29 October 2013

Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengenai Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701

Ini adalah halaman pertama dari dokumen asli.  Koleksi Arsip Digital.
Sumber Arsip, ANRI HR 2521, fols 113-114.
Sumber tulisan : Arsip Nasional Republik Indonesia

DARI: CATATAN HARIAN KASTIL BATAVIA, 1 MARET 1701 [MULAI FOL. 113.]

Kita telah minta keterangan dari orang Cina yang kemarin dulu tiba dari Pantai Barat Sumatra dan sudah tinggal untuk beberapa waktu lamanya di pegunungan Angkola, dan hari ini apa yang telah dituturkannya itu dicatat di Sekretariat Jenderal, seperti yang dapat dibaca dalam tulisan berikut ini.

Hasil pemeriksaan orang Cina ’t Singko, yang baru saja tiba dari Baros lewat Padang dengan kapal jenis “chialoup” milik seorang Cina Thieko, yang mengatakan sebagai berikut ini.

Bahwa sepuluh tahun lalu dia menumpang kapal yang dinakhodai oleh seorang Cina bernama Khintsijko, dan berlayar dari tempat ini ke Malaka dan dari sana ke Pande yang terletak di sekitar Dilly; di tempat tersebut, nakhoda kapal menjual barang-barang dagangannya kepada penduduk Melayu, dan sesudah itu berlayar pergi tanpa membawa serta orang yang sedang ditanyai itu, yang bermaksud tetap tinggal di Pande dan mencari nafkah di sebuah dusun kecil.

Kemudian dia pergi ke Pande, di tempat itu dia membeli sedikit garam untuk menambah beberapa mangkuk tembaga dan kain biru yang dibawa, dan dari sana bersama beberapa kuli angkut dia pergi melalui jalan darat ke daerah Bata yang letaknya sekitar 10 hingga 11 kali hari perjalanan dari Baros, dan di sana dia menukarkan atau memperdagangkan barang-barangnya dan mendapatkan kemenyan [Benzoin] dan bahan lilin, dan kemudian dia kembali ke Pande dan di sana menjual barang-barang tersebut dan mendapatkan garam.

Dia juga bercerita bagaimana selama kurun waktu sepuluh tahun dia berdagang dan mencari nafkah dengan mondar-mandir dari dan ke dua tempat itu, dan sementara itu di antara penduduk setempat dia menjadi semakin dikenal, dan sesudah lima tahun di sana dia menikah sesuai adat kebiasaan setempat dengan seorang wanita Bata yang telah diberikan oleh orang tua wanita itu kepadanya dengan imbalan 50 ringgit, dan telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini berusia empat tahun.

Menurut orang Cina itu kendati penduduk Pande dan Bata sudah mendapatkan banyak pengalaman dan manfaat dari dirinya, mereka nampak seperti orang-orang liar yang hidup di pegunungan dan hutan, tetapi sejauh menyangkut kegiatan bercocok tanam mereka melakukannya secara teratur dan seperti lazimnya dilakukan orang. Dan mereka juga hormat dan ramah terhadap orang asing yang jarang dijumpai di daerah mereka, khususnya orang Eropa yang sudah beberapa tahun tidak mereka temui; mereka juga tidak bermasyarakat dengan orang-orang Melayu yang tinggal di dataran rendah karena mereka tidak beragama Islam.

Mereka suka makan daging babi yang untuk mereka merupakan makanan enak dan mereka juga mempunyai cukup banyak beras, dan padi itu mereka tanam setiap tahun pada musim yang tepat dan hasilnya dapat memenuhi kebutuhan penduduk di kawasan tersebut yang jumlahnya cukup banyak, dan mereka memiliki lahan beberapa are luasnya dan juga bertanam sayur mayur yang juga merupakan bahan makanan mereka.

