31 August 2013

Hans Westenberg

Gambaran Ringkas tentang keluarga Westenberg

Ditulis oleh Juara R. Ginting 

Pada tahun 1904, Belanda mencaplok 'Simalungun en Karolanden' sebagai bagian 'De Resident van Ooskust van Sumatra' (Provinsi Pantai Timur Sumatra) yang beribukota di Medan. 'Simalungun en Karolanden' dipimpin oleh seorang controleur dengan ibu kota Seribu Dolok. Sebelumnya, daerah Simalungun dan Karo ini disebut dalam laporan-laporan Belanda dengan istilah Zelfstandige Bataklanden (Batak Berdiri Sendiri/Batak Merdeka) karena dianggap bagian wilayah Bataklanden tapi tidak termasuk 'De Resident van Bataklanden' atau nanti bernama De Resident van Tapanoeli.

Yang dikatakan 'Simalungun en Karolanden' sebenarnya terbatas pada Simalungun Atas dan Karo Gugung. Simalungun Bawah dan Karo Jahe telah duluan menjadi bagian 'De Resident van Ooskust van Sumatra'. Sebagian Simalungun Bawah dianggap bagian dari Sultan Asahan dan sebagian lainnya bagian Sultan Serdang. Sebagian Karo Jahe dianggap bagian Sultan Langkat dan sebagian lainnya bagian Sultan Deli dan Sultan Serdang.

Pencaplokan Simalungun Atas dan Karo Gugung berkaitan erat dengan perlawanan Datuk Sunggal terhadap perusahaan perkebunan asing di daerah Karo Jahe yang mendapat dukungan dari pemuda-pemuda Karo Gugung. Pada tahun 1902, Datuk Sunggal tertangkap di hutan Nang Belawan (tetangga kampung Lingga). Lingga pecah dua. Satu memihak Belanda dan menunjukan kepada Belanda tempat persembunyian Datuk Sunggal. Satu lainnya marah. Mereka membakar rumah-rumah mereka (rumah adat) dan mengungsi meninggalkan Lingga.

Sebelum pencaplokan Simalungun en Karolanden, ada lembaga yang disebut Urusan Batak Merdeka yang dipimpim oleh C.J. Westenberg. Ketika Simalungun en Karolanden dicaplok, Westenberg ini diangkat menjadi controleur Simalungun en Karolanden. Dia beristerikan Si Negel br Sinulingga, putri dari Sibayak Gunung Merlawan (Urung Serbanaman Sunggal).

Nantinya, Simalungunlanden dan Karolanden dijadikan di bawah pemerintahan 2 controleur. Controleur van Simalungunlanden berkedudukan di Seribu Dolok, dan controlur van Karolanden di Kaban Jahe. C.J. Westenberg menentang pemekaran ini karena, menurutnya, Karo dan Simalungun secara tradisional tak mungkin dipisahkan. Menarik juga argumennya dan sangat antropologis. Bila Simalungun dipisah dari Karo, di mana lagi taneh kalak Tarigan (?), katanya. Juhar? Itu memang kerajaan Tarigan (Sibero), tapi Taneh Juhar adalah Taneh Kalak Ginting Munte, katanya. Kalo tak punya taneh panteken, tak sah menjadi bagian society (Karo). Memisahkan tanah dari kedua suku ini berarti menghancurkan society mereka (society harap dibaca bukan kumpulan manusia tapi sebuah sistim yang mengatur hubungan antara manusia). Ambtenaar yang sangat antropologis, begitulah kesan-kesanku ketika minggu lalu membaca surat-surat pribadinya di rumah cucunya di Den Haag.

Westenberg tak terbentuk. Dia terus mengkritik pemerintahnya. Akhirnya, dia dipromosikan menjadi resident (baca: gubernur) Tapanuli. Selama jadi gubernur dia sering berkunjung bersama istri dan anak-anaknya ke Tongging (dia bermerga Ginting Munte Tengging), Dokan (panteken Ginting Munte Ajinembah) dan Kabanjahe. Karena itu, orang-orang Karo menyebutnya Tuan Siboga. Belum setahun dia menjadi gubernur, seperti Multatuli yang juga tak tahan atas perlakuan pemerintahnya, Westenberg mengundurkan diri dan kembali ke Den Haag membawa anak-anak dan istrinya si Negel.

Tak sampai 20 tahun kemudian, dia meninggal dunia dalam usia sekitar 50 tahun. Si Negel pulang ke Kabanjahe bersama seorag putranya Hans Westenberg yang nanti mendapatkan penghargaan Magsasay (hadiah nobel tingkat Asia) atas jasa-jasanya di bidang pertanian/ pengadaan pangan.




(Honoring greatness of spirit and transformative leadership in Asia)


Westenberg, Hans | BIOGRAPHY

HANS WESTENBERG was born on October 27, 1898 in the village of Bangoen Poerba, about 30 kilometers from Medan, North Sumatra, Indonesia, which was then known as the Netherlands East Indies. His father Carel Johan Westenberg, was a Controller in the Netherlands civil service who had been posted to Sumatra in 1892 to bring the Batak tribes under Dutch administration. His mother, Negel Sinulingga, was the daughter of the Sibayak of Lingga, the primary rajah of the Karo Bataks of the high lands. She contributed to her husband's career by helping persuade the Batak hereditary chiefs to accept Dutch rule. When her husband was decorated by the Netherlands government for this work, she was presented to Queen Wilhelmina, the first Indonesian lady so honored.

