August 2011

Nama Warisan Marga

Secara umum nama warisan dalam masyarakat Karo dapat di bagi atas empat kategori. Keempat kategori ini, dibedakan atas jenis kelamin. Kategori pertama disebut umum. Nama warisan ini dapat dipergunakan sebagai sapaan kepada semua individu Karo, tanpa memandang siapa dia dan dibedakan hanya berdasarkan jenis kelamin. Seperti Tongat sapaan untuk anak laki-laki dan Ame sapaan untuk anak wanita. Penggunaannya dibedakan hanya berdasarkan derajat usia. Artinya orang yang usianya lebih tua dapat mempergunakan nama ini kepada orang yang usianya lebih muda darinya.

Kategori kedua disebut umum khusus. Nama warisan ini dikenal dengan istilah Merga (Klen). Klen dalam masyarakat Karo dapat dibagi atas 5 klen, dan kelima klen ini dibagi lagi atas sub-sub klen.

Secara garis besar kelima klen ini adalah Peranginangin, terdiri dari 21 sub klen.  Ginting, terdiri dari 15 sub klen.  Tarigan, terdiri dari 12 sub klen. Karo-Karo, terdiri dari 18 sub klen, dan  Sembiring, terdiri dari 19 sub klen.

Penggunaan klen ini dalam masyarakat Karo hanya tinggal menambah kata Beru di belakang nama, dan ini sudah menunjukkan jenis kelamin si pemakainya yaitu Wanita, misalnya Beru Sembiring, Beru Tarigan dan sebagainya. Sedangkan untuk menunjukkan jenis kelamin Pria, cukup disebut saja klen (klennya). Semua orang, terutama yang belum mengenal derajat sapaannya (tutur) dapat mempergunakannya dengan menyebut klen (merga untuk pria dan  beru untuk wanita).

Klen (Merga) dan Kampung Asal (Kuta Kemulihen)


Pada masyarakat Karo sistem kekerabatan ini dikenal dengan  merga silima (Klen yang lima). Setiap individu Karo mempunyai klen. Klen ini ditarik dari garis keturunan ayah. Klen dalam masyarakat Karo masing-masing induk mempunyai cabang yang disebut sub merga atau subklen.

Merga (klen) adalah suatu organisasi kemasyarakatan berdasarkan garis keturunan ayah (patrilineal) yang bersifat genealogis dan teritorial yang terdiri dari berbagai komponen yang satu sama lain sejiwa dan senyawa.  Sebagai contoh, klenklen pada masyarakat Karo semuanya mempunyai kuta kemulihen (kampung asal). 

Kuta Kemulihen ini bisa jadi hasil rintisan nenek moyangnya, bisa jadi pula diberikan oleh kelompok klen lain. Sebagai contoh subklen Brahmana, subklen   Brahmana  ini mempunyai dua kampung asal (kuta kemulihen) yang dibangun oleh nenek moyangnya dahulu pertama, di  desa Limang yang terletak di Kecamatan Tiga Binanga di daerah tingkat II Kabupaten Karo, dan kedua di desa Bekawar di daerah Tingkat II Langkat. Namun di beberapa desa yang ada di Tanah Karo subklen  Brahmana juga masih mempunyai kampung asal (kuta kemulihen) yang disebut kesain misalnya di desa Perbesi, ada kesain Brahmana. 

Kesain Brahmana yang ada di Perbesi ini diberikan oleh pendiri Kampung Perbesi yaitu klen Perangin-angin Pincawan. Di Kabanjahe juga  ada Kesain Brahmana yang diberikan oleh pendiri desa (sekarang telah menjadi Kota, dan menjadi Ibu Kota Kabupaten Karo) Kabanjahe oleh klen Karo-Karo Purba.

Terjadinya pemberian kesain karena di kedua daerah ini klen Brahmana pada awalnya berposisi sebagai  anakberu dari subklen  pendiri Kampung tersebut, maka kini yang disebut  kuta kemulihen subklen Brahmana adalah Limang, Bekawar, Kabanjahe dan Perbesi.

