11 Februari 2018

Rumah Baru "Karo Siadi"


Media pembelajaran sejarah bernama “Karo Siadi” sudah ada sejak tanggal 05 Agustus 2010 di www.karosiadi.blogspot.com. Setelah 7 tahun lebih kami menemani, kini kami berpindah ke alamat yang baru yaitu www.karosiadi.com.

Kiranya rumah yang baru ini dapat lebih memperluas jangkauan para pembaca umumnya dan kian berguna bagi Orang Karo khususnya.


Mejuah-juah Kita Kerina

31 Januari 2018

Dari Pacuan Kuda Hingga Pacuan Adu Nasib di Tuntungan (1972)




Ilustrasi Pacuan Kuda (sumber foto : Unsplash.com)

Awal bulan Mei tahun 1972, Medan mempunyai arena pacuan kuda baru yang diresmikan oleh Gubernur Marah Halim. Letaknya di Tuntungan. Sebenarnya di jaman kolonial Belanda pun, Medan sudah punya arena pacuan kuda. Pada tahun 1898, Medan sudah memiliki Race Baan (Arena Balap) untuk pacuan kuda. Lokasinya berada di sebelah kanan dari Lapangan Esplanade (sekarang dinamakan Lapangan Merdeka).  Kala itu, setiap 2 kali setahun diadakan perlombaan pacuan kuda.


 
Race Baan tahun 1898 di Medan (sumber : tembakaudeli.blogspot.com)

Arena pacuan kuda baru yang berada di Tuntungan ini dulunnja adalah milik Kodam II Bukit Barisan dan kini sudah dirubah namanya  menjadi Medan Racing Company (MRC). MRC adalah hasil kerjasama antara Hewett, Spicer & Selman (HSS) dari Australia dengan PT. Peternakan Sumut  yang dipimpin  oleh Kolonel Nelang Sembiring. MRC didirikan sebagai upaya  dari maksud untuk menarik daerah Sumut menjadi incaran wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.


Saat peresmian, ada juga disebut-sebut harapan agar atraksi pacuan kuda ini mampu menahan lebih lama wisatawan-wisatawan dari Malaysia dan Singapura untuk tinggal dan berwisata di Medan. Dan pacuan kuda ini bisa menjadi kebanggaan dan tempat rekreasi bagi penduduk di Sumatera Utara khususnya.


Terbukanya Lapangan Kerja

Kabarnya, bukan hanya kali ini saja orang Australia merintis arena pacuan kuda di Indonesia. Orang Australia kabarnya ikut merintis arena pacuan kuda Pulo Mas di Jakarta. Kongsi perkudaan ini konon hanya akan berlangsung 10 tahun, setelah mana seluruh usaha ini akan diserahkan kembali pada pemerintah daerah.


Arena pacuan kuda Tuntungan kini mempunyai wajah yang meyakinkan setelah mendapat siraman modal dari HSS sejumlah 1 juta dollar. Dan tidak hanya untuk kegiatan pacuan kuda, di Tuntungan juga akan dibangun gelanggang balap motor. 


30 Januari 2018

Keyakinan Besar Monang Sinulingga (1972)






Master-Master Cari Sponsor.
Majalah Tempo, Sabtu, 8 Juli 1972.

Begitu matanja melek, pagi itu djuga sasarannja ke kedai kopi. Disitu ia membentang papan tjatur. Di Tanah Karo, ini konon berarti tantangan jang demi kehormatan (adat) harus didjawab pula.

Dan seperti biasa, ada sadja jang mau meladeni tantangan itu. Pada saat itulah Monang Sinulingga tidak menunggu lebih lama untuk memesan setjangkir kopi dan sepiring nasi. Persoalan perutpun pagi itu teratasi oleh pertaruhan jang dimenangkan Monang terhadap lawannja. Tanpa disadari, pola kehidupan jang didjalankan Monang sedjak 1961 merupakan awal dari satu proses jang mengangkat dirinja ke-echelon tertinggi dunia tjatur Indonesia - setelah setjara kebetulan pemuda 26 tahun asal Namutrasi (Kabupaten Langkat) ini diberi kesempatan mewakili Tanah Karo ke kedjuaraan Sumatera Utara.

