Karo Bangkit

Sayuran Karo, Masih Ada Asa untuk Bangkit



Kesuburan tanah adalah anugerah tak ternilai bagi warga di Dataran Tinggi Karo. Aneka jenis hortikultura bisa tumbuh. Sayuran dan buah-buahan Karo menghiasi etalase pasar hingga swalayan di kota-kota besar. Beberapa petani sejahtera karenanya, namun ironisnya sebagian besar justru merana dan pasrah. Kini, mereka bersiasat untuk bangkit.

” Selada... Selada...! Diobral, Bang. Masih cantik-cantik ini...,” teriak Dian Purba (36), seorang pedagang sayuran di Pasar Sayur Berastagi, Kabupaten Karo. Perempuan itu mencoba menawarkan sayurannya.

Setengah jam berlalu, tak satu pun pengunjung yang membeli selada dagangannya. Dari harga Rp 1.100 per kilogram, dalam setengah jam dia sudah menurunkannya menjadi Rp 800 per kilogram (kg). Nilai yang sangat jauh turun dibandingkan dua bulan silam saat harga selada masih Rp 2.300 per kg di tingkat pedagang.

”Harga sayuran sekarang ini seperti main sulap. Tiba-tiba jatuh sangat murah, seperti selada ini,” keluh Dian.

Bukan hanya selada. Jenis sayuran yang banyak diusahakan petani Karo dalam sebulan terakhir harganya pun jatuh. Kubis, yang semula Rp 2.500 per kg kini Rp 700 per kg. Tomat yang semula Rp 3.500 per kg kini hanya Rp 1.500 per kg. Demikian pula dengan, kentang, bawang prei, wortel, cabai merah, lobak, bunga kol, dan petsai.

Dermawan Silalahi (43), petani sayuran di Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Karo, mengatakan, anjloknya harga sayuran menjadi hantu bagi petani dalam beberapa tahun terakhir. Setiap kali panen, harga jatuh. Petani pun merugi. Membuang hasil panen karena tak laku sudah menjadi hal biasa.

Sepekan lalu, dia panen 10 ton kubis. Dia merugi lantaran harga jualnya hanya Rp 800 per kg. Padahal, modal tanamnya mencapai Rp 10 juta.

Jenis dan jumlah hama yang terus meningkat memicu petani bergantung pada pestisida yang harganya terus meroket. Mereka sadar cara tersebut telah merusak kesuburan tanah. Hasil panen pun tak sebagus dahulu akibat rusaknya unsur hara tanah itu. Dilematis.

Ekspor ambruk

Tahun 1980-an sayuran Karo sempat merajai di pasar Singapura dan Malaysia. Namun, memasuki dekade 1990-an, semuanya berubah. Sayuran dari China, Vietnam, dan Thailand pertengahan 1990-an giliran menggamit pasar Singapura.

”Waktu itu kita lalai. Tak menyadari bahwa negara lain bakal mengembangkan yang sama dengan kemasan lebih bagus, harga bersaing, dan kualitas lebih baik,” kata M Roem, Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara.

Sekitar 11 tahun lalu, bahkan, Singapura dan Malaysia sempat menolak ekspor sayuran dari Karo lantaran residu kimia dalam produk hortikultura dinilai terlalu tinggi. Akibatnya, pamor pertanian dataran tinggi Karo meredup.

Tergerusnya pasar ekspor membuat jaminan harga produk sayuran petani kian tak jelas. Pedagang besar semaunya sendiri memainkan harga. Petani kian tak punya daya tawar atas produknya. Pemerintah pun seakan lepas tangan atas problem tata niaga yang membelit warga.

Namun, sesungguhnya mereka tak benar-benar tinggal diam. Di balik keprihatinan, muncul kegundahan dan inovasi. Untuk menyiasati ketidakmenentuan harga, petani menerapkan sistem tanam tumpang sari.

Penanaman secara multikultur tersebut memang membantu petani bertahan di tengah kondisi sulit. Namun risikonya hasil panen tanaman pokok pun tak maksimal karena harus berbagi nutrisi dan kesuburan dengan tanaman lain.

Sayangnya, pengenalan teknik budidaya yang efektif dan teknologi produksi baru untuk memecahkan masalah ini belum diterima petani. Masalahnya pun jadi kian rumit seiring fenomena cuaca tak menentu akhir-akhir ini.

Pemahaman ragam tanam, kualitas, kesinambungan pasokan, dan kuantitas yang sesuai dengan permintaan pasar juga belum terbangun.

”Petani di sini rata-rata masih latah atau ikut-ikutan. Kalau musim panen sekarang kubis menguntungkan, semuanya ikut tanam kubis. Akibatnya, waktu panen harga jatuh. Rugi semua. Permintaan tak ada,” kata Konggres Lingga (54), petani di Desa Bandar Kinalang, Kecamatan Purba, Simalungun.

