Skip to main content

Meriahnya Pembukaan Bandara Brastagi (16 September 1934)


Peresemian Bandara Berastagi

Sepanjang jalan Medan-Berastagi banyak  polisi ditempatkan,  untuk menjaga lalu lintas yang ada. Sementara jalan  dari Soerbakti ke Berastagi ditutup untuk semua lalu lintas, sementara sisi jalan di Berastagi yang mengarah ke  Bandara Berastagi pada hari  Minggu akan terbuka sebelum jam 8 pagi untuk semua kendaraan, kecuali untuk sado.

Setelah jam  8 jalur ini akan ditutup, baik untuk truk, bus,  kenderaan berkuda  hingga pengendara sepeda. Hanya mobil-mobil  undangan yang  diberikan kesempatan lewat dengan  menunjukkan kartu masuk. Mobil dan bus  yang tidak lagi diperbolehkan setelah jam 8 dapat mencari parkir dekat  dengan Pasar Berastagi.

Di sekitar  lapangan terbang itu sendiri adalah dua area parkir, satu untuk mobil tamu undangan dan satu untuk mobil-mobil lain. Setelah akhir demonstrasi akan ada makan siang berlangsung di Berastagi Hotel.

Untuk kelancaran, maka diatur lalu lintas agar secepat mungkin  undangan bisa sampai ke Hotel. Semua mobil bisa berkendara ke pintu masuk hotel.  Mobil-mobil undangan dapat diparkir di sini, sementara mobil-mobil lain harus  parkir di tikungan berbentuk S di jalan di depan  lapangan golf saja

Polisi pengatur  lalu lintas khusus akan berada di sini dan akan menjadi sangat sibuk dengan minat masyarakat yang menyaksikannya.

Meriahnya Peresmian Bandara Berastagi

Pesta penerbangan dalam rangka peresmian Bandara Berastagi mendapat perhatian yang sangat besar dengan kehadiran 20 pesawat terbang yang antara lain: LA. Skuadron, skuadron dari Royal Air Force, beserta kelompok olahraga terbang layang Belanda dan Inggris.


Pilot militer Belanda mempertunjukan aksi stunts, yang memancing decak kagum penonton. Para penerbang layang Inggris Newark dari Penang menampilkan peragaan "terbang gila," sebagaimana dikonfirmasikan juga oleh Presiden dari Komite Penerbangan, Mr. JH Pahit, Gubernur, Komandan Ilgen, pemimpin skuadron Sainsbury, Ir. De Vogel  dan oleh Tuan GA serta kepala dan NE kota.

Gubernur membuka secara resmi acara ini dengan melakukan tembakan kehormatan . Maskapai KNILM menjual 300 tiket untuk penerbangan wisata di atas kawah Sibajak. Lalu acara dilanjutkan dengan makan siang resmi .
 

Penyambutan kedatangan pilot Inggris, pada pembukaan Bandara Berastagi
Penerimaan pilot militer Belanda, selama pembukaan Bandara  Berastagi

Lama penerbangan Medan-Berastagi sekitar 20 menit. Berikut urutan penerbangan pesawat yang berangkat dari Medan menuju Bandara Berastagi



:
Sumber bacaaan :
Koran "De Sumatra Post" tanggal 14-09-1934
 Koran "De Sumatra Post" tanggal 15-09-1934


Koran "De Sumatra Post" tanggal 17-09-1934


Sumber Foto : Koran "De Sumatra Post ( 31-12-1934)


Comments

Unknown said…
Lebih keren brrti berastagi dulu timbang sekarang ya , dulu ada bandaranya
Mejuah juah
Unknown said…
Di mana ya, letak bandaranya kemarin? Bujur...
Unknown said…
Ja marenda letak bandara na e? Bujut penulis..
Unknown said…
I.T sudah masuk ke Tanah Karo, bahkan orang kampung pun sudah memakai Tablet, Kenapa BANDARA yang dahulu ada, kini Tiada. maunya pemerintah setempat harus sudah memikirkan nya kembali. Gelah jadi Tanah Karo Simalem era si zaman moderenta. Bujur
Unknown said…
Itulah sebagian dari bukti sejarah dari Jalan Udara di Berastagi - Kab Karo...
Unknown said…
Kemungkinan di Jalan Udara..
Besar kemungkinan lapangan tempat GBKP Jl Udara beserta aula nya sekarang..

