28 December 2011

Gua Umang atau Batu Kemang oleh J.H Neumann


Batoe Kemang atau Gua Umang , Siboelangit, 1906


Salah sada dokumen emekap tulisen Pandita JH Neumann tahun 1905, kira kira seratus enem tahun si lewat, judulna “Rumah Umang” (Gua Kemang). I ja kin rumah umang, janah kai kin umang?

Adi nina tua tua kalak Karo, umang emekap sejenis mahluk halus si mirip ras jelma tapi belinna kira kira seperempat belin jelma biasa. Erdalan mungkuk janah tukul tukulna arah lebe, kambal kambalna ngala ku pudi. Umang beluh ngelimun (menghilang), emaka labo teridah adi lakin dua lapis pengenen matanta, pala ate umang kin encidahken bana. Nina kin kunu (konon), nai nai pernah nge anak kuta sekitar Sibolangit babaken umang.

Kenca bene kira kira dua minggu, rempet ia seh i darat kuta. Orang tua, kade kade ras pe anak kuta enggo latih daram daram ise pe la ngidahsa sepulu telu wari dekahna. Emaka nuri nuri me si bene enda ndai maka mbaru denga ia ndahi kerja kerja meriah i sada kuta si sehkal jilena. Erkata gendang, suari berngi, landek landek, man minem, uis mejile, ayam ayam pirak mbentar ras emas megersing, tempa tempa tading ibas astana kerajan si sampur dadih ras tengguli.

Emaka megati nge gel gel i begi anak kuta sora rende ras gendang meriah dauh dauh nari, tapi adi i dahi kempak asal sora, kai pe labo jumpa. Amin bage gia, i kuta Durin Tani deher Sembahe, baluren Lau Betimus lit me ije guha batu bas awak reben. Nina tua tua sidekah eme rumah umang si enggo tadingkenna. Janah terbernehen i tepi lau Betimus lit ka ije ‘batu pertenunen’ ras pe ‘batu penjemuren’. Ibas berngi tertentu deherken rumah umang e megati ka idah kalak sekin tah patuk pesai juma. Begi sorana, tapi la idah jelmana.

Neuman di Batoe Kemang, 1906
JH Neumann tiba tahun 1900 dan belajar Bahasa Karo di Jakarta selama satu tahun. Mulai bekerja di Sibolangit dan sekitarnya 1901 dan wafat di Medan 1949. JH Neumann bukanlah sarjana Theologi. Beliau

17 December 2011

Musikalisai Puisi dari Antologi Puisi "Pincala"





~ Musikalisasi Puisi Pincala
(Dinyanyikan oleh Tio Fanta Pinem)

pincala... pincala...
pincala... pincala...

Leben tek matawari
pultakna erpagi-pagi
maka aku tek
mentas berngi gindar wari

perdateken wari-wari dage
berkat lampasi
mulih karaben bage
dapet ingan erberngi

Sastrawan Karo bernama Tariganu di Wikipedia Rusia

Wikipedia berbahasa Rusia, klik di sini.

Sastra Etnis oleh Tariganu




Sastra Reboan pada 27 April 2011. Malam istimewa di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan.

Di antara berbagai karya yang diperdengarkan, karya sastra etnis yang diperkenalkan pada acara ini adalah “Pincala” dan “Bunga Dawa” karya Tariganu, 73, penyair  Tanah Karo, yang dipandu oleh Dorsey Silalahi dan Hujan. Hujan mewakili generasi muda Karo memaparkan bagaimana buku ini sangat penting terutama bagi mereka di mana banyak bahasa filosofi dan puisi yang kurang dimengerti, maka dia terpanggil utk menggarap buku ini agar bisa menjadi inspirasi, tidak hanya komunitas Karo tetapi juga komunitas lainnya.

Tariganu yang juga pelukis ini menulis puisi sejak tahun 50an, menerjemahkan puisi Chairil Anwar dan Amir Hamzah ke bahasa Tiongkok, pernah tinggal di Tiongkok saat menjelang zaman peralihan terjadi di Indonesia, sempat mengajar sastra Cina di UI dan mendirikan Yayasan Bengkel Sastra 78.

Antologi Puisi "Bunga Dawa" (Pincala II) oleh Tariganu.