Mereka juga makan daging manusia, tetapi yang dimakan hanyalah orang yang berperangai buruk dan para penjahat; dan orang yang dimakan itu diikat tangan dan kakinya dan kemudian oleh 2 hingga 300 orang di hutan korban dipotong-potong dengan pisau menjadi potongan-potongan kecil, dan dengan masih berdarah daging itu disantap mentah dengan cabe hijau panjang atau [?] dan sedikit garam: yang tersisa adalah tangan dan lengan, dan juga jantung dan otak yang merupakan santapan lezat dan diperuntukkan bagi para raja, sementara kepala beserta telinga, hidung, lidah dan bagian tubuh di sekitar kepala diperuntukkan bagi para pembesar yang juga menyantapnya mentah-mentah dengan dibubuhi garam dan [?].

Pakaian mereka sama seperti yang dikenakan orang Melayu, dan lelaki serta wanitanya mengenakan sarung dengan baju panjang; tetapi dengan pengecualian bahwa para wanita yang masih gadis atau belum menikah, mereka mengenakan semacam jas tetapi wanita yang sudah menikah harus menanggalkan bajunya dan membiarkan seluruh dada mereka telanjang.

Selain bahan makanan, maka kawasan ini juga menghasilkan bahan lilin dan kemenyan [bezoin] yang mereka tukarkan dengan garam kepada tetangganya, karena garam tidak ada di kawasan Bata, dan garam dipergunakan juga sebagai mata uang dan orang Bata menggunakannya sebagai uang untuk berbelanja.

Menurut orang Cina tersebut, di kawasan itu tidak ada emas atau bahan galian lain, kendati mungkin ada tetapi karena para penduduk tidak pandai atau karena bodoh sehingga mereka tidak mengetahui tentang bahan-bahan itu.

Akhirnya orang yang ditanyai itu memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan kembali pulang, maka dia memberitahukan niatnya kepada para raja di sana dan para raja memberinya banyak beras dan sejumlah buah-buahan dan sayur mayur sebagai bekal dalam perjalanan ke Baros yang ditempuhnya bersama istri dan anaknya dalam sepuluh hari, kemudian ada sebuah kapal milik orang Cina bernama Thieko yang ada di pelabuhan Baros, dan dari sana bersama istri dan anaknya pada tanggal 27 bulan yang lalu dia tiba di sini setelah melewati Padang, dan bergabung dengan orang-orang sebangsanya dia mulai bercocok tanam dan mengerjakan berbagai kegiatan lain.

*******************

“Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengenai Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701”. Dalam: Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari Arsip VOC di Jakarta, dokumen 9. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013.

Kata Pengantar : DANIEL PERRET

Berita mengenai wilayah Provinsi Sumatra Utara sekarang, yang disampaikan oleh seorang Tionghoa kepada VOC di Batavia pada tahun 1701, merupakan salah satu laporan terawal oleh seorang yang jelas pernah tinggal di pedalaman wilayah tersebut.

Sejak abad ke-2 M, lewat tulisan Ptolemaeus, dan selama satu milenium, Sumatra bagian utara dianggap sebagai daerah berbahaya karena diduga dihuni oleh sejumlah masyarakat kanibal. Yang diketahui juga adalah bahwa wilayah itu kaya dengan kamper, khususnya yang diekspor sejak abad ke-5 atau ke-6 M, melalui sebuah tempat yang bernama Barus. Pada awal abad ke 13 M, Zhao Rugua mencatat sebuah negeri bernama Pa-t’a, di bawah kuasa Sriwijaya. Kaitan antara Pa-t’a dan Bata sudah diterima umum. Selain itu, Sejarah resmi dinasti Yuan (Yuanshi) mencatat kedatangan utusan dari Ma-da di istana maharaja Tiongkok pada tahun 1285. Sebenarnya suku kata ma diucapkan ba dalam dialek yang digunakan di bagian selatan Fujian, sehingga nama tempat ini mungkin dapat dikaitkan dengan Bata. Tetapi kedua sumber Tionghoa ini tidak mengaitkan nama negeri Bata dengan sebuah masyarakat kanibal.

