30 May 2012

Bukit Kadir





Bukit Kadir disusun oleh Major Djenderal Djamin Gintings. Diterbitkan CV Umum tahun 1968; 316 halaman.

Bukit Kadir mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan Belanda. Seorang anggotanya, Kadir, gugur disebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Foto Pendiri TKR Tanah Karo


Foto-foto Djamin Gintings




Djamin Gintings Menyelamatkan Martabat Republik Indonesia




Djamin Gintings Selamatkan “Daerah Modal”
Opini
oleh USMAN PELLY

Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara.

Setelah Kutacane dibombardir dua pesawat pemburu Belanda, esok paginya saya ikut kakek mengungsi ke sebuah desa sekitar 12 km dari kota. Setiap pagi saya dan kakek ke kota dari desa pengungsian itu untuk berjualan di pasar. Kami melewati Macan Kumbang, sebuah perkebunan karet yang dibangun semasa Jepang. Ternyata beberapa minggu sebelum penyerangan pesawat Belanda itu, Macan Kumbang, telah menjadi markas pertahanan Let.Kol. Djamin Gintings, Komandan Resimen IV TNI pindahan dari tanah Karo.

Di kota orang bercerita bahwa markas pertahanan RI itu hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas, sesuai kesepakatan Renville. Tanah Karo dianggap sudah menjadi wilayah Belanda dan Negera Sumatra Timur (NST). Karena itu kedudukan Kutacane menjadi penting. Kini Tanah Alas menjadi garis pertahanan RI terdepan menghadapi Belanda. Kota kecil itu bertambah ramai, banyak tentera dan pengungsi dari Tanah Karo dan Dairi. Mereka sibuk mendirikan rumah-rumah darurat dan barak-barak pengungsi. Di pinggir sungai (Lawe) Alas dan Lawe Bulan yang mengapit Kutacane, penuh berjejer Barak pengungsi. Sampai-sampai di halaman rumah Raja Alas (Polonas), didirikan rumah-rumah bambu yang beratap rumbia.

Malam hari, jalan satu-satunya yang membelah kota hingar bingar, motor truk tentera hilir mudik, ada yang membawa pengungsi, pasukan tentera dan korban yang luka tembak, sebahagian besar dari pertempuran di sekitar Mardinding (Desa Perbatasan antara Tanah Karo dan Tanah Alas yang menjadi markas pertahanan Belanda).

Kami melihat Djamin Gintings hanya dari kejauhan, waktu apel bendera pagi di markas Macan Kumbang, ketika kami melintasi markas itu. Atau waktu menghadiri perayaan nasional dan rapat umum di Lapangan Bola Kutacane. Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara, sedang Kol. Muhammad Din (staf Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo dari Kutaraja). Beliau selalu berpakaian tentera Jepang lengkap dengan samurainya. Kami sangat mengagumi mereka dan selalu bergaya seperti komandan-komandan TNI waktu itu.

Demikianlah rona kehidupan Kutacane, kota kecil di front perbatasan pertahanan RI dan Belanda (1947), sibuk dengan hilir mudik tentera dan pengungsi. Kami siap-siap melompat ke lobang pertahanan yang disiapkan dibelakang sekolah, ketika serine dan pesawat pemburu Belanda datang memuntahkan peluru. Keadaan kota kecil yang sesak itu mulai berobah ketika penyerahan kedaulatan (1950). 

29 May 2012

Penjual Pisau dan Peralatan Lainnya

Mann mit Gegenständen und Waffen.
Creation Date    1926

Mann mit Gegenständen und Waffen.
Creation Date    1926

Ndikar

KARO-TANZ UND KULT. TANZ
Creation Date    1926


KARO-TANZ UND KULT. TANZ
Creation Date    1926

Menari




Menjual Kain di Pasar Kabanjahe


KARO-MARKT. TUCHHANDEL ([...] VADJA) KABAN DJAHÉ
Creation Date    1926
Source : ETH-BibliothekZürich, Bildarchiv



KARO - MARKT. MARKT IN KABAN DJAHÉ
Creation Date    1926


KARO-MARKT. KARO-FRAUEN, KABAN-DJAHÉ
Creation Date    1926

Kampong Gurukinayan

KARO-HÄUSER. GOEROE KINAJAN

Creation : Date  1926

Suli Ginting, Peti Mati dan Bensin untuk Keadilan



Suli Ginting, Peti Mati dan Bensin untuk Keadilan
Oleh : Ahmad Arif

SULI Ginting (73) tak pernah belajar tentang kesadaran kritis dari buku-buku ataupun belajar tentang gerakan perlawanan secara sistematis. Kepahitan hidupnya sebagai petanilah yang membuatnya berani ”melawan”. Tak terhitung berapa kali lelaki yang tak pernah mengenyam pendidikan formal ini keluar masuk ruang sidang. Mulai dari kepala desa, bupati, ketua DPRD, kepala polres, kepala polda, Kepala Polri, hingga presiden pernah digugat Suli.

Hingga kini, lelaki dari Desa Lau Cimba, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, itu memang belum pernah memenangi gugatannya di pengadilan, bahkan beberapa kali dia hampir bangkrut karena digugat balik. Namun, tak ada istilah menyerah dalam kamus Suli Ginting. Siapa pun yang dinilainya merusak lingkungan dan merugikan masyarakat kecil dilawannya.

Lelaki yang memiliki 20 cucu dari delapan anaknya tersebut juga sangat getol berdemonstrasi tunggal. Sejak tahun 1998 hingga kini, Suli berkali-kali terlihat keliling wilayah Karo dan Medan dengan mobil Kijang bututnya sambil membawa poster dan speaker untuk menyuarakan aspirasinya. Semua gerakan perlawanannya itu dibiayai sendiri dengan uang hasil bertani.

PERLAWANAN Suli bermula dari kekecewaannya terhadap pemerintah. Pada tahun 1998 Suli hampir bangkrut karena tanaman kentang dan jeruk miliknya layu setelah diberi pupuk yang dibelinya di kota. Suli mendengar keluhan yang sama dari petani-petani lain di desanya sehingga akhirnya dia menyimpulkan adanya peredaran pupuk dan obat palsu di Karo.

Bulan Agustus 1998 sepulang dari ladang siang itu, dengan masih mengenakan pakaian lusuh, dia langsung ke Kantor Bupati Karo. Dia bermaksud melaporkan adanya pupuk dan obat palsu agar segera dilakukan penindakan sehingga petani tak lagi dirugikan.

Akan tetapi, alangkah kecewanya Suli karena ternyata dia ditolak oleh ajudan sang Bupati karena penampilannya dinilai tak layak untuk bertemu Bupati. Suli marah, dan berteriak sampai kemudian Bupati keluar dan memintanya agar menghadap besok pagi ke kantor.

Suli patuh. Namun, dia kembali kecewa karena saat bertemu Bupati dan stafnya, dia tak menemukan kejelasan. Pupuk dan obat yang diduganya palsu telah diserahkan kepada para pejabat, termasuk juga tanaman kentangnya yang mati. Namun, lama dia menunggu hasil penelitian pemerintah tanpa hasil. ”Kasusnya seperti ditutup begitu saja dan laporan saya dianggap angin lalu,” katanya.

Suli kemudian menemui anggota DPRD di kabupaten. Tetapi, lagi-lagi dia tak digubris. Merasa dipermainkan oleh birokrasi, Suli kemudian turun ke jalan menggelar demonstrasi. Itulah pertama kali Suli berdemonstrasi. 

18 May 2012

Penjaga Tradisi Pewarna Indigo di Karo


Perjalanan kami di Tanah Karo, melacak jejak masa silam yang mempertemukan Sandra dengan para penjaga tradisi biru Karo (Nande Pringetten, Nande Indra, Nande Pulung). Nande Peringetten sudah meninggal dunia, pun di tangan lainnya tradisi biru sudah tak ada. Banyak yang hilang tradisi tenun Karo, termasuk motif-motif, selain warna-warna asli (catatan MJA Nashir dalam "Berkelana dengan Sandra - Menyusuri Ulos Batak)

Dalam catatan MJA Nashir yang tertuang di dalam buku "Berkelana dengan Sandra – Menyusuri Ulos Batak," ia menemani Sandra Niessen yang telah merangkum hasil kerjanya selama 30 tahun menjadi buku berukuran 23X29 cm setebal 568 halaman dengan judul “Legacy in Cloth – Batak Textiles of Indonesia” (KITLV Press Leiden, 2009). Buku ini merupakan hasil penelitiannya tentang Ulos dan Uis hasil tenunan suku Batak Toba, Simalungun dan Karo.

Sandra kembali dengan nama “Proyek Pulang Kampung 2010,”di mana dengan buku itu ia ingin mengembalikan lagi apa yang telah ia dapati, ia geluti, ia teliti sejak 30 tahun lalu ke masyarakat Batak. Hal ini adalah sesuatu yang luar biasa karena jarang seorang peneliti melakukannya. Jadi lewat pulang kampungnya, ia berusaha menemui kembali semua orang yang pernah ia jumpai di masa lalu, baik para penenun atau keluarganya dan semua huta/kuta yang pernah ia singgahi 30 tahun lalu. Dan Mja Nashir merasa bersyukur dalam “Proyek Pulang Kampung” ini Tuhan telah memberi  kesempatan padanya untuk menjadi saksi atas perjuangan seorang antropolog bernama Sandra Niessen ini.

Terbayang olehnya Sandra yang remaja kala itu menyusuri semua pedalaman Tano Batak, menerobos hutan-hutan, mendaki bukit-bukit atau kadang dengan perahu kecil meluncur di atas Danau Toba. Semua itu ia lakukan untuk menyambangi  partonun, para penenun tradisi yang tinggal di huta-huta.  Oh, ia begitu akrab dengan orang-orang desa itu. Mereka semua telah memperlakukannya seperti keluarga sendiri.  Kehangatan yang disambut kehangatan. Dan sebagian besar huta (kampung) di seantero Tano Batak ia hafal namanya dan telah ia kunjungi semua. Tak ayal jika sampai sekarang ia masih faham semua jenis ulos/uis. Bahkan ragam ulos/uis yang mulai menghilang dari tanah lahirnya sendiri.

Semua kisah perjalanan Sandra kembali menemui para penenun itu dapat dibaca di dalam buku "Berkelana dengan Sandra – Menyusuri Ulos Batak" yang telah beredar di toko-toko buku.

"Berkelana dengan Sandra – Menyusuri Ulos Batak"
Penulis : MJA Nashir
Penerbit: Bergoord Publishing, Fangmanweg 23 Oosterbeek Netherlands, 2011
Berikut ini catatan perjalan Pulang Kampung yang ditulis oleh Sandra Niessen. Dan saya ketika peluncuran buku “Legacy in Cloth – Batak Textiles of Indonesia”di ERASMUIS HUIS, Jakarta tanggal 22 September 2011, sempat bertanya kepada Sandra Niessen, apakah yang ia ingat dari perjalanannya ke Tanah Karo 30 tahun yang lalu. Sandra Niessen berkata, bahwa pewarna indigo dari Tanah Karo memiliki kualitas yang terbaik dan warnanya paling kuat. Bahkan penenun di luar Tanah Karo saat Sandra datang ke Kabanjahe 30 tahun lalu, datang khusus ke Kabanjahe untuk menemui pembuat warna indigo ini. Hasil tenunan mereka akan dicelupkan di Kabanjahe.

17 May 2012

Pemusik Karo Jaman Dulu

,,
Pemusik Karo
Karo - Hoogvlakte. Muzikanten.
Fotografer : Hüttenbach & Co., H. Mij / Medan
Date : 1906 – 1913
Source : KITLV

16 May 2012

Konflik Onderneming dan Rakyat Penunggu di Sumatra Timur (bagian 3)


Assistentswoning bij tabakvelden in Deli
Artist : Kleingrothe, C.J. / Medan
Date : Circa 1900
Source : KITLV

lanjutan dari bahagian 2

Resesi Ekonomi 1930 dan Pengaruhnya di Sumatra Timur

Pada akhir tahun 1920, di daerah  Karo wilayah Kesultanan Deli telah berkembang kebiasaan hanya memberikan setengah jaluran kepada pendatang-pendatang baru dari dataran  tinggi Tanah  Karo. Proses ini sering mengalami gangguan konflik-konflik kecil sehubungan dengan status dan luas tanah tersebut di antara para penggarap dan pihak perkebunan. Akibatnya pada tahun 1929 dibentuk komisi untuk menentukan penyelesaian yang tetap atas konflik-konflik tanah  jaluran, yang setiap tahun makin  meningkat pada setiap pembagian tanah setelah selesai panen  tembakau. Ternyata komisi ini mengalami kesulitan, sedangkan keadaan  semakin parah sebagai akibat dari resesi dunia (malaise  atau zaman “meleset”)  pada tahun 1930. Perkebunan-perkebunan tembakau mengurangi daerah penanamannya, dan dengan sendirinya penyediaan tanah jaluran semakin berkurang. Pada  waktu yang sama semakin  banyak penduduk kembali bercocok tanam, karena pekerjaan karena pekerjaan di kota-kota semakin  berkurang. (42)

Dengan demikian bisa  dikatakan bahwa salah  satu dampak resesi ekonomi yang terjadi di Sumatera Timur adalah terjadinya arus balik dari para imigran pekerja kasar perkotaan.

Pada awal abad-XX banyak penduduk pedesaan yang berangkat mencari pekerjaan di kota sebagai buruh seperti di pabrik-pabrik, pelabuhan, kereta api dsb. Pada  masa resesi ekonomi yang diikuti dengan pengurangan jumlah tenaga kerja di beberapa infrastruktur kota,  dan disertai dengan stagnasi  perdagangan ekspor-impor yang mengakibatkan turunnya aktivitas di sektor perhubungan (pelabuhan, kereta api), jumlah pengangguran  di kota semakin meningkat. Sebagian dari para penganggur ini kemudian kembali ke kampung halamannya dan menggantungkan hidupnya pada tanah dan sistem pertanian tradisional. (43)

Di pihak  onderneming ada usaha untuk mengatasi krisis ekonomi ini dengan tidak melakukan pemutusan hubungan  kerja kepada para pegawainya. Tindakan  pengusaha perkebunan ini berupa penyewaan tanah perkebunan kepada pegawainya sendiri dengan sistem potong gaji atau menyewakan kepada orang Cina. Tujuan pengusaha adalah  memperoleh hasil sebanyak mungkin, karena produksi kadang-kadang dibeli  perkebunan dengan harga yang sudah ditetapkan  sekaligus menjamin tetap  tersedianya buruh pekerja perkebunan yang murah.

Tentu saja tindakan pengusaha ini menciptakan kondisi ketegangan baru di onderneming. Ini dipicu oleh kekecewaan dan kemarahan penduduk setempat yang merasa bahwa tanah  jaluran sebagai hak mereka sesuai  dengan kesepakatan antara pihak  onderneming, pemerintah kolonial dan  sultan disamping menurut ketentuan hukum adat, telah dirampas oleh para bekas kuli perkebunan dalam hal ini orang-orang Cina dan Jawa. Tanpa disadari terjadi segregasi (ketegangan sebelum meledak sebagai konflik) sosial bernuansa etnis.

Pada tahun 1930 dimulai periode meningkatnya ketidakpastian bagi petani di daerah penanaman tembakau (Deli, Serdang, Langkat), yang akhirnya menjadi basis penting gerakan politik di pedesaan. Kesediaan perkebunan tembakau yang mempersiapkan tanah  jaluran untuk dipakai oleh masyarakat sudah mulai berkurang. Sebelumnya setiap  orang  yang rumahnya terletak di dalam kampung yang diambil alih oleh perkebunan dapat mengharapkan pemakaian tanah jaluran untuk ditanaminya. (44)

Ketentuan mengenai pemberian tanah  jaluran tersebut, dimuat dalam suatu kontrak agar penduduk di tanah  perkebunan bisa memperoleh hasil dari tanamannya sendiri. Prosesnya berlangsung melalui penghulu  sebagai koordinator dengan menerima suatu tambahan tanah, sedangkan anggota keluarga menerima separuh apabila  mereka  membantunya. Jadi demi kepentingan keluarga yang memiliki banyak anak diberikan tambahan untuk menampungnya. (45)

Pemerintah Belanda sangat mengecam praktek tanah jaluran, karena cara ini menghalangi pencetakan sawah-sawah  baru yang hasilnya lebih  produktif untuk mencukupi persediaan beras di daerah yang bersangkutan. Cara  ini juga dianggap  hanya mengembangkan sifat malas dan menghilangkan daya inisiatif penduduk yang menerimanya. (46)

Dengan alasan ini pemerintah kolonial berhasrat untuk menghapuskan tanah jaluran di areal konsesi. Dalam perkembangan selanjutnya dibentuk komisi penyelesaian konflik-konflik tanah jaluran. Tetapi komisi ini menghadapi persoalan-persoalan yang lebih rumit karena keadaan di  Sumatera  Timur semakin parah sebagai akibat resesi dunia  pada tahun 1930. Perkebunan-perkebunan tembakau telah mengurangi daerah penanamannya, mengakibatkan persediaan tanah  jaluran semakin berkurang, sedangkan dalam waktu yang sama banyak penduduk yang menyerobot tanah perkebunan karena disebabkan lapangan pekerjaan di kota semakin berkurang. Untuk mengatasi keadaan ini pemerintah kolonial mengadakan penelitian. 

15 May 2012

Konflik Onderneming dan Rakyat Penunggu di Sumatra Timur (bagian 2)

"Tabak zaadbeddingen" in Deli.
Artist : Kleingrothe, C.J. / Medan
Date1905 – 1930
Source : kitlv.pictura-dp.nl
“Tangis ratapnja Batak Karo di Loehak Langkat Hoeloe”
Pada soeatoe hari saja lihat 4 orang laki-laki Batak melintas hendak pigi ke Bindjai; saja dengar tjakap mereka itoe satoe sama lain katanja - “Bagaimana ini hal? Apa  kita raajat maoe diboenoeh oleh kepala-kepala kita jang lebih tinggi?

Tjoebalah soedara fikir, inilah mahalnja makanan. Oesahkan kepala-kepala kita hendak memberi petoendjoek pada kita boeat djalan kehidoepan, tetapi mereka penghoeloe-penghoeloe kita masing-masing membuat actie yang menekan  dan bikin mati kita ampoenja kehidoepan.

Bagaimana saja tidak bilang begitoe? Tjoba  soedara fikir didalam segala roepa kita ditindis betoel-betoel oleh kita ampoenja penghoeloe; sedjak moelai dari hal jang  ketjil  hingga sampai pada hal  jang berpenting sekali; kita orang ada dikotak-katikkan oleh itoe penghoeloe-penghoeloe. Apa maoe diboenoeh oleh kepala jang tertinggi kata saja. Masakan radja tidak tahoe itoe hal (perboeatan itoe penghoeloe) jang demikian? Kalaoe ia tidak tahoe terang sekalian mereka mendengarkan rapport penghoeloe sadja  dengan tidak soeka periksa apa ada yang dirapport itoe penghoeloe benar atau tidak.

Tjoba radja periksa betoel-betoel  rapportnja penghoeloe-penghoeloe tentang djaboe-djaboe boeat goena berbagi ladang pertanaman padi saban  tahoen, dapatlah kelak ia bertemoe dengan actie penghoeloe itu, bagaimana soenglapnja main comedie mendjoeal nama-nama beberapa lelaki jang beloem pernah kawin diseboet dalam rapportnja  ada  seorang  jang berdjaboe (lelaki-bini) demikian djoega perempoean jang masih perawan toelen diseboet rapportnja ada berlaki, soepaja dapat djaloeran perladangan. Tapi setelah dapat adakah diberikan itoe djaloeran pada adresnja? Apa itoe boekan tipoe namanja goena dirinja?

Diantara djaloeran jang ada berhak  masing-masing, itoepoen dikoeasai oleh penghoeloe poela jaitoe siapa jang ia  sajang orang jang soeka mendjilat tapak kakinja, itoelah orang jang dapat memilih jang baik, sedang orang jang  tidak soeka mengjilat dikasi sadja dimana    tanah ombang meterban. Soeda  pula habis ketaman padi, disitoe ada lagi satoe matjam actie penghoeloe itoe, jaitoe kalau maoe djoeal padi tidak boleh pada orang jang lain, melainkan  kepada penghoeloe dengan harga jang soedah ditentoekan oleh penghoeloe itu sendiri. Begitoe djoega halnja didalam pertanaman djagoeng ini, itoe penghoeloe kita hampir disegenap kampoeng mendjalankan actie begitoe. Apa tidak lebih  baik kita masoekkan permintaan sama Sjarikat PBK di Loehak Langkat Hoeloe?

Lanjutan dari bahagian 1

Sumber-Sumber Konflik
Penyimpangan pertama atas tanah  jaluran ini terjadi  ketika perusahaan perkebunan tidak menyerahkan tanah jaluran kepada penduduk setempat sesuai dengan ketentuan yang dimuat dalam kontrak, melainkan menyerahkan kepada para pekerja mereka yang menganggur  setelah panen tembakau. Sebagai akibatnya tanah-tanah jaluran ini dikerjakan oleh para pekerja bangsal, Cina dan Jawa seperti yang terjadi di beberapa perkebunan Deli Tua,  Bakala,  dan Tuntungan milik Deli Maatschappij, Arnhemia milik Rotterdam Deli dan Rimbun milik perusahan onderneming Rimbun. Setelah masa kerja jaluran ini berakhir, kadang-kadang para pekerja Cina ini tidak pergi, namun tetap terus berlangsung dan bahkan mengarah pada pemberian  hak bangun. Ini terjadi di Medan, Sukarame, Arnhemia, Labuhan Deli, Kampung Baru, Pulau Brayan, Glugur,  Belawan, Kampung Besar,  Sungai  Agul,  Hamparan Perak, Sungai Rampah, Bedagei,  Bandar Sono dan Tebing Tinggi. (17)

Akibatnya beberapa ketegangan terjadi antara penduduk setempat di sekitar perkebunan yang memegang hak atas tanah itu (ra’jat penoenggoe) dengan para penggarap luar yang tidak sah.
Sementara itu para penggarap ini merasa bahwa mereka berhak menggarap karena  telah mendapat restu dari pengusaha  onderneming.  Onderneming berdalih, bahwa tanah yang diserahkan kepada pekerja ini adalah tanah di luar jaluran dan disewakan dengan pembayaran hasil panen padi. (18)

Kasus  penyimpangan  dalam soal pembagian tanah  jaluran yang lain adalah, bahwa pengusaha perkebunan tidak langsung menyerahkannya kepada ra’jat penoenggoe, melainkan kepada kepala adat Melayu yang dianggap sebagai pimpinan rakyat setempat. Pimpinan Melayu ini tidak membagikan tanah jaluran kepada masyarakat, namun menggarapnya sendiri atau menyewakannya kepada para pemilik kedai dan petani sayur Cina dan Jawa. Persewaan ini  dilakukan berdasarkan kontrak yang dibuat di depan para kepala adat. (19)

Bekas kuli Cina ini menimbulkan  masalah karena mereka  menghuni tanah-tanah milik sultan atau penduduk tanpa izin. Akibatnya  sering muncul konflik ketika mereka harus meninggalkan tempat itu. Kondisi ini baru berakhir setelah ada petak-petak khusus yang  ditunjuk untuk pemukiman mereka  dan sebagai jaminan, mereka harus menyisihkan hasil kerja kepada penduduk setempat atau pemerintah tempat mereka bermukim.(20)

Konflik Onderneming dan Rakyat Penunggu di Sumatra Timur (bagian 1)


onderneming Padang-boelan van de Amsterdam Deli Compagnie bij Medan.
Source : http://kitlv.pictura-dp.nl/
Ginting Margana, “Kabratan anak negri dan toean toean kebon”, Andalas, 22 Agustus 1918 :

Di bawah ini saja toetoerken satoe persatoe kaberatan anak negri jang telah dilakoeken oleh toean toean kebon soepaja djangan kelak saja ini dikataken t.t. pembatja mengisep kabar dari oedjoeng djari sadja :

Dimana ladang jang tanahnja soeboer dan rata sedikit  t.t.  kebon asingkan, itoe boeat ladang sewa, atawa boeat djoealan. Mana ladang jang tida saberapa baik, itoelah dibagi boeat anak negeri. 

Ladang-ladang dibagi oentoek anak negri, poen djangan di sangka, dibagi oleh toean toean kebon menoeroet sepandjang boenji Contract, itoelah sekali kali tida! Boektinja terseboet di dalam Contract ladang penoenggoel boeat anak negri dalem satoe tangga jaitoe (1 H Are) atawa 10000 M.

Diladang j.t.s. selainnja  dari  pokok kajoe androng, toean kebon tanem poela sematjem kajoe jang diseboetken (oleh anak negeri kajoe emboen).

Binatang anak negeri tida  sekali  boleh mengindjak tanah concessie kectjoeali pasar (djalan), anak negeri tida boleh mengembalaken lemboe atawa kerbaunja katanah jang diloear tanah kampoeng, itoelah  sekali kali tida boleh, menoeroet prentah toean kebon.
Disebelah satoe kebon, ada djoega dilarang anak negeri mengambilkajoe, ditanah consessie walaupoen dipergoenakan boeat roemah tangganja.

Anak negeri dipaksa oleh  toean  toean kebon mengerdjaken pakerdjaan kebon seperti mentjoetjoek tembako dan  mentjari oelat. Betoel, boeat itoe pakerdjaan diberi oepah menoeroet pendapatannja, tetapi tida lebih sabrapa dari orang contrack, begitoelah boeat anak negeri, itoepoen disertaken poela dengan antjeman : “Kaloe loe tida maoe tjoetjoek tembako, saja tida kasih ladang”.

Pada tahun 1918 ini  bertambah  poela  sematjem peratoeran dari kebon kebon, jaitoe : ladang ladang oentoek anak negeri lebih doeloe ditanemi djagoeng kapoenjaan kebon, kamoedian sasoedah  habis boeah djagoeng jang ditkoetip oleh kebon, baroelah anak negeri bisa tanam padi.

Sumatra Timur pada masa kolonial, khususnya  sejak  tahun  1870, merupakan suatu lahan eksploitasi ekonomi dan sasaran investasi  agro-bisnis dari kekuatan kapitalis kolonial asing yang menanamkan modalnya di Indonesia.

Prospek yang baik dari hasil-hasil percobaan tanam pertama dan lonjakan harga produk agraria perkebunan di Sumatra Timur ini menjadi rangsangan dan titik tolak utama bagi perluasannya. Berbagai macam perusahaan dengan kekuatan modal  raksasa  berlomba-lomba dalam menanamkan modal dan mencari segala macam cara untuk memperoleh lahan bagi usaha  agrobisnisnya  di wilayah tersebut.

Di sisi lain, kondisi pemilikan lahan di Sumatra Timur khususnya di wilayah raja-raja swatantra (pemerintahan kasultanan), telah  berlaku  dua macam sistem kepemilikan tanah. Dari  sudut pandang  suprastruktur  yang bernuansa elitis, dalam bidang ini berlaku prinsip  Vorstdomein yakni semua tanah di wilayah tersebut adalah milik raja yang berkuasa, dalam hal ini Sultan Melayu. Sultan sebagai penguasa daerah memiliki hak kuasa atas tanah-tanah di negaranya dan berhak membagi-bagikan kepada kerabat  dan  birokrasinya hingga sampai kepada rakyat yang memiliki hak garap.

Dalam penerapan sistem tersebut di  wilayah Sumatra Timur, kekuasaan hak milik raja atas tanah ditunjukan melalui status karunia Sultan yang diberikan dalam  bentuk  tanah kepada penggarapnya.

Pada sisi lain dalam  kehidupan  agraria masyarakat tradisional, berlaku juga sistem pemilikan tanah oleh rakyat yang bersifat komunal  (volksdomein). Menurut sistem ini, sumber utama pemilikan tanah berdasarkan pada  konsep bahwa pembuka lahan pertama menjadi  pemegang hak utama bersama keturunan  dan keluarganya, yang akan menggarapnya secara bergantian (komunal system).

Dalam perkembangan  selanjutnya, tanah-tanah komunal ini kemudian diakui sebagai tanah adat yang bisa dimiliki dan digarap bersama secara turun-temurun dalam bentuk  hak ulayat. Keberadaan dan keabsahan tanah ulayat ini tidak bisa dilepaskan dari pelestarian dan eksistensi masyarakat adat pendukungnya yang menjadikannya sebagai titik tolak dan sumber kehidupan.

