22 December 2012

Pencak, Gelang-gelang, Mulih-mulih, Mantera (Lagu Karo 1971)




(Bahagian pertama)

Pencak, Gelang-gelang, Pencak, Mulih-mulih, Mantera (Lagu Karo 1971)
Direkam di : Berastagi, Tanah Karo, North Sumatra
Date : 30 Dec. 1971


Title : Sumatra. 14, Berastagi and Kampung Doulu, Kabanjahe, North Sumatra
Creator : Margaret J. Kartomi
Contributor : Monash University. Faculty of Arts. School of Music-Conservatorium
Date : 1971


Recording session 1 (30 Dec. 1971 in Berastagi) :
No.1. Pencak (continued from MK1-SUM0147) ;
No.2. Gelang-gelang ;
No.3. Pencak ;
No.4. Mulih-mulih ;
No.5. Mantera


Performer note:
No. 1-4 : Perangin-angin, Tjaja Tarigan, Pengulu Adji Nembah, Sehat Sinulingga, Jusup Perangin-angin, Tungkum

21 December 2012

Kebun Karet di Sibolangit (1930)


Dari majalah Insulinde, 1930 — RUBBER (Karet)
Selengkapnya catatan ini dapat dibaca di : Royal Tropical Institute


Getapte rubberboom van een bevolkingstuin bij Sibolangit
Pohon Karet yang disadap di kebun karet di Sibolangit 

Catatan Geografis Karo di tahun 1909


Sumatera Utara : Laporan atas nama Yayasan Humboldt dari Royal Prussian Academy of Sciences di Berlin, dieksekusi pada tahun 1904-1906 ekspedisi, Aflevering 1, 1 Januari 1909 - Bab VIL. Geografis fitur dari Batak-Lander

Nord-Sumatra : Bericht über eine im Auftrage der Humboldt-Stiftung der königlich preussischen Akademie der Wissenschaften zu Berlin in den Jahren 1904-1906 ausgeführte Forschungsreise, Aflevering 1, 1 Januari 1909 — VIL Kapitel. Das geographische Bild der Batak-Lander.





Durian Sibolangit (1930-1934)

Menjual Doerian Sibolangit (dataran tinggi Karo)
Verkoop van Doerian te Sibolangit (Karo-hoogvlakte)
Selanjutnya dapat di baca di : RoyalTropical Institute
Insulinde, 1930 - VI. BEBERAPA CATATAN STATISTIK
Insulinde, 1930 — VI. EENIGE STATISTISCHE GEGEVENS

Doerian di Pasar Sibolangit


Selanjutnya dapat di baca di : RoyalTropical Institute
IMededeeling / Afdeeling handelsmuseum, Koloniaal instituut te Amsterdam, Jaargang 0, Aflevering 14, 1 Januari 1934 — Mangga gedong van Java

Taman Sibolangit dari Laporan JA Lörzing (1 Januari 1918)

Taman Sibolangit
(Diambil dari laporan hortulanus, Pak JA Lörzing).

Pemeliharaan jalan dan kotak menyita sebagian besar tenaga kerja yang tersedia. Jalan yang tak beraspal sementara tersisa.

Hanya rumput terus dibuat pendek oleh  mesin. Subyek secara bertahap dipangkas. Pohon dukungan untuk tanaman merambat begitu parah ditempatkan. Juga naungan pohon untuk mata pelajaran dengan tanaman hutan. Pembagian dengan tanaman hias yang berkembang.

Pasokan air untuk kolam selesai, tetapi biaya besar karena sebagian sejalan dengan perawatan  jalan utama. Bagian terbesar dari danau akhirnya mampu menampung  air dengan baik.

Benih yang dikirim dari Buitenzorg (Bogor) terutama tumbuhan runjung, tahun ini tidak begitu baik tumbuhnya. Tanaman di rumah kaca terbuka juga banyak menderita karena ulat.

Pada pemangkasan dari jalan di bagian utama dari divisi ini, yaitu cagar alam, terus-menerus dan berhasil bekerja sehingga yang sebelumnya hampir tidak dapat diakses banyak sekarang dapat dikunjungi.

Untuk herbarium dikumpulkan nomor 5487-6153, yang untuk pertama kalinya koleksi dari alasan yang lebih tinggi dari lokasi Sibajak diterima, dikumpulkan oleh Tuan B. W. Lesger dan J. B. H. Bruinier.

Rumah-rumah kuli di bangunan luar telah siap. Kesulitan utama tetap untuk memperoleh dan terutama menjaga staf yang baik. Perusahaan-perusahaan di lingkungan yang baik bagi pekerja tentu membayar lebih. Kemajuan terus menerus dari orang bekerja tentu saja keadaan baik.

Orang asing tidak boleh berkunjung. Selain tidak ada kesempatan untuk menerima mereka, namun penonton Delian (penduduk Sibolangit sekitarnya maksudnya) datang cukup sering.

Gambar-gambar terlampir memberikan kesan bangunan perumahan dan pekerjaan kantor percontohan hortulanus.

 

Mata Air Sibolangit (1955)


Laporan tahunan / "Air Bersih" NV, Issue 51, ​​1 Januari 1955 - LAMPIRAN VI
Jaarverslag / Waterleiding-maatschappij "Air Bersih" N.V, Aflevering 51, 1 Januari 1955 — BIJLAGE VI





 
 
 
 
 



19 December 2012

Pemusik Tukang Ginting


Pemusik Tukang Ginting dalam buku : Worlds of Music: An Introduction to the Music of the World's Peoples karangan Jeff Todd Titon


Karo dalam Tulisan J.Sibinga Mulder (1936)





Jurnal Tropis Belanda untuk penyebaran pengetahuan Timur Belanda dan Hindia Barat, Volume 9, Nomor 15, 16 November 1936 – Ke Danau Toba

Oleh J. Sibinga Mulder


In het hartje van Sumatra ligt, eloor steile bergwandelen omgeven, het majestueuze Tobameer, sedert onheuglijke tijden heilig voor de bevolking, die er in wijlen kring omheen woont. Het werd tot voor een goede so jaren door haar als ~Bongbong" beschouwd, dat is ontoegankelijk voor vreemdelingen. De bewoners, met den algemeenen naam Bataks aangeduid, zijn naar het gebied, dat zij bewonen, genoemd, maar we kunnen hen in het algemeen in twee groote groepen verdeden, nl. ele Tobabalakj en de Karobalakó. De laatsten bewonen de hoogvlakte, die het Tobameer ten Noorelen en ten Oosten begrenst en de Toba's het Westen en Zuielwesten. Maar welk een groote oppervlakte de gezamenlijke Tobalanden beslaan, blijkt wel het beste uit ele begrenzingen.

Pembangunan Lao Si Momo




Rumah Gaya Karo di Lao Si Momo


Lebih tepat dapat disebut bangunan yang akan saya tulis berikut ini. Kami akan berbicara  terutama tentang desainer dan pembangunnya yaitu Mr Van Bendegom, direktur pelatihan pusat dan dekorasi kerajinan dari Institut Batak. Bagimana perasaannya setelah peresmian bangunan yang ia bangun dimana terlihat bangunan menggunakan arsitektur budaya Karo namun sejalan dengan tuntutan Barat dipenuhi tentang kenyamanan dan kebersihannya.

Pengelola mengawali perkenalan dengan menyebutkan bahwa Lao si Momo adalah nama sebuah sungai kecil, letaknya beberapa jam dari Kaban Djahé, tidak jauh dari jalan ke arah Gajo dan Alaslanden. Ada yang mengatakan sungai yang segera menghilang secara misterius ke dalam tanah.

Pemerintah kolonial mendirikan tempat ini untuk orang-orang malang, yang dengan jumlah beberapa ratus di Batak, dan dua atau tiga ratus di Karoland para penderita kusta. Pendiri koloni tempat menampung penderita kusta di Karosche kusta adalah misinonaris E. J. van den Berg, yang secara finansial mampu melakukannya dimana dananya berasal dari hadiah bangsawan Mr J. Th. Cremer selama kunjungannya ke dataran tinggi Karo. Dengan kerjasama dari Residen kemudian Asisten Sariboe Dolok, almarhum Mr C. J. Westenberg. Begitu besar pengorbanan Mr. Van den Berg, selain pekerjaan yang luas dalam misinya juga telah beberapa tahun yang pada merawat dan mengawasai koloni khusus ini.

Tapi tulisan ini tak berfokus pada sejarah koloni penderita kusta tersebut. Cukuplah demikian pengumuman bahwa koloni ini, setelah kebakaran nyaris menghancurkan kini telah bangkit dalam meningkatkan tuntutan medis yang lebih memuaskan, lebih maju dengan pemantauan regular. Mr Van Bendegom menunjukkan solusi bagi pertanyaan yang sulit : perumahan, kebersihan nyaman sambil mempertahankan prinsip-prinsip gaya Karoschen.