Gambaran tentang populasi semakin jelas dengan persinggahan Marco Polo di bagian utara Sumatra tahun 1291. Ia adalah orang pertama yang mencatat kehadiran Islam dan juga pertentangan antara kaum minoritas Islam yang bermukim di kota-kota pesisir dan masyarakat mayoritas penganut paganisme, yang biadab dan sebagian kanibal, yang  tinggal di pegunungan dan belum dikenal dunia luar.

Pada abad berikutnya, terdapat semakin banyak catatan dari orang Barat atau Tionghoa. Data mengenai penduduk masih tetap sama, dengan tambahan informasi di sejumlah sumber mengenai adanya orang-orang bertato.

Nicolo de’ Conti tinggal selama setahun di kota Sciamuthera (Samudra) tahun 1430 dan menjadi orang pertama yang menyebut nama tempat “Batech” yang dikaitkan dengan sebuah populasi yang bersifat kanibal dan gemar berperang. Nama tempat ini ditemukan kembali pada awal abad ke-16 melalui Tomé Pires yang menyebut “seorang raja dari Bata” dalam laporannya Suma Oriental (1512-1515) yang terkenal. Anehnya, sumber-sumber Tionghoa zaman itu tidak menyebutkan adanya populasi kanibal dan hanya membedakan antara masyarakat beradat yang sama dengan masyarakat di Jawa dan di Melaka, dan populasi kasar yang tidak selalu orang gunung. Pires mencatat tiga tempat yang menjadi pusat aktivitas dengan pedagang asing di Pesisir Timur Laut, yaitu Bata (di selatan Pasai) dengan barang perdagangan utama rotan, Aru yang memiliki cukup banyak kamper dan banyak kemenyan, serta Arcat.

Nama suku “Bata” muncul berkat Fernão Mendes Pinto, (1509-1583) mungkin orang Eropa pertama yang pernah pergi ke pedalaman utara Sumatra dan meninggalkan jejak tertulis. Dalam karyanya berjudul Peregrinação, penjelajah Portugis ini di antaranya mencatat kunjungan duta “raja orang Bata” ke kapten Melaka yang baru, Pedro de Faria, tahun 1539. Mendes Pinto antara lain melaporkan bahwa raja ini penganut paganisme dan ibu kotanya bernama Panaju, tetapi sebagian dari tulisannya mengenai wilayah utara Sumatra kurang masuk akal. Mendes Pinto juga yang pertama mencatat adanya masyarakat “Aaru” di Pesisir Timur Laut Sumatra dan mengunjungi rajanya yang Muslim. Sekitar dua puluh tahun sebelumnya, Duarte Barbosa (1480-1521) sudah mencatat tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh orang-orang kanibal penganut paganisme. Nama suku “Batang” muncul dalam sumber-sumber Arab lima belas tahun sesudah kisah Pinto. Penyair dan sastrawan Turki Sidi ‘Ali Celebi tahun 1554 menyebut tentang pemakan manusia yang bermukim di bagian barat Pulau Sumatra.

Tahun 1563, Joao de Barros menggunakan kembali nama suku “Batas” dan menyebutkan bahwa masyarakat kanibal “yang paling liar dan paling gemar berperang sedunia” ini menghuni bagian pulau yang berhadapan dengan Melaka. Namun, sudut pandangnya mengenai geografi suku-suku hanya mengulang pandangan yang sudah berumur hampir tiga abad, yang menghadapkan kaum “Moros” (orang Islam), yakni orang asing yang datang untuk berdagang dan bermukim di daerah pantai, dengan kaum “Gentios” (penganut paganisme), penduduk asli pulaunya yang berlindung di daerah pedalaman.

