30 October 2013

Hanging Without a Rope



 

Judul Buku : Hanging Without A Rope (Narative Experience in Colonial and Postcolonia Karoland), New Jersey : Princeton University Press, 1993
Nama Penulis : Mary Margaret Steedly.

Hanging Without a Rope
sebuah prolog

"Ini Nini kita, yang dari gunung", kata Nande Randal, dia telah menjadi perantara roh dan dukun selama lebih dari empat puluh tahun, pedagang sayur, awalnya di kota pasar Berastagi dan kemudian, setelah akhir Revolusi Indonesia tahun 1950, di Pasar Sentral besar di kota Medan.

Dengan bantuan roh, dia dan suaminya telah memperoleh dana cukup untuk berinvestasi dalam armada minibus. Tapi anak-anak mereka telah menyia-nyiakan uang mereka, dan akhirnya minibus tersebut harus dijual. Sekarang mereka mengusahakan sebuah peternakan kecil di luar kota. Saat Juara R Ginting dan Merry tiba untuk mengunjunginya. Dia menyambut dengan riang dan langsung beristirahat dari pekerjaannya. Peternakan Nande Randal di tepi kota Pancur Batu.

Nande Randal telah belajar dari Nini Raja Umang, raja orang-orang liar yang mendiami lereng terjal Gunung Sibayak. Dia "bermeditasi" selama tujuh bulan dengan raja umang, katanya. Dia memperlihatkan herbal khusus yang hanya tumbuh di puncak gunung, dan mengajarkan bagaimana melindungi diri dari serangan roh dan sihir, dari angin kaba-kaba yang bisa menerbangkan seluruh isi meja, dari kusta, dari begu ganjang dan begu gendek. Nande Randal memberitahu mereka harus makan bebek untuk makan malam, karena semua ayam telah dicuri orang. Saat kunjungan kedua, beberapa bulan kemudian , bebek juga dicuri orang.

29 October 2013

Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengenai Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701

Ini adalah halaman pertama dari dokumen asli.  Koleksi Arsip Digital.
Sumber Arsip, ANRI HR 2521, fols 113-114.
Sumber tulisan : Arsip Nasional Republik Indonesia

DARI: CATATAN HARIAN KASTIL BATAVIA, 1 MARET 1701 [MULAI FOL. 113.]

Kita telah minta keterangan dari orang Cina yang kemarin dulu tiba dari Pantai Barat Sumatra dan sudah tinggal untuk beberapa waktu lamanya di pegunungan Angkola, dan hari ini apa yang telah dituturkannya itu dicatat di Sekretariat Jenderal, seperti yang dapat dibaca dalam tulisan berikut ini.

Hasil pemeriksaan orang Cina ’t Singko, yang baru saja tiba dari Baros lewat Padang dengan kapal jenis “chialoup” milik seorang Cina Thieko, yang mengatakan sebagai berikut ini.

Bahwa sepuluh tahun lalu dia menumpang kapal yang dinakhodai oleh seorang Cina bernama Khintsijko, dan berlayar dari tempat ini ke Malaka dan dari sana ke Pande yang terletak di sekitar Dilly; di tempat tersebut, nakhoda kapal menjual barang-barang dagangannya kepada penduduk Melayu, dan sesudah itu berlayar pergi tanpa membawa serta orang yang sedang ditanyai itu, yang bermaksud tetap tinggal di Pande dan mencari nafkah di sebuah dusun kecil.

Kemudian dia pergi ke Pande, di tempat itu dia membeli sedikit garam untuk menambah beberapa mangkuk tembaga dan kain biru yang dibawa, dan dari sana bersama beberapa kuli angkut dia pergi melalui jalan darat ke daerah Bata yang letaknya sekitar 10 hingga 11 kali hari perjalanan dari Baros, dan di sana dia menukarkan atau memperdagangkan barang-barangnya dan mendapatkan kemenyan [Benzoin] dan bahan lilin, dan kemudian dia kembali ke Pande dan di sana menjual barang-barang tersebut dan mendapatkan garam.

Dia juga bercerita bagaimana selama kurun waktu sepuluh tahun dia berdagang dan mencari nafkah dengan mondar-mandir dari dan ke dua tempat itu, dan sementara itu di antara penduduk setempat dia menjadi semakin dikenal, dan sesudah lima tahun di sana dia menikah sesuai adat kebiasaan setempat dengan seorang wanita Bata yang telah diberikan oleh orang tua wanita itu kepadanya dengan imbalan 50 ringgit, dan telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini berusia empat tahun.

Menurut orang Cina itu kendati penduduk Pande dan Bata sudah mendapatkan banyak pengalaman dan manfaat dari dirinya, mereka nampak seperti orang-orang liar yang hidup di pegunungan dan hutan, tetapi sejauh menyangkut kegiatan bercocok tanam mereka melakukannya secara teratur dan seperti lazimnya dilakukan orang. Dan mereka juga hormat dan ramah terhadap orang asing yang jarang dijumpai di daerah mereka, khususnya orang Eropa yang sudah beberapa tahun tidak mereka temui; mereka juga tidak bermasyarakat dengan orang-orang Melayu yang tinggal di dataran rendah karena mereka tidak beragama Islam.

