29 February 2012

Rahasia Cagar Alam Sibolangit

Cagar Alam Sibolangit dibentuk berdasarkan Besluit dari Paduka Tuan Gourverneur dari Pesisir Timur Pulau Pertja tanggal 18 Nopember 1927 No.171/B/A.Z., di mana komisi ini terdiri dari 5 orang yaitu, J Deridder, Controleur dari Bovan-Deli, sebagai wakil dari Gourverment, J W Gonggrijp, Opperhoutvester dari Oostkust Van Sumatera c.a. sebagai wakil dari ‘S Lands Plantentuin. Datoek Hafisz Goembak, Datuk dari XII Kota, Beheng, Penghulu dari kampung Sibolangit, Pentji, Anak Beru dari Kampung Sibolangit.
Cagar Alam Sibolangit merupakan salah satu kawasan konservasi tertua di Indonesia. Layak dikunjungi dan jaraknya hanya 36 km dari Kota Medan.

Oleh Andi Siswanda*)
(2006)

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati dan hewani terbesar di dunia. Sebagai wujud usaha pelestarian fauna dan flora dan pelestarian sumber daya alam yang ada di dalamnya, dilakukan berbagai usaha pengawetan (konservasi) alam baik dalam bentuk hutan lindung, taman nasional, cagar alam, suaka marga satwa dan lain-lain sesuai dengan fungsinya.

Taman Teratai, Sibolangit
Sumber : Tropenmuseum

Wilayah Kebun Raya Sibolangit
Sumber : Tropenmuseum

Rimbunan Bambu kecil jenis Melocanna Humilis
Melocanna humilis in de Plantentuin te Sibolangit, Oostkust van Sumatra, is een in het ravijn groeiende 
bamboesoort die door de Bataks als binnenpijp van hun blaasroer wordt gebruikt
Sumber : Tropenmuseum

Salah satu kawasan konservasi yang tertua yang ada di Indonesia adalah Cagar Alam Sibolangit yang hanya berjarak 38 km dari kota Medan dan dapat ditempuh sekitar satu jam dengan menggunakan kendaraan umum. Jaraknya yang begitu dekat dengan perkotaan menjadikan kawasan konservasi ini relatif terancam dengan aktivitas manusia. Namun diusianya yang ke-90 saat ini, kawasan Cagar Alam Sibolangit masih terpelihara dengan baik, kalau tidak mau dikatakan lebih baik. Lokasi Cagar Alam Sibolangit terletak diantara Jalan Medan-Brastagi, secara administrasi terletak di Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Daerah ini terletak pada ketinggian antara 246-515 meter dari permukaan laut (mdpl). Bila ditinjau secara geogarfis, kawasan Cagar Alam Sibolangit terletak diantara 30 17 50-3: 18 39 LU dan 98: 36 0-98: 36’36 BT.

J.A. Loerzing di Kebun Raya Sibolangit di tahun 1928
Sumber : Oxfordjournals

Cagar Alam atau Kebun Raya Sibolangit didirikan pada tahun 1914 oleh Tn J A Loerzing, seorang warga negara Belanda keturunan Jerman, namun tidak ada yang tahu jelas tanggal pastinya. Pendirian Cagar Alam atau kebun Raya Sibolangit ini diprakarsai oleh Dr. J C Koningsberger yang saat itu juga menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor.

26 February 2012

Pa Soerau, Tukang Pandai Emas dari Karo

Tukang Pandai Emas Pa Soerau dan peralatan kerjanya
Goudsmid Pa Soerau naast zijn gereedschap, Karolanden
Date      1919
Source  Tropenmuseum
Author  T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Pa Soerau sedang bekerja. Penutup pinggulnya diperkirakan jenis kain gatip ampar.
Repronegatief. De heupbedekking van de man is waarschijnlijk een doeksoort die "gatip ampar" heet.. Een goudsmid aan het werk in de Karolanden
Date      1914-1919
Source  Tropenmuseum
Author  T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)


Tukang Pandai Emas bekerja di balkon rumah/ture 
Description        
Nederlands: Stereonegatief. Goudsmid op balkon van een huis, zijn werkplaats, Karo-Hoogvlakte
Date      1900-1940
Source  Tropenmuseum
Author  Unknown 

25 February 2012

Aron Anceng


Oleh: Juara R. Ginting

Tulisan ini sebenarnya adalah latar belakang dari sebuah skenario pertunjukan Karo di Hamburg (Jerman) beberapa tahun lalu. Saya bertindak sebagai sutradara dan sekaligus penulis skenario. Di samping sebagai nuansa sebuah pertunjukan, kiranya tulisan ini dapat menambah pengertian kita mengenai hubungan seni tradisional Karo dengan struktur sosial masyarakatnya.

