30 September 2012

Kawah Gunung Sibayak


Gunung Sibayak crater from pics or lies on Vimeo.

Koleksi Foto Deli Maatschappij (1920)






28 September 2012

Karo Traditional House


Karo Traditional House from Eddy Hasby on Vimeo.

 
Karo Traditional House
by Eddy Hasby

Karo Traditional House in Linga village, Karo District, North Sumatra, Indonesia
The original traditional house of KARO tribe is very unique. This traditional house was built more then 100 years ago without single nail with the high around 15 meters and the length around 20 meters.
Timepase & motion by Eddy Hasby
Music Garage Band

27 September 2012

Peranan Rakoetta S. Brahmana dalam Pembentukan Kabupaten Karo


Taneh Karo meliputi : wilayah-wilayah Kabupaten Karo sekarang, Langkat Hulu, Kota Medan bagian Selatan, Deli Hulu, Serdang Hulu, beberapa kecamatan yang dimekarkan dari Kecamatan Silima Kuta (Kabupaten Simalungun), serta beberapa kecamatan yang dimekarkan dari Kecamatan Taneh Pinem dan Kecamatan Tigalingga (Kabupaten Dairi).

Kabupaten Karo pimpinan Rakoetta meliputi : Kabupaten Karo sekarang ini ditambah Kecamatan Silima Kuta yang sekarang masuk Kabupaten Simalungun dan beberapa kecamatan yang sekarang masuk ke Kabupaten Deliserdang (Kecamatan-kecamatan Kutalimbaru, Pancurbatu, Namorambe, Sibiru-biru dan Sibolangit). Ingat, sebagian wilayah Kota Medan sekarang ini di masa kepemimpinan Rakoetta masuk ke wilayah Kabupaten Karo karena menjadi bagian Kecamatan Pancurbatu dan Kecamatan Namorambe pada saat itu.



Peranan Rakoetta S. Brahmana dalam Pembentukan Kabupaten Karo
Oleh: Juara R. Ginting


PENDAHULUAN
Masing-masing mantan Bupati Kabupaten Karo memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi, menurut hemat saya, Kabupaten Karo di masa kepemimpinan Rakoetta Sembiring Brahmana memiliki keistimewaan tersendiri dalam perjalanan sejarah suku Karo.

Di masa kepemimpinan Rakoetta, wilayah Kabupaten Karo meliputi Kabupaten Karo sekarang ini ditambah beberapa kecamatan di luarnya yang sekarang menjadi bagian Kabupaten Deliserdang dan Kabupaten Simalungun. Ini merupakan monumen sejarah yang mengingatkan Taneh Karo tidak terbatas pada wilayah administrasi Kabupaten Karo sekarang.

Memang, wilayah Kabupaten Karo di masa kepemimpinan Rakoetta belum mencakup keseluruhan wilayah Taneh Karo. Langkat Hulu, Kota Medan bagian Selatan, dan Taneh Pinem adalah juga termasuk bagian Taneh Karo yang tidak dimasukkan sebagai bagian wilayah Kabupaten Karo di masa kepemimpinan Rakoetta. Akan tetapi, pernah adanya di suatu masa Kabupaten Karo mencakup wilayah lebih luas dari Kabupaten Karo sekarang ini sangat penting dijadikan sebagai salah satu tonggak sejarah Karo. Tidak hanya sebagai pengingat di masa-masa mendatang, tapi juga dapat menjadi argumentasi konkrit bila saja di belakang hari kita membutuhkan bukti-bukti bahwa Taneh Karo memang mencakup luas di beberapa kabupaten bertetangga ini.

Kai pe labo gelgel, belum tentu peristiwa masa lalu tidak menjadi peristiwa masa depan. Lihat saja pemekaran-pemekaran wilayah administrasi pemerintahan di Indonesia sekarang ini, termasuk daerah-daerah tetangga Kabupaten Karo. Umumnya pemekaran-pemekaran itu mengikuti, atau setidaknya mendekatkan diri kepada, klasifikasi wilayah tradisional mereka di masa Pre Kolonial atau di masa Kolonial atau Pasca Kolonial.

Dalam kesempatan ini, saya hendak menjelaskan secara ringkas konsep Taneh Karo agar kita menyadari pentingnya posisi Kabupaten Karo bukan hanya sebagai wilayah administrasi pemerintahan, tapi juga demi keberadaan masyarakat dan budaya Karo.


