31 January 2012

Pelangkah (Perahu Kematian)


Deskripsi : Model bentuk dari perahu kematian dari seorang Sembiring (Karo). Ciplakan dari sebuah perahu yang terdapat pada museum Batak sang Raja. Setiap tujuh atau delapan tahun keluarga Sembiring melaksanakan pesta kematian. Tulang tulang dari seseorang, yang meninggal dunia sejak dari pesta yang terahir, di gali dan di letakkan di dalam pot. Kemudian dihanyutkan ke sungai Lau biang . Hal di bawah ini berasal dari Achim Sibeth, The Batak, London Thames and Hudson, 1991 p. 70-73. Kekaisaran kematian tersebut biasanya terdapat tidak jauh dari tempat pemakaman atau pegunungan. Beberapa dari Karo meyakini bahwa kekaisaran kematian (alam kematian) hanya dapat di capai melalui air. Kepercayaan lama ini memungkinkan sebuah hal bahwa mereka yang memiliki posisi penting di Karo di letakkan di peti yang berbentuk sebuah kapal perahu dengan bagian kepalanya berbentuk seekor burung rangkong.

Peti Kayu bertulis seperti itu dinamakan pelangkah. Pelangkah terletak di sisi samping rumah yang di bubuhi sebuah pipa saluran air untuk pengaliran cairan tubuh, yang di salurkan langsung menuju ke tanah . Apabila sanak saudara memiliki cukup dana , maka akan dilaksanakan penguburan yang kedua. Sisa sisanya dibersihkan dan tengkorak dan tulang tulang besarnya di letakkan di geriten, rumah untuk tulang tulang. Tulang tulang lainnya di bakar . Seremoni ini disebut nurun nurun. Pada situasi yang lainnya seluruh tulang tulang tersebut di bakar, dalam hal ini tidak ada keseragaman . Pada sisi atas peti terdapat seorang laki laki di bagian depan yang biasanya menyandang sebuah senjata dan wanita di letakkan di sisi bagian belakang. Fungsi dari senjata tersebut adalah sebagai berikut. Sosok sang Begu , roh dari yang meninggal dunia di pisahkan dari jiwanya, roh yang hidup pada mereka yang ditinggalkan dipertahankannya untuk mengikuti jejak roh yang mati. Figur wanita adalah sosok seorang prister, guru sibaso. Tangannya bagaikan memohon ke atas sana. Figur figur seperti ini juga terdapat pada perahu keluarga Sembiring, seperti exemplar. Kebanyakan dari Sembiring melaksanakan pembakaran dalam hal kematian dan meletakkan abunya di pot pada saat seremoni besar besaran dilaksanakan. Setelah orang belanda menduduki/menguasai wilayah karo, hal seperti ini tidak lagi dilaksanakan.

Keluarga Sembiring ini menurut beberapa legenda bahwa mayat meraka tidak akan dibolehkan di biarkan lama di dalam kubur dan secepat mungkin di bakar . kemudian mereka meletakkan abunya ke atas perahu ini dan menghanyutkannya ke sungai. Figur figur kecil di atas perahu tersebut , menyatakan mereka mereka yang telah meninggal dunia , biasanya empat atau delapan. Semuanya terbuat dari kayu pohon kemiri . Semuanya di warnai dengan warna batak merah dan hitam. Setiap sosok yang meninggal mendapatkan sebuah pakaian dan perhiasan, agar dapat dikenali. Pakaian, senjata dan perhiasan dari yang meninggal di gantungkan pada perahu tersebut. Di awali dengan penempatan perahu di atas gunung pasir , sesudah itu di ikat pada rakit bambu. Abu dari yang meninggal dunia di sebarkan di atas perahu , atau pot potnya di isi dengan abu dan di letakkan di atas perahu. Sibeth percaya bahwa pot pot yang berisikan abu, pada rakitan bambu, di letakkan di samping p erahu tendi. Setelah selesai seremoni pertangisen maka perahu tersebut di bawa kembali ke kampung. Pada hari keenam segalanya di bawa kembali ke gunung pasir. Pada bagian paling belakang dari haluan perahu di letakkan sebuah korban yaitu ayam betina putih. Di siang hari perahu tersebut di biarkan di permukaan air setelah mast dan pakaian senjata, dan perhiasan di keluarkan. Sebelas kali perhu tersebut berlayar maju dan berlayar mundur, kemudian dilempari keluarga Sembiring dengan batu ke perahu tersebut sehingga terbalik. Dengan demikian abu tersebut lebih cepat tumpah ke air . Untuk keluarga sembiring tendi tendi tersebut langsung menuju ke alamnya . Karo lainnya memiliki kepercayaan bahwa roh tersebut berada di kuburan .