Bagian I: Uis Julu
Ini adalah keadaan semasa prekolonial, kolonial dan beberapa kampung Karo masih mempertahakannya hingga 1960an, bahwa di setiap kampung Karo (kuta) ada 2 kelompok aron: Aron Sepuluwaluh dan Aron Duapuluh. Masing-masing kelompok ini mungkin terdiri dari beberapa sub kelompok lagi. Seseorang yang merasa kurang gennah di satu kelompok aron (karena ada si mehangke atau karena pertikaian) boleh pindah ke kelompok aron lainnya.

Satu diantara  2 kelompok aron menjadi aron si mantek gendang pada perayaan kerja tahun. Kalau salah satunya mengatakan berkeingingan menjadi si mantek gendang dan yang lain tidak, maka yang berkeinginan akan menjadi si mantek gendang. Persoalan akan muncul bila kedua kelompok aron bersikukuh hendak mantek gendang.

Sebagaimana dituturkan banyak informan kepada saya di berbagai kampung Karo, bila itu terjadi, salah satu kelompok dipersilahkan menegakkan tiang bambu di dekat kerabangen dengan mengikatkan uis julu di puncaknya (mirip bendera). Kalau kelompok lain betul-betul ngotot juga, silahkan memanjat tiang, menurunkan uis julu dan menggantinya dengan uis julu mereka sendiri untuk berkibar di puncak. Pemilik uis julu yang terakhir berkibar di puncak akan menjadi aron si mantek gendang.

Sedikit selingan, mungkin ada pembaca yang bisa membantu,  apakah perbedaan uis julu gatip sepuluwaluh dengan uis julu gatip duapuluh ada hubungannya dengan perbedaan aron sepuluwaluh dengan aron duapuluh? Saya menduga ada hubungan, tapi sampai saat ini, saya belum bisa membuktikannya.

Bagian II: Si Mantek vs Si Anceng
Guro-guro aron biasanya diiringi gendang lima sendalanen dengan menampilkan aron beru si lima (berpasangan dengan impalna). Diberi kesempatan menari kepada Pengulu Si Lebe Merdang, Pengulu Kuta, Pengulu Kesain, Perbapan Kuta dan lain-lain. Kadang ada juga dengan perkolong-kolong (Kalau mau puas menari/ menyanyi di guro-guro aron, silahkan ke Langkat Hulu. Di tahun 1982 saya pernah ikut guro-guro aron di sana diiringi gendang jahe, wow .... sampai angkat tangan menolak menari karena sudah kecapaian  banyak menari).

Orang Karo Tahun 1894 di buku Von Brenner


Orang Karo (tahun 1894) digambarkan seperti dalam buku : Besuch bei den Kannibalen Sumatras 
yang ditulis oleh Joachim  von Brenner-Felsach (sumber klik)



Dari hasil diskusi di FB Group Jamburta Merga Silima :

23 February 2012

Film Prosesi Pemakaman Tahun 1917 di Tanah Karo




Film buatan Belanda di tahun 1917 tentang Prosesi Pemakaman di Masyarakat Karo. Film ini berjudul "Lijkbezorging bij de Karo-Bataks." Di buat oleh Kolonial Instituut, Amsterdam. Durasi filem dokumenter tanpa suara ini adalah 07 menit 58 detik.
Di muat di BBC Motion Gallery. Silahkan klik untuk menontonnya di sini (BBC) atau di sini (indonesianfilmcenter.com) bila lambat terasa bisa juga klik gambar di bawah ini : 





Dari hasil diskusi di FB Group Jamburta Merga Silima :



  • MENGENAI FILM BBC TENTANG PEMAKAMAN 1917 DI KARO

    Atas permintaan impal Edi Sembiring, aku berikan sedikit tanggapanku tentang film itu, sbb.:

    Menurutku pembuatan film bukan karena ada peristiwa, tapi sebaliknya peristiwa dibuat untuk kebutuhan pembuatan film. Alasanku:

    1. Ada beberapa upacara yang sebenarnya tak punya kaitan satu sama lain dirangkai dalam film (kemungkinan besar dilaksanakan di kampung yang sama); pemakaman, Ngulak (pakai tungkat dan anjab), Ersilihi (menghantarkan patung batang pisang ke kuburan) dan Ndilo Wari Udan

    2. Tak terlihat dalam film ada mayat kecuali bungkusan tikar seolah mayat saat pembakaran, meski kita kenal beberapa foto lama yang memperlihatkan mayat diusung dan kemudian dibakar (kadang terlihat dipotong-potong dulu agar mudah membakarnya)

    3. Ada dua bentuk funeral/ mortuary yang dipaksakan sejalan dalam film itu. Pembakaran mayat pada suku Karo dilakukan terutama untuk Simate Sada Wari atau yang terkena penyakit menular lepra (cacar). Di pihak lain, pemakaman yang menggunakan Kejeren, kenderaan mayat berbentuk rumah (bentuk lebih besar disebut Lige-lige), dilakukan hanya untuk cawir metua dan terutama raja atau orang kaya (Pemakaman Pa Garamata/ Kiras Bangun dilakukan dengan Lige-lige). Pembakaran mayat adalah dukacita mendalam sedangkan cawir metua, apalagi dengan Kejeren atau Lige-lige, adalah kemegahan.

