Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Aktifitas Orang Karo

Keyakinan Besar Monang Sinulingga (1972)

Master-Master Cari Sponsor. Majalah Tempo, Sabtu, 8 Juli 1972. Begitu matanja melek, pagi itu djuga sasarannja ke kedai kopi. Disitu ia membentang papan tjatur. Di Tanah Karo, ini konon berarti tantangan jang demi kehormatan (adat) harus didjawab pula. Dan seperti biasa, ada sadja jang mau meladeni tantangan itu. Pada saat itulah Monang Sinulingga tidak menunggu lebih lama untuk memesan setjangkir kopi dan sepiring nasi. Persoalan perutpun pagi itu teratasi oleh pertaruhan jang dimenangkan Monang terhadap lawannja. Tanpa disadari, pola kehidupan jang didjalankan Monang sedjak 1961 merupakan awal dari satu proses jang mengangkat dirinja ke- echelon tertinggi dunia tjatur Indonesia - setelah setjara kebetulan pemuda 26 tahun asal Namutrasi (Kabupaten Langkat) ini diberi kesempatan mewakili Tanah Karo ke kedjuaraan Sumatera Utara. Buku. Apa jang membikin Monang tjepat melondjak bukan karena teori dari buku-buku tjatur. Sebab "di Tanah Karo mana ada buk...

Orang Karo dan Kebanggaannya

Gambar President Taxi. Orang Karo dan Kebanggaannya. Oleh Abdurrahman Wahid. Majalah Tempo, Sabtu, 13 Agustus 1983. Sehari-hari ia mangkal di depan terminal bis kota Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Taksi yang dikemudikannya bercat kuning tua, dan ia sendiri memakai seragam biru, "baju kebesaran" sopir President Taxi. Raut wajahnya mengeras, buah pergulatan tidak berkeputusan dengan kehidupan, terombang-ambing antara keharusan memenuhi uang setoran dan tuntutan kebutuhan rumah tangga. Dan begitu taksi, bergerak, segera beralun sebuah lagu merdu dari cassette recorder . Tancap! .... Dibawanya kendaraan asuhannya dengan santai. Lagu yang berkumandang bukan lagu Barat, bukan pula irama dangdut. "Lagu daerah saya sendiri Pak! Hitung-hitung obat rindu. Tidak dapat pulang ke kampung tahun ini." Dilanjutkannya, lagu itu dibawakan seorang penyanyi remaja yang baru mulai manggung di Medan, bernama Agustino Tarigan. Saya komentari bahwa suaranya...

3.000 Orang Eropah Hadir Saat Peresmian Bandara Berastagi.

 Brastagi. Eropa di daerah tropis.! Dengan latar belakang Sibajak. Bandara Berastagi diresmikan pada hari Minggu tanggal 16 September 1934. Pada   artikel sebelumnya telah digambarkan bagaimana kemeriahannya. Ada 20 pesawat terbang yang ikut serta dalam pembukaan bandara ini. Dan ada 3.000 orang Eropah hadir saat itu. Dan ikut pula hadir masyarakat Karo dan masyarakat Sumatera Pantai Timur lainnya. Koran De Sumatra Post pada tanggal 17-09-1934 menuliskan :  Bandara Brastagi.   2400 Tiket Terjual Kita   menemukan informasi total 2.400 tiket masuk dijual untuk pembukaan bandara di Berastagi, sehingga total sekitar 3.000 orang Eropa telah hadir di pembukaan. Dan Hotel Frisia (Berastagi)   ikut juga berpartisipasi pada acara ini.   Dua prasmanan tersedia di Bandara Berastagi   bagi pengunjung   yang haus dan lapar sambil menyaksikan pertunjukan udara. Tidak diragukan lagi banyak   pengunjung yang m...

Meriahnya Pembukaan Bandara Brastagi (16 September 1934)

Peresemian Bandara Berastagi Sepanjang jalan Medan-Berastagi banyak  polisi ditempatkan,   untuk menjaga lalu lintas yang ada. Sementara jalan   dari Soerbakti ke Berastagi ditutup untuk semua lalu lintas, sementara sisi jalan di Berastagi yang mengarah ke   Bandara Berastagi pada hari   Minggu akan terbuka sebelum jam 8 pagi untuk semua kendaraan, kecuali untuk sado. Setelah jam   8 jalur ini akan ditutup, baik untuk truk, bus,   kenderaan ber kuda   hingga pengendara sepeda. Hanya mobil-mobil   undangan yang   diberikan kesempatan lewat dengan   menunjukkan kartu masuk. Mobil dan bus   yang tidak lagi diperbolehkan setelah jam 8 dapat mencari parkir dekat   dengan Pasar Berastagi. Di sekitar   lapangan terbang itu sendiri adalah dua area parkir, satu untuk mobil tamu undangan dan satu untuk mobil-mobil lain. Setelah akhir demonstrasi akan ada makan siang berlangsung di Berastagi Hotel. Untuk ...