Perbedaan kampung asal (kuta kemulihen) dengan  kesain adalah   kampung asal dibangun oleh pendiri klen, pendiri klen yang berdaulat di sana, sedangkan kesain sebaliknya, kesain diberikan oleh klen lain kepada klen lainnnya  pemberian ini dikarenakan  klen yang menerima hibah ini anakberu pendiri kampung asal.  Jadi klen adalah suatu paguyuban yang dibangun oleh tradisi adat, berdasarkan paham magis relegius (pemujaan leluhur sebagai sumber norma dan pahala). Istilah Merga dipergunakan untuk menujukkan jenis kelamin pria, dan istilah  beru dipergunakan untuk menunjukkan jenis wanita  adalah garis keturunan yang ditarik dari garis ayah yang disandang seseorang di belakang namanya. Seorang individu Karo yang telah mempunyai  merga dan  beru, yang pada prinsipnya tidak dapat diganti. Hal ini karena merga dan beru didapat dari orang tua yang melahirkan (biologis).

Asal Usul Etnis dan Nama Karo.

Berdasarkan mitos yang ada, asal-usul suku di Sumatera Utara bervariasi, ada yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), ada yang berasal dari lapisan yang paling indah yang disebut Tetoholi Ana'a  yang turun di wilayah Gomo (Nias), ada yang berasal dari turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu).

Berdasarkan perkiraan-perkiraan yang disusun para ahli,  penduduk asli Sumatera Utara ini berasal dari Hindia Belakang yang datang ke kawasan ini secara bertahap. Hal inilah maka kemudian corak ragam budaya penduduk pribumi Sumatera Utara ditemukan perbedaan-perbedaaan.

Dalam masyarakat Karo pun, ada ditemukan  mitos tentang asal usul etnis ini. Mitos ini tidak berkait erat dengan hal-hal  yang sulit ditelusuri oleh akal seperti yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), atau   yang mengusul asal usulnya dan berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana'a  yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan  turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu). Dalam masyarakat Karo mitos tersebut berkaitan dengan  totem. Misalnya  haram  mengkonsumsi daging binatang seperti Kerbau Putih, oleh subklen  Sebayang,  Burung Balam oleh subklen klen Tarigan,  Anjing oleh subklen Brahmana.

(Catatan : Totem yaitu  kepercayaan akan adanya hubungan gaib antara  sekelompok orang - sesekali dengan seseorang - dengan segolongan binatang atau tanaman atau benda mati sebab dipercayai  antara benda-benda itu dengan dirinya ada suatu hubungan yang erat dan sangat khusus.)

Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata  Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo. 

Menurut Sangti (1976:130) dan Sinar (1991:1617), sebelum klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-angin menjadi bagian dari masyarakat Karo sekarang,  telah ada penduduk asli Karo pertama yakni klen  Karo Sekali.

Dengan kedatangan kelompok klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-angin, akhirnya membuat masyarakat Karo semakin banyak. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke Tanah Karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di dataran tinggi Karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Dolok Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di Pantai Barus menuju Dataran Tinggi Karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi Karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima.

Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan menurut garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di Batak Toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Karo Tua kepada masyarakat Karo Baru  yakni lebih kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli.

Nasehat-Nasehat dan Ungkapan-Ungkapan

Nasehat-Nasehat

Orang tua Karo, termasuk orang tua yang suka memberikan nasehat-nasehat kepada anggota keluarganya. Dalam nasehat yang diberikan selalu ditekankan, agar menyayangi orang tua, kakak/abang atau adik, harus berlaku adil. Menghormati kalimbubu, anakberu, senina sembuyak, serta tetap menjaga keutuhan keluarga.  

Beberapa nasehat-nasehat orang-orang tua Karo lama, yang diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan antara lain:

Ula belasken kata la tuhu, kata tengteng banci turiken. Artinya jangan ucapkan kata benar, tetapi lebih baik mengucapkan kata yang tepat/pas.

Ula kekurangen kalak enca sipandangi, kekurangenta lebe pepayo, artinya jangan selalu melihat kekurangan orang lain, tetapi lebih baik melihat kekurangan  kita (diri) sendiri atau  Madin me kita nggeluh, bagi surat ukat, rendi enta, gelah ula rubat,  artinya lebih baik kita hidup seperti prinsip  surat ukat (surat sendok), saling memberi dan memintalah agar jangan sampai berkelahi.

Beliden untungna si apul-apulen, asangken si juru-jurun artinya lebih banyak manfaatnya bila kita saling memaafkan, dari pada  saling memojokkan, merendahkan.