Di antara peristiwa-peristiwa penting di daerah tersebut yang dapat kita yakini, dapat dikemukakan direbutnya pusat perdagangan Deli oleh Aceh tahun 1612 dan kemudian Aru tahun berikutnya. Deli, yang disebut Dillij, dalam dokumen yang dipresentasikan di sini, tidak lain daripada tempat yang akan menjadi pusat kesultanan Deli di Sumatra Timur Laut. Nama tempat ini masih digunakan sampai sekarang di wilayah Medan dengan Deli Tua dan Labuhan Deli.

Baru setelah direbutnya Melaka oleh Belanda tahun 1641, kita mendapatkan kembali informasi tentang hubungan perdagangan pantai timur Sumatra Utara dengan dunia luar dan khususnya hubungan erat tersebut khususnya terkait dengan sejumlah pelabuhan di pesisir barat Semenanjung Melayu, terutama Melaka.

Maka sumber daghregister menyebutkan bahwa bulan Juni 1642, Arent Pater pergi ke Deli dan kembali dengan membawa delapan budak dan 270 gantang beras. Saat itu, Deli dianggap kawasan berbahaya karena sungai-sungainya sempit dan karena  yang dihuni “orang-orang Batak” perampas (roofgierige Battaers). Selain itu, diketahui juga bahwa tahun 1644 sejumlah perahu berangkat dari Aceh menuju Perak dan singgah di Deli dengan muatan kain atau pakaian (cleden). Seseorang bernama Jooris Vermeeren yang singgah di Deli bulan Mei 1644 melaporkan bahwa tempat itu subur dan setiap tahunnya dapat memasok 300 sampai 400 last beras, delapan sampai sepuluh bahar lilin lebah, budak, kuda, serta sebahar kayu gaharu (agerhouwt). Ia juga membenarkan bahwa sebagian besar kain-kain berasal dari Aceh. Pada akhir tahun 1645, hubungan antara Deli dan Melaka tampak berjalan baik terbukti dengan panglima Deli mengirimkan seekor kuda sebagai hadiah kepada gubernur. Tahun 1648, sumber-sumber Belanda melaporkan bahwa sejumlah perahu meninggalkan Batavia menuju Deli dengan muatan kain atau pakaian dan garam. Tahun 1653, sumber Belanda juga mencatat kedatangan sebuah perahu bermuatan 40 lasten beras dari Deli. Tahun 1660-an, Schouten menyebut kota Dely Aru memiliki peran yang tidak begitu penting dalam perdagangan. Meskipun demikian, kain atau pakaian terus datang dari Aceh dan Batavia. Tahun 1670-an, Deli mengirim ke Batavia ikan (atau telur ikan) asin (gesoute vischkuyten), lilin lebah dan kacang, sebaliknya Batavia mengirim garam dan keramik. Tahun 1682, sebuah perahu berangkat dari Batavia menuju Deli melalui Melaka, dengan muatan antara lain besi bekas (oud ijser), tembaga, keramik, benang emas Tiongkok (Chinees goutdraat) dan tembakau (?) (tubacq) Tiongkok. Jadi nama Deli tidak asing bagi pihak VOC ketika menerima laporan daripada orang Tionghoa itu pada tahun 1701.

Dia juga menyebut sebuah tempat yang bernama Pande (atau Panda) di sekitar Deli. Bagi kami, Pande berbunyi seperti Panai yang merupakan nama muara Sungai Barumun dan Sungai Bilah sampai sekarang, sekitar 200 kilometer di tenggara Medan, di Selat Melaka. Jelas bahwa dalam laporan ini, Pande terletak di pantai timur atau di tepi sungai besar yang bermuara di pantai timur. Pada waktu itu, Pande mungkin merupakan pelabuhan utama Aru, karena pada sebuah peta tahun 1686, Aru digambarkan terletak di muara Sungai Barumun dan kelihatan seperti tempat yang lebih penting dibandingkan dengan Deli. Selain itu, lokasi ini masuk akal karena diceritakan juga bahwa orang Tionghoa tersebut mondar mandir di antara Pande dan kawasan pegunungan Angkola (Ancools gebergte). Sebenarnya daerah Angkola ini terletak di hulu Sungai Bilah dan Barumun yang disebut tadi. Tambahan lagi, juga disebut bahwa tempat tinggal orang Tionghoa itu di Angkola, terletak sejauh sekitar 10 hari dari Barus di pantai barat. Informasi ini juga cocok dengan satu tempat tinggal di pegunungan Angkola.

Walaupun ringkas, gambaran orang Tionghoa mengenai keadaan ekonomi, budaya, termasuk kanibalisme, di pedalaman juga sangat menarik, karena merupakan gambaran sedemikian yang paling awal. Perlu dicatat juga bahwa, menurut laporan ini, tampaknya di pantai barat pada waktu itu, belum ada orang Tionghoa yang tinggal di Barus, sedangkan sudah ada komunitas Tionghoa di Padang.

Baru 70 tahun sesudah laporan orang Tionghoa itu, terdapat satu lagi kisah perjalanan di pedalaman, yaitu masuknya Charles Miller ke pedalaman Tapanuli tahun 1772. Miller terkesan oleh keberagaman bahasa penduduk di pedalaman yang meskipun demikian memiliki abjad yang sama, dan mencatat tentang sebuah masyarakat kanibal bernama “Battas” yang berbeda dari semua penduduk lain di Sumatra dari segi bahasa, kebiasaan dan adat. Sepuluh tahun kemudian diterbitkan sintesis-sintesis pertama tentang Sumatra, yaitu sebuah artikel oleh Radermacher (1781) dan karya William Marsden yang terkenal, History of Sumatra (1783).

Referensi:
  • Guillot, Claude (ed.), Lobu Tua. Sejarah Awal Barus. Daniel Perret (penerjemah), Naniek H. Wibisono dan Ade Pristie Wahyo (peny. terj.). Jakarta: EFEO/Association Archipel/Pusat Penelitian Arkeologi/Yayasan Obor Indonesia, 2002.
  • Guillot, Claude; Perret D., Surachman H. et al., Histoire de Barus. Le site de Lobu Tua. II: Etude archéologique et Documents. Paris: Archipel, Cahier d'Archipel 30, 2003. Edisi dalam bahasa Indonesia: Barus Seribu Tahun Yang Lalu. Jakarta, EFEO/Forum Jakarta-Paris/KPG/Puslitbang Arkenas, 2008.
  • Perret, Daniel, La formation d’un paysage ethnique. Batak et Malais de Sumatra nord-est. Paris: EFEO, Monographies, no 179, 1995. Edisi baru dalam bahasa Indonesia: Kolonialisme dan Etnisitas. Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut. Saraswati Wardhany, penerjemah. Jakarta, EFEO/KPG/Forum Jakarta-Paris/Puslitbang Arkenas, 2010.
  • Perret, Daniel dan Surachman, Heddy (eds.), Histoire de Barus-Sumatra. III: Regards sur une place marchande de l'océan Indien (XIIe-milieu du XVIIe s.). Paris: EFEO/Archipel (cahier d’Archipel 38).
  • Perret, Daniel, Heddy Surachman, Lucas P. Koestoro, Sukawati Susetyo, “Le programme archéologique franco-indonésien sur Padang Lawas (Sumatra Nord). Réflexions préliminaires”, Archipel, 74, 2007: 45-82.
Kolofon :

Judul : Daniel Perret, “Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengena i Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701”. Dalam: Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari Arsip VOC di Jakarta, dokumen 9. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013.

Penyunting utama : Hendrik E. Niemeijer

Koordinator kegiatan : Yerry Wirawan, Muhammad Haris Budiawan

Riset Arsip : Hendrik E. Niemeijer

Sumber Arsip : ANRI HR 2521, fols 113-114

No comments:

Post a Comment