Diterjemahkan oleh Gabriella bru Ginting


Model van een dodenschip vervaardigd uit o.a. aren
Beschrijving :

Model van een dodenschip van de Sembiring (Karo Batak). Kopie van een boot die stond opgesteld in het Batak museum te Raja. Iedere zeven of acht jaar hielden de Sembiring een dodenfeest. De beenderen van degenen, die waren overleden sinds het laatste feest, werden opgegraven en in een pot geplaatst. Deze liet men de Lau Biang rivier afdrijven. Onderstaande komt uit Achim Sibeth, The Batak, London Thames and Hudson, 1991 p. 70 - 73 Het dodenrijk bevond zich meestal niet ver van het dorp, in de buurt van de begraafplaats of bergen. Sommige Karo geloofde dat het dodenrijk slechts over water bereikt kon worden. Dit oude geloof heeft mogelijk ertoe geleid dat heel belangrijke Karo in een doodskist gelegd werden in de vorm van een schip met de kop van een neushoornvogel.

Dergelijke kisten heetten pelangkah. De pelangkah stond naast het huis met een afvoerpijp voor de lichaamssappen, die zo de grond instroomden. Als de familie voldoende geld had verzameld, vond een tweede begrafenis plaats. De resten werden schoongemaakt en de schedel en de grote botten vonden een plaats in de geriten, het bottenhuis. De overige botten werden gecremeerd. Deze ceremonie heette nurun-nurun. In andere gevallen werden alle botten gecremeerd, hierover bestaat geen eenduidigheid. Op deze kisten werden een man voorop, vaak met een geweer, en een vrouw achterop geplaatst. Het geweer heeft de volgende functie. Het moet de begu, de dodeziel van de overledene weghouden en de tendi, de levensziel van de nabestaanden weerhouden de dodenziel te volgen. De vrouwfiguur is een priesteres, guru sibaso. Haar handen zijn smekend opgeheven. Dergelijke figuren komen ook voor bij de Sembiring dodenschepen, zoals dit exemplaar. De meeste Sembiring cremeerden hun doden en deden de as in potten tijdens grote ceremonieën. Nadat de Nederlanders het Karo gebied overheerste werden deze ceremonieën niet meer uitgevoerd.

Deze Sembiring Batak zouden volgens verschillende legendes hun doden niet langer mogen begraven en waren overgegaan tot cremeren. Vervolgens lieten ze de as op deze boten de rivier afdrijven. De kleinere figuren op de boot, stelden overledenen voor, meestal vier of acht. Alles is gesneden uit kemiri hout. Alles is geschilderd in de Batak kleuren rood en zwart. Elke overledene krijgt kleding en sieraden, zodat ze herkenbaar worden. Kleding, wapens en sieraden van de overledenen worden op de boot gehangen. Eerst worden de boten op een zandberg geplaatst, daarna vastgemaakt op een bamboe vlot. De as van de overledenen werd uitgestrooid op de boot, of de potten met as worden op de boot geplaatst. Sibeth gelooft dat de potten met as, op het vlot, naast de zielenboot werden geplaatst. Na een rouw ceremonie bracht men de boot weer terug naar het dorp. Op de zesde dag werd alles weer naar de zandberg gebracht. Op het achterdek werd een offer van een witte hen neergelegd. In de middag werd de boot te water gelaten nadat de mast en de kleding, wapens en juwelen waren verwijderd. Elf keer werd de boot stroom opwaarts en afwaarts gevaren, daarna gooiden de Sembiring stenen naar de boot zodat die zou kapseizen. Hierdoor zou de as sneller naar de rivier gaan. Voor de Sembiring konden de zielen zo naar het dodenrijk gaan. Andere Karo geloofden dat de ziel dichter bij de begraafplaats bleef.

Titel : Model van een dodenschip vervaardigd uit o.a. aren
Vervaardigingsdatum : ca. 1924
Aanbieder : Tropenmuseum Amsterdam

Source : digitalecollectienederland.nl  klik

P.A.J. (Pieter Adriaan Jacobus) Moojen Melukis Karo, 1916


Karo
Sangkar burung dan Geriten
Rumah Sibayak Pa Mbelgah

30 January 2012

Perempuan Karo dan Kedua Anaknya dalam "Indonesia Early Postcards"


Kartu Pos bergambar Perempuan Karo dan Kedua Anaknya diperkirakan difoto tahun 1890-1899. Dimuat di halaman 29 dalam buku Indonesia 500 Early Postcards yang disusun oleh Haks, L., S. Wachlin diterbitkan di Singapore tahun 2004.

Foto ini dibuat oleh C.J. Kleingrothe J.B. Obernetter.

Sumber : Tropenmuseum



Uniknya buku Indonesia 500 Early Postcards ini bersampul foto perempuan Karo. Perempuan Karo ini memakai pakaian khas perempuan Karo lengkap dengan tudung dan padung-padung tempo dulu. Di atas tudung perempuan Karo itu diletakkan “Sumpit Nakan”.

Di antara foto-foto semasa kolonial Belanda berkuasa di Indonesia yang dirangkum dalam buku ini, keanggunan perempuan Karo tempo dulu adalah menjadi daya tarik tersendiri begitu juga kearifan lokal budayanya. Foto perempuan ini dianggap pilihan terbaik dari antara 500 gambar kartu pos seluruh Indonesia yang dikeluarkan pada zaman kolonial. Di dalamnya juga terdapat rumah Sibayak Lingga di Kabanjahe. Istana Raja Karo ini berdiam 16 Jabu  (16 Keluarga). Istana ini sudah hangus dibakar rakyat Karo saat zaman Revolusi tahun 1947.

Foto Berwarna Karo Diperkirakan tahun 1932-1940

Foto berwarna ini diperkirakan antara tahun 1932-1940 di Brastagi.
Sumber : Tropenmuseum



Rumah adat dan tempat penyimpanan padi

Perahu Kematian (Pelangkah) Sibayak Soerbakti

Perahu Kematian (pelangkah) Sibayak Soerbakti di desa Soerbakti.
Bahagian depan kapal berbentuk burung enggang atau rangkong.
Di bahagian depan terdapat patung pria dan di belakang terdapat patung wanita.
Diperkirakan antara tahun 1914-1918.

Doodskist van een Sibayak in Soerbakti.
Photo oleh : T (Tassilo) Adam


Tulang-tulang Sibayak Soerbakti

Tengkorak Kepala Sibayak Soerbakti

Patung Pria di depan Kapal Kematian

Kehidupan di dalam Rumah Adat Karo (1914-1919)



Beschrijving:
Deze foto is met een aantal andere foto's op karton geplakt, en zo geëxposeerd op de "Tentoonstelling der Bataksche Etnografische Verzameling en der Fotografien van Batakland en Volk van den heer Tassilo Adam". De tentoonstelling, die werd georganiseerd door de Delische Kunstkring, was van 14 tot en met 20 februari 1919 te bezichtigen in de Witte Sociëteit in Medan.

Titel:
Karo Batak house interior / Interieur van een Karo Batak huis 

Lukisan Rumah Karo tahun 1915


Titel:
Een Karo Batakse familiewoning

Soort object:
Pastel

Formaat:
Met lijst: 37,3 x 45,5 x 1,8cm (14 11/16 x 17 15/16 x 11/16in.)

Trefwoorden:
Sumatera Utara / Sumatera / Indonesië

Identificatie:
3204-83

Vervaardiger:
P.A.J. (Pieter Adriaan Jacobus) Moojen

Vervaardigingsdatum:
1915 

Perempuan Karo dan Perhiasannya

Fotografer : C.J. Kleingrothe J.B. Obernetter

Tahun Pembuatan :1890-1920
Sumber : Tropenmuseum Amsterdam
Perempuan tua Karo, dengan Padung-padunng.

 Beschrijving:
Op deze foto is een Karo Batak vrouw op leeftijd te zien met oorijzers ("padung-padung").

Titel:
Portrait of an old Karo Batak woman wearring earrings / Portret van een Karo Batak vrouw op leeftijd, met oorijzers

Tahun pembuatan : Vervaardigingsdatum:
1910-1925

Sumber jasa : Tropenmuseum Amsterdam

Tukang Pandai Besi Pembuat Padung

Perhiasan dan Padung milik perempuan Karo di atas kain ragi barat
Description          
Nederlands: Negatief. De uitgestalde sieraden liggen op een zijde "ragi barat" doek met metaaldraad, waarschijnlijk uit Aceh (Niessen 1993:39, fig. 29). Sieraden, Karolanden.
Date        1914/1921
Source   Tropenmuseum
Author   T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).


Anting-anting bernama padung ini dikenakan oleh perempuan karo. Anting-anting ini beratnya bisa mencapai 1,5 kg. Para perempuan Karo memakai hiasan ini pada tiap telinga. Untuk mengurangi beban berat pada telinga, 
anting juga ditempelkan pada tudungi..... (Sibeth 1991: 190).

Oorsieraad, gedragen door jonge meisjes. Deze oorhangers kunnen een gewicht hebben tot 1500 gram. Vroeger werden de ringen direct aan het oor van de draagster gesmeed met als gevolg dat de ringen niet meer verwijderd konden worden. De vrouwen droegen aan ieder oor een sieraad. Om de last van het gewicht te verminderen werden de oorsieraden vastgeklemd aan een hoofddoek. Deze ringen worden tegenwoordig niet meer gedragen (Sibeth 1991: 190).

Padung, hiasan anting-anting perempuan Karo
Fotografer : T. (Tassilo) Adam
Tahun Pemotretan : 1914-1919
Tukang Pandai Besi Pembuat Perhiasan 
Anting-anting atau Padung di Kabanjahe

Pelangkah (Perahu Kematian) Orang Karo


Perahu Kematian (Pelangkah) Karo
Karo Batak death ship / Karo Batak dodenschip
Tahun : 1920-1940
Sumber foto : Tropenmuseum Amsterdam

Perahu Kematian (pelangkah) Karo
Karo Batak death ship / Karo Batak dodenschip
 Titel : Model of a death ship at the Indies Institute's museum / Model van een dodenschip in het Indisch Instituut
 Tahun : 1945-1950
 Sumber : Tropenmuseum Amsterdam







Gabriella bru Ginting saat di Tropen Museum, Belanda.
Terjemahan olehnya atas keterangan "Perahu Kematian"


Perahu kematian

Pada awalnya keluarga Karo, meletakkan abu jasadnya di atas sebuah perahu kematian yang mana mereka hanya percaya bahwa alam lain hanya dapat di capai melalui jalur air.


Mereka membiarkan perahu perahu seperti ini mengambang di atas permukaan air dan sekaligus melemparinya dengan batu batu agar perahu tersebut bisa tenggelam. Patung patung kecil melambangkan "tendi tendi" dari mereka mereka yang sudah meninggal . Sosok yang memegang senjata pada haluan melambangkan bahwa dia lah yang membawa sang "tendi " ke alam yang berbeda dari dunia nyata . belakang terlihat sosok yang layaknya seorang pendeta yang memimpin seremoni mereka.

Bahan terbuat dari kayu (kultur Karo)
Sumatera Utara -Indonesia sekitar tahun 1924 (tropen museum)

Sumber : FB Group Sapo Holand

29 January 2012

Sudut Pandang dari Sebuah Kenyataan

Tahun 1966, Dewan Gereja Indonesia (DGI) melakukan kampanye besar-besaran di Kabanjahe untuk memanggil orang-orang Karo berlindung di bawah gereja untuk terhindar dari tuduhan atheist/ komunis. Tahun 1967, berdiri Balai Pustaka Adat Merga Si Lima yang menyerukan bahwa (aliran kepercayaan) Pemena bukan atheist/ komunis dan bahkan setara dengan agama-agama dunia lainnya. Saat itu Dr. Euwe (Belanda) baru saja memenangkan kejuaraan catur dunia, mengingatkan orang-orang Karo akan pertandingan antara Dr. Euwe dengan Narsar (Pa Kantur) Purba yang berlangsung alot dan remis di Amsterdam beberapa tahun sebelumnya. 

Narsar Purba adalah tokoh spiritual gerakan Perodak-odak dengan Pa Raja Bale Ginting (Murba) sebagai pemimpinnya. Secara berame-rame orang-orang Karo meninggalkan gereja dan kembali ke Pemena. Pada sinode 1969, Anggapen Ginting Suka terpilih menjadi ketua moderamen Gereja batak Karo Indoensia (GBKP). Dia mengilhami strategi baru; dari anti tradisi lama menjadi teman tradisi lama. Sejak itu anggota GBKP meningkat drastis. 

Si Narsar Melawan Saffier, 1917

Si Narsar adalah pecatur terkenal
Si Narsar was een bekende schaker.. Portret van de Karo Batak schaker Si Narsar
Date : 1914-1919
Source : Tropenmuseum
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)

Pada Januari 1917,  Juara Catur dari Karo bernama Si Narsar Karokaro  mengalahkan pemain Belanda bernama Saffier. Inilah partai terkuno yang pernah dimainkan dan tercatat notasinya.

Saffier - Narsar
Jakarta, Januari 1917
Pembelaan Perancis Varian Winawer [C15]

1.e4 e6 2.d4 d5 3.Nc3 Bb4 4.exd5 Bxc3+ 5.bxc3 exd5 6.Nf3 Ne7 7.Bd3 Bf5 8.0–0 0–0 9.Rb1 b6 10.Re1 Bxd3 11.Qxd3 Ng6 12.Ba3 Re8 13.Rxe8+ Qxe8 14.Re1 Qd7 15.Qf5 c5 16.Qh5 Na6 17.Bc1 Nc7 18.Ng5 h6 19.Nf3 Re8 20.Rxe8+ Qxe8 21.h3 Qe4 22.Be3 Ne6 23.dxc5 bxc5 24.g3 d4 25.cxd4 cxd4 26.Bd2 Qxc2 27.Qd5 Qa4 28.Kg2 a6 29.Qb7 Qb5 30.Qa8+ Kh7 31.h4 Qa4 32.Qe4 Qb5 33.a4 Qh5 34.Qa8 Qf5 35.Qxa6 Qe4 0–1

Sumber : Komputercatur.com klik

26 January 2012

Sekilas Tentang Pecatur Si Toemboek



Majalah Perkumpulan Catur Hindia Belanda No 10-11 Tahun 1930 dengan nomer spesial 'Euwe Nummer' yang berisi reportase tentang kedatangan Dr. Euwe ke Hindia Belanda.