Ula min kita pejengki-jengkiken, kalaklah min mujikenca. Janganlah sok hebat seperti seorang pahlawan, biarlah orang lain yang memujinya.


Ungkapan-Ungkapan      

Dalam budaya masyarakat Karo, banyak ditemui ungkapan-ungkapan yang berfungsi sebagai kritikan, nasehat, maupun bersifat pengendalian sosial. Adapun ungkapan-ungkapan masyarakat Karo yang bermakna kepada pengendalian sosial antara lain:

Bagi kerbau gondok Limang, gedangsa tandok, tertatap lau meciho, terinem lau meggembor. Seperti Gondok (kerbau yang tanduknya melengkung ke bawah) Limang (nama desa di Kecamatan Tigabinanga) kepanjangan tanduk, terlihat air jernih, terminum air keruh).  Diumpamakan kepada seorang  yang sangat terlalu memilih calon istrinya, tetapi akhirnya istri yang didapatnya jauh dari seperti yang diharapkannya.

Bagi kerbo Penampen, ndekahsa natap, lupa nggagat. (Bagai kerbau Penampen, keasyikan memandang, lupa makan). Diumpamakan kepada seorang  yang terlalu asyik memilih-milih, akhirnya tidak juga berhasil mendapatkan seperti pilihan hatinya.
Kedua perumpamaan ini diumpamakan kepada seseorang yang sulit atau tidak mau menikah. Yang pertama karena terlalu memilih, yang dapat bukan seperti yang diharapkannya sedangkan yang kedua, walaupun juga terlalu memilik namun tetap tidak berhasil memilih.

Bagi si nukur timbako itiga, lebe isesap maka itukur. (Seperti membeli tembakau di pasar, dicoba (test) dahulu baru di beli). Perumpamaan ini ditujukan kepada gadis, jangan seperti perumpamaan di atas, dirasai dulu baru dibeli, atau hamil dahulu baru dinikahkan.

Menang bas babah, talu bas perukuren (Menang dalam perdebatan, tapi kalah dalam perbuatan). Perumpamaan ini disindirkan kepada orang yang tidak mau kalah dalam perdebatan, walaupun dia tetap salah, atau tidak benar. Sementara lawannya yang kalah dalam perdebatan justru memang dalam berbuat dan bertindak.

Toto biang kupendawanen, mate kalak mate, gelah ia besur. (Seperti doa anjing ke kuburan, biar orang mati di sana, yang penting dia kenyang sendiri). Perumpamaan ini ditujukan kepada seseorang yang hanya mau menang sendiri, yang tidak pernah berpikir apakah perilakunya atau perbuatannya akan menyusahkan orang lain atau tidak, yang penting dia mendapat untung sendiri.
Ini hanyalah beberapa ungkapan masyarakat Karo yang mengandung unsur pengendalian sosial yang bersifat preventif, dalam bentuk ungkapan yang berisi peringatan,  kritik, cemooh.

Sumber : DRS. PERTAMPILAN S. BRAHMANA, M.SI (library.usu.ac.id)

Rebu

Rebu artinya pantangan, dilarang, tidak boleh, tidak dibenarkan melakukan sesuatu  menurut adat Karo. Siapa yang melanggar, dianggap tidak tahu adat, dan dahulu dicemooh oleh masyarakat. 

Rebu pada masyarakat Karo, terbagi atas tiga pihak :
1.   Antara mami (mertua wanita) dengan kela (menantu pria). Dalam pengertian sempit,  mami adalah ibu dari istri ego, dalam pengertian luas, adalah para istri saudara laki-laki dari pihak ibu atau ibu ego dari istri ego). Sedangkan kela dalam pengertian sempit adalah suami dari anak wanita ego, dalam pengertian luas  adalah anak laki-laki dari saudara perempuan ayah ego. Sebelum terjadi pernikahan, kela ini disebut bere-bere atau kemanakan.
2.     Antara  bengkila (mertua pria) dengan  permain (menantu wanita).  Bengkila dalam pengertian sempit adalah ayah dari suami seorang wanita, dalam pengertian luas suami dari saudara perempuan ayah seorang wanita. Sedangkan  permain dalam pengertian sempit adalah istri dari anak laki-laki orang ego. Dalam pengertian luas  adalah anak perempuan (termasuk juga laki-laki) dari saudara laki-laki istri ego.
3.    Antara  turangku dengan  turangku.  Turangku mempunyai dua pengertian, pertama, bila ego seorang pria, maka  turangkunya  adalah dan berarti istri dari saudara laki-laki  istrinya (ipar),  kedua bila ego seorang wanita, turangku berarti suami dari saudara perempuan suaminya (ipar).

