28 October 2011

Pusaka Tumbuk Lada Karo

Oleh Ujungbawangsimalem.blogspot.com

Kebetulan leluhur saya adalah pandai besi, termasuk kakek dan ayah (bapak) saya mewarisi keahlian pembuatan pisau dan parang (senjata tajam ), desa ujung bawang terkenal dengan desa penghasil pisau karo dan senjata tajam lainnya, keahlian ini tidak semua orang bisa mewarisinya, ayah saya juga ada 5 bersaudara lelaki, hanya 2 yg bisa mewarisinya, walau sekarang sudah tidak terlalu produktif ( beralih jadi wiraswasta ), adapun pisau yang bisa mereka ( pandai besi ) produksi salah satunya tumbuk lada.                                            

Bahan utama pisau ini adalah pada gagang terbuat dari tanduk kerbau, pisau terbuat dari kuningan atau besi, sedangkan sarung pisau terbuat dari pangkal bambu atau tanduk kerbau, Pada pangkal sarung Tumbuk Lada terdapat bonjolan bundar yang selalunya dihias dengan ukiran yang dipahat biasanya bentuknya mirip kepala ayam. Sarung senjata ini sering dilapis dengan kepingan perak atau kuningan.

Tumbuk Lada digunakan secara menikam, mengiris dan menusuk dalam pertempuran jarak dekat. Ia boleh dipegang dengan dua jenis genggaman yaitu dengan mata keatas ataupun mata ke bawah.

Tetapi sekarang pada umumnya jadi perhiasan atau pusaka yg dipakai di acara adat, atau untuk keperluan pengobatan, maka diadakan upacara Ngelegi Besi Mersik kepada Kalibumbu.

Sejauh pengetahuan saya senjata ini bisa juga diisi jimat atau bisa juga diisi racun.

Adapun Cara menentukan apakah Piso Tumbuk Lada itu cocok baginya atau tidak ialah:
- dengan mengukur menggunakan teknik ibu jari kanan dan kiri
- dengan menantikan petunjuk lewat mimpi

Tetapi pada saat ini pembuatan senjata ini sudah banyak yang bukan buatan tangan ( hand made ) tetapi sudah menggunakan mesin, sehingga nilai pamor nya berkurang, banyak dijumpai di Pasar, meskipun asli buatan tangan masih banyak ditemukan di perkampungan yang memiliki pandai besi tradisional.

Sekedar informasi, jenis pisau ini juga banyak ditemukan di beberapa tempat di Aceh, Sumatera ( Melayu ) sampai ke Malaysia dengan varian berbeda.

Masih banyak pisau atau golok khas dari Tanah Karo, tetapi saya akan ulas dikemudian hari.

Sumber dari : Ujung Bawang Simalem

Ukiran pada Pisau Tumbuk Lada





Ukiran pada Pisau Tumbuk Lada

[Sumber: A.G. Sitepu]


Pisau pada Suku Karo


Oleh Amry Pelawi

Pisau yang digunakan suku Karo ada beberapa jenis diantaranya Pisau Tumbuk Lada , Pisau Dengkai Dengkai , Sekin , Rawit dan lain – lainnya.

Tentang Tumbuk Lada :

Pisau Tumbuk lada ada beberapa motif ukirannya dan ada juga yang tidak berukir. Bahan pisau juga berbeda beda tergantung kepada keperluannya. Kalau Anak Beru mindo besi mersik (piso Tumbuk Lada) kepada kalimbubu maka biasanya bahan besinya terdiri dari 5 negeri (Kerajaan), kemudian dilebur menjadi satu baru kemudian di tempa menjadi pisau. Arti angka lima disini ialah gelah ertima tendi irumah (agar jiwa dan rohnya tetap berada dirumah).

Maksud diadakannya upacara ngelegi besi mersik (pisau) kepada kalimbubu dikarenakan bebere mamana sering kurang / tidak sehat. Menurut kepercayaan , si “Bebere” termama – mama tendinya. Jadi dalam upaya penyembuhan dan agar sakit sang “bebere” tidak kambuh – kambuh lagi maka dimintala besi mersik (pisau) kepada Kalimbubu.

27 October 2011

Djaga Depari



Komponis nasional Djaga Depari tidak saja menulis lagu lagu romantika kehidupan orang karo tapi beliau juga menulis lagu lagu yang bernafaskan perjuangan rakyat karo menentang pendudukan bangsa bangsa  asing dibumi Karo. Karya karyanya yang melukiskan perjuangan rakyat Karo inilah yang menasbihkan beliau sebagai seorang komponis nasional RI.

Djaga Depari dilahirkan di desa Seberaya, kecamatan Tiga Panah, kabupaten Karo. Dia tidak mempunyai pendidikan khusus di bidang musik tapi sangat piawai dalam menggesek dawai biola. Dia mengandalkan biola dalam meramu note note sebuah lagu.

Apabila semangat patriotisme seorang Djaga Depari tergugah, maka note note lagu yang diciptakannya menjadi sangat berbeda . Langgam kesenduan lagu lagu Karo berubah menjadi hentak jiwa yang bergelora ingin membebaskan diri dari belenggu ketertindasan.

Lagu “Erkata Bedil ( Dentuman Senjata)“ menggambarkan semangat perjuangan yang dia embankan pada pemuda pemuda Karo untuk ikut mengangkat senjata melawan kuasa kuasa asing di tanah Karo walaupun pemuda pemuda itu sedang dilanda asmara. Lagu ini kemudian menjadi lagu nasional perjuangan rakyat  RI.

Djaga Depari juga berpesan kepada pemuda pemuda Karo untuk mengutamakan kemerdekaan bangsa dan rakyat Karo. Hubungan hubungan romantis antara pemuda dan pemudi menjadi nomor dua dibawah kepentingan rakyat. Pesan ini dapat kita rasakan bila kita menyimak syair lagu “Kemerdekaanta”. Dia melukiskan kata kata seorang pemuda kepada kekasihnya :


“Bila kelak  kita telah mendapatkan kemerdekaan negara ini,  maka kita akan bersatu kepelaminan”. Ternyata memang semangat pemuda pemudi di Karo untuk memperjuangakn kemerdekaan menjadi membara dibawah komando seorang pemimpin tentara Djamin Gintings.

Dipuncak kreativitas Djaga Depari, keberadaan ekonomi dan teknologi tidak mampu mengangkat beliau kejenjang selibriti. Lagu lagunya tidak dapat diperdengarkan dengan mudah seperti dijaman ini. Lagu lagu itu hanya sering didengar dalam acara acara tahunan orang Karo didesa desa dinyanyikan oleh artis artis perkolong-kolong tanpa harus membayar royalti kepada Djaga Depari.

Djaga Depari menghabiskan masa masa tuanya dikampung Seberaya dengan menuliskan banyak lagu lagu Karo yang sekarang ini dengan mudah kita peroleh dalam bentuk pita kaset atau dvd yang diperdagangkan secara komersil.

Salah satu Lagu ciptaan Djaga Depari yang pernah populer secara Nasional di Indonesia pada tahun 2000-an adalah berjudul Piso Surit. Pisot Surit yang digambarkan dalam lagu tersebut merupakan bunyi sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara seksama sepertinya sedang memanggil-manggil dan kedengaran sangat menyedihkan. Jenis burung tersebut dalam bahasa karo disebut “pincala” bunyinya nyaring dan berulang-ulang dengan bunyi seperti “piso serit”.

Atas karya terbaik yang telah ditorehkan Djaga Depari, khususnya bagi bangsa Karo dan secara umum untuk bangsa Indonesia, maka untuk mengabadikan pengabdiannya, pemerintah propinsi Sumatera Utara mendirikan sebuah monument Djaga Depari dikota Medan.

Penghargaan Yang Diperoleh Alm.Djaga Depari :
1. Piagam Anugerah Seni dari Presiden RI (2 Mei 1979)
2. Piagam Anugerah Seni dari Gubernur SuMut (13 Juli 1979)

sumber :

Kumpulan Teks dan Terjemahan Lagu-lagu Karya Djaga Depari (bagian 2)

8. Mari Kena
Mari turang geget ate mari kena
Sikel kal aku o turang kita ngerana
Aloi, aloi kal aku
Kena kal nge pinta-pintangku
Mari turang iah mari kena
Mari turang iah mari kena

Tebing kal kapen o turang ingandu ena
Nipe karina i jena ringan i jena
Tadingken kal ingandu ena
Mari ras kal kita jenda
Mari turang iah mari kena
Mari turang iah mari kena

Tertima-tima kal kami kerina gundari
Kalimbubu, anak beru ras seninanta merari
Mulih kal gelah kena keleng ate
Ras kal kita jenda morah ate
Ula lebe meja dage

Mari turang iah mari kena
Mari turang iah mari kena
(sumber : Henry Guntur Tarigan, Piso Surit tahun 1990 halaman : 132)

Mari Kena (Marilah mari)
Mari adinda sayang marilah mari
Ingin daku kita berbicara
Dengar, dengarkanlah daku
Dikaulah yang sangat kurindukan
Mari, marilah sayang
Mari, marilah sayang


Sangat terjal jalan ke rumahmu sayang
Ada banyak ular pula di situ
Tinggalkanlah rumahmu itu
Mari kita bersama di sini
Mari, marilah sayang
Mari, marilah sayang


Sekarang kami semua menanti-nanti
Ada kalimbubu, anakberu dan senina di sini
Pulanglah wahai kekasih hati
Janganlah dulu putus asa


Mari, marilah sayang
Mari, marilah sayang


9. Pernantin
Ngembus, ngembus kal ko angin
Seh ngayak Pernantin ingan ergurila kin
Laskar rayat simbelin, Pernantin tama pujian

Sehken tenahku man bana
Lalap aku la lupa berneh-berneh ras reba-rebana ras sapo-sapo
Ingan mengungsi kerina

Seh ngayak Juhar, Juhar si mbelang
Janah ka pe tiga, tiga Sigenderang
Inganku terkelin ndube, seh menang gurila bage

Kumpulan Teks dan Terjemahan Lagu-lagu Karya Djaga Depari (bagian 1)

1. Bulan Purnama

Marjata-jata embunna mbnentar martega
Bagina cirem tertawa bulanna purnama
Nerang-nerangi kepulon Indonesia enda
Nambahi jilena rikut mulia

Tempa mejamu sinasa bintang margore
Tempa mesuku kal angina, si rembus
Rembus medale-dale manje erdile-dile
Cawir terangna bulan, bulan puranama e
(sumber : Henry Guntur Tarigan, Piso Surit tahun 1990 halaman : 326)

Bulan Purnama

Tersisih awan putih yang berkumpul
Serasa senyum lebar bulan purnama
Menerangi kepulauan Indonesia ini
Menambah indah dan kemakmurannya

Serasa menyambut segala bintang bersinar
Serasa mengelus angina yang bertiup halus
Meniup pelan dan lembut mengelus
Terangnya bulan, bulan purnama itu 

2. Bunga Pariama

Miap-miap bulung pariama
I embus angin deleng seh jilena
I duru lingling bage kidah turahna sisada
I deher sabah tineka sabah tineka
I deher sabah tineka sabah tineka

Teptep jelma lit sura-surana
Erban mehuli ku japa gia
Tapi mekatep salah bage jadinya
Isuan rudang, duri kidah salihna
Isuan rudang, duri kidah salihna

Makana ise kal kin nge si man salahen kin ndia
Kuneken srbut meremang tangkelen-tangkelenku
Janah pe ise kal kin nge si man pujin kin nina
Kuneken sikap ras jore cibal geluhna
Kuneken sikap ras jore cibal geluhna

Djaga Depari : Yang menghilang, Lagu USDEK


Djaga Depari, komponis nasional, tidak saja menulis lagu lagu romantika kehidupan orang karo tapi beliau juga menulis lagu lagu yang bernafaskan perjuangan rakyat karo menentang pendudukan bangsa bangsa asing di bumi Karo.

Diantaranya yang dikenal "Erkata Bedil" atau Bunyi Senapan. Namun ada sebuah lagu yang tak lagi didengar semenjak Orde Baru berkuasa. Lagu itu berjudul USDEK.

USDEK 

Lit kidahken momo
Momo manifesto
Manifesto Soekarno
Bapa rayat si rulo
Bapa rayat si rulo

Usdek kap isina
Pijer podi man banta
Em penarang penakit
Perukur si la tengka
Perukur si la tengka

U kap undang-undangta
Undang-undang tahun empat puluh lima
S kap sosial radu kita mulia
Sikeleng-kelengan kerina
D kap demokrasi, terpimpin kapen ia
E kap ekonomi, terpimpin ka ngia
K kap kepribadian, kepribadian Indonesia

Yah dagena alo
Aloken manifesto
Mari rari kita
Usdek gelementa

(sumber : Henry Guntur Tarigan, Piso Surit tahun 1990 halaman : 342)

artinya :

USDEK
Ada konon pengumuman 
Pengumuman manifesto 
Manifesto Soekarno 
Bapak rakyat banyak (Indonesia)
Bapak rakyat banyak (Indonesia)


Usdek lah isinya 
Pemersatu bagi kita
Pencegah sesuatu yang buruk
Pemikiran yang negatif
Pemikiran yang negatif


U adalah undang-undang kita 
Undang-undang tahun empat puluh lima 
S adalah sosial dan kesejahteraan bagi kita semua
Saling menyayangi semua
D adalah demokrasi, yang terpimpin pula 
E adalah ekonomi, yang terpimpin pula 
K adalah kepribadian, kepribadian Indonesia 


Ayolah ayo terima
Terimalah manifesto
Mari semua kita
Usdek pegangan kita



Bung Karno dan Tanah Karo


“Kawan! Pusara adalah lambang kesinambungan hidup! Mati! Dalam perjuangan. Bahana kekal panggilan Bung Karno dari Blitar sampai Tanah Karo”
(Sitor Situmorang)
 Demikian Sitor Situmorang, sastrawan angkatan 45 itu menuliskan seuntai kalimat tanda penghormatan pada “sang proklamator” pada sepetak batu marmer di Monumen Bung Karno, Laugamba Berastagi.









Bougenville di halaman rumah bercat putih itu seakan menjadi saksi bisu. Di dekatnya, tampak berdiri seorang tentara Belanda memangku senjata sedang berjaga. Bung Karno, Sutan Syahrir dan H Agus Salim kelihatan tertawa. Mengapa mereka tertawa? Bukankah mereka dalam pengasingan? Entahlah. Tapi, setidaknya itulah yang tergambarkan dalam foto memoar yang tergantung di dalam rumah bersejarah itu, kini.

Di Desa Laugumba, Kecamatan Berastagai Tanah Karo tepatnya di kawasan seluas 1,5 hektar, terdapat sebuah rumah semi permanen bercat putih, beratap seng berukuran 20×30 meter, dengan seluas taman yang ditumbuhi rerumputan hijau dan bunga-bunga. Tempatnya hening, jauh dari kebisingan. Angin berhembus sejuk hampir sepanjang waktu. Dan tahukah Anda bahwa di tempat itulah Soekarno, sang pelopor kemerdekaan dengan kedua tokoh penting itu pernah diasingkan semasa Belanda melancarkan Agresi Militer yang kedua, pada 1948.


RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA (1914-1964) -- bagian 4

Nisan kuburan dari Rakutta Sembiring Brahmana
di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, Kabupaten Karo.

Pergerakan Rakutta Sembiring

Setelah menikah beliau makin gencar turun dalam gelanggang politik. Berbagai macam diskusi ia lakukan, bersama teman-temannya seperti Munaf Munir, Jakob Siregar, Selamat Ginting, Keras Surbakti dll. Mereka melakukan pergerakan sampai ke Kota Cane, Aceh Tenggara Propinsi NAD.

Tahun 1930, Rakutta kembali terjun ke dunia politik setelah sebelumnya terhenti karena aktivitasnya berdagang pakaian. Pada tahun ini juga ia mendirikan Indonesia Muda Cabang Medan. Setelahnya Rakutta kembali ke Tanah Karo untuk berdiskusi mengenai pendudukan Jepang di  Tanah Karo dengan Selamat Ginting dan Keterangen Sebayang. Kemudian akhirnya mereka juga mengajak Nolong Ginting Suka dan Nerus Ginting Suka. Sehubungan dengan terbentuknya Komite Indonesia Cabang Medan yang dipimpin oleh Sugondo Kartoprodjo dari Taman Siswa, di Karo juga kelima tokoh ini sepakat membentuk Komite Indonesia Cabang Tanah Karo. Kegiatan pertama komite ini adalah memberikan resolusi kepada pemerintahan jepang di Tanah Karo untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia

Pada tahun 1943, Rakutta keluar dari Partindo, ia kemudian masuk Pendidikan Nasional Indonesia yang di pimpin oleh Tama Ginting dan berkedudukan di   Berastagi. Kegiatan dari Pendidikan Nasional Indonesia ini antara lain memberi ceramah dan kursus-kursus kepada para anggota masyarakat mengenai perkembangan zaman dan taktik serta siasat yang dijalankan di bawah kekuasaan Jepang. Pada masa ini juga Rakutta bersama tokoh lainnya mendirikan Koperasi sebagai wadah propaganda kepada masyarakat Karo untuk kesadaran politik di samping kegiatan jual beli barang di pasar-pasar atau di kantor-kantor koperasi. Koperasi ini bernama Poesat Ekonomi Rakyat (Poesra).

Untuk menyatukan dan menyalurkan segala potensi yang ada pada masyarakat agar dapat membantu Jepang, maka dibentuklah Badan Oentoek Membatoe Pertahanan Asia yang disingkat dengan BOMPA. Bompa ini berdiri pada 28 Nopember 1942 di Medan. Pada saat awal berdirinya Bompa ini dipmpin oleh Mangaraja Soangkupon. Kemudian berikutnya pimpinan Bompa digantikan oleh Mr Mohammad Yusuf dan akhirnya dipegang oleh Abdul Karim MS. Abdul Karim MS merupakan seorang tokoh pergerakan rakyat di zaman penjajahan Belanda dan pernah masuk penjara di Digul.

Bompa yang berada di Medan kemudian me

RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA (1914-1964) -- bagian 3


Kehidupan Berumahtangga Rakutta Sembiring Brahmana 

Setelah berhenti dari Taman Siswa, Rakutta Sembiring Brahmana pulang kekampung halamannya di Desa Limang. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian disarankan oleh ayahnya untuk segera berumah tangga, dan karena itu adalah permintaan ayahnya, Rakutta Sembiring Brahmana tak kuasa menolak sehingga ia meluluskan permintaan dari orangtua yang sangat dikasihinya itu.

Seperti pada umumnya masyarakat Karo, biasanya seorang laki-laki disarankan oleh orangtuauntuk menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya yang lajim disebut impal. Perkawinan dengan impal menurut pola kekerabatan masyarakat Karo merupakan perkawinan yang ideal. Perkawinan ini diharapkan dapat menjaga agar tali kekerabatan tetap terjalin terus-menerus. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian disuruh untuk memilih salah satu dari puteri pamannya (mama) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Rakutta Sembiring Brahmana memantapkan pilihanya kepada salah seorang anak perempuan pamannya bernama Ngamini br Sebayang. Rakutta Sembiring Brahmana akhirnya menikahi impalnya.

Pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana dengan impalnya Ngamini br Sebayang dilaksanakan di Desa Perbesi. Pernikahan ini dilaksanakan di Desa Perbesi karena desa tersebut merupakan desa tempat isterinya berasal. Pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana dengan Ngamini br Sebayang dilakukan dengan acara adat Karo. Pada hari yang telah ditentukan dilaksanakanlah pesta perkawinan Rakutta Sembiring Brahmana dengan Ngamini br Sebayang. Hari itu semua sangkep nggeluh dari kedua belah pihak hadir untuk memuliakan pesta perkawinan itu.

Apabila pesta diadakan sintua (agung), yakini dengan memotong kerbau dan erkata gendang, dan kalimbubu membawa oseanak berunya (sukut). Pertama-tama kalimbubu si ngalo ulu emas akan memasangkan ose penggantin laki-laki dan si nereh memasangkan ose pengantin perempuan. Selanjutnya semua sukut iosei oleh kalimbubu si ngalo ulu emas janah simaba ose- nya masing-masing. Selesai rose acara pun dimulai. (18) Dalam pelaksanaan pesta perkawinan adat ini dipotong beberapa kerbau milik orangtuanya, selain karena ayahnya mempunyai kerbau yang cukup banyak, juga karena yang menikah adalah putera sulung. Seharusnya dilakukan demikian sesuai dengan adat istiadat perkawinan di tengah-tengah masyarakat Karo.

Setelah menikah Rakutta Sembiring Brahmana beserta isterinya menetap di Desa Limang. Meski Rakutta Sembiring Brahmana telah menikah, beliau tidak pernah meninggalkan kesibukannya di dunia politik, beliau justru lebih gencar melakukan kegiatan politik setelah ia menikah. Rakutta kerap kali meninggalkan isterinya sendirian dan pergi ke desa-desa yang ada di Tanah Karo untuk menyampaikan pidato-pidatonya. Rakutta Sembiring Brahmana sering tidak pulang ke rumah hingga berhari-hari bahkan sampai satu minggu. Hal-hal seperti ini tidak membuat isterinya marah karena ia sangat mengerti dan mendukung kegiatan suaminya itu.

RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA (1914-1964) -- bagian 2


Ketika Rakutta Sembiring Brahmana masih anak-anak, beliau sering mengikuti ayahnya dalam acara-acara adat seperti perkawinan, kemalangan, memasuki rumah baru, begitu pun upacara ritual menurut kepercayaan leluhur. Hal ini tidak mengherankan, karena ayah dari Rakutta ini sendiri adalah seorang penetua adat yang kerap kali dipanggil untuk menghadiri berbagai acara. Seringnya Rakutta mengikuti ayahnya dalam berbagai acara adat mengakibatkan lambat laun ia mengetahui mengenai adat-adat karo. Beliau juga sering berdiskusi dengan ayahnya mengenai adat-adat karo yang belum ia mengerti. Dengan demikian maka pemahaman mengenai adat-adat ini akan semakin banyak. Pemahaman Rakutta Sembiring Brahmana terhadap adat karo kelak dituliskannya dalam sebuah buku yang berjudul "Corat Coret Budaya Karo".

Sama halnya dengan anak-anak sebayanya Rakutta Sembiring Brahmana juga menyenangi permainan-permainan yang sering dimainkan pada saat itu seperti sepak bola, catur, kelereng, gasing dan sebagainya. Dia juga dikenal sebagai anak yang pintar. Namun seperti anak-anak pada umumnya, Rakutta juga tidak terlepas dari kenakalan-kenakalan kecil yang sering dilakukan oleh anak-anak. Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah mau mengalah apabila ia merasa apa yang dia lakukan itu benar. Demikian juga ketika adik-adiknya diperlakukan tidak adil oleh orang lain ia akan melawan dan memarahi adiknya itu apabila tidak mau melawan orang tersebut. Sifat seperti ini tetap dipertahankannya hingga ia menikah dan mempunyai anak .Konsep untuk melawan jika benar ia terapkan kepada anak-anaknya kelak. Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari salah satu adik tiri Rakutta Sembiring Brahmana, abang sulungnya ini mempunyai beberapa teman sepermainan yang sangat dekat yakni Ngerimi Ketaren dan Tandel Brahmana. (16)

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana menginjakan usia sekitar delapan tahun tepatnya pada tahun 1924, beliau memasuki bangku sekolah untuk pertama kalinya. Kedua orangtua Rakutta sepakat untuk menyekolahkan anak sulungnya ini di Sekolah Rakyat yang dikenal dengan HIS (Holland Inlandsch School). Pada masa itu belum ada sekolah di Desa Limang, oleh karena itu orangtuanya kemudian menyekolahkannya di Kabanjahe.

Jarak antara Kabanjahe dan Limang cukup jauh sehingga tidak memungkinkan apabila Rakutta Sembiring Brahmana untuk pergi bersekolah setiap harinya dengan pulang pergi, sehingga pada saat itu Rakutta dititipkan orangtuanya di tempat neneknya di Kabanjahe. Sejak saat itu Rakutta Sembiring Brahmana tidak tinggal bersama orangtuanya lagi. Meskipun Rakutta Sembiring Brahmana telah tinggal bersama neneknya, namun kedua orangtuanya kerap kali mengunjunginya dan demikian juga sebaliknya beliau juga sering mengunjungi orangtua dan sanak saudaranya di kampung halamanya Desa Limang terutama pada saat libur sekolah berlangsung. Biaya kehidupan Rakutta Sembiring Brahmana setelah tinggal bersama neneknya di Kabanjahe tetap ditanggung oleh kedua orangtuanya.

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana masih duduk di bangku Sekolah Rakyat yang dikenal dengan sebutan HIS (Holland Inlandsch School) ibu kandung dari beliau yaitu Bayang Tua br Sebayang dipanggil oleh Tuhan Yang maha Esa untuk menghadap kepadaNYA. Peristiwa ini tentunya melukiskan luka yang mendalam bagi Rakutta Sembiring Brahmana yang masih kecil. Kehilangan salah satu orang yang paling dicintainya membuatnya sedikit rapuh. Namun sebagai seorang anak laki-laki yang paling sulung dan berjiwa besar, Rakutta tidak larut dalam kesedihan. Rakutta Sembiring Brahmana pun akhirnya bangkit dan kembali pada kegiatannyaseperti biasa.

Masa Remaja Rakutta Sembiring Brahmana

Setelah tamat dari HIS (Holland Inlandsch School) pada tahun 1927, Rakutta Sembiring Brahmana melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi lagi. Rakutta Sembiring Brahmana melanjutkan sekolahnya di Taman Siswa yang berada di Kota Medan. Selama Rakutta Sembiing Brahmana di Medan, ia tinggal bersama salah satu kerabatnya bernama Hj Harun yang dikenal dengan julukan Pak Haji. Rakutta Sembiring Brahmana tinggal di Kampung Lalang Medan bersama pasangan suami istri yang sudah lama menikah dan tidak mempunyai anak, oleh karena itu mereka kemudian mengangkat Rakutta Sembiring Brahmana menjadi anak angkat mereka. (17) Sejak ia diangkat menjadi anak oleh keluarga Hj Harun, Rakutta SembiringBrahmana mempunyai orangtua kedua selain ayah dan ibu kandungnya yang tinggal di Desa Limang. Selama ia tinggal di rumah Hj Harun, Rakutta Sembiring Brahmana menjadi anak yang mandiri. Rakutta Sembiring Brahmana tidak segan-segan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian dan piring, mengepel lantai bahkan memasak yang pada umumnya dilakukan oleh kaum wanita.

RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA (1914-1964) -- bagian 1

Rakutta Sembiring Brahmana (1914-1964)

Pada awalnya beliau menjabat sebagai Bupati Tanah Karo pada tahun 1946 hingga 2 priode. Pada tahun 1954-1960 Rakutta Sembiring Brahmana dipindah tugaskan ke daerah Asahan. Di Asahan beliau menjabat sebagai Bupati sekaligus merangkap sebagai Walikota Tanjung Balai. Dan yang terakhir beliau menjabat sebagai Walikota Pematang Siantar 1960-1964. Walaupun Rakutta Sembiring Brahmana bukan putra daerah tetapi dia bisa menjadi seorang pemimpin di daerah orang lain. Selama ia memimpin di tiga wilayah beliau telah memberikan sumbangsih yang sangat besar melalui kebijakan-kebijakan yang ia buat.



BIOGRAFI RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA (1914-1964)
Oleh Eva Angelia Sembiring
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

ABSTRAK

Rakutta Sembiring merupakan salah satu tokoh penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia yang belum pernah dituliskan orang dalam bentuk biografi, memoar atau otobiografi. Rakutta Sembiring Brahmana lahir di Tanah Karo tepatnya di Desa Limang pada tanggal 4 Agustus 1914. Awal kariernya dimulai dengan mengikuti pelatihan sipil dan kemudian turut serta dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada awalnya beliau menjabat sebagai Bupati Tanah Karo pada tahun 1946. Pada tahun 1954-1960 Rakutta Sembiring Brahmana dipindah tugaskan ke daerah Asahan. Di Asahan beliau menjabat sebagai Bupati. Dan yang terakhir beliau menjabat sebagai Walikota Pematang Siantar 1960-1964. Walaupun Rakutta Sembiring Brahmana bukan putra daerah tetapi dia bisa menjadi seorang pemimpin di daerah orang lain. Selama ia memimpin di tiga wilayah beliau telah memberikan sumbangsih yang sangat besar melalui kebijakan-kebijakan yang ia buat.

Tulisan ini membahas latar belakang sisi kehidupan Rakutta Sembiring Brahmana, baik kehidupan pribadinya maupun kebijakan-kebijakan yang ia lahirkan selama periode kepemimpinanya menjadi kepala daerah. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan latar belakang kehidupan Rakutta Sembiring Brahmana, aktivitas politik selama menjabat sebagai pemimpin dan akhir hayat Rakutta Sembiring Brahmana.

Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan sumber), Verifikasi (kritik sumber), Interpretasi dan yang terakhir adalah Historiografi (penulisan). Pada tahap heuristik, penulis menggunakan dua metode penelitian yakini, metode kepustakaan (Library Research) dan metode lapangan (Field Research).

Masa Kecil Rakutta Sembiring Brahmana

Rakutta Sembiring Brahmana lahir di sebuah desa yang berada di dataran tinggi Tanah Karo tepatnya Desa Limang. Pada masa pendudukan Belanda, Desa Limang termasuk ke dalam wilayah Landschaap (10) Sarinembah khususnya Urung Perbesi. (11)

Saat ini Desa Limang merupakan salah satu Desa yang berada padawilayah Kecamatan Tiga Binanga. Mayoritas masyarakat Desa Limang berasal dari klan Marga Sembiring (12) khususnya Sembiring Brahmana. (13) Hal ini terjadi karena menurut sejarah yang beredar di dalam masyarakat desa ini, pendiri Desa Limang adalah Marga Sembiring Brahmana. Oleh karena itu tidak mengherankan bila hingga saat ini marga Sembiring Brahmana mendominasi wilayah Desa Limang.

Desa Limang ini didirikan oleh Sembiring Brahmana sekitar tahun 1650-1700. Perhitungan ini didasarkan kepada generasi keempat Singian Sampalen yaitu Mangasi Sembiring Brahmana (1841-1923) dan Mbeliting Sembiring Brahmana (1943-1924). (14)

26 October 2011

Kulcapi

Kulcapi by Solsoldo

Sarune Ndikkar

Sarune ndikkar by Solsoldo

Gendang Erndikkar

Tari-tari Bintang, Tar-tar Bintang, Tare-tare Bintang

Yakin Sembiring Brahmana
di majalah INSIDESUMATERA edisi September 2011


Pandikkar klasik tidak mengenal istilah tari-tari bintang, yang ada adalah istilah Landek bunga-bunga (Memperagakan sembah dalan, sembah beras pati taneh, sembah guru, sembah empat desa, sembah mata wari pultak dll....dan mengadakan komunikasi tersembunyi sesama pendekar, dari mana kamu, siapa gurumu, saya undang kamu makan dan tidur di rumahku dsbya...).

Tar-tar Bintang adalah nama group tari yg ada di Belanda membawakan tari klasik Karo yg di kombinasikan dengan tari Ndikkar, pernah nampil di Floriade, pasar malam Besar, german dsnya....

Tare-tare Bintang, adalah salah satu nama Jurus favorit dari pandikkar Laubaleng, Ramah Tampu, Mbal2 petarum dan sekitarnya pada mulanya dipertunjukan pada jamannya oleh: Seter Sembiring dan Singet Sembiring Milala. Biasanya jurus TARE-TARE bintang ini di ikuti dengan jurus SARENSAREN tebu yg melambangkan gerakan TARE-TARE BINTANG dan BINTANG MEGARIS-GARIS.




(Semoga, tulisan ini sedikit mempercerah kesimpang siuran terhadap istilah yg mirip2).


Oleh Pandikkar Yakin Sembiring Brahmana di FB Group JAMBURTA MERGA SILIMA.

Yakin Sembiring Brahmana
di majalah INSIDESUMATERA edisi September 2011

Yakin Sembiring Brahmana
di majalah INSIDESUMATERA edisi September 2011
Foto-foto halaman majalah diambil dari FB Ita Apulina Silangit.

Ndikar Diambang Kepunahan


Ndikar 1920 an


Ndikar (baca ; ndikkar) adalah seni bela diri dari daerah Karo, yang juga sering disebutkan dengan kata silat. Walaupun sebenarnya kata ndikar adalah merupakan terjemahan silat atau pencak silat ke dalam Bahasa Karo, tetapi dewasa ini orang Karo sendiri lebih sering memakai kata silat daripada kata ndikar, bahkan cenderung kata ndikar semakin jarang didengar atau diucapkan sehingga bagi sebagian kaum muda Karo kata ndikar merupakan kata yang asing diucapkan.

Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, ndikar juga merupakan olah raga bela diri tradisional khas dari daerah Karo yang memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari daerah lain, sedangkan Pandikar adalah kata sebutan bagi orang-orang yang mendalami ilmu bela diri ini ataupun orang-orang yang memiliki ilmu bela diri ndikar (bandingkan pandikar dengan pendekar dalam bahasa Indonesia).

Ndikar dan Tari-tari Bintang
Dalam prakteknya ndikar sering juga dianggap sebagai tari-tarian biasa karena dalam setiap penampilannya dalam acara-acara tertentu pertunjukkan ndikar kerap diiringi dengan musik tradisional Karo. Memang yang saya dengar sejak dari zaman dulu pertunjukan ndikar selalu dipertunjukkan dengan iringan musik, dan tarian ini juga merupakan salah satu dari tari tradisional suku Karo yang dikenal dengan nama Tari-Tari Bintang.

Namun tarian ini bukanlah tari-tarian biasa yang gerakannya bisa dihafal dari awal sampai akhir dan tinggal dipraktekkan saja mengikuti alunan musik, tarian ini adalah suatu wadah dimana para pandikar menunjukkan apa yang dimilikinya atau apa yang dipelajarinya selama mengikuti sang guru atau dengan kata lain di dalam tarian ini sang pandikar berusaha menunjukkan seberapa dalam ilmu yang telah dimilikinya yang dalam hal ini ditunjukkan dalam sebuah gerakan tari-tarian, tentu saja hal ini membutuhkan suatu kemampuan yang cukup mumpuni dari sang pandikar.

Seorang maestro tari pun sepertinya akan sulit mempertunjukkan tarian ini tanpa belajar bela diri ndikar, karena dalam tarian ini sama sekali tidak ada suatu gerakan baku yang bisa dihafal atau diikuti, tetapi para penari atau para pandikar secara spontan harus membuat gerakan sendiri sesuai dengan gerakan atau jurus-jurus ndikar yang telah dikuasainya dengan mengikuti alunan musik.

Walaupun merupakan suatu tari-tarian, Tari-tari Bintang juga memberi kesempatan kepada para pandikar untuk saling menyerang dan bertahan. Dimana dalam pertunjukan ndikar dua orang akan ditampilkan untuk menunjukkan kemampuan masing-masing. Dengan alunan musik yang bertempo pelan diawali gerakan sembah para pandikar mulai menari dengan gerakan yang pelan atau normal mengikuti alunan musik, tahap ini bisa diibaratkan sebagai tahap pemanasan.

Pada tahap ini para pandikar selain menari juga mulai berusaha untuk mencari celah atau mengintip kelemahan sang lawan. Tahap selanjutnya pemusik mulai menaikkan tempo musiknya sehingga pergerakan para pandikar juga semakin cepat sesuai dengan iringan musik, pada tahap inilah para pandikar mulai saling menyerang dan mengeluarkan kemampuam masing-masing dalam beberapa saat, biasanya pada tahap ini para penonton akan menyemangati para pandikar dengan teriakan dan juga memberikan aplaus bagi pandikar yang berhasil mencuri atau menyarangkan pukulan ke tubuh lawan atau juga kepada pandikar yang pertahanannya sulit ditembus sang lawan. Selanjutnya musik berangsur mulai melambat dan kembali ke tempo awal, pergerakan sang pandikar juga ikut melambat dan akhirnya ditutup dengan gerakan sembah dari para pandikar.

Ndikar diambang kepunahan
Saat ini ndikar sangat jarang dipelajari atau diajarkan baik di Tanah Karo ataupun diluar Tanah Karo, sehingga kemungkinan suatu saat ndikar ini akan punah atau lenyap dari peradaban Suku Karo, sungguh suatu hal yang sangat disayangkan mengingat ndikar ini juga merupakan aset budaya Karo yang seharusnya dilestarikan untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Saat ini hanya segelintir orang-orang tertentu dan juga di desa-desa tertentu saja yang masih mengerti atau memiliki kemampuan untuk mempraktekkan gerakan atau jurus dalam ndikar, rata-rata orang-orang ini adalah orang-orang tua yang sudah mulai uzur. Meskipun mereka mempunyai beberapa murid namun terkesan ilmunya berhenti hanya sampai disitu saja tanpa ada generasi penerusnya.

Kurangnya minat anak-anak muda Karo untuk mempelajari ndikar juga ikut andil dalam semakin terpinggirkannya bela diri ndikar dari masyarakat Karo itu sendiri, memang bukan hal yang aneh jika produk lokal selalu kalah dari produk-produk import, Melalui tulisan ini saya untuk mencoba mengajak teman-teman para muda-mudi Karo khususnya, marilah kita kembali melihat ke bawah ke tempat kita berpijak, marilah bersama-sama kita kembangkan kembali seni bela diri ndikar ini yang merupakan peninggalan budaya asli nenek moyang kita sehingga kelak akan menjadi salah satu identitas kita suku Karo. Karena dengan mendalami ndikar ini selain ikut melestarikan budaya juga akan bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga kita.

Sumber : Wikipedia 

Video Ndikar - Silat Karo (1920)



Ndikar (baca; ndikkar) adalah seni bela diri dari daerah Karo, yang juga sering disebutkan dengan kata silat. Walaupun sebenarnya kata ndikar adalah merupakan terjemahan silat atau pencak silat ke dalam Bahasa Karo, tetapi dewasa ini orang Karo sendiri lebih sering memakai kata silat daripada kata ndikar, bahkan cenderung kata ndikar semakin jarang didengar atau diucapkan sehingga bagi sebagian kaum muda Karo kata ndikar merupakan kata yang asing diucapkan.

Note: Video ini diabadikan di salah satu pasar malam di Tanah Karo pada tahun 1920.









Nampeken Jinujung (1983)





Rekaman video Nampeken Jinujung, merupakan tari adat yang religus dari masyarakat Karo tradisional
dan menurut kabarnya diabadikan di Desa Sukanalu tahun 1983

Dari Kehancuran Menuju Bangkitnya Orang Karo Ber-tani (Perkembangan Pertanian Karo bagian 3)

Menjual Kol (foto oleh KALVIN GINTING)
“Ini adalah masa kehancuran”, begitulah ungkapan beberapa petani. Ungkapan seperti ini umumnya berasal dari petani yang cenderung hanya menanam satu jenis tanaman. Jenis tanaman itu adalah tanaman untuk kebutuhan ekspor, seperti; kol, kentang, wortel, daun bawang, atau kol bunga. Seorang petani tua, Pak MG (75 tahun) mengatakan bahwa, pada pada masa sebelum konfrontas, harga lebih sering sesuai dengan yang diharapkan (seri bagi sura-sura). Karena harga tanaman yang diekspor cenderung mahal, dan biaya pupuk dan pestisida tidak semahal saat ini. Apapun alasan petani, mereka cenderung menganggap bahwa masa konfrontasi adalah masa yang ‘lesu’ bagi penanaman sayuran. Hal ini menyebabkan mereka cenderung tidak meluaskan areal perladangan mereka. 

2.2. Saat Konfrontasi

Pemutusan hubungan dengan Malaysia tidak mengurangi penanaman jumlah varietas yang ada. Perubahan yang terjadi hanyalah pada segi jumlah hasil panen yang berkurang. Berkurangnya hasil panen disebabkan karena setiap petani menanam sayuran dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada biasanya.

Pengurangan jumlah penanaman ini terjadi karena pendistribusian hasil panen hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal (Sumatera Utara), dan pengiriman untuk beberapa daerah di luar Sumatera Utara.

“Pada masa ini ladang-ladang kami ada yang sangat beragam, semua ditanam dan semua sedikit jumlahnya, ada juga hanya beberapa macam dan juga ada hanya satu macam, semuanya sedikit”, begitulah Pak KG (60 th) mendeskripsikan situasi saat itu. “Masa ini enak bagi saya, tidak capek berpikir, hanya untuk lokal saja, bisa lebih tenang”, ini reaksi beliau menanggapai situasi yang bagi sebahagian besar orang merupakan awal kehancuran masa depan.

Ketenangan yang dimaksudkan Pak KG adalah dari segi psikologis. Beliau tidak perlu memikirkan modal yang besar. Modal yang diperlukan untuk biaya penanaman menjadi sedikit karena jumlah yang ditaman juga sedikit.

“Kalaupun petani mengalami kerugian disebabkan oleh hasil panen yang jelek karena hawa (perubahan cuaca), atau harga yang kebetulan turun, maka kami hanya rugi sedikit, dan kalau pun kami untung ya.. untung juga sedikit”, begitulah pernyataan Pak KG.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Pak Sm, Ibu AG, dan beberapa petani lainnya. Mereka mengatakan bahwa, bagi mereka yang tidak mempunyai modal besar, konfrontasi tidak berpengaruh besar terhadap pendapatan mereka. Sebab, mereka juga selama ini cenderung menanam beberapa jenis tanaman, dan sangat jarang menanam satu jenis saja untuk ekspor. Karena tanaman untuk ekspor harus ditanam lebih luas, dan itu butuh modal yang besar untuk perawatannya(6).

Beberapa petani lain mengeluhkan masa konfrontasi sebagai masa yang paling merugikan bagi mereka. “Ini adalah masa kehancuran”, begitulah ungkapan beberapa petani. Ungkapan seperti ini umumnya berasal dari petani yang cenderung hanya menanam satu jenis tanaman. Jenis tanaman itu adalah tanaman untuk kebutuhan ekspor, seperti; kol, kentang, wortel, daun bawang, atau kol bunga.

Menurut beberapa petani lainya, pada masa sebelum konfrontasi beberapa jenis petsai, seperti sayur putih juga diekspor ke Malaysia dan Singapura. Para petani hanya mengetahui bahwa pengiriman barang terbesar adalah untuk tujuan Negara Malaysia. Mereka mengatakan bahwa pada waktu sebelum konfrontasi, walaupun harga tanaman tidak sangat mahal, tetapi sesuai dengan harapan . Seorang petani tua, Pak MG (75 tahun) mengatakan bahwa pada harga lebih sering sesuai dengan yang diharapkan (seri bagi sura-sura). Karena harga tanaman yang diekspor cenderung mahal, dan biaya pupuk dan pestisida tidak semahal saat ini.

"Zaman mulih mengongsi dan Masa Keemasan" (Perkembangan Pertanian Karo bagian 2)

Brastagi di tahun 1967
Kegiatan belajar ini dapat dilakukan karena kegiatan cocok tanam dipercayakan oleh para migran Tionghoa sepenuhnya kepada buruh tani. Sementara migran Tionghoa berperan sebagai pemberi instruksi dan pengawas kerja. Dengan menjadi buruh, petani-petani Gurusinga dapat menambah pengetahuan mereka tentang tanaman hortikultura. Pada masa ini juga telah mulai terbuka peluang pasar ekspor. Beberapa petani desa ini yang telah memiliki uang dari hasil sewa tanah dan gaji sebagai buruh tani mulai memberanikan diri untuk beralih dari tanaman padi dan jagung ke tanaman hortikultura dalam skala kecil.

2. Periode Sesudah Mengungsi

Penanggalan sejarah hortikultura berikutnya adalah masa sesudah mengungsi. Penduduk menyebutnya dengan zaman mulih mengungsi. Masa ini dimulai pada tahun 1947. Penekanan penting dari periode ini terutama pada masa dimulainya pengiriman ekspor barang ke negara Malaysia dan Singapura berkisar tahun 1950. Masa ini dibagi penduduk Gurusinga ke dalam tiga periode waktu. Ketiganya didasarkan kepada arus ekspor barang. Kata kunci yang beredar luas untuk seluruh periode ini adalah Konfrontasi Malaysia, sebab peristiwa ini yang menyebabkan arus ekspor barang menjadi terhenti. Terhentinya arus ekspor barang ini berpengaruh kepada pilihan jenis dan jumlah penanaman, dan pendapatan petani. Penduduk memilah tiga kurun waktu, yaitu; pra konfrontasi, saat konfrontasi dan pasca konfrontasi.

Penyebutan Konfrontasi Malaysia menjadi penting bagi petani karena situasi konfrontasi ini sangat menentukan terhadap keuntungan dan kerugian yang diperoleh petani atas hasil panen tanaman hortikultura mereka. Uraian berikut ini akan mendeskripsikan situasi yang dialami petani pada ke tiga periode waktu di masa konfrontasi tersebut.

2.1. Pra Konfrontasi

Periode ini di mulai sejak tahun 1947 atau 1948, tepat pada saat kembalinya penduduk desa Gurusinga dan wilayah sekitarnya dari pengungsian hingga memasuki awal tahun 1950. Sekitar tahun 1948, tanaman hortikultura di Gurusinga dikuasai oleh para migran Tionghoa yang menyewa lahan petani lokal untuk masa 1-3 tahun. Keuntungan ekspor barang juga hanya dirasakan oleh para migran, karena penduduk lokal hanya berperan sebagai buruh tani miskin pada lahannya sendiri yang telah disewa oleh migran Tionghoa. Masa ini dijadikan masa belajar untuk menanam tanaman muda (tanaman hortikultura atau tanaman berusia singkat).

Kegiatan belajar ini dapat dilakukan karena kegiatan cocok tanam dipercayakan oleh para migran Tionghoa sepenuhnya kepada buruh tani. Sementara migran Tionghoa berperan sebagai pemberi instruksi dan pengawas kerja. Dengan menjadi buruh, petani-petani Gurusinga dapat menambah pengetahuan mereka tentang tanaman hortikultura. Pada masa ini juga telah mulai terbuka peluang pasar ekspor. Beberapa petani desa ini yang telah memiliki uang dari hasil sewa tanah dan gaji sebagai buruh tani mulai memberanikan diri untuk beralih dari tanaman padi dan jagung ke tanaman hortikultura dalam skala kecil.

"Opedenga mengongsi" ( Perkembangan Pertanian Karo bagian 1)

Pemandangan Pasar Brastagi
Overzicht van de markt te Berastagi, Karolanden, Sumatra`s Oostkust
1920-1925
Source : Tropenmuseum
Sebahagian besar petani lanjut usia (di atas 60 thn) selalu mengawali pembicaraan mereka mengenai sejarah hortikultura dengan sebuah senyum bahagiaseolah bernostalgia dengan serangkaian sejarah hidup mereka.... Pada saat ini, hasil ladang dibawa ke pasar di Berastagi dengan cara menjunjung di atas kepala (ijujung). Petani harus berangkat dari Desa Gurusinga berkisar pukul 04.00 wib atau 05.00 wib pagi. Pedati (gereta lembu) dapat digunakan, tetapi sewanya mahal dan juga ada rasa takut karena kondisi jalan masih berlubang-lubang dengan kedalaman mencapai 0,5 meter.


PERIODESASI WAKTU BERDASARKAN PENGALAMAN PETANI:
Kajian Antropologi Mengenai Periode Perkembangan Budidaya Hortikultura Di Berastagi Kab. Karo.

Oleh Sri Alem Br.Sembiring (1)
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara

Pendahuluan
Tulisan ini mendeskripsikan bagaimana petani membuat pembagian periode waktu untuk menentukan perkembangan kegiatan pertanian mereka, khususnya kegiatan praktik tanam campuran hortikultura di lahan pertanian mereka. Hal yang menarik dari pembagian waktu berdasarkan kriteria periodesasi versi petani ini adalah bahwa periode itu didasarkan kepada pengalaman-pengalaman historis petani dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain. Pengalaman-pengalaman itu dapat berupa hal yang menggembirakan, menyedihkan, menggelisahkan atau menakutkan yang dibarengi rasa was-was akan kerugian atau keuntungan hasil ladang.

Pengalaman-pengalaman itu bervariasi dari masing-masing petani. Namun mereka dapat mengkaji secara makro apakah situasi itu akan menguntungkan atau merugikan bagi mereka. Secara umum, setiap petani senantiasa cenderung menghubungkan ungkapan pengalaman mereka dengan perkembangan situasi politik pada setiap periode waktu tertentu yang berimbas dengan kegiatan pertanian dan keuntungan atau kerugian yang mereka peroleh dari hasil panen.

Kegiatan budidaya hortikultura yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah kegiatan penanaman bermacam-macam jenis tanaman hortikultura dalam satu lahan pertanian milik petani. Teknikpenanaman semacam ini senada dengan isu saat ini ‘hangat’ dibicarakan kalangan iluwan dengan kata kunci ‘biodiversity’ (keanekaragaman hayati) yang dapat mempertahankan sistem pertanian yang berkelanjutan. Cleveland (1993) menyebutnya dengan ‘sustainable agriculture’ yang sangat penting untuk mempertahankan stabilitas pertanian (lihat juga tulisan Shand 1997).

Sisi Historis Perkembangan Budidaya Hortikultura
Uraian berikut ini akan memberikan suatu penggambaran bahwa periodesasi perkembangan budidaya hortikultura itu juga erat berkaitan dengan aspek perkembangan pengetahuan penduduk, interkasi penduduk dengan para migran, kebijakan pemerintah di bidang politik, perkembangan pemanfaatan sarana jalan dan transportasi, perkembangan pemanfaatan lahan dan secara tidak langsung dengan perkembangan jumlah penduduk.

Deskripsi berikut ini akan menunjukkan aspek ‘the whole’ dari suatu kajian antropologi. Perhatian secara holistik ini cenderung memberikan suatu gambaran yang lebih mendetail mengenai suatu topik yang ditinjau dari banyak sisi dan menunjukkan hubungan antara satu sisi dengan sisi lainnya sebagai suatu sistem terkait (lihat dalam Vredenbregt 1984: Bernard 1994).

1. Periode Zaman Belanda
Apabila kita menanyakan tentang sejarah tanaman hortikultura di desa ini, hampir seluruh petani akan memulai penuturannya dengan kalimat, “dulu pada waktu jaman Belanda ....”. Zaman Belanda merupakan salah satu awal perhitungan sejarah penting bagi petani di Kab Karo, khususnya di Desa Gurusinga.

24 October 2011

Bangkitnya Ritual Orang Gunung


KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Dukun perempuan mengalami kesurupan saat memimpin jalannya ritual Sarilala atau tolak bala di Desa Gurukinayan, Kecamatan Payung, kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Jumat (22/7/2011). Ritual ini jarang dilakukan warga setempat. Sebelumnya pernah dilakukan saat Gunung Sinabung meletus Agustus 2010, dan kali ini kembali dilakukan sebagai harapan agar gunung tidak meletus lagi.


14-10-2011
Indira Permanasari dan Ahmad Arif

KOMPAS - Tambah Tarigan (70) duduk takzim dengan lutut ditekuk. Sirih dan tembakau tersaji di depannya. Kedua tangan keriputnya menyatu di depan dada. Suasana hening. Tiba-tiba tubuhnya bergetar. Hanya sesaat, lalu kembali diam.

Orang-orang di dalam rumah panggung kayu itu tegang menantikan adegan berikutnya. ”Nggo reh nini, kai penungkunen kena (Nenek sudah datang. Kalian mau tanya apa)?” suara Tambah memecah keheningan.




Ketika Sinabung meletus, berbagai ritual yang dasarnya pemberian sesaji alias ercibal untuk tolak bala difokuskan ke Sinabung. Ritual-ritual ini dipimpin guru si baso yang menjadi penghubung antara warga dan roh. Guru diyakini memiliki pengetahuan tentang alam semesta yang berasal dari Yang Kuasa. Mereka juga berfungsi sebagai biak penungkunen, tempat meminta penjelasan dan sehat atas peristiwa aneh yang dialami.
Tiga pemuda desa yang duduk mengitari Tambah lalu bertanya. ”Apakah Sinabung akan meletus lagi?” ujar Sabirin Manurung, pemuda yang biasa menjadi pemandu pendakian  Mata Tambah terpejam. Suara gemeresak seperti radio rusak keluar dari tenggorokan, sementara bibirnya terkatup. Setelah suara gemeresak berhenti, Tambah berujar, ”Kata ’mereka’, Sinabung tidak akan meletus lagi. Aman.” ”Mereka” yang dimaksud adalah roh-roh leluhur di Sinabung.

”Kenapa tahun lalu Sinabung meletus?” ujar Sabirin lagi. Suara gemeresik kembali terdengar dari

23 October 2011

Pujian Putu Wijaya pada Pelukis Rugun Sembiring Brahmana


Lukisan Rugun Sembiring berjudul "Maba Kampil" dibuat sekitar tahun 80-an


Sesuatu Yang Jernih
19 AGUSTUS 1978

RUGUN Sembiring Brahmana (54 tahun), muncul di Balai Budaya Jakarta 8 s/d 14 Agustus yang lalu dengan 46 buah lukisan kuning.

Pelukis yang pernah digodok di ASRI Yogya ini (1952 - 1954) bagai nyala api pedalaman. Garis-garisnya bergerak lincak tetapi wataknya sederhana. Di samping spontan, Rugun menunjukkan pengamatan seorang anak desa yang akrab dan cinta pada tanah kelahirannya, Karo.

Kerbau, sungai, kampung, pedati, babi, lesung dan segala yang ada di sekitar kehidupan pedesaan, muncul dalam kanvas Rugun dalam bentuk-bentuk yang jelas dan terutama suasana yang dekat. Ia juga melukis seorang lelaki yang memanjat pohon mengambil nira -- atau dukun yang memanggil roh atau menahan hujan.

Ia memotret hidup sehari-hari dari dalam hidup itu sendiri, sehingga lukisannya terasa orisinil. Tidak Besar Kekuatan Rugun justru karena kesederhanaan teknisnya, serta persentuhannya dengan alam. Tak dapat dipastikan apakah kesegarannya terasa hanya karena selama ini Jakarta hampir dibanjiri pameran yang lebih mengutamakan ide.

Rugun, dengan gaya seorang impresionis yang penuh gairah, melahap sesuatu yang lebih nyata. Atap rumah yan menjulang, dengan suasana yang aman yang menunjukkan kesunyian yang tidak disertai rasa pahit. Segalanya ditampilkan tanpa perasaan curiga, meskipun kadangkala kita merasakan adanya pengaruh dari sana-sini. Misalnya saja lukisan berjudul Sawah -- dengan goresan-goresan melingkar di langit yang menginxatkan kita pada van Gogh.

Kadangkala ia mendramatisir suasana seperti pada lukisan Pedati. Dengan warna gelap dan terang, dengan sapuan-sapuan bebas pada satu belahan dan membiarkan belahan yang lain netral, ia tidak saja memberi

Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960) bagian 2

PISO SURIT (1960)
Sinopsis :

Wita (Mieke Wijaya), mahasiswi datang ke Tanah Karo untuk mengadakan penelitian budaya. Untuk itu ia menyewa kuda dari Pande (Ahmadi Hamid), orang tua pandir yang mengimpikan punya sado sendiri. Hubungan yang makin lama makin erat, Pande antara lain mengajarkan lagu Piso Surit yang membuat Pande lama-lama jatuh cinta. Segala tindakan Wita dianggapnya balasan cinta, hingga suatu hari ia tak tahan dan berusaha memperkosa Wita. Untung Wita bisa menginsyafkan Pande, yang lalu jadi malu dan lari untuk bunuh diri. Kawan Pande yang disuruh Wita, berhasil mengajak pulang Pande. Wita memaafkan tindakan Pande dan besoknya pulang kembali ke kota. Di jalan Wita ketemu Pande yang memberinya kenangan berupa selendang Karo.

Arti dari Piso dalam bahasa karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang karo. Sebenarnya Piso Surit adalah nama sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara seksama sepertinya sedang memanggil-manggil

Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960) bagian 1



film “Turang” yang mengisahkan perjuangan orang-orang dari suku Karo pada waktu Revolusi Agustus 45 di Sumatra Timur, pemutaran pertamanya dilangsungkan di Istana Merdeka dan disaksikan oleh Presiden Sukarno


Poster Film "Turang"
(sumber posterjadoel.blogspot.coml")

TURANG (1957)

Sinopsis :
Filem berjudul "Turang" terpilih sebagai Filem Terbaik FFI (Festival Filem Indonesia) tahun 1960. Bercerita tentang perjuangan Rusli dalam melawan penjajah di Sumatera. Ketika terluka, ia dirawat oleh Tipi. Tumbuhlah rasa cinta diantara mereka tetapi keadaan tidak memungkinkan untuk mereka bersama karena Belanda terus menyerang dan pasukan harus terus berpindah-pindah.

Kisah perjuangan gerilya melawan Belanda di Tanah Karo (Sumatera Utara), khususnya di Seberaja, kampung yang pernah jadi pusat komando. Wakil komandan Rusli (Omar Bach) yang terluka diserahkan perawatannya kepada Tipi (Nizmah), adik anggota gerilyawan Tuah (Tuahta Perangin-angin). Tumbuhlah