Pada masa Orde Baru, pembinaan teknik bertani yang baik banyak dilakukan tenaga penyuluh pertanian yang masuk hingga ke desa-desa. Namun, sekarang tak ada lagi tenaga penyuluh. Penyuluhan justru sering dilakukan oleh distributor dan produsen pupuk dan obat-obatan kimia, sehingga pemakaian bahan kimia meningkat.

”Sering juga mereka menarik simpati dengan memberi obat gratis dan hadiah alat-alat pertanian,” kata Jamin Sembiring (29), petani kentang di Perbuluan I, Kecamatan Perbuluan, Kabupaten Dairi.

Problem infrastruktur

Infrastruktur jalan adalah masalah klasik lainnya yang masih berlarut-larut. Bukan rahasia lagi, jalur nasional, provinsi, maupun kabupaten di wilayah Dataran Tinggi Karo yang meliputi Kabupaten Karo, Simalungun, dan Dairi, banyak yang rusak parah.

Bernardus Situmorang (60), petani kentang di Desa Perbuluan, Kecamatan Sidikalang, Dairi, mengeluhkan buruknya kondisi jalan yang menghubungkan Dairi-Kebanjahe. Jalur sepanjang 70 kilometer yang semestinya dapat ditempuh 1,5 jam itu terpaksa ditempuh 3-4 jam, karena banyaknya ruas yang rusak.

Kapasitas pengangkutan sayuran pun terpaksa dikurangi dari semestinya 7 ton sekali pemberangkatan menjadi hanya 3-4 ton. Akibatnya, banyak sayuran yang menumpuk dan rusak karena terlambat pengirimannya. Bila sudah begitu, harga jualnya pasti anjlok dan daya saingnya turun.

Pasar Sayuran Berastagi yang merupakan sentra penjualan utama produk pertanian di tanah Karo kondisinya semrawut. Setiap sore atau pagi hari, saat tengkulak dan pedagang sayur dari kota-kota besar bertemu, kemacetan kendaraan berlangsung selama berjam-jam. Kondisi ini mengakibatkan pengiriman barang terhambat. Selain itu, gudang-gudang penyimpanan yang dilengkapi teknologi pendinginan agar komoditas awet pun juga belum ada, apalagi sarana pengemasan.

Roem mengatakan, selama ini Dinas Pertanian Sumut sudah berupaya menyusun program peningkatan produksi dan menyosialisasikan pentingnya pertanian organik. Namun, itu tak mudah karena berhubungan dengan kebiasaan dan sikap petani yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

”Belum semua kabupaten memiliki lembaga penyuluh pertanian. Kalaupun ada baru di tingkat kecamatan,” kata dia.

Ditanya soal kerusakan jalan itu, Wakil Gubernur Sumut, Gatot Pudjo Nugroho, mengungkapkan akan segera memperbaikinya. Saat ini telah dianggarkan dana Rp 111 miliar. ”Semoga itu bisa bantu petani,” kata dia.

Mandiri

Di tengah persoalan yang berkelindan itu, masih ada sejumlah petani di Karo yang sukses dengan langkah kemandirian mereka. Mereka adalah petani-petani yang ulet dan mau belajar untuk sukses dengan tak sekadar ikut-ikutan.

Kongres Lingga dan istrinya, Lina Purba, misalnya. Dalam tiga tahun terakhir, mereka tidak melulu menanam sayuran semacam kubis, daun bawang, ataupun kentang. Mereka mencoba jenis sayuran lain, yakni labu siam atau jipang, yang harganya relatif stabil.

Jipang ditanamnya di lahan seluas 2 hektar. Setelah masa pertumbuhan selama tiga tahun, dalam setahun terakhir dia dapat menikmati hasil panen 24.000 buah per pekan. Itu setara dengan Rp 7,2 juta per pekan atau sekitar 30 juta sebulan.

”Saya dulu juga menanam kubis dan sayuran lainnya. Tahun 2006, harga-harga jatuh semua. Saya rugi besar sampai Rp 120 juta. Dua hektar lahan saya jual. Sekarang kami bangkit lagi dengan menanam tanaman yang berbeda,” kata Kongres. Dari kesuksesannya itu, Kongres bisa menyekolahkan 5 anaknnya di Universitas Sumatera Utara (USU).

Martin Tarigan (45), petani di Desa Simpang Bage, Kecamatan Silimakuta, Simalungun, kini mengusahakan lahan seluas 30 hektar. Dia tak melulu menanami sayuran dengan kubis dan sayuran lain selama setahun, namun berselang-seling dalam setahun. ”Dengan cara itu, nilai jual hasil panennya relatif stabil, dan tak mudah diserang hama,” ujar dia.

Inisiatif individu yang sukses menyiasati keadaan tersebut menunjukkan bahwa potensi Karo dan sekitarnya belumlah habis. Langkah strategis pemerintah sangat ditunggu, bukan sekadar mendorong produktivitas, tetapi juga membuka lagi celah pasar bagi petani sayuran di tanah Karo yang masih memelihara semangat untuk bangkit kembali merebut masa keemasan.

M Burhanudin dan M Hilmi Faiq
Kompas cetak, 19 Maret 2011

No comments: