10 September 2015

Penyambutan Pendaratan Pertama di Polonia (1924)




Tanggal 21-11-1924, pertama kalinya sebuah pesawat komersial mendarat di Polonia. Dan di foto ini terlihat 6 perempuan menyambutnya dengan masing-masing memegang karangan bunga. Terlihat perempuan Karo berpakaian adat Karo.

Dari Koran : Leeuwarder nieuwsblad : goedkoop advertentieblad
07-01-1925



Sumber : Delpher.nl

 

07 September 2015

Penobatan Sultan Deli, 1925

Para tokoh yang berperan pada penobatan Amaluddin Sani Perkasa Alam Shah menjadi Sultan Deli, 1925
 
Notabelen tijdens plechtigheden bij de kroning van de Sultan van Deli, 1925 
  Sumber foto : Tropenmuseum
 
 

Pancur Batu 1934


Arnhemia atau dikenal sebagai Pancur Batu saat ini di tahun 1934
Sumber foto :Tropenmuseum.nl

Arnhemia atau dikenal sebagai Pancur Batu saat ini di tahun sebelum 1945


03 September 2015

Bandar Baru


Diorama eksploitasi hutan di perkebunan di Bandar Baru pada Pameran Hindia Belanda di Arnhem    Indische Tentoonstelling te Arnhem (ITA)
Pameran  ini berlangsung dari tanggal 11 Juni sampai dengan 28 Juni 1928, 
dimana Nicolaas P. de Koo merancang poster itu.

Gerobak lembu di Bandar Baru, pantai timur Sumatra
Perkiraan antara tahun 1900-1940
Air Terjun di Bandar Baru
Bandar Baru
Gambar ini diambil oleh John C. J Kleingrothe.
Sanatorium di Bandar Baru
Sanatorium di Bandar Baru
Sanatorium di Bandar Baru

Sumber foto dari : Tropenmuseum.nl

 

Berastagi, 1986

Berastagi di tahun 1986
Fotografer : Dhr. J.D. (Jaap) de Jonge
Sumber foto :Tropenmuseum.nl

 



  

Berastagi 1977

Berastagi di tahun 1977
Sumber foto :Tropenmuseum.nl



Berastagi, 1971

Berastagi di tahun 1971
Fotografer: Boy Lawson (Buitenzorg 1925 - Nijmegen 1992)
Sumber foto :Tropenmuseum.nl

 



Boy Lawson

Berastagi 1969





Berastagi di tahun 1969
Sumber foto :Tropenmuseum.nl


.

Berastagi 1936

Berastagi pada tahun 1936
Sumber foto :Tropenmuseum.nl





Berastagi 1934

 Berastagi  pada tahun 1934
 Sumber foto :Tropenmuseum.nl


Penjual souvenir


20 August 2015

Si Radjanta Menggugat Raja Kelelong




Sibayak Lingga Raja Kelelong
ditabalkan menjadi  Sibayak Lingga pada tgl 25 Juli 1935
Sibayak Lingga, Pa Sendi dan keluarga

Kabar dari Kesibayakan Lingga.

Sejak beberapa bulan lalu di Kesibayakan Lingga, ada permintaan yang dibuat oleh Si Radjanta, Kepala Oeroeng Teloe Kuru (Kesibayakan Lingga) akan kepemimpinan di Kesibayakan Lingga yang diajukan ke Pemerintah.

Masalahnya adalah sebagai berikut:

Pada tahun 1907 di daerah Lingga ada dua pemimpin yaitu Pa  Sendi dan Pa Terang. Pa Terang  adalah anak tertua dan karena itu lebih tinggi posisinya dibanding Pa Sendi. Pada tahun 1921, Pa Terang meninggal dunia, sehingga Pa Sendi melanjutkan kepemimpinan di Kesibayakan Lingga sampai tahun 1934.

Setelah kematian Pa Sendi di tahun 1934, kekuasaan sepertinya akan diturunkan kepada putra Pa Sendi yang berusia 25 tahun yang bernama Raja Kelelong.  Perihal rencana ini, anak almarhum Pa Terang yaitu Si Radjanta merasa dilangkahi. Ia sebagai satu-satunya anak yang masih hidup dari anak tertua Sibajak mengklaim memiliki  sebagai pemimpin.

Namun, harus diakui bahwa pemimpin dari Baroes Djahé, Koeta Boeloeh, Lingga, Sarinembah dan Sukkah (Suka) sudah memiliki keputusan yang diambil pada tanggal 23 Juli 1926 di mana peralihan penguasa atas Kesibayakan Baroes Djahé, Lingga dan Sarinembah akan turun-temurun dan hanya akan dilanjutkan pada keturunan yang lain bila  tidak adanya keturunan dari pemimpin yang mangkat. Keputusan ini kemudian disetujui oleh Gubernur Pantai Timur Sumatera dan atas dasar itu, sehingga tampak jelas bahwa anak Pa Sendi mengambil alih pemerintahan.

Namun, putra Pa Terang, Si Radjanta, berpendapat bahwa keputusan itu  tidak memiliki dasar yang jelas, sehingga ia mengajukan permohonan kepada Gubernur,  "keputusan pengaturan penguasa tentu demi  menjaga martabat diri dari sang pemimpin  dan untuk  memastikan keberlanjutan kekuasaan keturunan mereka. "

Si Radjanta menyatakan keputusan itu jauh dari tujuan.

Menurut penilainnya gejolak yang sama akan muncul dalam empat Kesibayakan lainnya karena mengaku akan didukung oleh  orang-orangnya.

Karena ia adalah keturunan dari Sibajak tertua dan karena itu - dengan mengabaikan keputusan keputusan lainnya -   ia mempunyai hak, Si Radjanta akhirnya kepada Gubernur minta untuk dikukuhkan sebagai pemimpin Kesibayakan Lingga dan beroleh kekuasaannya

Dari Koran :  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië
26-03-1935