17 October 2013

Bambang Ginting : Di Surabaya Tidak Ada Penari


“Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja ucapan Bambang Ginting ini membuat banyak orang kebakaran jenggot. 
Bambang Ginting  (4 Maret 1959 - 9 September 2003)
Seniman Tari : Bambang Ginting

Bernama asli Bambang Haryanto Ginting. Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 4 Maret 1959, ia merupakan jebolan Jurusan Tari Fakultas Kesenian Institut Kesenian Jakarta, program Tari Studi Dasar (D3). Beberapa karya tari yang pernah diciptakannya antara lain ‘Langen Roso’, ‘Ujungan’ (1979), ‘Reinkarnasi’ (1980), ‘Garis I’ dan ‘Garis II’ (1983), ‘Maria Magdalena I’, ‘Rabuni’, ‘Maria Magdalena II’ (1984), ‘Langgam Jakarta’, ‘Talenta’ (1985), ‘Manunggal’, ‘Sodoran’ (1986).

Ketika kembali ke Surabaya tahun 1986, ia memiliki paradigma yang berbeda dengan rata-rata koreografer Jawa Timur waktu itu. Kedekatannya dengan Afrizal Malna, Boedi Otong, Taufik Rahzen, Farida Faisol dan tokoh-tokoh lainnya, membuatnya lebih ‘menasional’ dalam memahami dunia tari. Bahwasanya seorang penari, katanya, harus memiliki kemampuan olah tubuh, bukan sekadar menari dengan hitungan 1 (satu) sampai 8 (delapan). Kredo itulah yang kemudian dipertegas lagi dalam ceramah tarinya di Galeri DKS tahun 2002. Namun, Apa yang disuarakannya soal olah tubuh tersebut, harus diakui masih belum banyak ditiru oleh penata tari Jawa Timur.

Gebrakannya di dunia tari di Surabaya juga terbilang sangat berani, Ketika Surabaya belum ramai festival tari, ia telah memulai dengan Festival Karya Tari selama seminggu di LIA (sekarang PPIA). Ia juga mengeluarkan pernyataannya bernada keras waktu itu, “Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja membuat banyak orang kebakaran jenggot. Langkahnya tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1992, ia kembali menggelar Surabaya Festival ‘92 di Hyatt Regency Hotel selama 4 bulan. 

Sekali lagi, lepas dari sikap-sikapnya yang sembrono soal finansial, ia adalah sosok organiser seni yang profesional. Diskusi kecilpun ditangani sangat rapi. Diskusi-diskusi kesenian yang serius digelar di hotel mewah itu, disaat kalangan seniman Surabaya masih minder untuk masuk ke hotel mewah bintang lima Hyatt Regency ketika itu. Selain itu, pada tahun 1990, ia juga menggarap koreografi ‘Penalti’ dari Jawa Timur yang merekrut banyak pekerja tari dan teater untuk tampil di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Ini juga menjadi catatan tersendiri, tentang apa yang ia lakukan terkadang masih sulit dilakukan oleh koreografer Jawa Timur pada waktu itu.

Selain aktif di dunia tari, ia juga bergelut di dunia teater. Ia tercatat melahirkan Teater Api Indonesia (TAI). Kiprahnya yang ingin memajukan teater di Surabaya, juga ditunjukannya dengan cara memprovokasi Teater Surabaya Telah Mati dalam diskusi teater di TBJT tahun 1986. Meski banyak kekurangan pada dirinya, namun jasa dan prestasi serta dedikasinya terhadap dunia kesenian di Surabaya (Jawa Timur) juga harus diakui tersendiri. Tubuhnya yang tambun, bicaranya yang sangat meyakinkan, kreativitasnya yang cemerlang, menjadikan lelaki yang kerap berpenampilan sederhana ini masih belum tergantikan posisinya hingga sekarang.

Sungguh ironis, ketika dunia kesenian Jawa Timur masih membutuhkan tangan dinginnya, berulang kali ia harus terjerembab dalam kasus demi kasus yang membuat orang mengurut dada. Banyak orang mengakui kehebatannya dan sekaligus menyayangkan prilakunya. Ia pernah di vonis pengadilan di Banyuwangi, Jawa Timur. dengan hukuman 3 bulan penjara karena kasus penipuan armada taksi. Tapi barangkali memang itulah dua sisi dalam satu mata uang yang sama yang melekat sebagai citra dirinya.

Pria yang menetap di Surabaya ini wafat di Banyuwangi, Jawa Timur, 9 September 2003. Menikah dengan Ngesti Wiludjeng yang berprofesi guru Geografi di SMA Ta'miriyah, dikaruniai seorang Puteri bernama Wanidya Minola Ginting. Namun Wanidya Minola Ginting  menjadi korban pembunuhan di tempat tinggalnya di Apartemen Green Park View, Cengkareng (Jakarta Barat). Ditemukan tewas pada tanggal 13 Maret 2013.