Buku.

Apa jang membikin Monang tjepat melondjak bukan karena teori dari buku-buku tjatur. Sebab "di Tanah Karo mana ada buku". Tapi rupanja dengan bekal kemauan keras dan beladjar dari pengalaman serta "tekad untuk membalas setiap kekalahan", tjukup bagi Monang jang berpendidikan Sekolah Dasar untuk merebut gelar "Master Nasional".

Dalam final Kedjuaraan Tjatur Nasional di bulan Djuni jang lalu lihat, bakat alam Monang diudji. Tertjatat antara lain: menang terhadap Master Internasional Ardiansjah, remise dengan Master Nasional Arovah Bachtiar dan kalah dari Gozali (Djaya).

Kekalahannja dari Gozali ini, menurut pengakuan Monang, adalah "kesalahan untuk meniru-niru pembukaan lawan", katanja, "baru aku tahu apa Sicilian itu".

29 Januari 2018

Orang Karo dan Kebanggaannya




Gambar President Taxi.

Orang Karo dan Kebanggaannya.
Oleh Abdurrahman Wahid.
Majalah Tempo, Sabtu, 13 Agustus 1983.


Sehari-hari ia mangkal di depan terminal bis kota Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Taksi yang dikemudikannya bercat kuning tua, dan ia sendiri memakai seragam biru, "baju kebesaran" sopir President Taxi. Raut wajahnya mengeras, buah pergulatan tidak berkeputusan dengan kehidupan, terombang-ambing antara keharusan memenuhi uang setoran dan tuntutan kebutuhan rumah tangga.

Dan begitu taksi, bergerak, segera beralun sebuah lagu merdu dari cassette recorder. Tancap! .... Dibawanya kendaraan asuhannya dengan santai. Lagu yang berkumandang bukan lagu Barat, bukan pula irama dangdut. "Lagu daerah saya sendiri Pak! Hitung-hitung obat rindu. Tidak dapat pulang ke kampung tahun ini."

Dilanjutkannya, lagu itu dibawakan seorang penyanyi remaja yang baru mulai manggung di Medan, bernama Agustino Tarigan. Saya komentari bahwa suaranya bagus, bakatnya besar, dengan back up aransemen musik yang baik. Masa depannya cukup punya harapan. "Lagunya diciptakan kakaknya sendiri Pak, Hosea Tarigan," sahutnya -- dengan bangga. "Benar-benar satu kampung Pak! Dulu saya tinggalkan masih kecil."

18 Desember 2017

Tama Ginting dan Patjar Merah Indonesia (Bagian 1)





Di Kampung Tanjung, tidak jauh dari Tanjung Morawa (Kecamatan Senembah Tanjung Muda Hilir, Deli Serdang) pada tahun 1918 lahirlah seorang anak lagi-laki dari merga Ginting Munthe. Ibunya Beru Purba adalah anak dari Sibayak Pa Landas Purba, Ibunya kelahiran Kampung Kabanjahe.

Anak ini diberi nama Tama Ginting oleh pamannya, saudara kandung sang ibu. Setelah besar, ia disekolahkan di Kabanjahe di Vervolg School. Ia termasuk siswa yang rajin, pembersih dan pandai.

Tama Ginting menumpang di rumah pamannya bernama Gempang Purba di Kabanjahe. Karena rajin dan pintar, Tama Ginting sangat disayang oleh paman dan kakeknya, Sibayak Pa Landas Purba. Setelah tamat sekolah, Tama Ginting bekerja di perusahaan pamannya yang menjual daging lembu dan kerbau di pasar Kabanjahe dan Berastagi.

Pamannya termasuk salah satu orang terkaya di Kabanjahe dan mempunyai tanah yang luas. Walaupun Tama Ginting sudah bekerja, ia tetap rajin membaca banyak buku, baik buku biografi, kebudayaan, politik dan sejarah. Salah satunya buku karangan Matu Mona yang berjudul Pajtar Merah Indonesia.

