18 August 2017

Selamat Ginting dan Pembacaan Proklamasi di Medan (1945)




Kabar Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, belum banyak  diketahui  masyarakat pada masa itu, karena surat–surat kabar dan radio masih dikuasai  oleh penjajah Jepang. Orang–orang Indonesia yang  bekerja di radio–radio dilarang untuk masuk bekerja guna menjaga berita kekalahan Jepang tak terdengar dan tersiar. Kabar kekalahan  Jepang baru disiarkan pada tanggal 21 Agustus 1945 melalui surat kabar dan radio Jepang di seluruh Jawa sekalian dengan pengumuman berakhir  dan bubarnya perang Asia Timur Raya (ATR), namun berita proklamasi kemerdekaan Indonesia tetap tidak disiarkan. Berita ini membuat rakyat Indonesia mengerti bahwa Jepang telah gagal dengan jani–janjinya memberi hadiah kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.  

Berita proklamasi tersebut baru sampai di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945, yang dibawa oleh Mr. Teuku Muhammad  Hasan, Dr. Amir, dan Mr. Abbas dari Jakarta. Berita mengenai proklamasi kemerdekaan tersebut belum ada yang resmi diumumkan kepada masyarakat  di Sumatera Timur, yang ada hanya berita dari mulut  ke mulut saja. Terlambatnya berita proklamasi kemerdekaan  tersebut dikarenakan keadaan dan situasi pada waktu itu masih berada dalam kekuasaan Jepang walaupun mereka ketika itu sudah menyerah pada sekutu, ditambah lagi ketika itu masyarakat Indonesia masih ragu-ragu  dan  masih  takut  untuk  bergerak.

Tiga pemuda nasional Pelopor yang bernama Marzuki Lubis, Selamat Ginting, dan Raptan, datang  menemui Abdul  Xarim M. S. (PESINDO) selaku tokoh gerakan yang paling terkemuka di kota Medan.  Ketiga pemuda tersebut mendesak Xarim M.S. untuk segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan di daerah  Sumatera Timur.  Di dalam pertemuan ini ketiga pemuda tersebut mendapat jawaban dari Xarim M.S bahwa mengumumkan proklamasi kemerdekaan tersebut harus disertai kekuatan senjata, karena pihak Jepang masih bisa menghantam.

Mendengar jawaban ini, Selamat Ginting langsung mengeluarkan pistol miliknya dan menunjukkannya. Xarim M.S lalu memegang pistol itu dan berharap bila senjata ini ada banyak, proklamasi kemerdekaan dapat diumumkan dengan aman di  Medan.

“Jika bapak meminjamkan kendaraan untuk mengangkut senjata, saya akan kembali besok,” jawab Selamat Ginting.

Mendengar permintaan pemuda ini, Xarim M.S. segera mengambil secarik kertas dan menulis sebuah nota pribadi yang kemudian menyuruhnya untuk diantarkan kepada Mahruzar. Keesokan harinya Selamat Ginting memperoleh sebuah kendaraan Open Cup merek Ford 1938 dari Mahruzar, yang pada waktu itu dikenal sebagai pengusaha dan tokoh gerakan nasional. Lalu kendaraan ini bergerak menuju arah Taneh Karo, tepatnya ke Kuta Bangun dengan disupiri Pasang Sinuhaji.

Senjata-senjata ini adalah hasil dari hubungan rahasia yang dilakukan oleh Selamat Ginting melalui penghulu Kuta Pinang, Raja Mula Manik,  dengan beberapa  pimpinan Jepang untuk memberikan senjata kepada bangsa Indonesia guna menentang kembalinya kekuasaan Belanda dan sebagai kekuatan untuk menegakkan kemerdekaan Indonesia. Senjata ini telah ditanam di ladang Juma Pali (Kuta Bangun) milik Selamat Ginting untuk menjaga kerahasiannya.