Machgielis ‘Max’ Euwe lahir di Watergrafsmeer, The Netherlands pada tahun 1901. Menjadi juara dunia pada tahun 1935 and 1937. Pernah menjadi president of FIDE (Fédération Internationale des Echecs) dari tahun 1970 sampai 1978. Pada tour ini Dr. Euwe mengadakan pertandingan ke beberapa kota di Hindia Belanda, di Medan Dr. Euwe sempat ditahan remis oleh seorang pecatur lokal yang bernama Si Toemboek.






Dari sumber Nederlandse Schaakbond :

Si Toemboek, de Batakker

Hans Böhm schrijft in zijn hoedanigheid van ambassadeur van het Amsterdamse schoolschaakproject de Schaakkaravaan regelmatig een weblog over het project. Deze keer blogt hij over Si Toemboek de Batakker. 

Schaken met niets
Op een van zijn vele buitenlandse reizen ontmoette onze enige Nederlandse wereldkampioen schaken Max Euwe eens Si Toemboek. Si was een Batakker, een afstammeling van volksstammen die 1500 jaar geleden vanuit het berggebied van de Himalaya wegtrokken en zich vestigden in Sumatra.

Si Toemboek
De ontwikkelingen gaan niet snel in het eilandenrijk van Indonesië. Daar leven minder ontwikkelde volken en Euwe ging daar schaken met Si. Heel het dorp en velen van de omringende plantages waren uitgelopen om die partij mee te maken. Euwe schreef daarover: 'De mensen waren mager en gespierd en hadden een natuurlijke waardigheid'. Het is heel bijzonder dat iemand die niet kan lezen of schrijven en

Batak Chess Players

The Straits Times, 6 November 1933, Page 13
Batak Chess Players
Article also available on microfilm reel  NL1481  [Lee Kong Chian Reference Library - On shelf]

Batak Chess Players (From Our Own Correspondent). Medan, Nov. 1. The Deli Courant states that the Batak chess players, SI Toemboek, Si Ngoekoem and Si Narsar, intend to make a trip to Singapore and Java. Natives in the Batak territories (the districts near Brastagi and Prapat) are strong chess players, the custom being for the men to Play chess, while the women d j the hard work. On a former occasion, Si Toembroek and Si Ngoekoem met the famous Dr. Enwe and proved their skill.

Si Narsar Karokaro, Master Catur Dunia Jaman Hindia Belanda (bagian 2)

Menurut profil surat kabar (yang memuat foto dirinya terlihat masih muda) pada 31 Januari 1914 edisi “Berita Hari Ini Untuk Hindia Belanda,” Si Narsar dikatakan berusia sekitar tiga puluh tahun, memiliki tiga istri, dan tinggal di Berastagi, sebuah daerah pegunungan di barat laut Danau Toba. Saat itu, ketika Perang Dunia I pecah di Eropa, Si Narsar melakukan pameran di Sumatera dan pertandingan melawan pemain top Belanda atas wilayah tersebut, kegiatan ini ia lanjutkan hingga dua tahun ke depan. Tapi mengingat konflik di seluruh dunia, harapan penggemar Belanda agar Si Narsar dapat tur ke Eropa semakin tak terwujud.

sebelumnya : bagian 1

Setelah pasca perang Dunia I, berita tentang Si Narsar meredup. Pada awal tahun 1923, Meyer menemui Si Narsar di Berastagi. Ia melaporkan Si Narsar jarang sekali bertanding catur selama beberapa tahun. Disebabkan beras semakin mahal dan tidak ada waktu untuk bermain catur. Tenaganya dihabiskan untuk bekerja mendapatkan kebutuhan rumah tangga. Pada kesempatan itu dua pertandingan ulang dimainkan (1 -1). Kedua permainan ini diterbitkan dalam edisi 11 Mei pada kolom Meyer dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Berita Hari Ini Untuk Hindia Belanda). Meyer bersaksi Si Narsar itu, meskipun kurang melakukan praktek dan hanya menguasai teori dasar, tetap menjadi lawan berbahaya.

Foto pecatur Si Narsar dengan istri dan anaknya
tahun foto antara 1914-1919
Portret van een Karo Batak echtpaar van aanzien; de schaker Si Narsar met zijn echtgenote en hun baby
Sumber : Tropenmuseum

Meskipun bisa dibilang ia pemain dari Karo yang paling banyak dipublikasikani, ternyata ada dua pemain kuat lainnya yang mengikuti jejak Si Narsar yaitu : Si Ngoekoem dan Si Toemboek. Pada tahun 1918-1919 keduanya dikenal sebagai pemain catur dari Karo yang sangat baik. Mereka naik mungkin ada hubungannya dengan menghilangnya Si Narsar dari arena percaturan lokal.