Yang  direbukan, dipantangkan, dilarang, tidak boleh, tidak dibenarkan melakukan sesuatu  menurut adat Karo adalah (1)  berbicara langsung, (2) bersentuhan anggota badan, (3) duduk berhadap-hadapan, (4) duduk pada sehelai tikar/kursi.

Manifestasi  rebu (dilarang) ini dalam adat istiadat Karo, adalah dilarang berbicara, dilarang duduk sebangku, misalnya dengan mertua yang berbeda jenis kelamin dengan ego, dilarang berbicara dengan suami ipar atau isteri yang berbeda jenis kelamin dengan ego. Rebu ini sebagai tanda adanya batas kemerdekaan diri, adanya rasa diri berkebebasan, melalui perilaku seperti ini orang mengingatkan dan sadar akan prinsip sosial dalam cara hidup berkerabat, maka melalui  rebu, orang akan mampu mengkontrol perbuatan dirinya sendiri.  Rebu melahirkan  mehangke (enggan), dari enggan melahirkan rasa hormat. Hormat menimbulkan sopan santun.

Ini adalah unsur mendidik dari adat Karo yang bernuasa pengendalian sosial yang bersifat preventif. Namun pada perkembangan saat ini, tradisi rebu cenderung diabaikan. Telah biasa terlihat antara seorang pria berbicara langsung dengan mertuanya.


Sumber : DRS. PERTAMPILAN S. BRAHMANA, M.SI (library.usu.ac.id).

Pantangan

Pantang dalam masyarakat Karo ada tiga yaitu pantang karena keyakinan, pantang karena penyakit dan pantang karena kehormatan.

Pantang karena keyakinan misalnya yang terdapat pada beberapa subklen yang berpantang mengkonsumsi daging binatang tertentu. Misalnya pemantangan yang dilakukan oleh kelompok klen Sebayang terhadap memakan daging Kerbau Putih, Tarigan terhadap memakan daging Burung Balam  dan Brahmana terhadap memakan daging Anjing. 

Pantang karena penyakit misalnya dilarang makan kenyang oleh dokter, dilarang mandi malam karena dapat kena penyakit paru-paru atau reumatik dan sebagainya.

Pantang karena kehormatan misalnya bila berbicara dengan orang yang dituakan haruslah hormat, dilarang menyebut nama nenek dan kakek, atau nama ayah dan ibu. Kalau pun terpaksa disebutkan harus disertai kata ula meggelut tendina (jangan kaget rohnya), setelah menyebut kata tersebut di atas, lalu disebut namanya, dan sebagainya.

Sumber : DRS. PERTAMPILAN S. BRAHMANA, M.SI (library.usu.ac.id).

Larangan dan Anjuran (Sumbang dan Suruhen)

Sumbang artinya tidak pada tempatnya, atau tidak sesuai dengan kedudukannya atau tidak seharusnya. Dalam masyarakat Karo,  sumbang  ini bervariasi. Namun setelah dirangkum pendapat Brahmana, (TT:36-37;44-46) dan Tarigan, (Ginting, 1989:41)  ada dua belas  sumbang, dan kemudian ada pula dua belas suruhen (anjuran). 

1. Sopan  Bicara (Sumbang Sora Ngerana). Maksudnya kalau berbicara  sebaiknya hati-hati, jangan menampakkan ekspresi mau marah atau ekspresi jengkel, apalagi hal itu dilakukan di depan orang ramai, di depan mertua, di depan ipar, ini tidak sopan, maka dianjurkan agar selalu sopan berbicara.

2.  Sopan Cara Makan (Sumbang Perpan). Artinya kalau makan harus bersikap sopan, jangan terlalu tegak dan jangan terlalu menunduk, tidak boleh tergesa-tegas, maka dianjurkan agar selalu sopan bila sedang makan.

3.  Sopan Memandang (Sumbang Pernin Mata). Artinya tidak baik memandang mertua, ipar, berulang-ulang, ini tidak sopan, maka dianjurkan agar selalu sopan ketika memandang atau menatap seseorang, terlebih-lebih terhadap orang yang dituakan, seperti mertua, orang yang disegani seperti ipar, apakah karena usia atau karena jenjang sapaan.

4.  Sopan Mandi di Sungai (Sumbang Ridi Ibas Tapin). Artinya bila ada lawan jenis kita sedang mandi di sungai, jangan di dekati, demikian juga bila mertua kita sedang mandi, jangan di dekati walaupun jenis kelaminnya sama dengan kita. Kalau mau mandi, tunggu dulu mereka selesai baru boleh mandi, maka dianjurkan agar selalu sopan bila hendak pergi mandi.

05 August 2011

Tari Odak-Odak & Mejuah-Mejuah



Tari Odak-Odak dan Mejuah-Mejuah adalah tari Budaya SUku Karo, Sumatera, Indonesia dibawakan oleh Eunice Shertaria dan Gabriella Ginting di acara East Meets West yang diselenggarakan oleh prakarsa Yayasan Nusantara Amsterdam (dari East Culture) bekerjasama dengan Yayasan Abundacia (dari West Culture) di Bijlmer Theater Park Building, Amsterdam, 14 Mei 2010

Gendang Binge



Di upload ke Youtube oleh Gabriella Ginting.

Gendang Karo di bagian kabupaten Langkat. Pemain musiknya berasal dari Rambong Langkat.

Kulcapi dan Keteng



Kulcapi :









Keteng :





Kulcapi dan Keteng :


Gurda-Gurdi (Gundala-Gundala)



Cerita yang pertama tentang Gurda-Gurdi

Dimana dalam cerita ini diceritakan tentang, sebuah kerajaan yang ada di Tanah Karo. yang Dipimpin Oleh seorang raja dan di dampingi seorang permaisuri raja. Keluarga ini sangat bahagia sekali dengan kehadiran seorang Putri yang sangat cantik. Panglima raja yang gagah berani tetap setia menjaga keluarga ini.

Seekor Manuk Sigurda-Gurdi (Burung Enggang) menambah nuansa keceriaan keluarga Raja, dengan Ekor yang panjang yang menarik perhatian semua orang.

Karena keanggunan Manuk Sigurda-Gurdi terbersit keinginan sang Putri Raja untuk dapat membelai Sang Burung. Dan meminta kepada raja dan Permaisuri untuk membuat satu pesta yang besar dan mengajak burung untuk menari bersama Dengan diiringi Musik.

Sang raja dan Permaisuri mengabulkan permintaan sang putri, memanggil semua masyarakat untuk berpesta bersama sesuai dengan permintaan Sang putri.


Dalam kemeriahan pesta ada satu hal yang menjadi Pantangan bagi Manuk Sigurda Gurdi dimana Ekor yang panjang janganlah disentuh yang akan mengakibatkan kemarahan bagi Manuk Sigurda-Gurdi. Semua orang tidak tau tentang pantangan bagi Manuk Sigurda-Gurdi, hanya raja dan Permaisuri yang mengetahuinya.


Semua bersorak menari bersama menikmati irama musik, Keinginan Putri untuk memegang ekor Manuk Sigurda Gurdi dilakukannya. Sang Putripun Memegang Ekor Manuk Sigurda-gurdi, kemarahan Manuk Sigurda Gurdi Membuat pesta menjadi Kacau, Sang Putri Dikejar oleh Manuk Sigurda-Gurdi, seakan ingin membunuhnya. Putri berlari mendekati sang raja dan Pemainsuri serta berlindung dibelakang mereka.

04 August 2011

Pujian Hatta pada Orang Karo

Sejarah Karo Zaman Kemerdekaan

Kabar-kabar angin bahwa Belanda akan melancarkan agresi I militernya terhadap Negara Kesatuan Republik  Indonesia kian semakin santer, puncaknya, pagi tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan ke seluruh sektor pertempuran Medan Area. Serangan ini mereka namakan “Polisionel Actie” yang sebenarnya suatu agresi militer terhadap Republik Indonesia yang usianya baru mendekati 2 tahun.

Pada waktu kejadian itu Wakil Presiden Muhammad Hatta berada di Pematang Siantar dalam rencana perjalanannya ke Banda Aceh. Di Pematang Siantar beliau mengadakan rapat dengan Gubernur Sumatera  Mr. T. Muhammad Hasan. Dilanjutkan pada tanggal 23 Juli 1947 di Tebing Tinggi. Pada arahannya dengan para pemimpin-pemimpin perjuangan,  wakil presiden memberikan semangat untuk terus bergelora melawan musuh dan memberi petunjuk dan arahan menghadapi agresi Belanda yang sudah dilancarkan 2 hari sebelumnya. Namun Wakil Presiden membatalkan perjalanan ke Aceh dan memutuskan kembali ke Bukit Tinggi, setalah mendengar jatuhnya Tebing Tinggi, pada tanggal 28 Juli  1947. Perjalanan Wakil Presiden berlangsung di tengah berkecamuknya pertempuran akibat adanya serangan-serangan dari pasukan Belanda.

Rute yang dilalui Wakil Presiden adalah Berastagi-Merek-Sidikalang-Siborong-borong-Sibolga-Padang Sidempuan dan Bukit Tinggi. Di Berastagi, Wakil Presiden masih sempat mengadakan resepsi kecil ditemani Gubernur Sumatera Mr. T. Muhammad Hasan, Bupati Karo Rakutta Sembiring dan dihadiri Komandan Resimen I Letkol Djamin Ginting’s, Komandan Laskar Rakyat Napindo Halilintar Mayor Selamat Ginting, Komandan Laskar Rakyat Barisan Harimau Liar (BHL) Payung Bangun dan para pejuang lainnya, di penginapan beliau Grand Hotel Berastagi. Dalam pertemuan itu wakil presiden memberi penjelasan tentang situasi negara secara umum dan situasi khusus serta hal-hal yang akan dihadapi Bangsa Indonesia pada masa-masa yang akan datang.

Selesai memberi petunjuk, kepada beliau ditanyakan kiranya ingin kemana, sehubungan dengan serangan Belanda yang sudah menduduki Pematang Siantar dan akan menduduki Kabanjahe dan Berastagi. Wakil Presiden selanjutnya melakukan: “Jika keadaan masih memungkinkan, saya harap supaya saudara-saudara usahakan, supaya saya dapat ke Bukit Tinggi untuk memimpin perjuangan kita dari Pusat Sumatera”.

Setelah wakil presiden mengambil keputusan untuk berangkat ke Bukit Tinggi via Merek, segera Komandan Resimen I, Komandan Napindo Halilintar dan Komandan BHL, menyiapkan Pasukan pengaman. Mengingat daerah yang dilalui adalah persimpangan Merek, sudah dianggap dalam keadaan sangat berbahaya.

Apabila Belanda dapat merebut pertahanan kita di Seribu Dolok, maka Belanda akan dengan mudah dapat mencapai Merek, oleh sebab itu kompi markas  dan sisa-sisa pecahan pasukan yang datang dari Binjai, siang harinya lebih dahulu dikirim ke Merek. Komandan Resimen I Letkol Djamin, memutuskan, memerlukan Pengawalan dan pengamanan wakil presiden, maka ditetapkan satu pleton dari Batalyon II TRI Resimen I untuk memperkuat pertahanan di sekitar gunung Sipiso-piso yang menghadap ke Seribu Dolok, oleh Napindo Halilintar ditetapkan pasukan Kapten Pala Bangun dan Kapten Bangsi Sembiring.

Sesudah persiapan rampung seluruhnya selesai makan sahur, waktu itu kebetulan bulan puasa, berangkatlah wakil presiden dan rombongan antara lain: Wangsa Wijaya (Sekretaris Priadi), Ruslan Batangharis dan Williem Hutabarat (Ajudan), Gubernur Sumatera Timur Mr. TM. Hasan menuju Merek. Upacara perpisahan singkat berlangsung menjelang subuh di tengah-tengah jalan raya dalam pelukan hawa dingin yang menyusup ke tulang sum-sum.

Sedang sayup-sayup terdengar tembakan dari arah Seribu Dolok, rupanya telah terjadi tembak-menembak antara pasukan musuh / Belanda dengan pasukan-pasukan kita yang bertahan di sekitar Gunung Sipiso-piso.

Seraya memeluk Bupati Tanah Karo Rakutta Sembiring, wakil presiden mengucapkan selamat tinggal dan selamat berjuang kepada rakyat Tanah Karo. Kemudian berangkatlah wakil presiden dan rombongan, meninggalkan Merek langsung ke Sidikalang untuk selanjutnya menuju Bukit Tinggi via Tarutung, Sibolga dan Padang Sidempuan.