Asal Mula Markisa di Karo





Dari tulisan di Kolonial Institute di Amsterdam, Volume 0, Nomor 14, 1 Desember 1934 : 
Markisa atau markieza dari Deli (Karo).

Markieza atau markisa) adalah buah dari pohon anggur Passiflora cdulis Sims 1), yang tumbuh awalnya di Amerika Selatan. Lalu ditanam di  Indisc (Hindia Belanda). Tanaman ini baik tumbuh di daerah pegunungan, atau dalam iklim yang relatif tidak begitu panas. Seperti pada gambar tanaman tumbuh meluas dengan banyak cabang, menjulur di tiang-tiang seperti membentuk tempat berteduh.  Di daerah pegunungan Jawa Barat telah lama dikenal, adalah perkebunan pertama di tahun 1914 dibuat Prof. L. P. DE Bussy. kemudian dibawa dari Jawa ke Dataran Tinggi Karo daerah Pantai Timur Sumatera. Beberapa tahun terakhir memang sedang tumbuh ekpansi ke arah sana.

Di dataran rendah, misalnya di Medan, tanaman akan tumbuh, tapi tidak pernah mekar. Namun sebaliknya di Dataran Tinggi, hampir sepanjang tahun semua buah bisa dipanen dan beberapa kali di mana mereka diperoleh lebih banyak. Setelah dua tahun kami menerima paket kecil Markisa bersama dengan Terong Blanda {Cyphomandra betacea Sendtn). Paket pertama tiba di Rotterdam tanggal 13 Juni 1933 yang dimasukkan pada ruang pendingin dari kapal MS "Indrapoera", yang kedua tiba pada tanggal 26 Juli 1933 dengan kapal MS "Sibajak". Kehadiran buah itu layak diperhitugkan, sukses memancing minat yang ingin mengetahuinya.

Di Medan, seluruh isi buah sering dicampur dengan terong blanda oleh banyak orang Eropa dengan cara dimakan sebagai makanan penutup. Melalui deskripsi yang digambarkan dalam beberapa majalah tentangnya selanjutnya menarik banyak  perhatian.

17 December 2012

Sibolangit dalam Majalah Insulinde, 1930 — SUIKERRIET


Insulinde, 1930 — SUIKERRIET

Penjual Goela Mangkok di Pasar Sibolangit

Karo dalam Majalah Insulinde, 1930

Insulinde, 1930 — AARDAPPEL
Sumber :  Royal Tropical Institute

Kebun sayuran di dataran tinggi Karo, tanaman kol

Membawa kol ke pasar di dataran tinggi Karo

09 December 2012

Si Narsar Karokaro, Raja Catur


Kisah tentang pecatur dunia yang berasal dari Karo memang sangat mengagumkan. Dalam beberapa majalah di jaman kolonial Belanda banyak menuliskan tentang permainan hebatnya. Di waktu yang lalu sempat dibahasa tentang Narsar, dapat dibaca di tulisan sebelumnya yaitu : 


Pada tulisan kali ini akan ditampilkan beberapa pemberitaan lainnya di tulisan tahun 1914. Mohon maaf bila penterjemahannya belum sempurna.

Si Narsar Karo-karo, raja catur
Tulisan ini berasal dari mingguan untuk Indie (Hindia Belanda), Volume 10, Issue 41, 25 Januari 1914 - Si Narsar, sang raja catur

Untuk beberapa waktu, perhatian pemain catur Hindia Belanda ditarik oleh munculnya sebuah bintang di  jagat percatur-an. Si Narsar, pribumi yang pintar di lapangan catur, sudah banyak tampil  di pertandingan catur, dan dalam kebanyakan kasus dia adalah pemenangnya. Ke mana pun ia pergi, entah itu ke Batavia, ke Magelang, Semarang , ia memenangkan segala pertandingan tanpa kecuali.

Batavia pada tanggal 6 Januari, bendera dengan sukses besar dalam "Concordia" buat si Narsar si Orang Karo. Dalam 4 1/2 jam dimainkan Si Narsar melawan beberapa pemain secara secara bersamaan (simultan) adalah imbang (terhadap Mr G. Barth) namun memenangkan sisanya. 

Sepanjang malam begitu penuh decak kekaguman. Kecerdikannya dalam menemukan langkah jitu dalam keadaan genting. Dan dalam pertandingan kehormatan dengan H. Meijer, wakil presiden dari Chess Club "Batavia", setelah perjuangan keras akhirnya dimenangkan oleh terakhir Narsar. Inilah kesuksesan kedua terbesar setelah malam sebelumnya.

Di Semarang, sang raja catur juga tahu harus mempertahankan reputasinya. Setelah sukses dalam dua improvisasi sebelumnya, yaitu di klub catur dan Smabers Co, Narsar diminta untuk bermain dengan Tuan Ent der Van Onnen dan Terkuile​​.

Di Magelang, Si Narsar bermain dalam pertandingan simultan yang oleh diikuti 9 orang pemain. Si Narsar memenangkan delapan pertandingan dan bermain imbang lagi.. Pertempuran berlangsung di sana dari pukul setengah tujuh sampai jam sebelas.

Untuk Surabaya, penggemar catur akan segera memiliki waktu yang tepat dan dapat mengukur kekuatan mereka dengan master catur dari Karo ini. Dan bila memungkinkan kemudian Si Narsar berangkat ke Eropa untuk berada di sana untuk mengukur permainan para master Capablanca dan Lasker, kemudian si orang pribumi Karo ini  dengan bangga mengatakan pada setiap mereka yang memujinya bahwa ia telah bermain  catur dengan para master catur dunia di luar negeri yang jauh.

Sumber : Koninklijk Instituut voor de Tropen



08 December 2012

Perjalanan Mengejar Pencuri Kuda (1918)- bagian 2

Bahagian pertama dapat dilihat di : Perjalanan Mengejar Pencuri Kuda (1918)- bagian 1

Judul asli dari sumber tulisan :
Hindia Belanda : Koran mingguan untuk Belanda dan koloni, Volume 2, Issue 7, 15 Mei 1918 –
Sebuah Perjalanan menuju dataran tinggi KARO.

EEN TOCHTJE IN DE BATAK STREKEN.





Perjalanan Mengejar Pencuri Kuda (1918)- bagian 1





Hindia Belanda : Koran mingguan untuk Belanda dan koloni, Volume 2, Issue 7, 15 Mei 1918 –

Sebuah Perjalanan menuju dataran tinggi KARO.

Pada malam di tanggal 11 sampai 12, seorang pegawai saya terjaga pukul 02:30 malam dengan pengumuman yang kurang menyenangkan : bahwa kuda saya mungkin dicuri. Sebelumnya badai malam begitu besar dan hujan jatuh di sebahagian besar malam dengan tetasan hujan yang lebat membasahi atap yang terbuat dari daun nipah, seperti kebanyakan atap bangunan milik orang-orang Hindia Belanda.

Dan saya yakin kuda itu telah dicuri. Saya yakin karena binatang itu begitu kuat, pencuri itu tidak akan pernah berpikir panjang untuk melarikan diri dengan kuda itu. Pada malam yang gelap, tidak ada dari hewan yang terlihat. Karena itu saya mengambil tindakan langsung dan saya meminta pegawai saya untuk mendeteksi ke dua arah ke pegunungan dan ke arah menuju dataran rendah. Aku ingin besok di awal siang sudah memperoleh kabar, tentang arah mana para pencuri dengan kuda  hasil curian pergi.

Keesokan paginya di awal perjalanan kami diguyur hujan di jalan. Sementara aku punya pengoeloe (yaitu kepala) kampoeng Tandjoeng Goenoeng, yang tidak jauh dari rumah saya di hutan, berteriak di kejauhan, bertanya apa yang terjadi. Dan aku katakan bahwa kuda mungkin dibawa ke gunung, aku mengatakan karena ia memiliki pengaruh di orang Karo dari kampung-kampung sekitarnya, mungkin ia akan diperhitungkan. Ini akan membantu mendapatkan kuda itu kembali. Beruntungnya ia mau ikut dan dibantu oleh beberapa pegawai saya lainnya.

Segera tindakan yang diperlukan diambil dan saya memilih beberapa orang Jawa yang dipercaya, yang akan membantu perjalanan ini. Lalu aku duduk di atas kuda dan berlari keras, kami berjalan beriringan. Di perkebunan Rimboen  kami mengetahui bahwa jalan menuju dataran tinggi  harus melalui kampong Tjingkam, sehingga sang pencuri yang membawa kuda ke dataran tinggi pasti memilih mengambil rute jalan itu. Ketika sampai di kaki gunung, kami temukan bekas tapak baru kuku kuda di tanah berlumpur.