Mereka suka makan daging babi yang untuk mereka merupakan makanan enak dan mereka juga mempunyai cukup banyak beras, dan padi itu mereka tanam setiap tahun pada musim yang tepat dan hasilnya dapat memenuhi kebutuhan penduduk di kawasan tersebut yang jumlahnya cukup banyak, dan mereka memiliki lahan beberapa are luasnya dan juga bertanam sayur mayur yang juga merupakan bahan makanan mereka.

19 October 2013

Adakah Kesenian Tradisional Batak?

Adakah Kesenian Tradisional Batak?
(Tempo, 7 Oktober 1989)

Kehadiran acara Gita Remaja di layar TVRI yang disajikan mirip dengan Berpacu Dalam Melodi disambut gembira sebagai salah satu wadah pembinaan generasi muda.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika pembawa acara menyebutkan penampilan kelompok kesenian tradisional dari Sumatera Utara, yang menyuguhkan “Musik Tradisional Batak” (Acara Gita Remaja tanggal 14 Agustus 1989). Apakah ada kesenian atau kebudayaan “Batak” ? Dari mana datangnya istilah “Batak” dan apa yang dimaksud “Batak” itu sendiri. Suku bangsa Mandailing, Angkola, Simalungun, Pak-pak/Dairi, Toba, Karo, itukah yang dimaksud dengan “Batak”  ?

Coba sekali-sekali anda berwisata ke Sumatera Utara. Ajaklah berdialog masyarakat Mandailing, Angkola atau Karo. Tanyakan apakah mereka orang Batak. Umumnya anda akan memperoleh jawaban : “Tidak.”

Suku bangsa itu masing-masing memiliki budaya dan adat yang berbeda. Kenyataan ini dapat dibuktikan dari segi sejarah, sosial-budaya, maupun musik.

Jadi, apabila yang dimaksud pembawa acara Gita Remaja bahwa kesenian tradisional Batak tersebut adalah gabungan dari beberapa etnis di Sumatera Utara, jelas itu tak benar. Kesenian tradisional yang dipertunjukkan pada acara tersebut adalah satu repertoar kesenian tradisional Toba.

EDI NASUTION 
d/a Yapebuma
Jalan Nibung Raya 194
Lantai III – Medan

**********************

Yapebuma = Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing.

Edi Nasution playing the tulila
Biography Penulis:

Edi Nasution hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan – Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.

Blog yang dimiliki Edi Nasution
Gondang Mandailing










Tulila : Muzik Bujukan Mandailing
Author Name  :  Nasution, Edi
2007. Areca Books
Soft Cover, 24.1cm x 16.5cm, 180 pages.
ISBN: 978-983-42834-4-5

“Flutings of Love”

One newspaper reviews  Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, Edi Nasution’s important account of his experience with an increasingly rare source of music.

by Himanshu Bhatt

It may seem to be just a simple little instrument made out of plain bamboo, but it produces the sweetest of sounds when played.

17 October 2013

Bambang Ginting : Di Surabaya Tidak Ada Penari


“Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja ucapan Bambang Ginting ini membuat banyak orang kebakaran jenggot. 
Bambang Ginting  (4 Maret 1959 - 9 September 2003)
Seniman Tari : Bambang Ginting

Bernama asli Bambang Haryanto Ginting. Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 4 Maret 1959, ia merupakan jebolan Jurusan Tari Fakultas Kesenian Institut Kesenian Jakarta, program Tari Studi Dasar (D3). Beberapa karya tari yang pernah diciptakannya antara lain ‘Langen Roso’, ‘Ujungan’ (1979), ‘Reinkarnasi’ (1980), ‘Garis I’ dan ‘Garis II’ (1983), ‘Maria Magdalena I’, ‘Rabuni’, ‘Maria Magdalena II’ (1984), ‘Langgam Jakarta’, ‘Talenta’ (1985), ‘Manunggal’, ‘Sodoran’ (1986).

Ketika kembali ke Surabaya tahun 1986, ia memiliki paradigma yang berbeda dengan rata-rata koreografer Jawa Timur waktu itu. Kedekatannya dengan Afrizal Malna, Boedi Otong, Taufik Rahzen, Farida Faisol dan tokoh-tokoh lainnya, membuatnya lebih ‘menasional’ dalam memahami dunia tari. Bahwasanya seorang penari, katanya, harus memiliki kemampuan olah tubuh, bukan sekadar menari dengan hitungan 1 (satu) sampai 8 (delapan). Kredo itulah yang kemudian dipertegas lagi dalam ceramah tarinya di Galeri DKS tahun 2002. Namun, Apa yang disuarakannya soal olah tubuh tersebut, harus diakui masih belum banyak ditiru oleh penata tari Jawa Timur.

