Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Artikel Penting

Rumah Baru "Karo Siadi"

Media pembelajaran sejarah bernama “ Karo Siadi ” sudah ada sejak tanggal 05 Agustus 2010 di www.karosiadi.blogspot.com . Setelah 7 tahun lebih kami menemani, kini kami berpindah ke alamat yang baru yaitu www.karosiadi.com . Kiranya rumah yang baru ini dapat lebih memperluas jangkauan para pembaca umumnya dan kian berguna bagi Orang Karo khususnya. Mejuah-juah Kita Kerina

Keyakinan Besar Monang Sinulingga (1972)

Master-Master Cari Sponsor. Majalah Tempo, Sabtu, 8 Juli 1972. Begitu matanja melek, pagi itu djuga sasarannja ke kedai kopi. Disitu ia membentang papan tjatur. Di Tanah Karo, ini konon berarti tantangan jang demi kehormatan (adat) harus didjawab pula. Dan seperti biasa, ada sadja jang mau meladeni tantangan itu. Pada saat itulah Monang Sinulingga tidak menunggu lebih lama untuk memesan setjangkir kopi dan sepiring nasi. Persoalan perutpun pagi itu teratasi oleh pertaruhan jang dimenangkan Monang terhadap lawannja. Tanpa disadari, pola kehidupan jang didjalankan Monang sedjak 1961 merupakan awal dari satu proses jang mengangkat dirinja ke- echelon tertinggi dunia tjatur Indonesia - setelah setjara kebetulan pemuda 26 tahun asal Namutrasi (Kabupaten Langkat) ini diberi kesempatan mewakili Tanah Karo ke kedjuaraan Sumatera Utara. Buku. Apa jang membikin Monang tjepat melondjak bukan karena teori dari buku-buku tjatur. Sebab "di Tanah Karo mana ada buk...

Orang Karo dan Kebanggaannya

Gambar President Taxi. Orang Karo dan Kebanggaannya. Oleh Abdurrahman Wahid. Majalah Tempo, Sabtu, 13 Agustus 1983. Sehari-hari ia mangkal di depan terminal bis kota Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Taksi yang dikemudikannya bercat kuning tua, dan ia sendiri memakai seragam biru, "baju kebesaran" sopir President Taxi. Raut wajahnya mengeras, buah pergulatan tidak berkeputusan dengan kehidupan, terombang-ambing antara keharusan memenuhi uang setoran dan tuntutan kebutuhan rumah tangga. Dan begitu taksi, bergerak, segera beralun sebuah lagu merdu dari cassette recorder . Tancap! .... Dibawanya kendaraan asuhannya dengan santai. Lagu yang berkumandang bukan lagu Barat, bukan pula irama dangdut. "Lagu daerah saya sendiri Pak! Hitung-hitung obat rindu. Tidak dapat pulang ke kampung tahun ini." Dilanjutkannya, lagu itu dibawakan seorang penyanyi remaja yang baru mulai manggung di Medan, bernama Agustino Tarigan. Saya komentari bahwa suaranya...

Leendert Konijn Menanam Jeruk di Kaki Sinabung (1932)

Leendert Konijndi Lau Kawar Leendert Konijn dan Anne Marie Isaacs Leendert (Leen) Konijn lahir di Zwammerdam, 28 Januari 1899 adalah seorang penanam karet Belanda (1920-1930) dan pengusaha budidaya jeruk Navel dan berbagai buah sitrus di La u Kawar, Gunung Sinabung, Utara Sumatra, Hindia Belanda (1932-1942). Leendert Konijn   adalah anak tertua dari dua belas orang. Orang tuanya, Jan Konijn, seorang tukang roti. Konijn dibesarkan di desa kecil di bagian barat Belanda di dekat kota Zwammerdam dan Boskoop. Setelah menyelesaikan studinya, Konijn melamar pekerjaan sebagai penanam karet bersama Rotterdam Cultuur Maatschappij (RCM). RCM saat itu sedang mencari para petualang muda, yang tertarik untuk bekerja di perkebunan karet di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Hindia Belanda. Pada tahun 1920, pada usia 21, Konijn naik kapal barang dan meninggalkan Belanda untuk ke Medan, Sumatra, Hindia Belanda. Perkebunan karet Tapanuli menjadi pengalaman belajar ya...

Dari Revolusi Sosial Hingga Terbentuknya Kabupaten Karo

Peristiwa Revolusi   Sosial sampai juga di Taneh Karo. Selamat    Ginting    membuat    pertemuan    antara    laskar    Napindo    Halilintar   dengan Persatuan Perjuangan tentang Revolusi Sosial di Sumatera   Timur.   Dalam   pertemuan   tersebut   disetujui diadakan   revolusi   sosial   di   Tanah   Karo   namun tidak perlu dengan gejolak besar, dan tidak    memerlukan   tindakan memalukan, tidak memerlukan tindakan kekerasan   yang   dapat   membawa   pada   kematian   karena   para   Sibayak-sibayak   dan   Raja   Urung di   Tanah   Karo   tidaklah   kejam   dan memeras   rakyatnya, bahkan para Sibayak dan Raja Urung pada hakikatnya hanyalah semacam administrator-administrator Belanda saja .   Tidak mempunyai kekuasaan besar.  ...