Si Toemboek
Kesempatan pecatur Karo untuk menampilkan keahlian mereka melawan master kelas dunia datang pada bulan Oktober 1925 ketika Boris Kostic tiba di Sumatera selama perjalanan tur dunianya. Pada hari Minggu, 4 Oktober Kostic, didampingi oleh pemandu Belanda, berkelana ke daerah pegunungan (Brastagi) yang dihuni oleh orang Karo, dengan tujuan menantang mereka. Menurut koran De Sumatera Post bertanggal 5 Oktober, orang Serbia ini menemukan Si Narsar, dan di luar perkiraan Si Narsar mengalahkannya dua kali. Kostic juga berjanji akan bertemu di Medan dengan dua pemain top lainnya dari Batak, Si Ngoekoem dan Si Toemboek. Pada tanggal 6 Oktober Kostic memberi pameran enam papan simultan dengan mata tertutup di masyarakat kulit putih (+5 - 1). Dalam permainan individu terhadap dua orang Karo terkemuka, Kostic harus mengakui kekalahan. Memahami kesalahannya dalam meremehkan mereka, Kostic memuji orang Karo untuk keterampilan mereka, mengingat mereka diatas Meijer (Kostic kalah dalam lima pertandingan 3 ½ -1 ½ saat menjadi tamu editor catur itu di Batavia).

Pada malam 6 Oktober, mulai pukul 07:00, Kostic mulai melakukan pertandingan simultan yang tidak biasa pada tiga papan di Hotel Medan. Lawannya adalah orang Karo yaitu Si Ngoekoem, Si Toemboek dan Si Narsar, dan yang terakhir ini tiba di Medan dari Brastagi. Harian De Sumatera Post bertanggal 7 Oktober menggambarkan proses dengan sangat rinci, menggaris bawahi kecemasan orang-orang Karo yang bertemu dengan kesempatan sekali dalam seumur hidup untuk menghadapi lawan sekaliber itu. Intensitas permainan berlangsung hingga pukul 01:00, dan Kostic berhasil memenangkan ketiga permainan. Ia memuji Si Toemboek, pemain peringkat tertinggi di antara orang Karo pada saat itu, yang memberinya perlawanan terkuat.

Skor dari seluruh tiga pertandingan, di bawah ini, muncul pada tanggal 18 November dalam kolom Meijer di harian Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indië. Pada pertandingan pertama, pembukaan yang dilakukan Si Ngoekoem begitu rapuh, ia ditakdirkan benar-benar melawan seorang master.

Blog ChessCafe menuliskan :
In the first game, Si Ngoekoem's ruinous opening play doomed him against a master of Kostić's stature, yet 24.Rxd3!? (instead of 24.Ra2) could have made things far more interesting:

Berikut laporannya :

Si Ngoekoem – Boris Kostić
Medan Chess Club, Medan Hotel
Simultaneous Exhibition at three boards
6 October 1925

1.e4 e5 2.d3 Nf6 3.Nf3 Nc6 4.Be2 d5 5.exd5 Nxd5 6.c3 Be7 7.b4 Bf6 8.Bd2 0–0 9.a3 Bf5 10.0–0 Qd7 11.Ra2 h6 12.b5 Nd8 13.c4 Ne7 14.Bc3 Ng6 15.Rd2 Ne6 16.d4 e4 17.Ne1 Nef4 18.Nc2 Nxe2+ 19.Qxe2 Nf4 20.Qe1 Nd3 21.Qe2 Bg6 22.d5 Bg5 23.Ne3 f5

[FEN "r4rk1/pppq2p1/6bp/1P1P1pb1/2P1p3/
P1BnN3/3RQPPP/1N3RK1 w - - 0 24"]
24.Ra2 f4 25.Qg4 Qf7 26.Nc2 Bh5 27.Qe6 Qxe6 28.dxe6 Be2 29.Nd4 Bxf1 30.Kxf1 Rae8 31.f3 e3 32.Rc2 Bf6 33.Ke2 Nc5 34.g3 g5 35.e7 Bxe7 36.g4 Bf6 37.Nf5 Kh7 38.Bb4 b6 39.Nc3 Bxc3 40.Rxc3 Rd8 41.Rc1 Rf7 42.h4 Rfd7 43.hxg5

25 January 2012

Si Narsar Karokaro, Master Catur Dunia Jaman Hindia Belanda

Kostic Melawan Pemain Catur Karo, Medan 1925

(Tulisan ini bersumber dari tulisan Olimpiu G. Urcan berjudul : "An Unusual Clash. Kostić vs. Bataks, Medan 1925" yang dimuat di ChessCafe.com.)

Sudah lama beredar kabar tentang pemain catur Karo yang mampu menarik perhatian dunia, para master catur terkemuka. Dan awal Oktober 1925 terdapat 3 permainan yang tak terlupakan.

