11 Desember 2017

Keras Surbakti : "Penjara Adalah Tunanganku."



Keras Surbakti


Keras Surbakti : "Penjara Adalah Tunanganku."
(Bahagian 1)

Orang Karo pasti pernah mendengar nama Nabung Surbakti. Seorang Panglima pada Perang Sunggal yang mampu mengerahkan 1.000 orang lebih pasukan Simbisa.

Para Simbisa dibawah pimpinan Panglima Nabung Surbakti bersama 500 orang pasukan Urung Sunggal dibawah pimpinan Datuk Jalil Surbakti dan Datuk Sulung Surbakti melawan tentara Belanda dan tentara Sultan Deli. 

Perang Sunggal dimulai dari tahun 1872 dan terus menerus hingga sampai ke dataran tinggi Karo. Hingga akhirnya Panglima Nabung Surbakti tewas diterjang peluru milik tentara Belanda pada tahun 1907 di desa Djandi, Kab. Karo.

Nabung Surbakti dipanggil juga Pengulu Djumaraja. Ia mempunyai saudara yang dipanggil sebagai Pa Sempa Surbakti.

Tanggal 2 September 1914, lahirlah seorang anak laki-laki dari Pa Sempa di desa Bunga Pariama, Kecamatan Kutalimbaru Deli Hulu (Deli Serdang). Ia diberi nama Keras Surbakti. 

Keras Surbakti dikenal pintar dan bijaksana sejak kecil. Wajahnya yang tampan dan matanya yang tajam menurun dari Nabung Surbakti. 

Setelah tamat HIS, Keras Surbakti melanjutkan sekolahnya ke MULO Taman Siswa di Medan. Setelah menjalani 1 tahun di kelas 1 di MULO, Keras Surbakti berhenti karena sesuatu hal (tahun 1933).

Tahun 1934, Keras Surbakti memilih memasuki dunia pergerakan nasional. Ia bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) dan menjadi Komisaris (Pengurus) Partindo Cabang Medan.

Rupanya didikan di MULO Taman Siswa membuat ia menjadi pejuang yang cinta pada tanah air. Ia menuangkan buah pikirnya dengan tulisan-tulisan yang tajam di Harian Keng PO, Medan. Ia menjadi wartawan harian itu dan menulis dengan nama samaran GAMPO.

Dia juga masih memakai nama samaran itu ketika menulis di majalah Radikal. Darah perlawanan dari Pa Sempa dan Nabung Surbakti tetap mengalir di dadanya.

Selama Keras Surbakti bergabung dengan Parindo Cabang Medan yang dipimpin oleh Jakup Siregar, karirnya cukup menggembirakan. Dan banyak pemuda Karo yang juga ikut bergabung.

Keras Surbakti terjun ke pelosok-pelosok desa di Deli Hulu untuk melakukan propaganda secara rahasia. Juga ia masuki perkampungan di perkebunan-perkebunan milik orang Eropah. Dia ajak rakyat desa untuk tidak mau membayar pajak (belasting) dan uang rodi pada pemerintah Belanda.


Tapi kegiatan ini diketahui oleh pemerintah Belanda, karena mata-mata dan polisi rahasia Belanda (PID) terus membuntutinya. Ia ditangkap PID dan oleh keputusan Landred Medan tanggal 21 November 1935, Keras Surbakti dihukum penjara selama 14 hari dengan tuduhan menghasut rakyat.

Teman-teman seperjuangan Keras Surbakti di Arnhemia (Pancur Batu) juga dipanggil untuk diperiksa dengan tuduhan menghasut rakyat. Yang dipanggil antara lain Nahar Purba, Terluda Brahmana, S. Sukarno, Merei Ketaren, Ali Parinduri. 

Setelah diperiksa sekian puluh jam, tidak ada bukti-bukti yang memberatkan mereka, maka mereka disuruh pulang. Dan ini bukan kali pertama menghadapi pemeriksaan oleh polisi Belanda.

