18 December 2017

Tama Ginting dan Patjar Merah Indonesia (Bagian 1)





Di Kampung Tanjung, tidak jauh dari Tanjung Morawa (Kecamatan Senembah Tanjung Muda Hilir, Deli Serdang) pada tahun 1918 lahirlah seorang anak lagi-laki dari merga Ginting Munthe. Ibunya Beru Purba adalah anak dari Sibayak Pa Landas Purba, Ibunya kelahiran Kampung Kabanjahe.

Anak ini diberi nama Tama Ginting oleh pamannya, saudara kandung sang ibu. Setelah besar, ia disekolahkan di Kabanjahe di Vervolg School. Ia termasuk siswa yang rajin, pembersih dan pandai.

Tama Ginting menumpang di rumah pamannya bernama Gempang Purba di Kabanjahe. Karena rajin dan pintar, Tama Ginting sangat disayang oleh paman dan kakeknya, Sibayak Pa Landas Purba. Setelah tamat sekolah, Tama Ginting bekerja di perusahaan pamannya yang menjual daging lembu dan kerbau di pasar Kabanjahe dan Berastagi.

Pamannya termasuk salah satu orang terkaya di Kabanjahe dan mempunyai tanah yang luas. Walaupun Tama Ginting sudah bekerja, ia tetap rajin membaca banyak buku, baik buku biografi, kebudayaan, politik dan sejarah. Salah satunya buku karangan Matu Mona yang berjudul Pajtar Merah Indonesia.

Ia sangat terkesan pada buku ini dan ingin berbuat seperti Tan Malaka, seperti apa yang dikisahkan dalam buku ini. Inilah awal ia berkenalan dengan sosok Tan Malaka. Lalu ia membaca buku-buku karangan Tan Malaka. Kelak ia menjalankan ajaran Tan Malaka hingga akhir hayatnya.

Ia juga pernah ikut kursus bahasa Inggris. Dan pada hari libur, ia manfaatkan mengunjungi ibunya di Kampung Tanjung.

Berastagi kala itu begitu termasyur sampai ke manca negara, dengan udaranya yang dingin dan alamnya yang asri dan indah serta hasil-hasil kebudayaan Karo yang agung . Rumah-rumah adat Karo yang berdiri megah menjadi keunikan tersendiri bagi orang-orang Eropah yang datang. Kota ini menjadi daya tarik wisatawan asing, terbukti dengan kian terbangunnya banyak pesanggrahan dan hotel.

Karo Bukan Batak : Koreksi pada P. Tamboen


Prof. Henry Guntur Tarigan saat masih mahasiswa jurusan bahasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung, pada tahun 1958 pernah melakukan suatu koreksi atas buku “Adat Istiadat Karo” karangan P. Tambun. Ia mengkoreksi buku ini mengenai tulisan di buku ini bahwa Suku Karo berasal (turunan) dari Batak Toba dari sudut Etimologi bahasa.

Henry Guntur memberi judul tulisannya “KAROMERGANA.” Henry Guntur menulisnya di Majalah Bahasa dan Budaya Tahun ke VII No. 1/1958, Jakarta. Dapat dibaca pada link berikut ini : https://karosiadi.blogspot.co.id/…/karomergana-oleh-henry-g…

Ternyata Brahama Putro (K.S. Brahmana) di buku "Karo dari Zaman ke Zaman Jilid 1," juga pernah mengkoreksi P. Tambun. Di dalam buku "Adat Istiadat Karo" halaman 64, P. Tamboen menulis :

"Bangsa Karo adalah satu cabang dari Lima Batak (Karo, Toba, Angkola, Pakpak dan Mandailing) yang satu sama lain mempunyai persamaan tentang tulisan, bahasa, adat istiadat, sehingga ada kemungkinan bahwa asal dari bangsa itu serupa..."

Brahma Putro membantah dengan menyatakan :

"Keterangan P. Tambun diatas, berpendapat bahwa suku bangsa Batak adalah 5 cabang, yaitu Karo, Toba, Pakpak, Mandailing dan Angkola. Keterangan tersebut membuat kita menjadi bingung, karena bangsa Batak yang selalu disebut-sebut, bukan hanya terdiri 5 cabang tapi lebih dari 5 cabang : Simelungun, Nias, Alas, Singkel, Gayo juga disebut-sebut bangsa Batak.