Kami melihat jejak selanjutnya, ternyata pencuri tidak berjalan di jalan utama, mereka memutar melalui tempat-tempat yang sepi, di mana kemungkinan apabila melalui jalur dalam mereka pasti akan ditanyakan dari mana. Mereka menjauhi kampung Tjingkam yang akan dilewati.

Karena keberangkatan dari rumah agak tergesa-gesa, saya tak bawa apa-apa, hanya pakaian yang saya kenakan. Hanya makanan yang ada yang saya perintahkan untuk dipersiapkan pegawai Jawa saya. Kami makan dan untuk menyiapkan tenaga memasuki perkampungan orang Karo.

Kami harus buru-buru setelah mereka kenyang. Mengikuti jejak-jejak pencuri, meskipun kadang-kadang menghilang. Di tempat-tempat yang paling sulit saat tak bisa dilalui kuda,  para pencuri kadang berputar sehingga di titik-titik sepanjang jalan yang lebih baik harus menggariskan, kemudian kami menemukan, namun biasanya menelusuri kembali lagi segera.

Kami begitu buru-buru, saya memiliki harapan, para pencuri sebelum mereka sampai di dataran tinggi kami telah mampu mengejarnya. Karena jalan tempat berlari berbatu dan batu-batu di sepanjang lereng curam dan jurang yang dalam, sehingga untuk saya menjadi misteri, bagaimana mereka membawa binatang itu. Namun mereka terlalu cepat bagi kami, tapi setidaknya pengoeloe dan saya dengan orang Karo dan orang Jawa berada di belakang mereka.

07 December 2012

Laporan 1909

Sumatera Utara: Laporan atas nama Yayasan Humboldt dari Royal Prussian Academy of Sciences di Berlin, dieksekusi pada tahun 1904-1906 ekspedisi, Aflevering 1, 1 Januari 1909.


Nord-Sumatra : Bericht über eine im Auftrage der Humboldt-Stiftung der königlich preussischen Akademie der Wissenschaften zu Berlin in den Jahren 1904-1906 ausgeführte Forschungsreise, Aflevering 1, 1 Januari 1909 — 1. Mischungsglieder und Wanderungen.

mischungsglieder und wanderungen


 


 


 

Jalan Organis, Penyelamat Jeruk Karo

Serangan lalat buah di kebun-kebun jeruk petan di Karo
Sumber gambar : Beritadaerah.com

Lantaran gagal panen terus-menerus akibat serangan lalat buah (bactrocera dorsalis), banyak kebun-kebun jeruk di tanah karo ditelantarkan pemiliknya. Tapi, satu pekebun di Desa Salit terus bersemangat merawat kebunnya dengan cara yang ia yakini sebagai jalan penyelamat jeruk Karo. Jalan organis!


Ir. Usaha Barus, namanya. Seorang pekebun buah yang oleh konsumen di Pulau Jawa disebut “Jeruk Medan”. Seperti para pekebun lainnya, di kebunnya gampang dijumpai jeruk yang jatuh busuk setelah terserang lalat buah. Padahal sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengatasi serangan jenis serangga ini.

Salah satunya dengan memasang perangkap. Baik perangkap berupa lembaran plastik berwarna oranye diolesi perekat maupun perangkap dari botol kemasan berumpan metil eugenol. Kedua perangkap ini menggandul di setiap pohon. Pada masing-masing perangkap, berpuluh-puluh lalat buah mati terjebak.

Meski banyak lalat buah terperangkap, serangan lalat buah tak kunjung reda. Sesekali, lelaki berusia 51 tahun ini menyemprotkan pestisida kimiawi buatan pabrik. Tapi tak terlalu efektif. Diakuinya, tingkat keberhasilan penggunaan pestisida kimiawi hanya sekitar 10 %.

Upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman atau biasa disebut hama mesti disasarkan pada memutus daur hidup sang “pengganggu”. Untuk memutus daur lalat buah, Usaha Barus rajin mengumpulkan buah-buah jeruk yang berjatuhan lalu memasukkannya ke dalam kantung-kantung plastik. Setelah penuh, plastik diikat agar kedap udara. Larva atau belatung dari akan keluar dari dalam buah jeruk, lalu setelah sehari semalam dalam kondisi kedap udara, larva-larva tersebut mati.

DE KARO-HOOGVLAKTE (1942)