Tariganu atau Usaha Tarigan
Buku yang memuat 296 puisi berbahasa Karo ini adalah manifestasi masterpieces seorang pemerhati sekaligus pewaris budaya leluhur. ke- 296 puisi yang ditulis oleh Tariganu ini juga sebuah bentuk perlawanan melawan lupa terhadap nila-nilai adiluhung yang pernah diwariskan leluhur kepada kita. Usahanya dalam menggali kembali dan meletakkan bahasa yang sempat dilupakan oraang kini berdasarkan nilai fungsi, patut mendapatkan apresiasi oleh tidak hanya komunitas Karo, namun juga secara luas di tingkat kebangsaan. Lahirnya buku ini menandakan kelahiran kembali spirit eksistensi culture-nature dalam khasanah sastra modern.

Tariganu, atau Drs. Usaha Tarigan lahir di dataran tinggi Tanah karo tahun 1938. Ipetayoken (Upacara mandi pertama di sungai waktu berusia 7 hari). Tergelar Usaha Kita, merga Tarigan, bere Ginting, kempu Purba, binuang sinulingga, kampah Ketaren, soler Sitepu. Pendidikan terakhir di Universitas Peking (RRC) dan Universitas Indonesia. Selain menulis puisi, tariganu juga melukis dan sempa menjadi dosen di almamaternya, UI.

Refleksi Antologi PUISI "PINCALA" karya TARIGANU



Usaha Tarigan atau Tariganu
Antologi puisi "Pincala" karya Tariganu, yaitu suatu karya yang afirmatif dengan kebebasan par-excellence mengeksplisitkan kebebasan par-excellence mengeksplisitkan status ontologism manusia sebagai suatu aktus kesadaran vis a vis dengan dunia realitas. Pincala adalah representasi dari manusia tangguh sekaligus suatu tema sentral dalam mengungkapkan misteri manusia.

Pincala, sebuah nama mengacu kepada burung bersuara merdu memiliki kekuatan dasyat, syarat visi dan artikulatif tentang takdir dan masa depan. Panen dan kelimpahan, bisikan tentang masa depan tersuarakan. Pincala analog dengan Hermes, duta penguasa Olympus yang mewartakan pesan kepada manusia merupakan wacana bagi media interpretasi sekaligus sebagai sarana ekspresi pengarang dalam pergumulannya dengan realitas. Melalui Pincala Tariganu mengartikulasikan kebebasan dengan nuansa universalitas serta memposisikan ontologis kehendak sebagai dasar pemahaman manusia yang tertuang dalam ritus dan madah "keagungan manusia" dan bukan "manusia agung" Nietszchean.

Dengan ontology kehendak sebagai titik tolak pemahaman tentang realitas-telah dirintis oleh Aristoteles dan terdogmakan oleh Agustinus, menjadi pegangan Schiller dan terkuduskan dalam diri Nietszche dan termatangkan dalam diri Heiddegger sebagai titik tolak pemahaman ontologi manusia suatu kelana kemausiaan tergelarkan dan dunia realitas dijelajahi. Tradisi tersebut berlanjut pada diri Tariganu si penyair Tanah Karo.

08 December 2011

“Pasar Baru” Menuju Kabanjahe Menghantarkan Dunia Baru


Bis milik Deli Spoor di Brastagi
Autobus van de Deli Spoorweg Maatschappij bij Brastagi
Date 1900-1940
Source Tropenmuseum
Sampai tahun 1909, diperlukan setidaknya 3 hari untuk pergi dari Medan ke dataran tinggi di utara Danau Toba. Biasanya perjalanan dimulau dengan kereta api sampai Deli Tua, dilanjutkan dengan kereta sampai perbatasan perkebunan Belanda, kemudian jalan kaki sampai Buluh Hawar, kantor pusat misi (missionaris) Belanda, dan akhirnya sampai di pintu dataran tinggi di Cingkem. (1)

Tahun 1906, pemerintah Kolonial memulai pembangunan sebuah jalan menuju Kabanjahe di dataran tinggi melalui Arnhemia, Sibolangit, Bandar Baru dan Brastagi. Jalan itu selesai 3 tahun kemudian, dan Kabanjahe pun hanya beberapa jam perjalanan mobil jaraknya dari Medan.

Pekerja-pekerja pembangunan jalan di Karo
Wegaanleg door koelies naar de Karohoogvlakte, Sumatra
Source Tropenmuseum
Pembangunan jalan di Tanah Karo
Arbeiders werken aan de aanleg van wegen in de Karolanden, Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum
Poros Kabanjahe-Medan, yang disebut “pasar baru,” dalam arti “jalan baru,” dengan cepat dipenuhi oleh ratusan gerobak sapi yang dapat mengangkut orang (2) dan beban menuju dataran rendah sampai 16 kali lipat beban yang dapat diangkut  seorang pengangkut. (3)

Sekitar tahun 1909 itu juga dibuka jalan raya menuju dataran tinggi sebelah barat, antara Kabanjahe dan Kuta Bangun melalui Sarinembah, dan menuju dataran tinggi bagian selatan, dari Kabanjahe juga ke arah Saribu Dolok kemudian ke Pematangsiantar.

Tahun 1914, empat perkebunan membuka layanan bis dua kali seminggu antara Arnhemia dan Brastagi. Dua tahun kemudian Deli Spoor memperpanjang jalur sampai Kabanjahe. Jumlah penumpang selama tahun pertama setelah jalur dibuka mencapai 3.600 orang, dan tahun 1918 jumlah itu sudah melebihi 6.300 orang. (4)

07 December 2011

DATUK BADIUZZAMAN SURBAKTI, 25 TAHUN MEMIMPIN PERANG SUNGGAL (1872-1895)



Pada tanggal 15 Mei 1872, telah terjadi peperangan antara Rakyat Sunggal (Serbanyaman) dengan tentara kolonial Belanda yang dapat dianggap berakhir pada tahun 1895, dengan dibuangnya Datuk Badiuzzaman Surbakti ke Cianjur, dan Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti ke Banyumas (Besluit No.3 tanggal 20 Januari 1895, pembuangan seumur hidup).

Wilayah Kedatukan Sunggal dahulu terletak di Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara). Ada dua anggapan tentang sebutan nama perang ini , bagi masarakat Melayu yang mendiami Sunggal dan suku Karo yang mendiami hulu pegunungan Sunggal menamakan perang ini dengan nama “PERANG SONGGAL’ (Prof DR.P.J.Veth, “Het Landschap Deli”,TKAG.II hal 162-165), sedang bagi sarjana Belanda menyebutkan perang ini dengan nama “Batak Oorlog” karena medan pertempurannya kebanyakan berada diwilayah pegunungan yang didiami oleh suku Batak Karo.

Perang ini termasuk perang besar di Hindia Belanda ,sehingga dikeluarkan medali khusus untuk itu, ini dapat dilihat pada Daftar dalam piagam di Museum KNIL di Bronbeek (Nederland) dalam Daftar Gespen Van Het Krwis Voor Blanggrijke Krijgsverrichtingen (Clasps Of The Cross for Important War Actions),No Clasp 8,Deli 1872, Occasion North East Cost Sumatera from 14 May-6 November 1872, Royal Degree 11 th June,1873 No.25.

Suku Melayu Sunggal berasal dari Suku Karo (Karo Jawi) bermarga Surbakti, dimana Suku Karo dapat dibagi atas 2 bagian yaitu Karo Dusun (Karo Gunung, yakini Suku Karo yang mendiami daerah pegunungan) dan Karo Jawi, yakni Suku Karo yang turun dari gunung.

Datuk Sunggal (Serbanyaman) berasal dari seorang Karo bernama Sesser Surbakti dari daerah Telu Kuru, berputerakan Si Gajah yang turun gunung mendirikan kampung Sumbuwaiken di kaki Gunung Sibayak, Si Gajah berputerakan Adir Surbakti yang turun gunung ke Daerah Pancurbatu, masuk agama Islam, Adir Surbakti berputerakan Datuk Hitam Surbakti (Raja Sunggal), yang pada tahun 1632 adik perempuannya bernama Nang Baluan kawin dengan Gocah Pahlawan (pada waktu itu ditempatkan oleh Kerajaan Aceh sebagai Wali Negara Imperium Aceh, di wilayah Kerajaan Haru, Sumatera Timur sejak tahun 1612) dari perkawinan ini lahir raja-raja Deli dan raja-raja Serdang, karena Sunggal memberikan sebagian ulayat (daerahnya) kepada Deli (wilayah Kuala Belawan dan Kuala Percut) dan Serdang, selaku Kalimbubu kepada Anak Beru, dan mengangkat Sultan Baru selaku turunan Ulon Janji.

Datuk Hitam Surbakti berputerakan Datuk Undan Surbakti yang anak perempuannya bernama Dayan Sermaidi kawin dengan Panglima Mangedar Alam salah seorang keturunan Sultan Deli, pada tahun 1822 Deli ingin menaklukkan Sunggal dan gagal. Datuk Undan Surbakti berputerakan Datuk Amar Laut Surbakti (tahun 1823) pada masa ini Sunggal melepaskan semua ikatan yang pernah ada dengan Deli, mengeluarkan Cap dan Bendera sendiri, meresmikan Sunggal Merdeka , hal ini dilakukan karena telah terjadi “penghianatan” oleh Deli sebagai anak Anak Beru, yang telah diberi ulayat oleh Sunggal malah ingin menaklukkan Sunggal yang merupakan Kalimbubunya sendiri.

Perang Sunggal, Perang Terlama di Indonesia


Makam Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti di Cianjur Jawa Barat. 
Makam ini seharusnya ada di Taman makam Kali Bata.
Bila General Mac Arthur berkata : ‘We may lose in this battle but never in the war’.

Pejuang Karo berkata :
Namo Banci Jadi Aras, Aras Banci Jadi Namo
(Hari ini kita kalah lain waktu kita akan menang)

USUL PAHLAWAN
WASPADA Online
Oleh Prof. H. Ahmad Samin Siregar

Menurut rencana, pada 27 Juni 2004, Minggu ini, di Medan akan dilaksanakan satu
seminar dengan judul 'Perang Sunggal (Batak Oorlog 1872-1895), Perang Rakyat
Menolak Penjajahan'. Seminar ini dilaksanakan atas kerjasama di antara Lembaga
Pengembangan dan Pembinaan Kebudayaan Masyarakat Sumatera Utara (Legenda
Sutra), Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kota Medan, dan Lembaga
Ulon Janji Keluarga Besar Kedatukan Sunggal Serbanyaman. Tujuan seminar ini
adalah untuk mengungkapkan latar belakang, kejadian yang berlaku, dan
kepahlawanan dalam 'Perang Sunggal' itu.

'Perang Sunggal' merupakan salah satu peristiwa sejarah dalam perjalanan bangsa
Indonesia menuju kemerdekaannya. Perang ini adalah perjuangan rakyat Sunggal
dalam mempertahankan tanah tumpah darahnya dari penguasaan tangan penjajahan
Belanda. Wilayah Sunggal (Serbanyaman) yang sangat subur ketika itu ingin
dikuasai oleh perusahaan perkebunan Belanda untuk ditanami tembakau. Penguasaan
itu tanpa seizin raja dan rakyat Sunggal sehingga timbullah peperangan. Perang
ini merupakan salah satu perang yang terbesar sehingga pemerintah Hindia
Belanda harus mengeluarkan 'Medali Khusus' untuk menghargai para pemimpin
perang ini dari pihak mereka. Hal itu diketahui dari catatan yang terdapat di
Museum KNIL, Bronbeek (Belanda.

Pemicu Perang

Dari Garam, Kuda Hingga Politik Candu

Pemakai candu/opium di Karo      
Een opiumschuiver, Karolanden, Noord-Sumatra
Date       : 1914-1926
Source  :  Tropenmuseum
Author  :  T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).
Pembawa garam di Karo
Een zoutdrager van Karo-Batak afkomst, Noord-Sumatra
Date       :  1914-1918
Source  :  Tropenmuseum
Author  :  T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Ketika kontrolir Belanda pertama, Cats Baron de Raet, mulai bertugas di Deli tahun 1864, perdagangan dengan wilayah pedalaman boleh dikatakan mandek. (1) Kelihatannya memang tahun-tahun sebelumnya orang-orang Dusun dan dataran tinggi menjadi korban kekerasan, pencurian barang dagangan mereka atau syarat perniagaan yang tidak cocok yang diberlakukan oleh Sultan. Di lain pihak,  sejumlah pedagang pesisir dikabarkan dibunuh atau diberlakukan dengan buruk di pegunungan.