Gebrakannya di dunia tari di Surabaya juga terbilang sangat berani, Ketika Surabaya belum ramai festival tari, ia telah memulai dengan Festival Karya Tari selama seminggu di LIA (sekarang PPIA). Ia juga mengeluarkan pernyataannya bernada keras waktu itu, “Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja membuat banyak orang kebakaran jenggot. Langkahnya tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1992, ia kembali menggelar Surabaya Festival ‘92 di Hyatt Regency Hotel selama 4 bulan. 

Sekali lagi, lepas dari sikap-sikapnya yang sembrono soal finansial, ia adalah sosok organiser seni yang profesional. Diskusi kecilpun ditangani sangat rapi. Diskusi-diskusi kesenian yang serius digelar di hotel mewah itu, disaat kalangan seniman Surabaya masih minder untuk masuk ke hotel mewah bintang lima Hyatt Regency ketika itu. Selain itu, pada tahun 1990, ia juga menggarap koreografi ‘Penalti’ dari Jawa Timur yang merekrut banyak pekerja tari dan teater untuk tampil di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Ini juga menjadi catatan tersendiri, tentang apa yang ia lakukan terkadang masih sulit dilakukan oleh koreografer Jawa Timur pada waktu itu.

Selain aktif di dunia tari, ia juga bergelut di dunia teater. Ia tercatat melahirkan Teater Api Indonesia (TAI). Kiprahnya yang ingin memajukan teater di Surabaya, juga ditunjukannya dengan cara memprovokasi Teater Surabaya Telah Mati dalam diskusi teater di TBJT tahun 1986. Meski banyak kekurangan pada dirinya, namun jasa dan prestasi serta dedikasinya terhadap dunia kesenian di Surabaya (Jawa Timur) juga harus diakui tersendiri. Tubuhnya yang tambun, bicaranya yang sangat meyakinkan, kreativitasnya yang cemerlang, menjadikan lelaki yang kerap berpenampilan sederhana ini masih belum tergantikan posisinya hingga sekarang.

Sungguh ironis, ketika dunia kesenian Jawa Timur masih membutuhkan tangan dinginnya, berulang kali ia harus terjerembab dalam kasus demi kasus yang membuat orang mengurut dada. Banyak orang mengakui kehebatannya dan sekaligus menyayangkan prilakunya. Ia pernah di vonis pengadilan di Banyuwangi, Jawa Timur. dengan hukuman 3 bulan penjara karena kasus penipuan armada taksi. Tapi barangkali memang itulah dua sisi dalam satu mata uang yang sama yang melekat sebagai citra dirinya.

Pria yang menetap di Surabaya ini wafat di Banyuwangi, Jawa Timur, 9 September 2003. Menikah dengan Ngesti Wiludjeng yang berprofesi guru Geografi di SMA Ta'miriyah, dikaruniai seorang Puteri bernama Wanidya Minola Ginting. Namun Wanidya Minola Ginting  menjadi korban pembunuhan di tempat tinggalnya di Apartemen Green Park View, Cengkareng (Jakarta Barat). Ditemukan tewas pada tanggal 13 Maret 2013.




Soeparmin Ras atau yang juga biasa di panggil Parmin Ras

Posted on 08/10/2007 by henrinurcahyo

PADA suatu ketika, seorang Parmin RAS menggelar pertunjukan Metamorfose Daun Batu untuk mengenang kepergian Bambang Ginting. Mengapa Ginting harus dikenang? Bukankah sosok lelaki itu penuh dengan “kasus” yang membuat banyak orang sakit hati? Barangkali, karena dia sudah meninggal dunia, jasa dan kenangan baiklah yang memang seharusnya dikedepankan. Dan seorang Bambang Ginting, harus diakui, pernah menorehkan prestasi tersendiri dalam dunia tari, teater dan even kesenian yang hingga sekarang belum tertandingi.

03 October 2013

"Turang” bukan dari Tapanuli

Kompas, Jumat, 2 Juni 1989

“Turang” bukan dari Tapanuli

Dalam acara Berpacu Dalam Melodi tayangan TVRI tanggal 27 Mei 1989, ada kesalahan yang dibuat oleh pembina acara ini.

Kesalahan tersebut menyangkut asal daerah lagu Turang yang oleh salah satu peserta dinyatakan berasal dari daerah Tapanuli dan Bung Koes Hendratmo yang bertindak sebagai pembawa acara membenarkannya.

Lagu tersebut bukan berasal dari daerah Tapanuli tapi dari daerah Tanah Karo.

Untuk pembina acara ini saya sarankan untuk dapat lebih mengenal keragaman dari suku-suku yang mendiami bumi Indonesia tercinta ini, sehingga kesalahan seperti itu tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

Tiarta Sebayang, SE
Dept. Keuangan
Jakarta


#surat senada juga dikirim oleh Suang Karo-Karo yang beralamat di Jl. Ampera Raya, Cilandak III, Jakarta Selatan.

Tulisan ini juga dapat dibaca dalam buku “Mengenal Orang Karo” yang disusun oleh Roberto Bangun. Buku “Mengenal Orang Karo” adalah cetakan pertama (1989). Dan dicetak ulang tahun 2006 dengan merevisi judul menjadi “Mengenal Suku Karo.”