Djaga Depari, Sabar Ginting dan Lagu Kaimana (Irian Barat-1962)

Orang pertama yang tertangkap, setelah pendaratann parasut/terjun payung di semenanjung Onin, adalah Orang Karo, Sabar Ginting Munthe. K omponis Djaga   Depari hidup di 3 jaman dan telah menghasilkan banyak lagu.   Ada yang mengatakan lebih dari 200 lagu. Proses penciptaannya berlangsung sejak ia muda. Saat ia ikut berperang, ia juga menjadi bagian yang menambah semangat. Djaga   Depari   yang   berpangkat   Sersan Mayor,   bergabung   menjadi   anggota   tentara   Sektor   III   yang   berkedudukan   di   Sidikalang,   pimpinan   Mayor     Selamat   Ginting   dengan   jabatan   seksi   penyiaran   Radio   dan   sandiwara.   Tugas   utamanya   adalah   menginformasikan   berita-berita pimpinan   kepada   laskar-laskar   di   pedalaman.   Di   samping   itu,   Djaga ...

Kekaguman Pelukis J. Gabriëlse Pada Perempuan Karo (1924)

Orang Karo pemain catur P elukis J. Gabriëlse pernah singgah ke Pantai Timur Sumatera . Ia mendapat dukungan oleh sebuah penerbitan terkenal di Belanda untuk perjalanannya kali ini. Ia mengelilingi Deli, Toba dan hingga ke dataran Tinggi Karo. Dia   kagum pada kemurahan hati orang-orang pribumi yang membantunya. Termasuk juga sambutan dari administrator Senembah , sebuah perusahaan tembakau. Salah satu gudang tembakaunya diserahkan sebagai studio di mana ada langit-langit yang indah. Ia bekerja   di panasnya alam tropis. Suatu hari, ia kedatangan seorang Karo bersenjatakan tongkat dan pisau . Ia adalah adalah pematung.   Ia menunjukkan kemampuannya. Dan Gabriëlse melukisnya. Gabriëlse juga melukis pekerja Cina   yang datang ke Pantai Timur Sumatera. Ia juga melukis pemusik orang Keling. Hasil lukisannya sempurna, kadang yang melihatnya terkejut dan mengucap, “Apa! Tuan telah mengambil sesuatu dari jiwanya, bisa menjadi begitu hidu...

Seni Topeng di Desa Kubu Colia dan Jaranguda

         

Adolf Singgah ke Taneh Karo (1924-1926)

A dolf Zerkowitz Schlesinger adalah seorang fotografer. Lahir di Viena tahun   1884 dan wafat di Barcelona tahun 1972. Pernah mengunjungi Taneh Karo di antara tahun 1924 sampai 1926.   Berikut adalah foto-fotonya : ( Sumber foto-foto : Memòria Digital de Catalunya )    

Zending Karo (1926)

Z ending Karo (1926) Setelah 30 tahun penginjilan pada masyarakat Karo, terutama setelah sarana transportasi dan komunikasi telah lebih baik, maka banyak pemuda Karo pergi melanjutkan studinya ke kota-kota besar di Sumatera Timur, Sumatera Barat dan Pulau Jawa. Untuk mengembalakan mereka dibentuklah Zending Karo. a. Pembentukan Zending Karo. Pada tanggal 26 Juli 1926, lahir Zending Karo. Zending ini adalah gerakan Perkabaran Injil oleh Kristen Karo sendiri kepada masyarakat Karo. Dana dan kegiatan Zending Karo didukung oleh Kristen Karo sendiri, tidak bergantung kepada bantuan lain. Pada Sidang Gereja Juli 1928, diputuskan membuka sebuah asrama di Medan. Empat tahun kemudian rencana itu terealisasi. Zending Karo sudah dapat menyewa sebuah rumah di Jl. Sei Kera no.101 Medan pada bulan Desember 1932. b. Pesta Zending Karo di Lingga Pada tanggal 7 Oktober 1928, jemaat Kristen Karo di desa Lingga mengadakan pesta Zending Karo bertempat di gereja Lingga...

Pemusik Karo di Depan Sultan Deli (1920-1921)

P emusik dari Karo hadir didepan Sultan Deli. Datuk dari Deli menari dengan perempuan Karo. Karosch orkest den Sultan van Deli hulde brengend. Datoe's van Deli dansen met vrouwen van Karosche hoofden. Dari buku : De volken van Nederlandsch-Indië in monographieën Halaman : 133 Tahun : 1920-1921 Penulis : Eerde, J.C. van