Popular posts from this blog

Nasehat-Nasehat dan Ungkapan-Ungkapan

Nasehat-Nasehat Orang tua Karo, termasuk orang tua yang suka memberikan nasehat-nasehat kepada anggota keluarganya. Dalam nasehat yang diberikan selalu ditekankan, agar menyayangi orang tua, kakak/abang atau adik, harus berlaku adil. Menghormati kalimbubu, anakberu, senina sembuyak, serta tetap menjaga keutuhan keluarga.   Beberapa nasehat-nasehat orang-orang tua Karo lama, yang diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan antara lain: Ula belasken kata la tuhu, kata tengteng banci turiken . Artinya jangan ucapkan kata benar, tetapi lebih baik mengucapkan kata yang tepat/pas. Ula kekurangen kalak enca sipandangi, kekurangenta lebe pepayo , artinya jangan selalu melihat kekurangan orang lain, tetapi lebih baik melihat kekurangan  kita (diri) sendiri atau  Madin me kita nggeluh, bagi surat ukat, rendi enta, gelah ula rubat ,  artinya lebih baik kita hidup seperti prinsip  surat ukat (surat sendok), saling memberi dan memintalah agar jangan sampai berkelahi. Beliden untungna si apul-apulen

Kumpulan Teks dan Terjemahan Lagu-lagu Karya Djaga Depari (bagian 2)

8. Mari Kena Mari turang geget ate mari kena Sikel kal aku o turang kita ngerana Aloi, aloi kal aku Kena kal nge pinta-pintangku Mari turang iah mari kena Mari turang iah mari kena Tebing kal kapen o turang ingandu ena Nipe karina i jena ringan i jena Tadingken kal ingandu ena Mari ras kal kita jenda Mari turang iah mari kena Mari turang iah mari kena Tertima-tima kal kami kerina gundari Kalimbubu, anak beru ras seninanta merari Mulih kal gelah kena keleng ate Ras kal kita jenda morah ate Ula lebe meja dage Mari turang iah mari kena Mari turang iah mari kena (sumber : Henry Guntur Tarigan, Piso Surit tahun 1990 halaman : 132) Mari Kena (Marilah mari) Mari adinda sayang marilah mari Ingin daku kita berbicara Dengar, dengarkanlah daku Dikaulah yang sangat kurindukan Mari, marilah sayang Mari, marilah sayang Sangat terjal jalan ke rumahmu sayang Ada banyak ular pula di situ Tinggalkanlah rumahmu itu Mari kita bersama di si

Perempuan Karo dan Kedua Anaknya dalam "Indonesia Early Postcards"

Kartu Pos bergambar Perempuan Karo dan Kedua Anaknya diperkirakan difoto tahun 1890-1899. Dimuat di halaman 29 dalam buku  Indonesia 500 Early Postcards yang disusun oleh Haks, L., S. Wachlin diterbitkan di Singapore tahun 2004. Foto ini dibuat oleh C.J. Kleingrothe J.B. Obernetter. Sumber : Tropenmuseum Uniknya buku Indonesia 500 Early Postcards ini bersampul foto perempuan Karo. Perempuan Karo ini memakai pakaian khas perempuan Karo lengkap dengan tudung dan padung-padung tempo dulu. Di atas tudung perempuan Karo itu diletakkan “Sumpit Nakan”. Di antara foto-foto semasa kolonial Belanda berkuasa di Indonesia yang dirangkum dalam buku ini, keanggunan perempuan Karo tempo dulu adalah menjadi daya tarik tersendiri begitu juga kearifan lokal budayanya. Foto perempuan ini dianggap pilihan terbaik dari antara 500 gambar kartu pos seluruh Indonesia yang dikeluarkan pada zaman kolonial. Di dalamnya juga terdapat rumah Sibayak Lingga di Kabanjahe. Istana Raja Kar