09 May 2012

Rakut Si Telu and Tutur Si Waluh (English Version)


Rakut Si Telu

Rakut Si Telu are formed from associations of clans that become a kinship of relationship. The meanings of Rakut Si Telu (tri Tunggal) are three of society is one in order to be completeness for Karo peoples. The completeness is mean of social institute in karo society that consists of three groups, they are:

i. Kalimbubu
ii. Anak Beru
iii. Senina

All of people have opportunity to be  Kalimbubu, Anak Beru, Senina in their life. These make life of Karo become more interesting to be knowledge. Each kind of  Rakut Si Telu have its  own meaning  that will be explained  as follows:

1) Kalimbubu
Kalimbubu is group who get position to be respect in the middle of family like the daughter married with a man of certain family or clan.

The assignments of Kalimbubu to observe and give instructions in conference of custom Anak Beru families, and as giver petuah (guidance), as taker of conclusion in problem toward Anak Beru, because Kalimbubu is an actor that is position of higest, so the people of Karo often said :

“Adi kalak Karo sinddekah erdalan i tengah kerangen ras Kalimbubuna, labanci lang Anak Beru arah lebe, artina adi lit musuh ntah pe rubia-rubia si merawa entah pe duri ras bulung-bulung si megatel gelah Anak Beru e kena leben, gelah selamat Kalimbubu ibas bahaya nari, “Bagepe adi erdalan erpagipagi namuren denga dalan, Anak Beru e nge leben gelah enggo kari namur e isapu  Anak Beru, gelah Kalimbubu lanai namuren. Adi ngerana Kalimbubu ibas sada runggun labo banci ia isimbaki, “Bagi page ibas lebeng pe ikur-kuri glah lit man nakan turang.”

Teks Relief Pilar Tebing Di Berastagi Sebagai Representasi Identitas Masyarakat Karo


“Teks Relief Pilar Tebing Di Berastagi Sebagai Representasi Identitas Masyarakat Karo”
oleh Zakharia Ginting (Universitas Sumatera Utara)

Pendapat Saussure (dalam Sobur, 2004: 46) tentang simbol adalah sejenis tanda yang mempunyai hubungan antara penanda dan petanda seakan-akan bersifat arbitrer. Seperti simbol relief sebagai penanda yang merupakan aspek material yaitu bunyi atau pahatan yang bermakna, sedangkan petanda adalah aspek mental yaitu gambaran mental, pikiran, atau konsep dari identitas simbol relief itu sendiri. Penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas. Suatu penanda tanpa petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda.

Relief adalah pahatan yang menampilkan bentuk dan gambar dari permukaan rata disekitarnya, gambar timbul, dan  perbedaan ketinggian pada bagian permukaan bumi (Alwi, dkk 2003: 943). Relief bisa merupakan ukiran yang berdiri sendiri maupun sebagai bagian dari panel relief yang lain yang membentuk sebuah seri cerita atau ajaran. Relief sebagai hasil karya seni pahat dan ukiran tiga dimensi biasanya dibuat diatas medium batu berupa candi, kuil, pilar atau monumen.

Herusatoto (2000:10) berpendapat bahwa gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai merupakan hasil karya manusia. Relief yang terdapat pada pilar tebing di Berastagi adalah salah satu contoh simbol yang merupakan gambaran kehidupan dan kebudayaan masyarakat Karo. Relief tersebut adalah pahatan manusia dengan berbagai macam, pola, dan bentuk yang maknanya disepakati bersama oleh masyarakat setempat sebagai simbol yang mampu merepresentasi kebudayaan.

Relief tersebut merupakan sebuah peninggalan hasil kebudayaan Karo yang pada masa sekarang tidak hanya berfungsi sebagai salah satu bentuk hasil karya kebudayaan masyarakat Karo. Relief yang di buat pada medium tembok batu ini juga telah menjadi salah satu objek wisata yang sangat digemari oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Itulah yang menjadi salah satu alasan penempatan relief tersebut di kota Berastagi mengingat daerah tersebut adalah salah satu daerah objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan, sehingga secara tidak langsung, semua wisatawan yang berkunjung ke daerah Berastagi dapat melihat dan mengetahui tentang masyarakat dan kebudayaan Karo.