Ia sangat terkesan pada buku ini dan ingin berbuat seperti Tan Malaka, seperti apa yang dikisahkan dalam buku ini. Inilah awal ia berkenalan dengan sosok Tan Malaka. Lalu ia membaca buku-buku karangan Tan Malaka. Kelak ia menjalankan ajaran Tan Malaka hingga akhir hayatnya.

Ia juga pernah ikut kursus bahasa Inggris. Dan pada hari libur, ia manfaatkan mengunjungi ibunya di Kampung Tanjung.

Berastagi kala itu begitu termasyur sampai ke manca negara, dengan udaranya yang dingin dan alamnya yang asri dan indah serta hasil-hasil kebudayaan Karo yang agung . Rumah-rumah adat Karo yang berdiri megah menjadi keunikan tersendiri bagi orang-orang Eropah yang datang. Kota ini menjadi daya tarik wisatawan asing, terbukti dengan kian terbangunnya banyak pesanggrahan dan hotel.

Karo Bukan Batak : Koreksi pada P. Tamboen


Prof. Henry Guntur Tarigan saat masih mahasiswa jurusan bahasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung, pada tahun 1958 pernah melakukan suatu koreksi atas buku “Adat Istiadat Karo” karangan P. Tambun. Ia mengkoreksi buku ini mengenai tulisan di buku ini bahwa Suku Karo berasal (turunan) dari Batak Toba dari sudut Etimologi bahasa.

Henry Guntur memberi judul tulisannya “KAROMERGANA.” Henry Guntur menulisnya di Majalah Bahasa dan Budaya Tahun ke VII No. 1/1958, Jakarta. Dapat dibaca pada link berikut ini : https://karosiadi.blogspot.co.id/…/karomergana-oleh-henry-g…

Ternyata Brahama Putro (K.S. Brahmana) di buku "Karo dari Zaman ke Zaman Jilid 1," juga pernah mengkoreksi P. Tambun. Di dalam buku "Adat Istiadat Karo" halaman 64, P. Tamboen menulis :

"Bangsa Karo adalah satu cabang dari Lima Batak (Karo, Toba, Angkola, Pakpak dan Mandailing) yang satu sama lain mempunyai persamaan tentang tulisan, bahasa, adat istiadat, sehingga ada kemungkinan bahwa asal dari bangsa itu serupa..."

Brahma Putro membantah dengan menyatakan :

"Keterangan P. Tambun diatas, berpendapat bahwa suku bangsa Batak adalah 5 cabang, yaitu Karo, Toba, Pakpak, Mandailing dan Angkola. Keterangan tersebut membuat kita menjadi bingung, karena bangsa Batak yang selalu disebut-sebut, bukan hanya terdiri 5 cabang tapi lebih dari 5 cabang : Simelungun, Nias, Alas, Singkel, Gayo juga disebut-sebut bangsa Batak.

Asal usul nama Batak, masih saja sampai sekarang menjadi penyelidikan, dan belum diketahui oleh para sarjana secara pasti. Banyak pendapat yang berbeda-beda tentang asal usul Batak.

11 Desember 2017

Kumpul Sinuhaji, Dibuang ke Ambon Hingga Ikut Pertempuran di Surabaya




Tentara India Britania menembaki penembak runduk Indonesia 
di balik tank Indonesia yang terguling dalam pertempuran di Surabaya, November 194


Setelah Partindo bubar, pada tahun 1937  berdirilah Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta. Gerindo didirikan oleh para pemuda pejuang seperti : Amir Syarifuddin, Mhd. Yamin, Sartono, Adam Malik, Adnan Kapau Gani dll. Pendirian cabang-cabang di daerah pun dilakukan,

Di Sumatera Utara, pemuda-pemuda seperti Muhammad Joni (Banteng Gemuk), Jakup Siregar, Mhd. Saleh Umar, Marzuki Lubis, Mualif Nasution, Terluda Sembiring Brahmana, Ibu Hadijah, Andico dll sepakat mendirikan Gerindo Sumatera  Utara. Berkedudukan di Medan dan dipercayakan Mhd. Joni sebagai Ketua I dan Jakup Siregar sebagai Ketua II.

Di Arnhemia (Pancur Batu) pun berdiri, Di tahun 1937, berdiri Gerindo Cabang Arnhemia. Nahar Purba, Terluda Brahmana dan Kitei Purba diutus dari Medan untuk mendirikan Cabang di Arnhemia.  Didirikan pula Ranting-ranting  Gerindo di wilayah Deli Hulu (Karo Jahe).

Tidak mau ketinggalan, di Januari 1938, Kumpul Sinuhaji,  Ngasil Sinuhaji  bersama pemuda-pemuda lainnya berhasil mendirikan Gerindo Ranting Rumah Mbacang, Deli Hulu (Karo Jahe). Masyarakat Rumah Mbacang antusias ikut di dalamnya.

Untuk itu Kumpul Sinuhaji yang aktif  dalam bidang kebudayaan, berusaha mendirikan sebuah teater bernama “Rakab De Trio.” Tujuannya agar Gerindo mendapat perhatian masyarakat luas dan mengembangkan kebudayaan nasional.  Kumpul Sinuhaji mendapat bantuan dari masyarakat, lakon yang dipentaskan selalu mendapat perhatian dari masyarakat ramai.

Lakon yang dipentaskan berjudul :  Sipincang, Perantaian 12, Ali Baba, Sipitung dll.  Sandiwara "Rakab De Trio" berkeliling baik ke kota-kota hingga perkampungan-perkampungan di wilayah perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur.

Kemana saja pertunjukkan bergeser, polisi rahasia Belanda (PID) selalu mengikuti. Di sebuah malam yang naas, Sandiwara Rakab De Trio bermain di sebuah perkebunan di dekat Rantau Parapat.  Lakon yang dimainkan berjudul Perantaian 12. Baru babak pertama selesai, tiba-tiba PID muncul untuk menghentikan. Dilarang untuk dilanjutkan karena berbau politik dan dianggap dapat mengacaukan keamanan.

Kumpul Sinuhaji dan kawan-kawan bersikeras untuk melanjutkan pertunjukkan. Namun PID mengancam akan membubarkan bila pertunjukkan dilanjut. Dan ancaman dengan pistol pun dilakukan  oleh PID.

Seorang pembantu Kumpul Sinuhaji panik saat melihat pistol diacungkan. Reflek ia menangkap pistol tersebut dan merangkul cepat sang  PID.  Kumpul Sinuhaji mencabut pisau Tumbuk Lada dipinggangnya dan menghunus ke perut PID.  PID pun tewas seketika.

Keadaan makin kacau, penonton berlarian pulang  dengan ketakutan. Dan kemudian selusin polisi datang menangkap Kumpul Sinuhaji, sedang pembantunya telah melarikan diri.

Kumpul Sinuhaji ditahan di Rantau Prapat. Dan pengadilan memutuskan ia dijatuhi hukuman seumur hidup dan dibuang ke Ambon. Akhirnya ia meninggalkan Medan dan dibawa bertolak menuju Ambon.

Di Ambon Kumpul Sinuhaji dipenjarakan di tangsi militer Belanda. Dan ia baru bebas setelah Jepang datang. Tentara Jepang sekitar tahun 1942 membebaskan tahanan-tahanan di tangsi militer itu. Kemujuran menghampirinya.

Dengan menumpang kapal layar, ia sampai ke Surabaya. Di sini Kumpul Sinuhaji melamar menjadi tentara Heiho. Di Surabaya ini, Kumpul Sinuhaji  mengganti identitasnya. Namanya menjadi Arifin Hasibuan.

Kumpul Sinuhaji ikut merasakan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang terkenal dengan perperangan Arek-arek Suroboyo. Kumpul Sinuhaji alias Arifin Hasibuan menjadi Komandan Pasukan Tempur Sriwijaya dengan pangkat Mayor.  Wakilnya saat itu adalah Kapten J. Rambe. Kekuatan pasukannya saat itu terdiri dari 500 orang Heiho.