Selamat Ginting dan Piah Malem beru Karo-karo Manik
Senjata-senjata ini diterima dari Jepang oleh Selamat Ginting, Tama Ginting dan Keras Surbakti.  Diserahkan oleh 2 orang tentara Jepang. Dengan kendaraan Opel buatan tahun 1933, Pasang Sinuhaji menyupiri hingga tujuan penyimpanan rahasia.  Sejumlah banyak senjata Bren, bom dan pistol disembunyikan. Yang turut membantu penyimpanan senjata itu adalah Bapa Berah dan Bapa Ngena.

Sesampainya di Medan mereka segera menuju ke Jalan Gurami dan secara kebetulan Nip Xarim pun ada di rumah yang sedang merundingkan sesuatu dengan Zein Hamid. Sebagian senjata diturunkan di Jalan Gurami, diberikan kepada Nip Xarim dan sisanya dibawa ke Jalan Sudor, ke rumah Ibu Ani, tempat mondoknya pemuda – pemuda nasional Pelopor.

Senjata yang dibawa dari Taneh Karo merupakan modal pertama berupa senjata dalam penyusunan kekuatan Republik Indonesia di wilayah Kota Medan. Begitu senjata telah ada, Xarim M.S. segera menghubungi T.M. Hasan dan Dr. M. Amir dan melaporkan bahwa senjata telah ada dan segera bertindak.

Persiapan dilakukan mulai dari konsolidasi pemuda – pemuda dan mengumumkan pertemuan rapat yang akan diadakan di gedung Taman Siswa (jalan Amplas Medan kini) untuk mengawali proklamasi.

Sepanjang September 1945 dilangsungkan rapat, termasuk pembentukan Barisan Pemuda Indonesia (BPI) di gedung Taman Siswa di jalan Amplas, Medan. Pada 30 September 1945, sebagai rapat lanjutan BPI, dibicarakan realisasi nyata untuk memproklamirkan kemerdekaan di Sumatera Timur. BPI  bertugas  untuk  membela proklamasi   serta   menyampaikan isi proklamasi   di wilayah   masing-masing. Rapat   ini dihadiri  oleh  250  orang  undangan  dengan  ditandatangani  oleh  Ketua  Umum  BPI Sugondo Kartoprojo, Ketua I Ahmad Tahir, dan Sekretaris M.K. Djusni. Dalam rapat ini, Mr. Teuku Mohammad Hasan menyatakan  isi proklamasi kemerdekaan  Republik Indonesia  kepada  seluruh  peserta  rapat  tersebut.

Pada tanggal 3 Oktober keluarlah sebuah pengumuman yang menyatakan : Pemerintah Negara Republik Indonesia dengan resmi dijalankan di Sumatera Timur. Esoknya, pada tanggal  4 Oktober mulailah sang Merah Putih berkibar di Lapangan Fukuraido (masa penjajahan Belanda dinamakan Explanade)  yang kini dikenal sebagai Lapangan Merdeka.

Dan pada tanggal 6 Oktober berlangsung  pawai raksasa yang sangat bersemangat dengan membawa semboyan terus meneriakkan, “Merdeka atau Mati!” Mereka tidak peduli dengan keberadaan tentara Jepang yang masih menduduki kota Medan dan mempercayakan nyawa mereka kepada para pemuda yang mengawal mereka dengan persenjataan yang tadinya dibawa oleh Selamat Ginting dari Taneh Karo. Ahmad  Tahir menjadi pemimpin untuk melakukan  mobilisasi  massa  ini.

Selaku Gubernur Sumatera Timur, Mr. Teuku Mohammad dalam pidatonya berkata : “….perlu saya tekankan di sini, sebenarnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia telah memproklamirkan  kemerdekaanya. Tapi barulah sekarang kami dapat sampaikan kepada segenap lapisan masyarakat. Semangat rakyat setelah Perang Pasifik, berlainan sekali dengan semangat rakyat sebelum perang. Pada masa  ini rakyat telah  membentuk barisan-barisan pemuda di seluruh  Indonesia dengan cita-cita untuk mempertahankan kemerdekaan. 


Orang Belanda jangan salah raba, jika mereka masih memikir bahwa keadaan sekarang masih sama dengan semangat dahulu sebelum perang adalah keliru. Belanda  lebih  baik  jangan  mencari akal atau  mencari  kaki  tangannya  untuk  menduduki  Indonesia,  karena hal itu mengganggu ketenteraman umum. Penduduk  Indonesia  umumnya  dan  para  pemuda  khususnya  memandang  kaki tangan Belanda itu pengkhianat. Percobaan-percobaan mereka yang  sedemikian  rupa itu sangat berbahaya baik bagi Belanda apalagi para kaki tangannya.

Kalau  ada  seorang  pemimpin  Indonesia  menjadi  cidera  akibat  dari perbuatan kaki tangan Belanda,  maka semua orang-orang Belanda  dan kaki tangannya akan disingkirkan dari masyarakat. Karena itu kita harap dengan sangat supaya pihak Belanda  jangan sekali-sekali melakukan percobaan ke arah itu, untuk menjaga keselamatan bersama.”

Rapat raksasa di Lapangan Fukuraido Medan ini berjalan baik. Sejak saat itu resmilah berkumandang proklamasi di Sumatera Timur, dibacakan oleh oleh Gubernur Sumatera Timur, Mr. Teuku Mohammad Hasan dengan didampingi waklinya, Wakil Dr. M. Amir.


Selamat Ginting lahir di Kuta Bangun, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tanggal 22 April 1923 
dan meninggal 22 April 1994 pada umur 71 tahun.

Bahan Bacaan : 
Rifle Reports: A Story of Indonesian Independence oleh  Mary Margaret Steedly (2013)




28 July 2017

Berastagi Tahun 1957

Di tahun 1957, Anton Rekké dan keluarga mengunjungi Medan dan Berastagi. Pada potongan gambar berikut terlihat suasana Berastagi, Gundaling di tahun itu. Mereka juga menyempatkan mendaki gunung Sibayak.

 




 
 
 







Gambar selengkapnya dapat disaksikan pada Videonya di link berikut ini  : ONS LEVEN OP SUMATRA 2 1956/1957


17 May 2017

4 Studio Foto Milik Orang Jepang di Berastagi

Foto Gadis Penari Siberaya
Fotografer : Fujisaki & Co
Tahun : 1910an
Lokasi : Medan
Pada tahun 1913, tercatat ada 10 Fotografer Jepang yang berkiprah di Medan. Lebih banyak ahli foto orang Jepang di Sumatera dibandingkan dengan di Jawa.

Di Berastagi pun ada studio foto milik orang Jepang yang beroperasi sejak tahun 1914. Namanya Studio Foto Asada. Yang mengelola Endou Yako. Sering tertulis di post card nama I. Asada. Dan juga Y. Asada. Kemungkinan Y adalah inisial dari nama kecil Asada yang kemungkinan berasal dari Yako. Tahun 1939 berpindah tangan kepada Tanaka Kajuro.

Tak hanya Studio Foto Asada yang ada di Berastagi, kemudian ada juga Studio Foto Asahi dengan pemilik Shindo Kokichi, Studio Fujimoto dengan pemilik Fujimoto Sakuju dan Studio Foto Misao dengan pemilik Misao Yoshikuma.

Para fotografer ini lah yang ikut mengabadikan keindahan panorama Taneh Karo dan budayanya. Foto-fotonya ada di postcard yang tersebar hingga ke seluruh dunia masa itu.

Catatan tambahan :
Fotografer foto ini adalah Fujisaki Ichirota. Studio Fujisaki & Co berada di jalan Kesawan, Medan dan berdiri sejak tahun 1901.