Ada istilah yang diingat teman-teman Keras Surbakti karena sering keluar masuk penjara Belanda. "Penjara Adalah Tunanganku," ucap Keras Surbakti. Walau sering keluar masuk penjara, semangat Keras Surbakti melawan kolonial Belanda tak pernah surut. Rumah penjara tidak menakutkan bagi orang-orang pergerakkan.

Pada pertengahan November 1936, Partindo dibubarkan oleh pengurus pusat di Batavia. Partindo Andalas Utara beserta cabang-cabangnya pun ikut dibubarkan.

Keras Surbakti melanjutkan perjuangannya dengan memasuki partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) pada tanggal 10 Desember 1936. Walau pemimpin-pemimpinnya di Batavia sudah ditangkap oleh Belanda, Pendidikan Nasional Indonesia tetap hidup dan tidak dibubarkan seperti Partindo. Pemimpin Pendidikan Nasional Indonesia yang ditangkap adalah Drs. Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Maskun.

Keras Surbakti memperkuat kepengurusan Pendidikan Nasional Indonesia di Andalas Utara. Ia ikut menjadi Pengurus Besar PNI Andalas Utara. Yang menjadi sekretaris adalah Syahrin dan pengurus-pengurus lainnnya adalah Iskak Kasim, Sulaiman Efendy, Marjusan dll. Sedangkan pengurus Cabang Medan adalah Hutagalung, D. Egon, Rapotan, Djamaluddin, Ani Idrus dll.

Perjuangan Pendidikan Nasional Indonesia lebih revolusioner dari Partindo. Pimpinan Pendidikan Nasional Indonesia berpendapat, rakyat Indonesia harus diberikan didikan politik dan dimatangkan terlebih dahulu sebelum bisa melancarkan gerakan-gerakan. 

Keras Surbakti bersama Nahar Purba dan Sampuren Manik membuka kantor Pengacara Perkara di jalan Sibayak, Kabanjahe. Pada tahun 1937, PNI Cabang Tanah Karo telah berdiri di Berastagi dengan diketuai seorang pemuda bernama Tama Ginting.

Kantornya bertingkat 2. Bahagian bawah dibuka perpustakaan berisi buku-buku politik, sejarah dan buku-buku pergerakan nasional. Di ruangan atas terdapat beberapa tempat tidur/bale-bale tanpa tilam, hanya beralaskan tikar. Di bale-bale inilah mereka dan para tamunya tidur.

Di dinding terbentang sang saka merah putih berukuran 1,5 x 1 meter. Di atasnya terdapat foto-foto pemimpin Indonesia seperti Sukarno, Moh. Hatta, Maskun, Syahrir, Mr. Sartono. Di ruangan inilah Keras Surbakti dan Tama Ginting menempa pemuda-pemuda nasionalis dari Karo yang beridealisme tinggi, berjiwa bebas dan merdeka.

Disamping sebagai pembela perkara, Keras Surbakti juga menjadi Ketua Majelis Taman Siswa cabang Arnhemia (Pancur Batu).

Tahun 1939, langit gelap di atas negeri Belanda. Perang dunia kedua telah menjalar ke seluruh benua Eropah. Pasukan-pasukan Nazi Jerman telah menguasai negeri Belanda, Belgia, Polandia, Norwegia, dll. Ratu Juliana telah mengungsi ke London, kemudian ke Suriname. Negeri Belanda telah hancur diserang pasukan-pasukan Jerman.

Dalam situasi demikian, pengurus PNI Andalas Utara mengadakan rapat rahasia di jalan Arjuna Medan, di rumah Djamaluddin. Kemudian PNI Cabang Tanah Karo mengadakan rapat rahasia di Uruk Tabu-tabu Berastagi. 

Tidak berapa lama menjelang Juli 1940, pemimpin-pemimpin PNI Andalas Utara ditangkap PID di Medan. Yang ditangkap adalah Keras Surbakti, Syahrin, Iskak Kasim, Suleman Efendy dan Marjusan.

Kemudian ......

(Bersambung ke bahagian 2)

Tidak ada komentar: