23 December 2013

Sadararasen

21 December 2013

Film Pemukiman Karo di tahun 1970

Film mengisahkan perjalanan selama di Sumatera Utara. Tiba di Medan lalu menuju Tanah Karo. Di menit ke 7:14  terlihat perkampungan Karo di tahun 1970

17 December 2013

Sinabung 2013


13 November 2013

Pusi Rendra Buat Johnny Sembiring






Sajak Rajawali

sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

 (Puisi WS Rendra untuk Johnny Sembiring yang dimuat di sampul belakang 
dari buku biografi berjudul Johnny Sembiring: Antara Tembok Dan Tuhan.)

Buku biografi berjudul Johnny Sembiring: Antara Tembok Dan Tuhan, sebelum dibukukan, naskahnya dimuat secara bersambung (selama tiga bulanan) dalam harian Prioritas (yang setelah dibredel pemerintah Orba kemudian berubah menjadi Media Indonesia). Buku ini ditulis olehAgoes M. D. dan A. Husein Kndm dengan  penerbit Kurnia Esa di tahun 1987.



“Mas Rendra” – mengatakan bahwa beliau mengikuti (membaca) cerita bersambung tersebut setiap hari. Dan, bila cerita itu mau difilmkan, katanya, ia ingin menjadi sutradaranya. Sebuah pernyataan yang membuat penulis biografi tersanjung.

Tapi, sayangnya, cerita yang terkandung dalam biografi tersebut tidak memungkinkan untuk difilmkan pada masa itu. Tak bakal ada produser yang berani ambil risiko.

Selanjutnya, ketika cerber itu dibukukan, Mas Rendra ‘menghadiahkan’ sebuah puisinya, Sang Rajawali, yang kemudian di muat di sampul belakang buku Johnny Sembiring tersebut.

Buku itu mendapat tanggapan cukup luas. Resensinya muncul di beberapa majalah berita dan surat kabar. Di antara para penulis resensinya ada yang mengatakan bahwa puisi Sang Rajawali tak cocok untuk Johnny Sembiring.

Tentu saja, penulis biografi tahu sejak awal bahwa (isi) puisi itu memang bukan ‘milik’ Johnny Sembiring, seorang penjahat di tahun 1960an. Tapi kejujuran dan keberanian Johnny Sembiring untuk menelanjangi diri, dikagumi oleh Rendra. Itulah alasan Rendra memberikan puisinya.



30 October 2013

Hanging Without a Rope



 

Judul Buku : Hanging Without A Rope (Narative Experience in Colonial and Postcolonia Karoland), New Jersey : Princeton University Press, 1993
Nama Penulis : Mary Margaret Steedly.

Hanging Without a Rope
sebuah prolog

"Ini Nini kita, yang dari gunung", kata Nande Randal, dia telah menjadi perantara roh dan dukun selama lebih dari empat puluh tahun, pedagang sayur, awalnya di kota pasar Berastagi dan kemudian, setelah akhir Revolusi Indonesia tahun 1950, di Pasar Sentral besar di kota Medan.

Dengan bantuan roh, dia dan suaminya telah memperoleh dana cukup untuk berinvestasi dalam armada minibus. Tapi anak-anak mereka telah menyia-nyiakan uang mereka, dan akhirnya minibus tersebut harus dijual. Sekarang mereka mengusahakan sebuah peternakan kecil di luar kota. Saat Juara R Ginting dan Merry tiba untuk mengunjunginya. Dia menyambut dengan riang dan langsung beristirahat dari pekerjaannya. Peternakan Nande Randal di tepi kota Pancur Batu.

Nande Randal telah belajar dari Nini Raja Umang, raja orang-orang liar yang mendiami lereng terjal Gunung Sibayak. Dia "bermeditasi" selama tujuh bulan dengan raja umang, katanya. Dia memperlihatkan herbal khusus yang hanya tumbuh di puncak gunung, dan mengajarkan bagaimana melindungi diri dari serangan roh dan sihir, dari angin kaba-kaba yang bisa menerbangkan seluruh isi meja, dari kusta, dari begu ganjang dan begu gendek. Nande Randal memberitahu mereka harus makan bebek untuk makan malam, karena semua ayam telah dicuri orang. Saat kunjungan kedua, beberapa bulan kemudian , bebek juga dicuri orang.

29 October 2013

Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengenai Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701

Ini adalah halaman pertama dari dokumen asli.  Koleksi Arsip Digital.
Sumber Arsip, ANRI HR 2521, fols 113-114.
Sumber tulisan : Arsip Nasional Republik Indonesia

DARI: CATATAN HARIAN KASTIL BATAVIA, 1 MARET 1701 [MULAI FOL. 113.]

Kita telah minta keterangan dari orang Cina yang kemarin dulu tiba dari Pantai Barat Sumatra dan sudah tinggal untuk beberapa waktu lamanya di pegunungan Angkola, dan hari ini apa yang telah dituturkannya itu dicatat di Sekretariat Jenderal, seperti yang dapat dibaca dalam tulisan berikut ini.

Hasil pemeriksaan orang Cina ’t Singko, yang baru saja tiba dari Baros lewat Padang dengan kapal jenis “chialoup” milik seorang Cina Thieko, yang mengatakan sebagai berikut ini.

Bahwa sepuluh tahun lalu dia menumpang kapal yang dinakhodai oleh seorang Cina bernama Khintsijko, dan berlayar dari tempat ini ke Malaka dan dari sana ke Pande yang terletak di sekitar Dilly; di tempat tersebut, nakhoda kapal menjual barang-barang dagangannya kepada penduduk Melayu, dan sesudah itu berlayar pergi tanpa membawa serta orang yang sedang ditanyai itu, yang bermaksud tetap tinggal di Pande dan mencari nafkah di sebuah dusun kecil.

Kemudian dia pergi ke Pande, di tempat itu dia membeli sedikit garam untuk menambah beberapa mangkuk tembaga dan kain biru yang dibawa, dan dari sana bersama beberapa kuli angkut dia pergi melalui jalan darat ke daerah Bata yang letaknya sekitar 10 hingga 11 kali hari perjalanan dari Baros, dan di sana dia menukarkan atau memperdagangkan barang-barangnya dan mendapatkan kemenyan [Benzoin] dan bahan lilin, dan kemudian dia kembali ke Pande dan di sana menjual barang-barang tersebut dan mendapatkan garam.

Dia juga bercerita bagaimana selama kurun waktu sepuluh tahun dia berdagang dan mencari nafkah dengan mondar-mandir dari dan ke dua tempat itu, dan sementara itu di antara penduduk setempat dia menjadi semakin dikenal, dan sesudah lima tahun di sana dia menikah sesuai adat kebiasaan setempat dengan seorang wanita Bata yang telah diberikan oleh orang tua wanita itu kepadanya dengan imbalan 50 ringgit, dan telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini berusia empat tahun.

Menurut orang Cina itu kendati penduduk Pande dan Bata sudah mendapatkan banyak pengalaman dan manfaat dari dirinya, mereka nampak seperti orang-orang liar yang hidup di pegunungan dan hutan, tetapi sejauh menyangkut kegiatan bercocok tanam mereka melakukannya secara teratur dan seperti lazimnya dilakukan orang. Dan mereka juga hormat dan ramah terhadap orang asing yang jarang dijumpai di daerah mereka, khususnya orang Eropa yang sudah beberapa tahun tidak mereka temui; mereka juga tidak bermasyarakat dengan orang-orang Melayu yang tinggal di dataran rendah karena mereka tidak beragama Islam.

Mereka suka makan daging babi yang untuk mereka merupakan makanan enak dan mereka juga mempunyai cukup banyak beras, dan padi itu mereka tanam setiap tahun pada musim yang tepat dan hasilnya dapat memenuhi kebutuhan penduduk di kawasan tersebut yang jumlahnya cukup banyak, dan mereka memiliki lahan beberapa are luasnya dan juga bertanam sayur mayur yang juga merupakan bahan makanan mereka.

19 October 2013

Adakah Kesenian Tradisional Batak?

Adakah Kesenian Tradisional Batak?
(Tempo, 7 Oktober 1989)

Kehadiran acara Gita Remaja di layar TVRI yang disajikan mirip dengan Berpacu Dalam Melodi disambut gembira sebagai salah satu wadah pembinaan generasi muda.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika pembawa acara menyebutkan penampilan kelompok kesenian tradisional dari Sumatera Utara, yang menyuguhkan “Musik Tradisional Batak” (Acara Gita Remaja tanggal 14 Agustus 1989). Apakah ada kesenian atau kebudayaan “Batak” ? Dari mana datangnya istilah “Batak” dan apa yang dimaksud “Batak” itu sendiri. Suku bangsa Mandailing, Angkola, Simalungun, Pak-pak/Dairi, Toba, Karo, itukah yang dimaksud dengan “Batak”  ?

Coba sekali-sekali anda berwisata ke Sumatera Utara. Ajaklah berdialog masyarakat Mandailing, Angkola atau Karo. Tanyakan apakah mereka orang Batak. Umumnya anda akan memperoleh jawaban : “Tidak.”

Suku bangsa itu masing-masing memiliki budaya dan adat yang berbeda. Kenyataan ini dapat dibuktikan dari segi sejarah, sosial-budaya, maupun musik.

Jadi, apabila yang dimaksud pembawa acara Gita Remaja bahwa kesenian tradisional Batak tersebut adalah gabungan dari beberapa etnis di Sumatera Utara, jelas itu tak benar. Kesenian tradisional yang dipertunjukkan pada acara tersebut adalah satu repertoar kesenian tradisional Toba.

EDI NASUTION 
d/a Yapebuma
Jalan Nibung Raya 194
Lantai III – Medan

**********************

Yapebuma = Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing.

Edi Nasution playing the tulila
Biography Penulis:

Edi Nasution hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan – Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.

Blog yang dimiliki Edi Nasution
Gondang Mandailing










Tulila : Muzik Bujukan Mandailing
Author Name  :  Nasution, Edi
2007. Areca Books
Soft Cover, 24.1cm x 16.5cm, 180 pages.
ISBN: 978-983-42834-4-5

“Flutings of Love”

One newspaper reviews  Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, Edi Nasution’s important account of his experience with an increasingly rare source of music.

by Himanshu Bhatt

It may seem to be just a simple little instrument made out of plain bamboo, but it produces the sweetest of sounds when played.

17 October 2013

Bambang Ginting : Di Surabaya Tidak Ada Penari


“Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja ucapan Bambang Ginting ini membuat banyak orang kebakaran jenggot. 
Bambang Ginting  (4 Maret 1959 - 9 September 2003)
Seniman Tari : Bambang Ginting

Bernama asli Bambang Haryanto Ginting. Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 4 Maret 1959, ia merupakan jebolan Jurusan Tari Fakultas Kesenian Institut Kesenian Jakarta, program Tari Studi Dasar (D3). Beberapa karya tari yang pernah diciptakannya antara lain ‘Langen Roso’, ‘Ujungan’ (1979), ‘Reinkarnasi’ (1980), ‘Garis I’ dan ‘Garis II’ (1983), ‘Maria Magdalena I’, ‘Rabuni’, ‘Maria Magdalena II’ (1984), ‘Langgam Jakarta’, ‘Talenta’ (1985), ‘Manunggal’, ‘Sodoran’ (1986).

Ketika kembali ke Surabaya tahun 1986, ia memiliki paradigma yang berbeda dengan rata-rata koreografer Jawa Timur waktu itu. Kedekatannya dengan Afrizal Malna, Boedi Otong, Taufik Rahzen, Farida Faisol dan tokoh-tokoh lainnya, membuatnya lebih ‘menasional’ dalam memahami dunia tari. Bahwasanya seorang penari, katanya, harus memiliki kemampuan olah tubuh, bukan sekadar menari dengan hitungan 1 (satu) sampai 8 (delapan). Kredo itulah yang kemudian dipertegas lagi dalam ceramah tarinya di Galeri DKS tahun 2002. Namun, Apa yang disuarakannya soal olah tubuh tersebut, harus diakui masih belum banyak ditiru oleh penata tari Jawa Timur.

Gebrakannya di dunia tari di Surabaya juga terbilang sangat berani, Ketika Surabaya belum ramai festival tari, ia telah memulai dengan Festival Karya Tari selama seminggu di LIA (sekarang PPIA). Ia juga mengeluarkan pernyataannya bernada keras waktu itu, “Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja membuat banyak orang kebakaran jenggot. Langkahnya tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1992, ia kembali menggelar Surabaya Festival ‘92 di Hyatt Regency Hotel selama 4 bulan. 

Sekali lagi, lepas dari sikap-sikapnya yang sembrono soal finansial, ia adalah sosok organiser seni yang profesional. Diskusi kecilpun ditangani sangat rapi. Diskusi-diskusi kesenian yang serius digelar di hotel mewah itu, disaat kalangan seniman Surabaya masih minder untuk masuk ke hotel mewah bintang lima Hyatt Regency ketika itu. Selain itu, pada tahun 1990, ia juga menggarap koreografi ‘Penalti’ dari Jawa Timur yang merekrut banyak pekerja tari dan teater untuk tampil di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Ini juga menjadi catatan tersendiri, tentang apa yang ia lakukan terkadang masih sulit dilakukan oleh koreografer Jawa Timur pada waktu itu.

Selain aktif di dunia tari, ia juga bergelut di dunia teater. Ia tercatat melahirkan Teater Api Indonesia (TAI). Kiprahnya yang ingin memajukan teater di Surabaya, juga ditunjukannya dengan cara memprovokasi Teater Surabaya Telah Mati dalam diskusi teater di TBJT tahun 1986. Meski banyak kekurangan pada dirinya, namun jasa dan prestasi serta dedikasinya terhadap dunia kesenian di Surabaya (Jawa Timur) juga harus diakui tersendiri. Tubuhnya yang tambun, bicaranya yang sangat meyakinkan, kreativitasnya yang cemerlang, menjadikan lelaki yang kerap berpenampilan sederhana ini masih belum tergantikan posisinya hingga sekarang.

Sungguh ironis, ketika dunia kesenian Jawa Timur masih membutuhkan tangan dinginnya, berulang kali ia harus terjerembab dalam kasus demi kasus yang membuat orang mengurut dada. Banyak orang mengakui kehebatannya dan sekaligus menyayangkan prilakunya. Ia pernah di vonis pengadilan di Banyuwangi, Jawa Timur. dengan hukuman 3 bulan penjara karena kasus penipuan armada taksi. Tapi barangkali memang itulah dua sisi dalam satu mata uang yang sama yang melekat sebagai citra dirinya.

Pria yang menetap di Surabaya ini wafat di Banyuwangi, Jawa Timur, 9 September 2003. Menikah dengan Ngesti Wiludjeng yang berprofesi guru Geografi di SMA Ta'miriyah, dikaruniai seorang Puteri bernama Wanidya Minola Ginting. Namun Wanidya Minola Ginting  menjadi korban pembunuhan di tempat tinggalnya di Apartemen Green Park View, Cengkareng (Jakarta Barat). Ditemukan tewas pada tanggal 13 Maret 2013.




Soeparmin Ras atau yang juga biasa di panggil Parmin Ras

Posted on 08/10/2007 by henrinurcahyo

PADA suatu ketika, seorang Parmin RAS menggelar pertunjukan Metamorfose Daun Batu untuk mengenang kepergian Bambang Ginting. Mengapa Ginting harus dikenang? Bukankah sosok lelaki itu penuh dengan “kasus” yang membuat banyak orang sakit hati? Barangkali, karena dia sudah meninggal dunia, jasa dan kenangan baiklah yang memang seharusnya dikedepankan. Dan seorang Bambang Ginting, harus diakui, pernah menorehkan prestasi tersendiri dalam dunia tari, teater dan even kesenian yang hingga sekarang belum tertandingi.

03 October 2013

"Turang” bukan dari Tapanuli

Kompas, Jumat, 2 Juni 1989

“Turang” bukan dari Tapanuli

Dalam acara Berpacu Dalam Melodi tayangan TVRI tanggal 27 Mei 1989, ada kesalahan yang dibuat oleh pembina acara ini.

Kesalahan tersebut menyangkut asal daerah lagu Turang yang oleh salah satu peserta dinyatakan berasal dari daerah Tapanuli dan Bung Koes Hendratmo yang bertindak sebagai pembawa acara membenarkannya.

Lagu tersebut bukan berasal dari daerah Tapanuli tapi dari daerah Tanah Karo.

Untuk pembina acara ini saya sarankan untuk dapat lebih mengenal keragaman dari suku-suku yang mendiami bumi Indonesia tercinta ini, sehingga kesalahan seperti itu tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

Tiarta Sebayang, SE
Dept. Keuangan
Jakarta


#surat senada juga dikirim oleh Suang Karo-Karo yang beralamat di Jl. Ampera Raya, Cilandak III, Jakarta Selatan.

Tulisan ini juga dapat dibaca dalam buku “Mengenal Orang Karo” yang disusun oleh Roberto Bangun. Buku “Mengenal Orang Karo” adalah cetakan pertama (1989). Dan dicetak ulang tahun 2006 dengan merevisi judul menjadi “Mengenal Suku Karo.”

15 September 2013

Si Rindu Tubuh (bagian 2)


ilustrasi
Het meer Lau Kawar aan de voet van de vulkaan Sinabung
Date : 1910-1925
Source: Tropenmuseum


Bapa nguda si mangku kerajaan sitik pe la nai pang ngerana. Ije nterem kel jelma, enggo bagi lembu iadu e ndahi sapo si Rindu Tubuh ibas kerangen. “Duana ko ibunuh kami, perban engko enggo sumbang, maka reh kelegon ndekah, lau i sumbul pe enggo kerah, senduduk la nai pang erpucuk, ndukur pe lanai pang tekukeru, rubia-rubia kami pe i mbal-mbal mbue enggo maten.”

“Ola kami ibunuh kam, adi udan kin atendu banci ibahan kami,” nina si Rindu Tubuh si dilaki.

“Bahan dage udan, adi la kari udan, mate nge engko ibahan kami,” nina si nterem.

E maka idilo si Rindu Tubuh si dilaki udan, minter erkata lenggur, kilap sagan sumagan, angin marginja-ginja. Nusur me udan meder kal. Udan si lalap. Pelangkah babi ibas kesain pe enggo keri mombaken. Babi ras biang, manuk ras itik, lembu, kuda ras kerbo reh buena maten ibahan udan si la erngadi-ngadi.

Mulihi ka kalak merawa man si Rindu Tubuh. “Bunuh si Rindu Tubuh, ibahanna udan la erngadi-ngadi, angina meter si lalap, lenggur la erngadi-ngadi, kilap lalap sagan sumagan, enggo melala mombak lembu, kerbo, kuda, babi, biang, saponta pe enggo melala runtuhen,” nina kerina ginemgem.

Ersada arihna kerina munuh si Rindu Tubuh. “Ibunuh ko duana, perbahananmu udan la erngadi-ngadi, rumah kami runtuhen, ibahan ko angin kaba-kaba!” nina kerina ginemgem nterem rehen.

“Adi kutera pe la sikap, bunuh gelah aku, adi lego, ibahan ko lego nindu kerina, adi reh udan, perbanmu maka mombaken rubia-rubia kami, runtuhen rumah kami nindu,” nina si Rindu Tubuh si dilaki, sitik pe la ia erlawan.

E maka ibunuh si nterem si Rindu Tubuh si dilaki. Kenca ia mate ibunuh, minter kal ngadi udan, anginna marginja-ginja pe ngadi, lenggur ras kilap sumagan pe ngadi.

Muatna ngkeriken kesahna, ngerana sekali nari si Rindu Tubuh si dilaki, nina, “Adi banci turangku nguda e ola ibunuh, sabap ia pagi mereken tawar tulbas man bandu kerina. Mayatku padi kuburken ibas uruk-uruk pintu-pintu kuta, gelah kuidah kal rusur turangku e erdalan arah dalan e muatna ku juma ras muatna ku rumah.”

14 September 2013

Si Rindu Tubuh

ilustrasi
Karolanden.Een kind met zilveren sieraden, Karolanden.
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)
Ibas turin-turin enda, maka turiken, lit me sada kerajaan mbelin, gelarna Kerajaan Negeri Benua Ketengahen. Kerejaan enda she kal belangna. Mehaga dingen termulia kal rajana ku si belang-belang pertibi enda. Kata raja, kata gung, mbiring nina si mbentar e pe mbiring, janah si mbentar e pe adi mbiring nina si bentar e pe mbiring, bagem masinna sorana. Aminna bage pe beluh kal ia ngaturken ginemmenna. Bagem dalanna maka kerina ginemgemna banci iaturkenna.  Page si nisuan kerina turah mehumur. Manuk pe merih kerina iasuh ginemgem.  Iakap ginemgem erkiteken raja sangap. Aminna gia si mbiring nina mbentar, si mbentar nina mbiring, tapi si tuhuna, keleng kal nge atena ginemgemna, sabap labo enggo mbentar nina si mbiring, janah labo enggo mbiring nina si mbentar.

Enggo ndekah raja erjabu ras kemberahen. Kemberahen pe ikut rusur man penggurun ginemgem. Ibas sada paksa, kenca enggo ndekah erjabu raja ras kemberahen, maka mehuli me kula kemberahen. Raja ras kemberahen meriah kal ukurna. Janah ginemgem pe kenca ibegina berita bage, meriah ka kal kerina ukurna. Tapi ibas paksa kemberahen natang tuah e, reh tahun si ago-ago. Reh me kelegon. Kerah me bulung-bulung i kerangen ras dukut-dukut i mbal-mbal. Bulung senduduk pe enggo kerah. Lau si kitik pe enggo kerah. Lau si mbelin enggo kitik. Kirik ras saringgupgup pe enggo mangani page. Asuh-asuhen i mbal-mbal pe enggo melala mate. Ndukur pe la nai pang tekukeru. Terbangun pe la nai turah. Ijem paksana kemberahen mupus. Mupusken anakna si ntua dilaki, janah si nguda diberu. Rindu.

Isuruh raja me idilo guru si beluh niktik wari si telu puluh, si ngeteh katika si mehuli entah pe jahat, guru si beluh ngenehen retak seribu kerna nasip jelma manusia. Nungkun entah kuga denggo pergeluh anak si mbaru tubuh enda.

Kenca itiktik guru warina tubuh rikut pe penerangna, maka nina guru man raja, “O rajangku, maka ngikutken kata wari rasa katika penerangna tubuh, maka ngikutken pemetehku rasa kata pustaka na jati, maka anak enda tubuh ibas wari tula, penerangna erpagi-pagi, katikana pe katika gang-gang. Ia pagi ernande empat berngi, janah er bapa ualuh berngi.” Megi kata guru enda, nembeh kal ate kalak kerina. Janah iukurken kalak maka guru enda ibunuh. Je nina guru terdauhen, “Warina wari mbelin rajangku, la lit jelma pang isenggangkenna. Si dilaki melas bagi rara api, tapi si diberu rajangku mbergeh, malem kalak si bangger ideherina. Tapi duana pagi ia erbaba ate mesui, o rajangku.”

12 September 2013

"Karomergana" oleh Henry Guntur Tarigan (1958)

Saat itu di tahun 1958, seorang mahasiswa jurusan bahasa bernama Henry Guntur Tarigan dengan berani melakukan suatu koreksi atas buku “Adat Istiadat Karo” karangan P. Tambun mengenai ungkapannya bahwa Suku Karo berasal (turunan) dari Batak Toba dari sudut Etimologi bahasa berjudul “KAROMERGANA” (Majalah Bahasa dan Budaya Tahun ke VII No. 1/1958, Jakarta). Berikut tulisannya :

“KAROMERGANA”
oleh Henry Guntur Tarigan

Di Seribu Dolok pernah saya lihat sebuah oto gerobak (Vrachtauto) sedang berhenti di simpang empat. Pada dinding gerobaknya tertulis huruf besar-besar Karomergana. Apakah gerangan arti merek itu? Bagaimana oto gerobak itu bernama (merek) demikian? Hal ini barangkali dapat diselidiki dan dipandang dari sejarah setempat; penyelidikan itu mungkin ada manfaatnya.

  1. Karomergana terdiri dari : Karo + merga + na oleh P Tambun dalam bukunya Adat Istiadat Karo, Balai Pustaka no. 1872 halaman 64-65 menuliskan; Adapun dalam tulisan (huruf Batak)  huruf pertama ialah ho, artinya awal. Ada orang menerangkan bahwa perkataan Karo berasal dari pada kata haroh, artinya pertama datang (ha  = pertama, roh = datang). Kemudian perkataan haroh berubah menjadi Karo. Agaknya (pasti!) P. Tambun  sudah di ikat erat-erat oleh suatu paham, yang mengatakan bahwa suku Karo itu, berasal (turunan) dari Suku batak Toba. Kata-kata ha dan roh itu adalah bahasa Toba, bukan bahasa Karo. Tentang manakah lebih tua, bahasa Karo ataukah bahasa Tobakah, sangat sulit menyelidikinya.

Tapi mari kita kutip apa kata R. Brandstetter, Ph.D.  dalam bukunya “Root and World” dibawah no. 19 tentang bahasa Karo yaitu : ……terutama bahasa Karolah yang masuk bahasa-bahasa yang dimaksudkan itu. Bahasa itu tak banyak berubah sehingga belum terasing dari bahasa Indonesia asli. Hal ini nyata benar jika kita bandingkan bahasa Karo dengan bahasa Toba yang erat bertali padanya (kursif dari Henry Guntur Tarigan). Bunyi e asli Indonesia masih terdapat dalam bahasa Karo, tetapi menjadi o dalam bahasa Toba.

  • Bunyi k asli Indonesia masih terdapat dalam bahasa Karo, tetapi menjadi h dalam bahasa Toba
  • Bunyi h asli Indonesia masih terdapat dalam bahasa karo, tetapi aneh hilang dalam bahasa Toba.

Semua hukum itu dapat diterangkan benar dengan contoh yang berikut : kata Indonesia asli kesah  (bernafas….engah-engah) yang terdapat juga dalam bahasa Melayu, Gayo, dsb, tetap merupakan kesah dalam bahasa Karo, akan tetapi menjadi hosa dalam bahasa Toba. Di sini nampak pertentangan-pertentangan yang menyolok mata. Mari kita perhatikan pertentangan itu :

ha menjadi ka, aturan ka menjadi ha
roh bahasa Toba = reh bahasa Karo

06 September 2013

Masri Singarimbun : Karo adalah Karo, bukan Batak Karo


Isi surat balasan yang dikirim oleh Prof. Masri Singarimbun kepada Roberto Bangun yang ditulis pada 20 Mei 1989 yang dimuat dalam buku Mengenal "Orang Karo” yang disusun oleh Roberto Bangun. Berikut isinya:

20-5-1989        
Si mehamat
Roberto Bangun
Jl. H.A. Latief no. 5 Rt. 012/06
Karet Tengsin
Tanah Abang
Jakarta Pusat 10220

Mejuah-juah,

Suratndu enggo kualoken alu meriah ukur. Ngoge suratndu tempa-tempa kita lenga pernah jumpa, tapi kuakap enggo kita jumpa.

Surat enda gendek-gendek saja perbahan sangana sibuk kel aku.

Kerna sejarah gelar Karo ras Batak la bo lit informasi terdauhen ibas aku nari. Keterangen si lit saja ipake.

Adi inehen Ensiklopedi Indonesia ras buku R. Kennedy, Bibligraphy of Indonesian Peoples and Cultures, ije teridah makana Batak merupakan kelompok suku bangsa. Bali ras sebuten Dayak. Tersurat ibas Ensiklopedi Indonesia kerna bahasa BATAK…terbagi dalam logat khusus, y.i. logat Angkola, Karo, Toba, Dairi, Simalungun dan Mandailing.

Ibas buku karangen Dr. Voorhoeve: A critical survey of the languages of Sumatra, bahasa Toba ras bahasa Karo merupakan dua bahasa yang berbeda. Jadi la nai bo perbedaan dialek. Bahasa Karo deheren ku bahasa Alas asangken ku bahasa Toba. Adi nandenta ngerana ras sada pernanden i Teba nari, la bo siangkan. Adi jumpa kalak Inggeris ras kalak Amerika siangkan nge ia perbahan sada bahasa tapi lain dialek.

Genduari Batak mempunyai asosiasi yang sangat kuat dengan Toba. Batak e eme kap Toba. Dengan Toba bahasa Karo berbeda, kesenian berbeda, pakaian adat berbeda, janah mbue si debanna berbeda. Aku pribadi setuju ras Djamaludin Tarigan makana Karo adalah Karo, bukan Batak Karo. Enda persoalan sikap, ngidah situasi si genduari.

Bagem ibas aku nari, lain berita mejuah-juah.

Ibas aku nari,
dto
Masri Singarimbun

Sawitsari C-8
Yogyakarta 55283


31 August 2013

Hans Westenberg

Gambaran Ringkas tentang keluarga Westenberg

Ditulis oleh Juara R. Ginting 

Pada tahun 1904, Belanda mencaplok 'Simalungun en Karolanden' sebagai bagian 'De Resident van Ooskust van Sumatra' (Provinsi Pantai Timur Sumatra) yang beribukota di Medan. 'Simalungun en Karolanden' dipimpin oleh seorang controleur dengan ibu kota Seribu Dolok. Sebelumnya, daerah Simalungun dan Karo ini disebut dalam laporan-laporan Belanda dengan istilah Zelfstandige Bataklanden (Batak Berdiri Sendiri/Batak Merdeka) karena dianggap bagian wilayah Bataklanden tapi tidak termasuk 'De Resident van Bataklanden' atau nanti bernama De Resident van Tapanoeli.

Yang dikatakan 'Simalungun en Karolanden' sebenarnya terbatas pada Simalungun Atas dan Karo Gugung. Simalungun Bawah dan Karo Jahe telah duluan menjadi bagian 'De Resident van Ooskust van Sumatra'. Sebagian Simalungun Bawah dianggap bagian dari Sultan Asahan dan sebagian lainnya bagian Sultan Serdang. Sebagian Karo Jahe dianggap bagian Sultan Langkat dan sebagian lainnya bagian Sultan Deli dan Sultan Serdang.

Pencaplokan Simalungun Atas dan Karo Gugung berkaitan erat dengan perlawanan Datuk Sunggal terhadap perusahaan perkebunan asing di daerah Karo Jahe yang mendapat dukungan dari pemuda-pemuda Karo Gugung. Pada tahun 1902, Datuk Sunggal tertangkap di hutan Nang Belawan (tetangga kampung Lingga). Lingga pecah dua. Satu memihak Belanda dan menunjukan kepada Belanda tempat persembunyian Datuk Sunggal. Satu lainnya marah. Mereka membakar rumah-rumah mereka (rumah adat) dan mengungsi meninggalkan Lingga.

Sebelum pencaplokan Simalungun en Karolanden, ada lembaga yang disebut Urusan Batak Merdeka yang dipimpim oleh C.J. Westenberg. Ketika Simalungun en Karolanden dicaplok, Westenberg ini diangkat menjadi controleur Simalungun en Karolanden. Dia beristerikan Si Negel br Sinulingga, putri dari Sibayak Gunung Merlawan (Urung Serbanaman Sunggal).

Nantinya, Simalungunlanden dan Karolanden dijadikan di bawah pemerintahan 2 controleur. Controleur van Simalungunlanden berkedudukan di Seribu Dolok, dan controlur van Karolanden di Kaban Jahe. C.J. Westenberg menentang pemekaran ini karena, menurutnya, Karo dan Simalungun secara tradisional tak mungkin dipisahkan. Menarik juga argumennya dan sangat antropologis. Bila Simalungun dipisah dari Karo, di mana lagi taneh kalak Tarigan (?), katanya. Juhar? Itu memang kerajaan Tarigan (Sibero), tapi Taneh Juhar adalah Taneh Kalak Ginting Munte, katanya. Kalo tak punya taneh panteken, tak sah menjadi bagian society (Karo). Memisahkan tanah dari kedua suku ini berarti menghancurkan society mereka (society harap dibaca bukan kumpulan manusia tapi sebuah sistim yang mengatur hubungan antara manusia). Ambtenaar yang sangat antropologis, begitulah kesan-kesanku ketika minggu lalu membaca surat-surat pribadinya di rumah cucunya di Den Haag.

Westenberg tak terbentuk. Dia terus mengkritik pemerintahnya. Akhirnya, dia dipromosikan menjadi resident (baca: gubernur) Tapanuli. Selama jadi gubernur dia sering berkunjung bersama istri dan anak-anaknya ke Tongging (dia bermerga Ginting Munte Tengging), Dokan (panteken Ginting Munte Ajinembah) dan Kabanjahe. Karena itu, orang-orang Karo menyebutnya Tuan Siboga. Belum setahun dia menjadi gubernur, seperti Multatuli yang juga tak tahan atas perlakuan pemerintahnya, Westenberg mengundurkan diri dan kembali ke Den Haag membawa anak-anak dan istrinya si Negel.

Tak sampai 20 tahun kemudian, dia meninggal dunia dalam usia sekitar 50 tahun. Si Negel pulang ke Kabanjahe bersama seorag putranya Hans Westenberg yang nanti mendapatkan penghargaan Magsasay (hadiah nobel tingkat Asia) atas jasa-jasanya di bidang pertanian/ pengadaan pangan.




(Honoring greatness of spirit and transformative leadership in Asia)


Westenberg, Hans | BIOGRAPHY

HANS WESTENBERG was born on October 27, 1898 in the village of Bangoen Poerba, about 30 kilometers from Medan, North Sumatra, Indonesia, which was then known as the Netherlands East Indies. His father Carel Johan Westenberg, was a Controller in the Netherlands civil service who had been posted to Sumatra in 1892 to bring the Batak tribes under Dutch administration. His mother, Negel Sinulingga, was the daughter of the Sibayak of Lingga, the primary rajah of the Karo Bataks of the high lands. She contributed to her husband's career by helping persuade the Batak hereditary chiefs to accept Dutch rule. When her husband was decorated by the Netherlands government for this work, she was presented to Queen Wilhelmina, the first Indonesian lady so honored.

HANS was the youngest of four, two boys and two girls. When he was five his father was promoted to Assistant Resident at Seribou Dolok near Lake Toba in the North Sumatra Karo Highlands. Here HANS had a Dutch tutor who also taught his mother in the Dutch language Two years later, at age seven, he was sent to Holland to live with relatives of his father and attend the Deventer primary school.

His father rose to the rank of Resident with his appointment as Head (Governor) of the Bataklanden in Sibolga, Sumatra but, not agreeing with the Dutch administration, was pensioned early and returned to Holland. He established his family at The Hague where HANS joined them to attend secondary school. After graduation he entered the University of Leyden where for two years he studied for the civil service taking courses in agricultural economics, community development, health, the Indonesian language, and law. His father died while he was at the university and HANS decided to forego further studies and return to Indonesia. He celebrated his 21st birthday aboard ship.

His father's brother, who was general manager of the two largest Dutch rubber and coffee companies, arranged a job for him on his arrival. Because his brother was already with Rubber Cultuur Maatschappy Amsterdam, HANS asked for another company and was assigned to Rubber Cultuur Maatschappy Serbadjadi. In November 1919, as an assistant manager at this company's estate Serbadjadi, some 50 kilometers from Medan, HANS WESTENBERG started his agricultural career.

15 August 2013

Dokan




 Dokan c. 1903 - 1920

Charles KLEINGROTHE
Germany, Photographer

Movements: worked Singapore 1889 worked Indonesia 1889-c.1925

J.B OBERNETTER MÜNCHEN
Printmaker


Source : National Gallery of Australia