Akhir abad ke sembilan belas dan awal kedua puluh, di Hindia Belanda, diberitakan sebuah pulau bernama Sumatera begitu mengagumkan, memiliki karunia luar biasa yang melahirkan pemain catur. Di masa itu, dalam versi regional catur mendominasi Asia Tenggara, dan akhirnya beberapa orang Karo terbukti sama-sama mahir di versi Eropa. Segera setelah klub catur didirikan Belanda di beberapa kota besar di Sumatera dan Jawa pada 1800-an, orang Karo menantang pemain terkuat Belanda dan sering melahirkan skor menakjubkan. Pada awal 1900-an, berbagai jurnal catur Eropa mulai melaporkan pemain catur pribumi sering menghasilkan kemenangan cerdas mereka melawan pemain top klub kolonial. Pada tahun 1905, Armin Van Oefele menerbitkan brosur setebal enam puluh tiga halaman berhubungan dengan topik, Das Schachspiel der Bataker, sebuah esai etnografis pada kebiasaan orang Karo bermain catur.  Tidak mengherankan, H.J.R. Murray, dalam monumental History A Chess (1913), merasa terdorong untuk menyertakan aspek yang menarik geo-sejarah evolusi.

Berbagai majalah catur Belanda dan Eropa, termasuk yang sangat baik Tijdschrift van den Nederlandsch-Indischen Schaakbond (Jurnal dari Federasi Catur Hindia Belanda), berisi sejumlah referensi yang baik akan permainan catur pada masa Hindia Belanda. Informasi yang diberikan ini terutama didasarkan pada kolom catur lokal yang bermunculan di seluruh Hindia Belanda pada akhir 1890-an. Kolom seperti ini sering sulit dilacak, tetapi proyek digitalisasi yang relatif baru terlihat menjanjikan untuk penelitian lebih lanjut. Didukung oleh Koninklijke Bibliotheek, surat kabar utama Belanda 1618-1995 adalah sumber daya yang luas dan mudah digunakan surat kabar sejarah dari berbagai koloni Belanda. Beberapa dari mereka, seperti De Sumatera Pos dan Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indië. Berikut ini sejumlah ringkas kisah dan pertandingan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara master top Eropa dan pemain Batak terkuat dari 1910-an dan 1920-an.
Sebuah karya seni yang menggambarkan Si Narsar 1920,
pemain catur terkenal tahun 1910-an.
[Courtesy of Memory Belanda; Artist: HF van Prapaskah-Gort]
Orang Karo pertama yang diakui pada 1910-an awal adalah Si Narsar Karokaro, seorang Karo, anak seorang kepala desa, dan yang tinggal di utara Danau Toba, sebuah danau vulkanik besar. Seperti yang diumumkan oleh De Sumatera Post pada tanggal 30 Agustus 1910, donatur lokal menyusun rencana untuk membawa Si Narsar dan pemain catur Karo yang berbakat lainnya untuk tinggal selama sepuluh bulan di Eropa. Pada bulan Oktober rencana untuk perjalanan besar belum terwujud, namun Si Narsar mulai melakukan kegiatan yang menarik dengan bermain catur di Jawa, melawan pemain klub terkemuka seperti L.G. Eggink, yang juga mengedit kolom untuk Weekblad voor Indië. Koresponden De Sumatera Post, menulis bahwa Si Narsar memenangkan mayoritas permainan, dan bahwa ia, Eggink, adalah gembira atas pertandingan ini, terutama dapat belajar teori catur oleh orang Karo dari Chess Club Medan.

14 January 2012

Perjanjian Penguasa Karo dengan Belanda


Perjanjian dengan penguasa pribumi di Kepulauan Hindia Timur.

Pantai Timur Sumatra.
Laporan :

Saya di bawah ini ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... menyatakan :

Pertama, wilayah ... ... ... ... .... merupakan bagian dari Hindia Belanda, dan dengan demikian berada di bawah dominasi Belanda, yang karena itu saya selalu setia kepada Yang Mulia Ratu Belanda dan Gubernur Jendral Hoogstderzelver sebagai wakil, dari yang tangannya aku berkuasa atas ... ... ... .. diterima.

Kedua, bahwa Aku di dalam politik tidak ada bersentuhan dengan kekuatan asing, musuh-musuh Belanda juga musuh saya, teman-teman dari Belanda juga teman-teman saya.

Ketiga, saya akan menghormati dan memelihara semua hal yang berkaitan dengan ... ... ... .. oleh rekaman dari Ratu Belanda atau Gubernur Jenderal Hindia Belanda atau perwakilan mereka akan diadopsi atau dibuat berlaku, dan bahwa saya, secara umum, semua perintah akan berhasil saya oleh atau atas nama Gubernur Jenderal atau wakilnya atau untuk diberikan.

Pernyataan di atas dibuat (dengan cap, tanda tangan atau tangan di bawah merek), dan bersumpah oleh masing-masing kepala di bawah. Nama-nama daerah yang mereka kuasai, tanggal dari laporan dan keputusan, yang pernyataan semacam itu disetujui dan diratifikasi dan kepala diakui dan dikonfirmasikan, termasuk ikut di bawah ini. (1)

Catatan : Berikut ini yang tercantum nama-nama penguasa Karo-landen, yang tercantum selengkapnya adalah terdiri dari Afdeeling Asahan (Onderafdeeling Batoebara) dan Afdeeling Simeloengoen  en  Karo-landen (Onderafdeeling Karo-landen, Onderafdeeling Simeloengoen) (selengkapnya klik)

Onderafdeeling Karo-landen.

13. Toehan Tandjarmahei. 
Wilayah yang dikuasai : Dolok (Silau).
Tanggal laporan: 10 September 1907
Tanggal pengesahan: 20 December 1901

14. Toehan Rahalim. 
Wilayah yang dikuasai : Poerba.
Tanggal laporan : 5 September 1907.

J.K Wijngaarden, Pembaptis Pertama


J.K Wijngaarden dan keluarga (Buluh Awar, 1892)


Pada 18 April 1890, Nederlands Zendelingenootschap (NZG), mengutus Pdt. H.C. Kruyt dari Tomohon, Minahasa, ke Tanah Karo. Kruyt tinggal di Buluh Awar yang menjadi pos penginjilan yang pertama di Tanah Karo. Tahun berikutnya dia menjemput empat orang Guru Injil yaitu B. Wenas, J. Pinontoan, R. Tampenawas, dan H. Pesik. Keempat orang inilah yang menjadi rekan Kruyt melakukan penginjilan di Karo. Sebelumnya, keempat orang ini juga bekerja di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.

Pada tahun 1892, Pdt. H.C. Kruyt pulang ke negerinya tanpa berhasil membaptis seorang pun dari suku Karo. Ia kemudian digantikan Pdt. J.K. Wijngaarden, yang sebelumnya telah bekerja di Pulau Sawu dekat Pulau Timor. Pendeta inilah yang melakukan pembaptisan pertama pada suku Karo pada tanggal 20 Agustus 1893. Pada saat itu ada enam orang yang dibabtis, yaitu: Sampe, Ngurupi, Pengarapen, Nuah, Tala, dan Tabar. Pada tanggal 21 September 1894  Pdt. J.K. Wijngaarden  meninggal dunia karena serangan disentri (sumber : WIKIPEDIA)

Misi penginjilan selanjutnya dilanjutkan sementara oleh istrinya, Dina Guittart Wijngaarden, seorang diri di Buluh Awar hingga kedatangan penginjil baru ke sana.  Dina Guittart Wijngaarden  selanjutnya kembali ke Belanda dengan membawa putranya, Cornelius.

Pdt. J.K. Wijngaarden dimakamkan di pemakaman jalan pemuda Medan, lalu dipindahkan ke pemakaman pekabar Injil di Sibolangit. 

Juhar

dari  FB : Darul Kamal Lingga Gayo

06 January 2012

Gua Umang di Kuta Gerat (Kec. Tigabinanga)





Gua Umang di Kuta Gerat (Kec. Tigabinanga) terlihat dari kejauhan. 
Titik hitam di akar pepohonan adalah pintu gua umang. 
Foto oleh : Juara R. Ginting



Pintu Gua Umang di Bintang Meriah (Kecamatan Kutabuluh, Kabupaten Karo). 
Perhatikan ukiran orang (sedang menari?) di bagian kiri pintu gua.
Foto " oleh Juara R. Ginting



Gua Umang di Desa Tanjung




Ukiran gambar manusia berdiri (menari?) di sebelah kiri mulut gua (di dekat orang yang berdiri). 
Foto ini dibuat oleh E. E. McKinnon di tahun 1977


Pintu Gua Umang di Desa Tanjung, menuju ke Desa Bintang Meriah, (Kec. Kutabuluh, Kabupaten Karo).
Foto ini dibuat oleh Arkeolog Skotlandia E. E. McKinnon di tahun 1977


Pintu Gua Umang di Desa Tanjung. Foto ini dibuat oleh Juara R. Ginting tahun 1990


Pintu Gua Umang di Desa Tanjung. Foto ini dibuat oleh Juara R. Ginting tahun 1990

Gua Umang Batu Kemang di Sembahe

Gua umang Desa Sembahe (Kec. Sibolangit, Kab. Deliserdang) dibuat dengan memahat seluruh dinding tebing sehingga menyerupai prisma. Pintu masuk berbentuk persegi dan berhiaskan pelipit, menghadap ke Selatan. Di bagian dalam dipahatkan di masing-masing sudutnya pelipit menyerupai tiang rumah. Di bagian dalam dinding Timur terdapat ceruk berbentuk segi empat panjang. Pada salah satu dinding luar terdapat pahatan yang menggambarkan seorang sedang berdiri. 


(Sumber: Tabloid Sora Sirulo)




Foto : Ruangan dalam gua umang Batu Kemang (Sembahe).
Foto oleh Juara R. Ginting