30 April 2012

Surat Pudjian Hatta Pada Rakjat Tanah Karo



Surat Pujian
Wakil Presiden Republik Indonesia
Bukittinggi, 1 Januari 1948

“Kepada Rakyat Tanah Karo Yang Kucintai”.

Merdeka!

Dari jauh kami memperhatikan perjuangan Saudara-saudara yang begitu hebat untuk mempertahankan tanah tumpah darah kita yang suci dari serangan musuh. Kami sedih merasakan penderitaan Saudara-saudara yang rumah habis dibakar dari pada kampung halamannya jatuh ke tangan musuh yang ganas, yang terus menyerang dan melebarkan daerah perampasannya sekalipun cease fire sudah diperintahkan oleh Dewan Keamanan UNO. Tetapi kami sebaliknya merasa bangga dengan rakyat yang begitu sudi berkorban untuk mempertahankan cita-cita kemerdekaan kita.

Saya bangga dengan pemuda Karo yang berjuang membela tanah air sebagai putra Indonesia sejati.
Rumah yang terbakar, boleh didirikan kembali, kampung yang hancur dapat dibangunkan lagi, tetapi kehormatan bangsa kalau hilang susah menimbulkannya. Dan sangat benar penderitaan Saudara-saudara, biar habis segala-galanya asal kehormatan bangsa terpelihara dan cita-cita kemerdekaan tetap dibela sampai saat yang penghabisan.

Akan Terbit Sejarah Etnografis Perjuangan Kemerdekaan RI (1945-1950) di Dataran Tinggi Karo



JUARA R.GINTING. LEIDEN. Dari tahun 1982 hingga 1985, Prof. Dr. Mary Steedly, guru besar Antropologi di Universitas Harvard (USA), melakukan penelitian mengenai Karo di Medan, Deliserdang dan Kabupaten Karo yang kemudian menghasilkan buku berjudul Haging Without A Rope: Narrative Experience in Colonial and Post Colonial Karoland (1993). Kini, Steedly sedang mempersiapkan penerbitan sebuah buku baru berjudul Rifle Reports: A Story of Indonesian Independence. Buku ini berisikan sejarah etnografis mengenai perjuangan kemerdekaan RI (1945-50) di Dataran Tinggi Karo.

Setelah menyelesaikan bukunya yang pertama, Steedly melakukan beberapa kali penelitian singkat di Tanah Karo yang kemudian dia terbitkan dalam bentuk beberapa artikel. Kini, dia telah merampungkan naskah bukunya yang terbaru.

Sebelum diterbitkan, naskah buku ini akan didiskusikan Jumat 27 April 2012 di Bowdich, Peabody Museum, 11 Divinity Avenue (Keterangan selengkapnya lihat poster di bawah). Bertindak sebagai pembanding adalah Nancy Florida (guru besar mengenai Jawa dan Islam di Universitas Michigan (USA), Patricia Spyer (guru besar antropologi mengenai Indonesia kontemporer di Universitas Leiden) dan Tinuk Yampolsky (novelis). Sumber : SORA SIRULO




Lasam Lasam (Orchestra)

Lagu Karo dalam format Orchestra

Ancur Ancuren ( Orchestra)

 Lagu Karo dalam format Orchestra

15 April 2012

Medan, 1950-1958 : Rubiah, Achmad CB dan Kasma Booty (bagian 3)

Dilihat dari peran Jakarta sebagai pusat kebudayaan Indonesia, sumbangannya terhadap budaya pop Medan agak terbatas. Kelompok-kelompok musik pop dari segala penjuru Indonesia, termasuk dari Medan, berkeliling Indonesia dan seringkali tinggal di Jakarta selama beberapa saat guna melakukan rekaman dan mendapatkan peliputan publik dalam surat-surat kabar dan majalah nasional.

Sementara itu para pengarang, penulis naskah drama, pelukis dan aktor muda di Medan yang ambil bagian dalam kebudayaan nasional ‘serius’ menganggap Jakarta sebagai kiblat mereka. Sementara khalayak ramai berkiblat ke seberang Selat Malaka, yaitu Singapura, menanti peluncuran filem baru yang menampilkan bintang filem Melayu populer, seperti P. Ramlee atau Kasma Booty. Sejak 1920-an, Penang dan Singapura telah menjadi pusat budaya pop apa yang lazim disebut sebagai Dunia Melayu, di mana Medan merupakan bagiannya.

Dengan didirikannya dua studio filem yang saling bersaing di Singapura pada tahun 1947 dan 1952 dan produksi filem-filem Melayu yang sukses dalam jumlah besar, Singapura menjadi pusat filem Melayu. Filem-filem ini diproduksi dengan modal dari orang Cina, disutradarai orang India dan dibintangi orang-orang Melayu. Filem menjadi suatu industri raksasa dan menarik banyak orang Melayu ke Singapura yang ingin mengadu peruntungan dengan menjadi aktor, penulis skenario atau ilustrator musik. Format-format filem awal antara lain didasarkan pada satu bentuk teater Melayu populer yang disebut bangsawan, dimana musik berperan penting (Harper 1999 : 282-5).

Rata-rata, banyak di antara orang ‘Melayu” yang merantau ke Singapura untuk bekerja di industri perfilman atau industri yang terkait dengan musik berasal dari Medan. Menarik bahwa beberapa tokoh kunci dalam bisnis filem Singapura adalah para perintis teater sebelum PD II (baik bangsawan maupun teater modren yang disebut sandiwara), musik dan filem bisu di Sumatera Utara. Kedua orang tua komponis penyair Ahmad Jafa’ar, misalnya, adalah operator filem bisu. Ia belajar memainkan alat-alat musik yang berbeda-beda dan mementaskannya dalam orkestra yang mengiringi pemutaran filem bisu.

Penyanyi Rubiah bergabung dengan kelompok teater keliling sewaktu masih muda belia, ketika keluarganya tak mampu lagi menghidupinya. Achmad CB mengawali karirnya sebagai pelakon bangsawan sebelum PD II ; kemudian mendirikan kelompok teater modren sendiri dengan nama Asmara Dhana / Rayuan Asmara. Dan bintang filem populer Kasma Booty baru berusia empat belas tahun ketika bergabung dengan kelompok teater Achmad CB untuk pentas ke Penang guna menghindari penyiksaan Jepang.

14 April 2012

Medan, 1950-1958 : Pusat Roman Picisan (bagian 2)

Budaya Pop dan Dunia Melayu

Meskipun – atau mungkin justru karena – prospek ekonomi suram, Medan memiliki kehidupan budaya yang menggairahkan. Baik produksi maupun konsumsinya, budaya poplah yang paling laris, dibandingkan dengan berbagai wujud budaya Indonesia modren yang lebih serius, serta lebih sadar diri. Bentuk-bentuk visual budaya pop misalnya, seperti filem dan kartun – keduanya realtif merupakan budaya baru – menarik konsumsi khalayak luas, setidak-tidaknya karena tingkat buta huruf yang tingggi di Medan. Dalam hal ini Medan mirip dengan kota-kota utama di Semenanjung Malaya di mana – sesuatu yang menjengkelkan para guru Inggris – ‘selera rakyat’ menentukan pasar dan khalayak lebih menyukai filem Melayu yang sentimentil atau filem Hollywood ketimbang sebuah novel yang bagus sekalipun (Harper 1999 : 282). 


Konon di Medan, bea tontonan – pajak dari tiket bioskop – mencapai tidak kurang dari sepertiga total anggaran pendapatan pemerintah kotapraja Medan. Sekurang-kurangnya ada enam belas gedung bioskop yang memutar filem-filem Hollywood, India dan Melayu yang menampilkan penyanyi-penyanyi terkenal (Buku tahunan 1955 : 24, 219). Rekaman musik dan lagu-lagu pengiring dalam filem-filem dari Singapura dan federasi Malaya (Malaya sebelum 31 Agustus 1957), misalnya seperti Hang Tuah dengan aransemen musik oleh aktor, penyanayi dan pencipta lagu populer P. Ramlee, menemukan penggemarnya di Medan.
Radio merupakan media populer lainnya. Radio Republik Indonesia (RRI) studio Medan sering dikunjungi berbagai penyanyi, kelompok paduan suara dan band pop, Lily’s Band, yang dipimpin penyanyi/komponis Lily Suhairy, merupakan ensamble musik Medan yang paling besar dan terkenal.


Lily Suhairy
Lily Suhairy
Rubiah
Rubiah, penyanyi terkenal yang sering melantunkan lagu-lagu Melayu, juga seorang anggota Lily’s Band; pada masa itu suaranya digunakan untuk sulih suara filem-filem Melayu pop asal Singapura. Penyanyi/penulis pop lainnya asal Medan yang lagu-lagunya sering mengudara di RRI adalah Achmad CB. Penyanyi yang sebahagian masa kecilnya hidup di Malaya ini mendapat julukan ‘raja keroncong’ internasional. Tiga tahun berturut-turut dia pernah memenangkan lomba lagu keroncong di Singapura; dan dia merekam lagu-lagunya di Singapura. Jenis lagu-lagu lain yang populer pada dasawarsa 1950-an adalah lagu Batak modren, gambus dan nasyid. Dua jenis lagu yang terakhir ini diilhami oleh musik asal Timur Tengah. Akhirnya, kelompok-kelompok musik, paduan suara dan ensamble dari Jawa dan pulau-pulau lain secara teratur tampil di studio RRI Medan, serta tempat-tempat lain di kota itu. Selain ada siaran musik, RRI Medan juga punya acara-acara sastra dan pembacaan puisi, yang keduanya sangat populer.

13 April 2012

Medan, 1950-1958 : Sembilan Tahun Setelah Proklamasi (bagian 1)


                      Medan City Hall, circa 1950
(Sumber dari tulisan “Pusat roman picisan dan pusat-pusat yang lain; Kehidupan budaya di Medan 1950-1958” oleh Marije Plomp ~ Dari buku  Ahli Waris Budaya Dunia-Menjadi Indonesia 1950-1958, terbitan KITLV Jakarta, 2011).

Medan pada tahun 1950-an merupakan wilayah yang unik. Ikatan sejarah yang erat antara pantai Timur Sumatra dan Semenanjung Melayu di seberang Selat Malaka menjadikan daerah ini tunduk pada kekuatan-kekuatan yang berbeda dibanding wilayah lainnya di kepulauan Nusantara.

Sebelum perang Dunia II, kontak-kontak antara penduduk Medan dan Jakarta lebih terkait urusan kolonial. Bahasa dan tradisi Melayu yang sama, ikatan kekerabatan yang kuat dengan orang-orang Melayu di seberang Selat Malaka, serta kedekatan geografis dengan semenanjung Melayu, mengandung arti bahwa banyak penduduk Medan dan pantai timur Sumatra secara ekonomi, sosial, dan kultural berorientasi ke Singapura dan Malaya, alih-alih ke Jawa yang lebih jauh. Orang Melayu di kedua sisi Selat Malaka itu bagai bambu serumpun. Baru setelah Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan Soekarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Sumatra dihadapkan pada suatu komunitas baru di mana mereka merupakan bagian darinya, yakni negara-bangsa Indonesia. Dari sinilah mereka kembali mendefenisikan siapa diri mereka di hadapan bangsa baru ini berikut para pemimpinnya.

Pada tahun 1954, sembilan tahun setelah berakhirnya perang Dunia II, Medan masih mengalami berbagai dampak pendudukan Jepang. Mantan romusha dan heiho yang tak punya rumah berkeliaran di jalan-jalan bersama dengan veteran pejuang kemerdekaan yang gagal kembali ke masyarakat. Seluruh generasi orang-orang dewasa muda buta huruf (sebahagian) karena selama perang berlangsung  mereka tidak bisa mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya. Laju urbanisasi yang pesat terjadi setelah perang Dunia II menyebabkan munculnya setumpuk masalah. Sebelum perang Dunia II, jumlah penduduk Medan sekitar 80.000 jiwa. Namun menjelang tahun 1954, jumlah ini meningkat 6 kali lipat mencapai setengah juta jiwa.
Kurangnya lahan dan perumahan berakibat pada munculnya kantong-kantong pemukiman liar yang besar dan ekonomi yang mandek. Fasilitas umum kota Medan sama sekali tidak memadai untuk penduduk baru yang terus meningkat. Membanjirnya kaum tani miskin dan buta huruf dari kawasan pedesaan sekitar Medan, serta dampak pendudukan Jepang, jelas membuat tingginya angka buta huruf di kota ini.

Pejabat pemerintah kota praja dan kantor-kantor cabang berbagai lembaga nasional di Medan bertekad memperbaiki situasi yang ada. Ada Biro Rekonstruksi Nasional, suatu organisasi pemerintah yang didirikan untuk membantu para veteran pejuang kemerdekaan – yang menyelenggarakan kursus-kursus keterampilan secara gratis, memberikan pinjaman lunak untuk memulai bisnis kecil-kecilan dan membuka sejumlah usaha, misalnya seperti bengkel reparasi mobil, yang membuka kesempatan kerja buat veteran.

07 April 2012

Peta Sumatera Timur





Peta Kerajaan Sumatera Timur
 ·  ·  · March 4

Menyambut Pendaratan Pertama Kali di Polonia



Tanggal 21-11-1924, pertama kalinya sebuah pesawat komersial mendarat di Polonia. Dan di foto ini terlihat 6 perempuan menyambutnya dengan masing-masing memegang karangan bunga. Karo sebagai si penemu Medan diperhitungkan keberadaannya.

1924 (1924-11-21): Women from different parts are giving a floral tribute to the pilots of the first commercial flight from Holland - Batavia in front of the town-hall in Medan.
  
Dari Kiri ke Kanan, terlihat perempuan berpakaian Minang, Karo, Melayu, 'modern'/ Barat, Jawa dan satu lagi tidak pasti (Banjar?). Tak ada Simalungun tak ada Batak. Kalau Minang, Jawa, Barat dan Banjar sudah jelas-jelas pendatang. Foto penting dalam mengargumentasikan Kota Medan Kota Karo!