TANEH KARO
Suatu kali, saya dan beberapa teman mengadakan perjalanan dengan sebuah Jeep dari Kutarayat (Kabupaten Karo) ke Telagah (Kabupaten Langkat) dan dari Telagah ke Medan. Beberapa hari kemudian kami menyusuri jalan dari Medan lewat Tuntungan, Pasar 10, Gunung Merlawan, Tandak Benua dan keluarnya di Perkemahan Pramuka Bandar Baru. Beberapa hari setelah perjalanan itu, salah seorang mahasiswa Karo yang ikut dalam rombongan kami berkata: “Saya tidak membayangkan sebelumnya bila kampung-kampung yang kita lintasi kemarin itu betul-betul kampung Karo.”

15 September 2012

Karo dalam Buku "Pocket Guide to Netherlands East Indies"


Pocket Guide to Netherlands East Indies adalah buku panduan bagi tentara Amerika yang datang ke Indonesia. Dalam tulisan sebanyak 78 halaman ini, khusus untuk Sumatera Timur dimuat 2 buah lukisan Karo.


A Pocket Guide to
Netherlands
East Indies

For use of Militlary Personnel only. Not to be republished, in whole or in part, without the consent of the War Department.
WAR AND NAVY DEPARTMENTS
WASHINGTON, D.C.


Prepared by
SPECIAL SERVICE DIVISION, ARMY SERVICE FORCES
UNITED STATES ARMY




Pada halaman 6 ada dituliskan :

If you except some tribes in Sumatra and in the eastern part of the island the chief Indonesian characteristic is to live in peace and harmony with his fellows, his god, his surroundings, and himself. He doesn't want to push other people around, conquer more land or offend the beliefs of others. Intolerance, oppression or an overbearing attitude he dislikes strongly, and is very likely to get tough about it. This world needs, and will always need, more people like that.


Pada halaman 14 ada dituliskan :

The Sumatrans. In Sumatra, perhaps the best known people are the Achinese, or Atjehs, who live at the northwest tip of the island. From earliest days they fought the Dutch. Finally, after a 35-year war, which ended in 1908, they were subdued, but even since then Dutch troops had to be stationed in their territory. The Achinese are perhaps the strictest Moslems in the Indies. If you get into their territory, be careful about respecting their customs and beliefs.


Somewhat to the east of them are the Bataks. They are isolated folk who still hold to their ancestral religion, though some of them have been converted to Islam (as the Moslems call their religion), and others to Christianity. The Christians are mainly in the region of beautiful Lake Toba, but the missionaries have been largely German, which means that the Bataks have had considerable Nazi propaganda dished out to them. The non-Christian Bataks are still suspicious of strangers, and until recently, war was one of their main pursuits.

Around the Padang region of West Sumatra are the Minangkabaus. Though they too are Moslems, they still practice some of their older social and religious customs. They trace their descent from their mother's side instead of from the father's side as we do. Women own the main property; children are reared in their mother's family.

14 September 2012

Perempuan Karo Menumbuk Padi

Perempuan Karo Menumbuk Padi 


Photographer : Charles KLEINGROTHE (Germany)
Movements: worked Singapore 1889 worked Indonesia 1889-c.1925

Printmaker : J.B OBERNETTER M√úNCHEN

Battakkwoman pounding rice
[Ryst stampende Battakkvrouwen; Battakfrauen Reis stampfend] c. 1903 - 1920
photogravure image 13.0 h x 22.0 w cm

Perempuan Karo dan Padung

Perempuan Karo dengan perhiasan Padung (1890)

karya ERNST & CO.
commenced 1885 – 1925
Photographer (organisation)

Collection Title: Souvenir de Sumatra
Sumatra, Indonesia.

perempuan Karo

Fotografer : C.J. Kleingrothe J.B. Obernetter
Tahun Pembuatan :1890-1920
Sumber : Tropenmuseum Amsterdam

Perempuan Karo di Sampul Buku Photographs of the Netherlands East Indies at the Tropenmuseum



Wajah perempuan Karo yang memakai perhiasan Padung menjadi pilihan sampul buku “Photographs of the Netherlands East Indies at the Tropenmuseum" di antara 120 foto yang berasal dari foto-foto di Hindia Belanda yang terdapat di dalamnya.

Buku ini adalah volume keempat dari serangkaian sepuluh buku yang membahas koleksi Tropenmuseum dan sejarah dan cerita yang menyertai mereka. Buku-buku menjelaskan koleksi museum, membahas benda-benda dalam konteks aslinya, sejarah sosial dan makna kontemporer. Penekanan utama terletak pada sejarah dari setiap koleksi. Setiap volume digambarkan dengan benda-benda dan foto-foto dari koleksi Tropenmuseum.

"Foto-foto Hindia Belanda di Tropenmuseum" menawarkan pengenalan yang komprehensif dan merupakan salah satu koleksi yang paling penting dari fotografi kolonial di dunia. Tidak ada koleksi lainnya di Tropenmuseum yang sangat terkait erat dengan sejarah lembaga itu sendiri. Foto-foto yang sudah dikumpulkan di akhir abad kesembilan belas dan telah terus-menerus dilengkapi dengan gambar untuk menciptakan perspektif seluas mungkin perkembangan topikal di Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, pentingnya koleksi foto-foto bersejarah menurun dan itu mengarah kepada ketidakjelasan. Minat pada koleksi bersemi kembali kemudian ketika sekelompok besar orang di Belanda datang untuk memandangnya sebagai suatu dunia yang hilang yang  semakin romantis. Dari tahun 1980-an koleksi-koleksi ini menjadi sumber informasi sejarah dan subjek skala luas bagi penelitian akademik.

Digambarkan dengan lebih dari 120 foto, buku ini memberikan wawasan mengenai bagaimana sikap masyarakat terhadap koleksi  telah berubah selama 150 tahun terakhir dan berbagai cara di mana telah digunakan oleh Tropenmuseum dan pendahulunya untuk menjaganya. (Sumber : KIT Publishers)



Judul : Photographs of the Netherlands East Indies at the Tropenmuseum
           Seri  Collections at the Tropenmuseum
Penulis : Janneke van Dijk, Rob Jongmans, Anouk Mansfeld, Steven Vink, Pim Westerkamp
ISBN      : 9789460221934
Penerbit  : KIT Publishers
Halaman : 120 halaman
Terbit : September 2012
Harga :  € 34.50


peluncuran perdana
Eindelijk begonnen! Wat is koloniaal aan koloniale fotografie.
sumbe : Tropenmuseum FB


11 September 2012

Senjata dari Karo



Kalasan mit Sukul nganga, Karo

Kalasan situkas mit Sukul Djering, Karo


Djulung-djulung, ohne griff (tanpa gagang), Karo

Djulung-djulung Griff  tanke Djambe, Karo

Senjata dengan Sukul Djering

02 September 2012

Karo dalam Filem : Gripsholm Cruise 1940 II (1940)

Pada menit ke 17.37 akan terlihat kehidupan masyarakat Karo sekitar tahun 1940. Pada filem berwarna ini terlihat bangunan pasar tempat terjadinya transaksi jual beli, lalu rumah-rumah adat yang berdiri kokoh, anak-anak dengan permainan yang melompat-lompat meniru kodok. Saluran air yang mengalirkan air di pinggi jalan. Seorang ibu yang merasa malu ketika kamera mengarah ke arahnya dan anak yang sedang digendongnya :

 :

Berikut cuplikan kehidupan Karo dalam filem Gripsholm Cruise 1940 II (1940) :

video








Selengkapnya dapat juga dilihat di laman berikut :  University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology Films

All rights are reserved by the University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology (Penn Museum). Any use of the footage in productions is forbidden unless rights have been secured by contacting the Penn Museum Archives at 215-898-8304, or email photos@pennmuseum.org.

This film and all of the films in the Penn Museum collection are copyrighted by the Penn Museum, and are not in the public domain.

This movie is part of the collection: University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology Films

Producer: Mrs. J. Shipley Dixon
Audio/Visual: silent, color

Perbahanen : rasoel-rasoel bagi nisoeratken si Loekas (1916)


Perbahanen  : rasoel-rasoel bagi nisoeratken si Loekas.

Injil Lukas yang diterjemahkan oleh Johann Heinrich Neumann (1876-1949) ke dalam Bahasa Karo dalam ejaan lama di tahun 1916 :