    4. Apa hubungan Ngulak (membunuh katak puru atau memecah telur ayam dengan tungkat penalun/ malekat) dengan pemakaman itu? Mengapa pula dilanjutkan dengan Ersilihi? Padahal Ngulak dan Ersilihi memiliki tujuan sama, yaitu menghancurkan/ mencampakkan hidup lama dan menyongsong hidup baru). Tiba-tiba pula ada acara Ndilo Wari Udan.

    5. Gambar dalam tarian memperlihatkan ada beberapa gadis yang menggunakan kalung (cemata atau brahmeni). Ini hanya terjadi pada cawir metua yang nilainya sama dengan mengket rumah mbaru dimana ada 3 gadis So Keliamen Simelias Gelar (perawan dan namanya berarti kebaikan) dikenakan pakaian lengkap.

    KESIMPULAN: Film ini adalah fragmentasi beberapa ritual Karo.


MEDEDEELINGEN BETREFFENDE DE ZES KARO-LANDSCHAPPEN


MEDEDEELINGEN BETREFFENDE DE ZES
KARO-LANDSCHAPPEN :
1.  Lingga  en  Ouderhoorigheden ;
2.  Baroe  Djahé en  Ouderhoorigheden ;
3.  Soeka en Onderhoorigheden ;
4. Sarinembah en Onderhoorigleden ;
5.  K o e t a  B o e l o e h  en  O u d e r h o o r i g h e d e n ;
6.  Si  L i m a  K o e t a . (V  K o e t a )

selanjutnya isi surat bertanggal18 Maret 1909, klik

Film Dokumenter Tentang Karo oleh Franz Simon dan Artur Simon


Karo-Batak (Indonesien, Nord-Sumatra) - Erpangir kulau.
Fest der Haarwaschung in Sukanalu 
Karo-Batak (Indonesia, North Sumatra) - Erpangir kulau. (klik)
Feast of a Hair wash ceremony at Sukanalu

SIMON, FRANZ, Göttingen; SIMON, ARTUR, Berlin

Am Vormittag bringen Mitglieder der Familie Sembiring an einem heiligen Platz den
Ahnen ein Opfer dar. Zwei Frauen stellen den Kontakt zu den Geistern her. Am Nachmittag
wird bei der heiligen Quelle Wohnsitz eines Ahnengeistes - wiederum ein Opfer dargebracht
und die rituelle Haarwaschung durchgeführt. Am Abend und in der Nacht werden
im Haus die Zeremonialtänze aufgeführt. Im Verlauf des Festes werden wiederholt
Frauen von verschiedenen Geistern, die sich am Fest beteiligen, besessen.
Prod.: 1981, Publ.: 1994; Film, 16 mm, LT, 887 m; F, 811f2 min; de, en, Orig.
Der Film besteht aus 2 Rollen.
Herst.Neröff.: IWF, Göttingen
(v) - Best.-Nr.: E 2963

In the morning members of the Sembiring family offer a sacrifice to the ancestors in a holy place. Two women enter in relations to the spirits. In the afternoon a further offering is made at the sacred spring - seat of an ancestor spirit - and a ritual hair-washing takes place. In the evening and in the night the ceremonial dances are performed in the house. In the course of the feast women are repeatedly possessed by different spirits taking part in the feast. Film, 16 mm, LT, 887 m ; F, 81 1/2 min


Film Orang Karo Bekerja di Ladang tahun 1917

Film buatan Belanda di tahun 1917 tentang sekelompok orang Karo bekerja di ladang. Filem ini berjudul "De Rijstbouw op droge velden bij de Karo-Bataks." Di buat oleh Kolonial Instituut, Amsterdam.
Di muat di BBC Motion Gallery dengan judul "Rice Cultivation in dry fields near Karo."
Silahkan klik untuk menontonnya di  sini (indonesianfilmcenter.com) atau di  sini (BBC)   atau meng-klik gambar di bawah ini :

http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/archive/watch.arcv.php?v=5756


Opnamen van werkzaamheden in de rijstbouw door Karo-Bataks, een bevolkingsgroep op Sumatra. 1917. 