Asal usul nama Batak, masih saja sampai sekarang menjadi penyelidikan, dan belum diketahui oleh para sarjana secara pasti. Banyak pendapat yang berbeda-beda tentang asal usul Batak.

11 December 2017

Kumpul Sinuhaji, Dibuang ke Ambon Hingga Ikut Pertempuran di Surabaya




Tentara India Britania menembaki penembak runduk Indonesia 
di balik tank Indonesia yang terguling dalam pertempuran di Surabaya, November 194


Setelah Partindo bubar, pada tahun 1937  berdirilah Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta. Gerindo didirikan oleh para pemuda pejuang seperti : Amir Syarifuddin, Mhd. Yamin, Sartono, Adam Malik, Adnan Kapau Gani dll. Pendirian cabang-cabang di daerah pun dilakukan,

Di Sumatera Utara, pemuda-pemuda seperti Muhammad Joni (Banteng Gemuk), Jakup Siregar, Mhd. Saleh Umar, Marzuki Lubis, Mualif Nasution, Terluda Sembiring Brahmana, Ibu Hadijah, Andico dll sepakat mendirikan Gerindo Sumatera  Utara. Berkedudukan di Medan dan dipercayakan Mhd. Joni sebagai Ketua I dan Jakup Siregar sebagai Ketua II.

Di Arnhemia (Pancur Batu) pun berdiri, Di tahun 1937, berdiri Gerindo Cabang Arnhemia. Nahar Purba, Terluda Brahmana dan Kitei Purba diutus dari Medan untuk mendirikan Cabang di Arnhemia.  Didirikan pula Ranting-ranting  Gerindo di wilayah Deli Hulu (Karo Jahe).

Tidak mau ketinggalan, di Januari 1938, Kumpul Sinuhaji,  Ngasil Sinuhaji  bersama pemuda-pemuda lainnya berhasil mendirikan Gerindo Ranting Rumah Mbacang, Deli Hulu (Karo Jahe). Masyarakat Rumah Mbacang antusias ikut di dalamnya.

Untuk itu Kumpul Sinuhaji yang aktif  dalam bidang kebudayaan, berusaha mendirikan sebuah teater bernama “Rakab De Trio.” Tujuannya agar Gerindo mendapat perhatian masyarakat luas dan mengembangkan kebudayaan nasional.  Kumpul Sinuhaji mendapat bantuan dari masyarakat, lakon yang dipentaskan selalu mendapat perhatian dari masyarakat ramai.

Lakon yang dipentaskan berjudul :  Sipincang, Perantaian 12, Ali Baba, Sipitung dll.  Sandiwara "Rakab De Trio" berkeliling baik ke kota-kota hingga perkampungan-perkampungan di wilayah perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur.

Kemana saja pertunjukkan bergeser, polisi rahasia Belanda (PID) selalu mengikuti. Di sebuah malam yang naas, Sandiwara Rakab De Trio bermain di sebuah perkebunan di dekat Rantau Parapat.  Lakon yang dimainkan berjudul Perantaian 12. Baru babak pertama selesai, tiba-tiba PID muncul untuk menghentikan. Dilarang untuk dilanjutkan karena berbau politik dan dianggap dapat mengacaukan keamanan.

Kumpul Sinuhaji dan kawan-kawan bersikeras untuk melanjutkan pertunjukkan. Namun PID mengancam akan membubarkan bila pertunjukkan dilanjut. Dan ancaman dengan pistol pun dilakukan  oleh PID.

Seorang pembantu Kumpul Sinuhaji panik saat melihat pistol diacungkan. Reflek ia menangkap pistol tersebut dan merangkul cepat sang  PID.  Kumpul Sinuhaji mencabut pisau Tumbuk Lada dipinggangnya dan menghunus ke perut PID.  PID pun tewas seketika.

Keadaan makin kacau, penonton berlarian pulang  dengan ketakutan. Dan kemudian selusin polisi datang menangkap Kumpul Sinuhaji, sedang pembantunya telah melarikan diri.

Kumpul Sinuhaji ditahan di Rantau Prapat. Dan pengadilan memutuskan ia dijatuhi hukuman seumur hidup dan dibuang ke Ambon. Akhirnya ia meninggalkan Medan dan dibawa bertolak menuju Ambon.

Di Ambon Kumpul Sinuhaji dipenjarakan di tangsi militer Belanda. Dan ia baru bebas setelah Jepang datang. Tentara Jepang sekitar tahun 1942 membebaskan tahanan-tahanan di tangsi militer itu. Kemujuran menghampirinya.

Dengan menumpang kapal layar, ia sampai ke Surabaya. Di sini Kumpul Sinuhaji melamar menjadi tentara Heiho. Di Surabaya ini, Kumpul Sinuhaji  mengganti identitasnya. Namanya menjadi Arifin Hasibuan.

Kumpul Sinuhaji ikut merasakan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang terkenal dengan perperangan Arek-arek Suroboyo. Kumpul Sinuhaji alias Arifin Hasibuan menjadi Komandan Pasukan Tempur Sriwijaya dengan pangkat Mayor.  Wakilnya saat itu adalah Kapten J. Rambe. Kekuatan pasukannya saat itu terdiri dari 500 orang Heiho.

Nahar Purba dan Awal Kesadaran Nasional di Pancur Batu




Foto : Nahar Purba
Nahar Purba seorang tokoh pergerakan. Dimulai dari PNI (tahun 1928), Partindo (1931),
Gerindo (1937) dan Parpindo (1939). Terus berjuang hingga Proklamasi tahun 1945 hingga tahun 1950.

Pemuda-pemudi Karo yang maju dalam cara berpikir melihat kampung-kampung dijepit oleh perkebunan milik orang-orang Eropah. Kehidupan pincang masyarakat pondok (buruh perkebunan) dan masyarakat Karo dibanding kemakmuran hasil dari perkebunan.

Penduduk kampung-kampung suku bangsa Karo, merasa sengsara karena tanah sumber hidupnya sudah terbatas. Hasil pangan pun terbatas. Beberapa terpaksa memburuh ke perkebunan.

Orang pondok adalah orang-orang kuli kontrak dari suku Jawa, Tamil dan Cina. Mereka hidup dari banyaknya ancaman-ancaman dari peraturan yang dibuat. Tenaga mereka diperas.

Poenale Sanctie berlaku. Poenale Sanctie (pidana sanksi) adalah sebuah sanksi hukuman pukulan dan kurungan badan yang dijalankan oleh kolonial Belanda. Poenale Sanctie menempatkan kuli-kuli kontrak menjadi sapi perahan dan di pihak majikan mereka bebas berbuat. Hukuman tendang, dijemur, dipukul dengan rotan dan penjara kerap diberlakukan pada pekerja.

Atas kesadaran ingin merubah keadaan itu, Saleh Barus memilih keluar dari kampungnya untuk ke Medan. Ia kelahiran Tiga Juhar, kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu (Deli Serdang).

Awalnya ia bekerja sebagai pegawai rendahan di Istana Maimon. Ia yang sudah lama membaca kabar pergerakan di Jawa dan tulisan-tulisan Sukarno sejak PNI berdiri tahun 1927, memutuskan masuk ke Partai Indonesia (Partindo) di tahun 1931. Dan Sukarno juga menjadi pengurus Partindo setelah PNI dibubarkan karena Sukarno dipenjara.

Penangkapan Belasan Pemuda Karo Tahun 1926



Koran De Sumatra Post bertanggal 06-02-1929

Perlawanan PKI bersama Serikat Islam terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda antara tahun 1926 sampai 1927 terjadi di Batavia, Tangerang, Banten, Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri, Surakarta. dan Sumatra Barat. Pemberontakan ini akhirnya dihancurkan dengan brutal oleh penguasa kolonial. 

Beberapa catatan menyebutkan, akibat pemberontakan menemui kegagalan, sekitar 13.000 orang ditangkap di seluruh Hindia Belanda. Beberapa orang langsung ditembak. 5000 orang ditempatkan dalam penahanan untuk pencegahan. Lalu, 4500 orang dipenjara setelah pengadilan. Dan 1300-an orang dibuang ke Boven Digul, Papua. 

Tidak banyak diketahui, apakah di Karo juga ikut melakukan perlawanan fisik pada tahun itu. Tapi imbas pemberontakan melawan kolonialisme Belanda itu ada terhadap tokoh-tokoh pemuda Karo.

Sepuluh tahun sesudah gugurnya Panglima Nabung Surbakti (pemimpin Simbisa saat perang Sunggal hingga perang Pa Garamata) bermuncullan pemuda-pemuda Karo yang ingin kebebasan dan berpikiran maju.

Sekitar tahun 1917, muncul nama Nerih Ginting, Pa Raja Nggengken Barus, Natangsa Sembiring, Nerus Ginting. Mereka sudah dekat dengan organisasi Serikat Islam Cabang Sumatera Timur yang dipimpin Mhd. Samin.

Tokoh-tokoh ini masih merekam dalam ingatan akan perang panjang dari 1872 hingga 1907 yang dilakukan para orang tuanya. Dari Perang Sunggal, perang Tanduk Benua, perang Tanjung Beringin, Perang Liang Muda, perang Sukajulu, perang Seberaya, perang Kabanjahe, perang Lingga Julu dan perang Batukarang menahan Belanda agar tidak menjajah Taneh Karo.

Datuk Badiuzzaman Surbakti ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Pa Garamata (Kiras Bangun) tertangkap, Panglima Nabung Surbakti gugur, Pa Tolong akhirnya dibuang ke pulau Jawa. Para Simbisa harus membayar denda kepada pemerintah Belanda agar bisa kembali pulang.

Akibat pemberontakkan di Banten dan Sumatera Barat, maka terjadi penangkapan besar-besaran terhadap anggota PKI dan Sarekat Islam. Termasuk di dataran tinggi Karo. Belanda tak ingin bibit anti kolonialisme membesar.

Walaupun belum berupa gerakan fisik, tapi Belanda sudah menangkap pemuda-pemuda seperti : Nerus Ginting Suka dan Nolong Ginting Suka yang dianggap sebagai pimpinan. Mereka dibuang ke Boven Digul. Saat itu Nolong Ginting Suka berusia sekitar 24 tahun. Keduanya diasingkan ke Boven Digul (Papua) tahun 1929.

Koran De Sumatra Post bertanggal 06-02-1929 memberitakan keputusan pengasingan Nolong Ginting Suka ke Digul.

"Dengan alasan yang sama seperti dalam keputusan sebelumnya Si Nolong Ginting Suka, berusia sekitar 24 tahun, mantan penulis dari Melta & Co di Kabandjahe, subdivisi Karolanden dan penulis Weltevreden, propagandis dan pemimpin PKI Karolanden untuk diasingkan ke Boven Digul."


Ikut juga ditangkap seperti : Leman Sebayang dan Lengkar Perangin-angin dibuang ke Cilacap. Sedangkan : Koda Bangun (anak Panglima Kiras Bangun), Nitipi Bangun, Tinggeran Sitepu, Batang Bangun, Nembah Bangun (anak Panglima Kiras Bangun), Radu Sembiring, Pa Dumange, Nerih Ginting, Natangsa Sembiring, Pa Raja Nggengken Barus ditangkap pemerintah Belanda. Lalu ada yang dipenjarakan di rumah penjara Kabanjahe. Ada juga ditahan di penjara Arnhemia (Pancur Batu). 

Keras Surbakti : Dari Ancaman Boven Digul Hingga Razia Agustus


Koran “De Indische Courant” bertanggal 12 Agustus 1941



Keras Surbakti : Dari Ancaman Boven Digul Hingga Razia Agustus
(Bahagian 2)

Lanjutan dari Bahagian 1 ....
 

Pengurus-pengurus PNI Cabang Tanah Karo juga ditangkap di Berastagi dan ditahan di rumah tahanan polisi Berastagi. Mereka yang ditangkap adalah Tama Ginting, M. Ali, Mengket Purba, Raja Mantas Surbakti, dan beberapa orang lagi. Tama Ginting menanggung jawabi semua rekan-rekannya yang ditahan dengan mengatakan semua itu adalah suruhannya maka hadir di Uruk Tabu-tabu. Lalu kawan-kawannya dibebaskan oleh polisi Berastagi. Yang tinggal ditahan hanya Tama Ginting dan Syahrin. Kemudian Tama Ginting dijatuhi hukuman 3 bulan penjara oleh Landreg Kabanjahe.

Koran “De Indische Courant” bertanggal 12 Agustus 1941 memuat hasil keputusan Landreg Medan, diberitakan 6 orang dijatuhi hukuman dengan dibuang ke Boven Digul,Papua. Enam orang yang dibuang ke Digoel itu adalah : Sjahrin, Ramawi, Sutan Soelaiman Effendi Mardjoesan Gelar Sutan Moedó, Mohamad Ishak alias Raden Ishak alias Iskandar dan Keras Karo-karo  Soerbakti.

Awal tahun 1942, Keras Surbakti dan kawan-kawan diberangkatkan ke Digul dengan kapal laut. Pada saat itu sedang terjadi juga perang Dai Toa Sanso (perang Asia Timur Raya). Di tengah perjalanan yaitu di Selat Sunda, kapal ini diserang oleh kapal perang Angkatan Laut milik Jepang sehingga kapal memilih mendarat di Cilacap. Dari Cilacap dikirim ke Kamp Garut.

Keras Surbakti : "Penjara Adalah Tunanganku."



Keras Surbakti


Keras Surbakti : "Penjara Adalah Tunanganku."
(Bahagian 1)

Orang Karo pasti pernah mendengar nama Nabung Surbakti. Seorang Panglima pada Perang Sunggal yang mampu mengerahkan 1.000 orang lebih pasukan Simbisa.

Para Simbisa dibawah pimpinan Panglima Nabung Surbakti bersama 500 orang pasukan Urung Sunggal dibawah pimpinan Datuk Jalil Surbakti dan Datuk Sulung Surbakti melawan tentara Belanda dan tentara Sultan Deli. 

Perang Sunggal dimulai dari tahun 1872 dan terus menerus hingga sampai ke dataran tinggi Karo. Hingga akhirnya Panglima Nabung Surbakti tewas diterjang peluru milik tentara Belanda pada tahun 1907 di desa Djandi, Kab. Karo.

Nabung Surbakti dipanggil juga Pengulu Djumaraja. Ia mempunyai saudara yang dipanggil sebagai Pa Sempa Surbakti.

Tanggal 2 September 1914, lahirlah seorang anak laki-laki dari Pa Sempa di desa Bunga Pariama, Kecamatan Kutalimbaru Deli Hulu (Deli Serdang). Ia diberi nama Keras Surbakti. 

Keras Surbakti dikenal pintar dan bijaksana sejak kecil. Wajahnya yang tampan dan matanya yang tajam menurun dari Nabung Surbakti. 

Setelah tamat HIS, Keras Surbakti melanjutkan sekolahnya ke MULO Taman Siswa di Medan. Setelah menjalani 1 tahun di kelas 1 di MULO, Keras Surbakti berhenti karena sesuatu hal (tahun 1933).

Tahun 1934, Keras Surbakti memilih memasuki dunia pergerakan nasional. Ia bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) dan menjadi Komisaris (Pengurus) Partindo Cabang Medan.

Rupanya didikan di MULO Taman Siswa membuat ia menjadi pejuang yang cinta pada tanah air. Ia menuangkan buah pikirnya dengan tulisan-tulisan yang tajam di Harian Keng PO, Medan. Ia menjadi wartawan harian itu dan menulis dengan nama samaran GAMPO.

Dia juga masih memakai nama samaran itu ketika menulis di majalah Radikal. Darah perlawanan dari Pa Sempa dan Nabung Surbakti tetap mengalir di dadanya.

Selama Keras Surbakti bergabung dengan Parindo Cabang Medan yang dipimpin oleh Jakup Siregar, karirnya cukup menggembirakan. Dan banyak pemuda Karo yang juga ikut bergabung.

Keras Surbakti terjun ke pelosok-pelosok desa di Deli Hulu untuk melakukan propaganda secara rahasia. Juga ia masuki perkampungan di perkebunan-perkebunan milik orang Eropah. Dia ajak rakyat desa untuk tidak mau membayar pajak (belasting) dan uang rodi pada pemerintah Belanda.

08 December 2017

Leonardus Joseph Eland Melukis Bandar Baru

"Weg bij Bandar Baroe, Sumatra"
Jalan di Bandar Baru, Sumatra Utara

Leonardus Joseph Eland atau dikenal dengan nama Leo Eland lahir di Salatiga pada tanggal 18 Agustus 1884 dan meninggal di Den Haag (Belanda) pada tanggal 20 Maret 1952. Dia tinggal dan bekerja di Hindia Belanda, Amerika, Maroko, Amsterdam sampai tahun 1936, lalu di Den Haag. Dia adalah pelukis lanskap Hindia Belanda yang terkenal

Leonardus Joseph Eland Melukis Karo





Leonardus Joseph Eland atau dikenal dengan nama Leo Eland lahir di Salatiga pada tanggal 18 Agustus 1884 dan meninggal di Den Haag (Belanda) pada tanggal 20 Maret 1952. Dia tinggal dan bekerja di Hindia Belanda, Amerika, Maroko, Amsterdam sampai tahun 1936, lalu di Den Haag. Dia adalah pelukis lanskap Hindia Belanda yang terkenal

Carel Lodewijk Dake Melukis Karo





Carel Lodewijk Dake seorang pelukis yang lahir tanggal 4 April 1886 di Schaerbeek. Dan meninggal tanggal 6 Desember 1946 di  Jakarta.

08 September 2017

Leendert Konijn Menanam Jeruk di Kaki Sinabung (1932)

Leendert Konijndi Lau Kawar


Leendert Konijn dan Anne Marie Isaacs

Leendert (Leen) Konijn lahir di Zwammerdam, 28 Januari 1899 adalah seorang penanam karet Belanda (1920-1930) dan pengusaha budidaya jeruk Navel dan berbagai buah sitrus di Lau Kawar, Gunung Sinabung, Utara Sumatra, Hindia Belanda (1932-1942).

Leendert Konijn  adalah anak tertua dari dua belas orang. Orang tuanya, Jan Konijn, seorang tukang roti. Konijn dibesarkan di desa kecil di bagian barat Belanda di dekat kota Zwammerdam dan Boskoop. Setelah menyelesaikan studinya, Konijn melamar pekerjaan sebagai penanam karet bersama Rotterdam Cultuur Maatschappij (RCM). RCM saat itu sedang mencari para petualang muda, yang tertarik untuk bekerja di perkebunan karet di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Hindia Belanda.

Pada tahun 1920, pada usia 21, Konijn naik kapal barang dan meninggalkan Belanda untuk ke Medan, Sumatra, Hindia Belanda. Perkebunan karet Tapanuli menjadi pengalaman belajar yang sangat baik untuk Konijn dan pada bulan September 1927 dia dipromosikan pada  posisi penjabat Administrator (manajer perkebunan).

Pada bulan Mei 1928, Konijn kembali ke Belanda. Dia bertemu dengan calon istrinya, Anne-Marie Isaacs (kelahiran Rotterdam, 6 Agustus 1905). Mereka menikah di Rotterdam pada tanggal 14 November 1928. Konijn dan  Anne Marie Isaacs memiliki empat anak, tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki. Anak laki-lakinya meninggal saat umur 1 tahun. 

Depresi besar bulan Agustus 1929 menyebabkan penurunan harga karet yang sangat besar. Hal ini mengakibatkan kerugian finansial yang berat bagi RCM dan akibatnya banyak pekebun kehilangan pekerjaan mereka. Pada awal tahun 1930, RCM memindahkan Konijn ke posisi Asisten di perkebunan mereka yang lebih kecil di Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Hindia Belanda, namun juga posisi ini berakhir pada akhir tahun 1930.


Leendert Konijn di perkebunan karet


Karena krisis ekonomi yang sedang berlangsung dan kurangnya pekerjaan dalam budidaya karet, Konijn merintis untuk menemukan usaha baru di Sumatera. Ia menemukan bahwa bumi vulkanik Gunung Sinabung yang subur sangat ideal untuk penanaman jeruk navel dan buah sitrus. Ia berniat untuk menumbuhkan jeruk yang sama kualitasnya dengan jeruk dari California.



Dia bisa mendapatkan 20 hektar tanah di kaki Gunung Sinabung di dekat danau Lau Kawar. Tanah ini milik Sibayak dan dengan bantuan dari gubernur Belanda sebuah kesepakatan tercapai. Pada bulan Maret 1932 Konijn dia mulai "Lao Kawar Orange Cultivation." Dengan bantuan dari Kementerian Pertanian Belanda, Konijn berhasil mengimpor 1800 bibit jeruk dari California. Budidaya jeruk Navel merupakan produk utamanya. Namun, ia juga membudidayakan lemon skala kecil (Villafranca dan Ponderosa) dan anggur. Dari tahun 1932 sampai 1942 keluarga Konijn dapat bertahan hidup sederhana di dekat Danau Lau Kawar. 

Rumah pertama mereka sederhana yang dibangun dari bambu. Dengan sangat berani dan tekad kuat, keluarga muda ini berhasil bertahan di hutan belantara rimba, 25 kilometer jauhnya dari kehidupan kota Medan. Koran-koran masa kolonial seperti "Koran Soerabaja" (artikel tertanggal Selasa, 3 Maret 1936 berjudul "Door Indiës Grootste Eiland" ("Berkeliling Kepulauan Belanda-Hindia") menerbitkan artikel tentang Keluarga Konijn.

Leendert Konijn dan keluarga di Lau Kawar


Budidaya jeruk sukses besar. Hanya invasi Jepang yang membawa Perang Dunia Kedua ke Asia menyebabkan usaha awal yang menjanjikan ini jatuh. Pada awal tahun 1942, orang Jepang menuduh Konijn memiliki radio. Untuk alasan ini, dia dipenjara di Berastagi. Belakangan tahun yang sama Leendert Konijn dipindahkan ke kamp konsentrasi Jepang untuk pria di Berastagi. Nama Konijn muncul di daftar kematian kamp tersebut.

Karena keadaannya yang sangat lemah dia ditinggalkan di rumah sakit kamp tersebut. Konijn bertahan dan bersatu kembali dengan keluarganya pada bulan Agustus 1945. Pada akhir Maret 1942 (tiga bulan setelah Konijn dibawa ke penjara) Anne Marie Isaacs dan ketiga putrinya juga dibawa ke kamp konsentrasi Jepang untuk wanita di Berastagi. Pada bulan Juni 1945, kamp tahanan ini ditutup dan para wanita dan anak-anak dipindahkan ke kamp "Aek Pamienke". Anne Marie Isaacs dan ketiga putrinya juga selamat dari kamp tahanan dan dibebaskan pada Agustus 1945.

Dari tahun 1946 sampai 1948 Konijn bekerja untuk Palang Merah di Medan. Pada awal tahun 1946 Anne Marie Konijn dan dua anak perempuan mereka berangkat ke Belanda untuk memulihkan kesehatannya. Putri sulungnya tetap tinggal bersama ayahnya di Medan, setahun kemudian putrinya pulang ke Belanda.

Berastagi


Pada tahun 1948, Konijn melihat kesempatan untuk memulai bisnis grosir pupuk di Kabanjahe. Anne Marie Isaacs dan dua anak perempuannya bergabung dengannya di sana pada tahun yang sama. Meskipun perang kemerdekaan Indonesia bergelora, keluarga tersebut memilih untuk tetap tinggal meski ada bahaya.

Pada tahun 1959, Konijn meninggalkan Indonesia kembali ke Belanda dan tidak pernah kembali. Ia meninggal di Gorinchem tangga 16 September 1977. Anne Marie Isaacs meninggal di Gorinchem tanggal 20 Mei 1979.

Sumber bacaan :


Leendert Konijn (Wikipedia)

"Soerabajaasch Nieuwblad," Dutch East Indies, 1936