HANS was the youngest of four, two boys and two girls. When he was five his father was promoted to Assistant Resident at Seribou Dolok near Lake Toba in the North Sumatra Karo Highlands. Here HANS had a Dutch tutor who also taught his mother in the Dutch language Two years later, at age seven, he was sent to Holland to live with relatives of his father and attend the Deventer primary school.

His father rose to the rank of Resident with his appointment as Head (Governor) of the Bataklanden in Sibolga, Sumatra but, not agreeing with the Dutch administration, was pensioned early and returned to Holland. He established his family at The Hague where HANS joined them to attend secondary school. After graduation he entered the University of Leyden where for two years he studied for the civil service taking courses in agricultural economics, community development, health, the Indonesian language, and law. His father died while he was at the university and HANS decided to forego further studies and return to Indonesia. He celebrated his 21st birthday aboard ship.

His father's brother, who was general manager of the two largest Dutch rubber and coffee companies, arranged a job for him on his arrival. Because his brother was already with Rubber Cultuur Maatschappy Amsterdam, HANS asked for another company and was assigned to Rubber Cultuur Maatschappy Serbadjadi. In November 1919, as an assistant manager at this company's estate Serbadjadi, some 50 kilometers from Medan, HANS WESTENBERG started his agricultural career.

15 August 2013

Dokan




 Dokan c. 1903 - 1920

Charles KLEINGROTHE
Germany, Photographer

Movements: worked Singapore 1889 worked Indonesia 1889-c.1925

J.B OBERNETTER MÜNCHEN
Printmaker


Source : National Gallery of Australia

Kinangkong






Roema-Kinangkong c. 1903 - 1920


Charles KLEINGROTHE
Germany, Photographer

Movements: worked Singapore 1889 worked Indonesia 1889-c.1925

J.B OBERNETTER MÜNCHEN
Printmaker

Cingkem




Tjikem c. 1903 - 1920
Medan Deli

Charles KLEINGROTHE
Germany, Photographer
Movements: worked Singapore 1889 worked Indonesia 1889-c.1925

J.B OBERNETTER MÜNCHEN
Printmaker


Source : National Gallery of Australia

Buluh Hawar





Kampong Boeloe Hawar
oleh Charles J. KLEINGROTHE - Herman STAFHELL,


Charles KLEINGROTHE
Germany 
Movements: worked Singapore 1889 worked Indonesia 1889-c.1925

Herman STAFHELL
Movements: Sweden 1880s worked Indonesia 1889-1894

Subject: Collection: The Leo Haks collection of 19th and early 20th century Asian photography, acquired 2007.
Provenance:    Leo Haks Collection: 1977 - 2007 



Peralatan Musik Karo




Peralatan musik Karo dalam dokumentasi Staatliche Museen zu Berlin


Arbab

arbab
Hals/Spieß: Holz, Bambus, Messing- und Eisenmanchetten; Korpus: Bambus; Decke: Fischhaut; Steg: Bambus; Wirbel: Holz; Saiten: Baumwollkordel; Dekor: eingebrannt, geschnitzt; Streichbogenstange: Holz, mit grünem Isolierband umwickelt; Behaarung: Nylon
Länge x Breite x Höhe: 78,3 x 21,5 x 8,1 cm
Höhe x Durchmesser: 6,8 x 21,5 cm (Korpus, Angabe des Durchmessers: ca.)
Länge: 42,7 cm schw. Saite
Länge: 61,6 cm (Streichbogen)



Belobat

13 August 2013

Rute Menantang Bahaya


Sutradara : Ressi Dwiana, Duma Yanti Theresia  
Penyunting : Aline Jusria

Deskripsi :          
Bercerita tentang seorang supir bus Sinabung Jaya yang sehari-hari menempuh perjalanan dari Medan ke Jabanjahe. Rute yang ditempuh boleh dibilang rute maut karena sering terjadi kecelakaan karena keadaan jalan yang berliku dan menanjak. Namun demikian rute ini termasuk rute yang cukup ramai.

Penghargaan / Pemutaran / Lain-lain :
Eagle Awards Documentary Competition 2005
Jakarta International Film Festival 2005

04 August 2013

Rumah Adat Karo di Den Haag (1932)

Rumah Adat Karo tahun 1932 di Westbroekpark, Den Haag.

Indisch Exhibition (Pameran Hindia Belanda) pada tahun 1932 adalah perhelatan terbesar Belanda saat itu. Pengunjung menyaksikan candi megah dan rumah-rumah asli yang khas, yang direkonstruksi di taman. Mei hingga Oktober paviliun pameran berisi dengan artefak khusus dan produk komersial serta diorama lanskap Indisch. Juga bisa melihat dan menikmati masakan eksotis di restoran Waroong Djawa dan Indisch Restaurant dengan model atap bangunan meniru model atap Rumah Tersek Siempat Ayo. 


Lebih dari 400.000 pengunjung menghadiri acara pada waktu itu.