Soeparmin Ras atau yang juga biasa di panggil Parmin Ras

Posted on 08/10/2007 by henrinurcahyo

PADA suatu ketika, seorang Parmin RAS menggelar pertunjukan Metamorfose Daun Batu untuk mengenang kepergian Bambang Ginting. Mengapa Ginting harus dikenang? Bukankah sosok lelaki itu penuh dengan “kasus” yang membuat banyak orang sakit hati? Barangkali, karena dia sudah meninggal dunia, jasa dan kenangan baiklah yang memang seharusnya dikedepankan. Dan seorang Bambang Ginting, harus diakui, pernah menorehkan prestasi tersendiri dalam dunia tari, teater dan even kesenian yang hingga sekarang belum tertandingi.


Mungkin Parmin lebih bernuansa emosi pribadi ketika pertunjukan “setengah jadi” yang dipersiapkan untuk acara di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta itu lantas dimunculkan dalam pertunjukan di Taman Budaya Jatim (TBJT). Diam-diam antara Parmin dan Bambang Ginting sesungguhnya berada dalam posisi saling mengagumi etos kerja masing-masing.

Bagi Parmin, mungkin sosok Ginting adalah pekerja seni yang serius, tekun dan profesional, lepas dari sifat spekulasinya yang membuat sport jantung. Sementara bagi Ginting, Parmin adalah seniman otodidak yang potensial dan memiliki masa depan yang bagus. Sekadar contoh, ketika dilangsungkan Parade WR. Supratman 1995 di Balai Pemuda, yang menampilkan banyak koreografer dari berbagai kota (termasuk Boi G. Sakti), dengan tegas Ginting memberi kesaksian, bahwa semua pertunjukan tari tersebut nyaris tidak ada apa-apanya. “Untung ada Parmin,” itulah judul artikel Ginting di Surabaya Post.

Sebagai jebolan jurusan tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ketika kembali ke Surabaya tahun 1986, Ginting memiliki paradigma yang berbeda dengan rata-rata koreografer Jawa Timur waktu itu. Kedekatannya dengan Afrizal Malna, Boedi Otong, Taufik Rahzen, Farida Faisol dan tokoh-tokoh lainnya, membuatnya lebih “menasional” dalam memahami dunia tari. Bahwasanya seorang penari, katanya, harus memiliki kemampuan olah tubuh, bukan sekadar menari dengan hitungan 1 (satu) sampai 8 (delapan). Kredo itulah yang kemudian dipertegas lagi dalam ceramah tarinya di Galeri DKS tahun 2002.

Dengan demikian, bisa dipahami mengapa Ginting mengagumi sosok Parmin Ras, yang menapak karier tarinya tanpa harus menjejakkan studi di perguruan tinggi (meski sekejap pernah di STKW). Parmin adalah sosok koreografer yang menganut kredo sebagaimana dikatakan Ginting tersebut. Parmin rela dicemooh, disikapi sinis oleh para akademisi tari yang menyebutnya “memang tidak bisa menari”. Toh kemudian sejarah membuktikan, bahwa dengan tarian tanpa hitungan 1-8 itulah Parmin justru laris ditanggap keliling Inggris dan Prancis selama berbulan-bulan dalam beberapa tahun terakhir ini. Sang penjual gado-gado itu telah membuktikan dirinya sebagai orang yang diperhitungkan dalam festival-festival eksklusif di Eropa.

Sebagai koreografer, Parminlah yang mempopulerkan apa yang kemudian disebut Teater Tari di Jawa Timur. Sementara Ginting yang berlatar belakang akademis tari, justru tidak menyentuh tari sama sekali ketika dia melahirkan Teater Api Indonesia (TAI) yang masih eksis hingga sekarang. Waktu itu, orang lantas menuduh Ginting mengekor Teater SAE yang ditrapkan dalam TAI, padahal orang juga tak tahu persis kredo SAE yang sebenarnya. Soal ada pengaruh, itu wajar saja, karena konsultan teks teater yang digunakannya dari Afrizal Malna, sama dengan yang dilakukan Boedi Otong.

* * *
KETIKA Surabaya belum ramai festival seperti belakangan ini, Bambang Ginting telah memulai dengan Festival Karya Tari selama seminggu di LIA (sebelum berganti nama PPIA, waktu itu masih di) Jl. Dr. Soetomo. Pernyataannya waktu itu, “Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja membuat banyak orang kebakaran jenggot. Bahkan, tahun 1992 dia sudah menggelar Surabaya Festival ‘92 di Hyatt Regency Hotel selama 4 (empat) bulan. Prestasi ini tak bisa ditandingi oleh Cak Kadar sekalipun. Sekali lagi, lepas dari sikap-sikapnya yang sembrono soal finansial, Ginting adalah sosok organiser seni yang profesional. Diskusi kecilpun ditangani sangat rapi. Diskusi-diskusi kesenian yang serius digelar di hotel mewah itu, sementara kalangan seniman Surabaya masih minder untuk masuk ke hotel mewah bintang lima Hyatt Regency.

Masih terbayang dalam ingatan, betapa sebuah kelompok Orkestra Musik Klasik dari Chekoslovakia didatangkan ke Surabaya, sampai-sampai GM Hyatt tergopoh-gopoh menjemput Dubes Cheko di bandara Juanda dengan sedan mewah eksklusif. (Belakangan Ginting baru sadar, bahwa sosok Dubes identik Presiden di negaranya, hn). Made Wianta pameran tunggal di Hyatt, juga Bagas Karunia Putra, Bagong Kussudiarjo dan Lini Natalini. Meskipun, inilah kelemahannya, ketika memamerkan Masmundari kemudian berbuntut masalah (apalagi kalau bukan soal) keuangan.

Apa yang disuarakan Ginting soal Olah Tubuh di atas harus diakui masih belum banyak digubris oleh penata tari Jawa Timur. Paling-paling Parmin yang setia dengan tuntutan yang esensial bagi pekerja tari tersebut. Atau, kemudian diikuti oleh Herry Lentho, yang juga mengibarkan bendera teater-tari, serta beberapa nama lagi yang melakukannya secara sporadis. Sementara banyak koreografer yang masih sibuk menghitung 1-8, sibuk menggarap karya-karya pesanan, dan karya mereka tidak banyak bicara apa-apa. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang.

Tahun 1990, Bambang Ginting bahkan menggarap koreografi Penalti dari Jawa Timur yang merekrut banyak pekerja tari dan teater untuk tampil di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Ini juga catatan tersendiri yang sulit dilakukan koreografer Jatim waktu itu. Dan orang juga mengakui perihal kewibawaan GKJ.

Terus terang, memang banyak orang yang tidak suka dengan sosok Bambang Ginting, namun dalam kesempatan yang sama diam-diam banyak seniman yang sebetulnya ingin ditangani oleh Ginting. Teater API telah ditinggalkannya, meski disayangkan penerusnya justru menolak figur sutradara tunggal yang sesungguhnya menjadi think tank sebagaimana peran Ginting. Sampai sekarang, TAI harus mengakui jasa Ginting, dan karena dialah kelompok teater itu diakui, karena sepeninggal Ginting TAI belum mencetak prestasi yang berarti.
Dunia tari di Surabaya memang harus digebrak, juga teater, agar tidak hanya sibuk dalam riak-riak kecil tanpa berhasil mencetak karya besar yang fenomenal. Kesemarakan teater di Surabaya antara lain juga karena jasa Ginting, yang pernah memprovokasi “Teater Surabaya Telah Mati” dalam diskusi teater di TBJT tahun 1986. Jujur saja, teater manakah yang masih layak dibanggakan sekarang ini di Surabaya? Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang masih berdenyut dan berkelana ke beberapa negara sebetulnya bukan lantas menjadi parameter prestasi.

Parmin Ras masih terus berproses, memilih pentas dan mencari pengakuan di luar negeri, sebelum akhirnya dipandang keberadaannya di negerinya sendiri. Pentasnya kali ini di TUK setidaknya menjadi bukti prestasi Parmin, karena orang seni pasti tahu standar kualitas yang layak pentas di TUK. Memang ini penyakit, kalau mancanegara sudah mengakui, baru kita sendiri mengekor mengakuinya. Dan yang harus dicatat, Parmin tampil di mancanegara bukan dalam konteks festival Pasar Malam atau sekadar meramaikan misi perdagangan.

* * *
BAGAIMANAPUN cacat seorang Bambang Ginting memang cukup besar, namun dalam satu helaan nafas yang sama, jasa dan prestasi serta dedikasinya terhadap dunia kesenian di Surabaya (Jatim) juga harus diakui tersendiri. Tubuhnya yang gendut, bicaranya yang sangat meyakinkan, kreativitasnya yang cemerlang, menjadikan lelaki kelahiran 4 Maret 1959 ini masih belum tergantikan posisinya hingga sekarang.

Sungguh ironis, ketika dunia kesenian Jatim masih membutuhkan tangan dinginnya, berulangkali Ginting harus terjerembab dalam kasus demi kasus yang membuat orang mengurut dada. Banyak orang mengakui kehebatannya dan sekaligus menyayangkan prilakunya. Tapi barangkali memang itulah dua sisi dalam satu mata uang yang sama yang melekat sebagai citra dirinya.

Betapa mengenaskan, ketika vonis pengadilan di Banyuwangi menghukumnya 3 (tiga) bulan karena kasus “penipuan” armada taksi, Bambang Haryanto Ginting harus pergi untuk selama-lamanya pada malam hari, tanggal 9 September 2003. Ibarat pepatah klise mengatakan “tak ada gading yang tak retak”, maka Bambang Ginting memang sebuah gading yang retak. Tapi setidaknya, dia telah berhasil menjadi gading dalam dunia kesenian. (***)

Penulis : Henri Nurcahyo, Pengamat Seni, tinggal di Sidoarjo.

 Teater Api Indonesia "Metafora dari Sebuah Koran Pagi" 
Sutradara Bambang Ginting (1993)

No comments:

Post a Comment