Rights: Rights Managed
No Rights Restrictions
Clearance Status:
Model Release: No Release
Property Release: No Release
Aspect: 4:3
Frame Rate: 25 fps
Frame Size: 720 x 576
Broadcast Standard: PAL
Shot On: Unknown
Length: 00:13:53;00
Physical Delivery Options: BetaSP, Digibeta, MiniDV, DVCAM, DVCPRO, DVD
Stored Online: MXF / Apple ProRes 422
Speed: Unknown
Colour: Unknown
Date: 1917
Film Available: No

20 February 2012

Menari Saat Pernikahan Putri Sultan Langkat, 1926

Tarian Karo saat pernikahan Putri dari Sultan Langkat yang dinikahkan dengan Sultan Bulungan

Beschrijving:
Deze foto is opgenomen in een album dat foto's bevat van de feestelijkheden in Tanjungpura ter gelegenheid van de bruiloft van een lid van de familie van de sultan van Langkat. Het betreft het huwelijk van de sultan van Bulungan met een dochter van de sultan van Langkat in 1926.

Titel:
Karo Batak dance at the palace of the sultan of Langkat celebrating the wedding of his daughter with the sultan of Bulungan / Karo Batak dans bij het paleis van de sultan van Langkat in Tandjoengpoera, tijdens de bruiloft van diens dochter met de sultan van Boeloengan

Trefwoorden:
Tanjungpura / Langkat / Sumatera Utara / Sumatera / Indonesië

Vervaardiger:
Mikado

Vervaardigingsdatum:
11-1926

Aanbieder:
Tropenmuseum Amsterdam

Sumber : digitalecollectienederland.nl

Publiek naast een paviljoen bij het paleis van de sultan van Langkat in Tandjoengpoera, 
tijdens de bruiloft van diens dochter met de sultan van Boeloengan (November 1926)

19 February 2012

Tuak/Air Nira

Tabung untuk Tuak/Air Nira
 Titel :

palmwijnkoker / kitang

Soort object :
palmwijnkokers

Trefwoorden :
Karo The OVM thesaurus / Culturele herkomst / Culturele herkomst naar regio / Aziatisch / Insulair Zuidoost-Azië / Insulair Zuidoost-Azië:groepen en stijlen naar regio / Indonesisch / Sumatraans / Noord-Sumatraans / Batak / [NI] drank - gegist en gedestilleerd
  
Aanbieder :
Museum Volkenkunde


Penjual Tuak/Air Nira di pintu masuk sebuah Hotel milik pemerintah Belanda
di Brastagi (di kisaran tahun 1918-1919)

Titel:
Bij de ingang van het Gouvernementshotel in de buurt van Berastagi

Trefwoorden:
Berastagi / Karo / Sumatera Utara / Sumatera / Indonesië

Vervaardigingsdatum:
1918-1919

Aanbieder:
Tropenmuseum Amsterdam

Tempat Kapur Sirih dan Tembakau

Tabung Kapur Sirih 

Titel:
Tagan di beru / Sirihkalkkoker van ivoor en hoorn


Beschrijving:
Karo-Batak sirihkalkkoker die door vrouwen wordt gebruikt. Het eingelijke kokertje bestaat uit geel geworden ivoor met een bamboe binnenkant. Aan de uiteinden zitten zwart hoornen ringen die weer in houten uiteinden uitlopen.
   
Vervaardigingsdatum:
voor/before 1929

Aanbieder:
Tropenmuseum Amsterdam

Tempat Tembakau

Titel:
tabakskoker

Trefwoorden:
Karo The OVM thesaurus / Culturele herkomst / Culturele herkomst naar regio / Aziatisch / Insulair Zuidoost-Azië / Insulair Zuidoost-Azië:groepen en stijlen naar regio / Indonesisch / Sumatraans / Noord-Sumatraans / Batak / [NI] genotmiddelen

Aanbieder:
Museum Volkenkunde

Lukisan Hendrik Paulides di Karo Tahun 1923


Lukisan seorang dokter dari Eropah sedang memeriksa kesehatan penduduk di Tanah Karo.
Pelukis  adalah Hendrik Paulides di tahun 1923.

Beschrijving:
De arts is afgebeeld terwijl hij de inheemse bevolking (Karo-Batak) onderzoekt.

Titel:
Een Europese arts op werkbezoek in een Batak kampong

Vervaardiger:
Hendrik Paulides

Vervaardigingsdatum:
1923

Aanbieder:
Tropenmuseum Amsterdam
 
 (Sumber : Majalah Nederlandsch Indië oud en nieuw : maandblad gewijd aan bouwkunst, archaeologie, land- en volkenkunde, kunstnijverheid, handel en verkeer, cultures, mijnbouw, hygiène,
Volume 13, Number 8, 1 December 1928 — H.PAULIDE)

Dari hasil diskusi di FB Group Jamburta Merga Silima :