(Catatan : dusun = lereng gunung; kuta yang dibuka oleh sekelompok penduduk yang berasal dari sebuah kuta induk ; pemukiman kolektif bagi orang dagang)

Tujuan utama perjalanan Raet ke dataran tinggi adalah menggerakkan kembali perdagangan ini. (2) Untuk itu, Raet mengadakan pertemuan dengan sejumlah kepala dari dataran tinggi dengan didampingi paman Sultan Deli dan kejuruan Senembah (Kejuruan = kepala Urung di kesultanan Deli). (3a) Sementara itu, Raet ditempatkan di sana sebagai kontrolir, sultan memberitakan kepada orang pedalaman bahwa mereka dapat berdagang lagi di Deli dengan tenang. Imbauan ini didengar dan sejumlah pedagang kembali hilir mudik antara pesisir dan pegunungan. (3b)

Monopoli perdagangan garam tetap dipegang oleh para datuk dan kejuruan sampai tahun 1882, yaitu ketika Pemerintah mulai mengambil monopolinya. (4) Dengan pemberlakuan monopoli itu, pajak impor tidak lagi dipungut oleh kepala-kepala setempat, tetapi oleh pemerintah Belanda. Tempat-tempat penjualannya bertambah dan pemimpin-pemimpin tradisional tampaknya tersingkir dari jaringan perdagangan baru itu. (5) Bukan kebetulan jika anak termuda salah satu pemimpin yang paling berkuasa di timur laut Danau Toba, Tuan Nagasaribu, datang ke dataran Deli tahun 1883 untuk membicarakan perdagangan garam dengan orang-orang “Melayu.” (6) Sebuah jaringan hilang dan bersama dengan itu hilang juga jaminan sumber penghasilan yang berarti, sehingga perlu dicari sebuah strategi baru.

Garam masih tetap menjadi bahan kebutuhan pokok yang utama. Begitu pemberontak-pemberontak ditangkap pada akhir Perang Sunggal, orang-orang pedalaman segera turun membeli garam (7),  berbeda dengan perdagangan bahan-bahan lain yang memerlukan waktu beberapa minggu sebelum kembali ke situasi normal. (8)

04 December 2011

Sumpah Karolina



jika jantung ini sesaat tanpa detak
bukan karena ragaku sekarat
sorot tajam mata elangmu
betapa mengalahkan hujaman sipiso-piso
pada kerasnya karang hatiku

jika hujan panas dan topan
mampu melapukkan kokohnya si waluh jabu
namun anyaman cinta yang tersulam perlahan
tak akan rentan oleh kejamnya jaman

seperti sumpah yang terucap
agar diri jauh dari la eradat
dan diantara dogma yang tergenggam erat
rengkuhanmu adalah hidupku sepanjang hayat

(Dewi Maharani)

SUMPAH KAROLINA
PENERBIT : GALLERY ILMU

HARGA : RP. 37.500

Berdasar skenario “ Oh. Impal…” karya Agung Waskito & El Manik, dinovelkan oleh Dewi Maharani.

“Satu hal yang harus kam ingat, aku ini orang Karo, dan aku beru Ginting!! Aku tak akan pernah melanggar sumpahku pada Ibu kandungku sendiri !!”

Meskipun sangat tidak setuju dan ingin sekali mengutarakan kebenaran, Karolina terpaksa harus bungkam. Kebenaran akhirnya memang terungkap. Nande , Ibunya, yang dianggap la eradat (tidak tahu adat), ternyata adalah seorang wanita mulia. Bagi masyarakat Karo, la eradat adalah sebutan untuk orang yang hina dan rendah.
 “Sumpah anak pada ibunya itu sakral. Ibaratnya, anak itu pemimpin, dan rakyat adalah ibu pertiwi; sumpah pemimpin pada rakyatnya harus dijunjung tinggi. Seandainya semua pejabat dan pemimpin di negeri ini menjunjung tinggi sumpah jabatannya, seperti sumpah Karolina pada ibunya, niscaya negeri ini akan makmur sentosa!”.
Novel yang diangkat dari skenario filem layar lebar “Oh, Impal...” berlatar belakang budaya Karo ini harus dibaca oleh semua anak bangsa di negeri kita, yang terdiri dari banyak suku, bangsa dan budaya. Dalam novel ini, kita melihat sosok manusia Indonesia sama seperti Amerika memiliki Biily joe the kid, atau Jepang melahirkan Oshin, Samurai, Torajido, dll.


19 November 2011

Padung-padung

Perhiasan perempuan Karo jaman dulu salah satunya adalah bernama "Padung-padung." Anting-anting yang terbuat dari perak dan terkadang emas ini panjangnya berkisar 15,5 cm. (sumber klik) dan beratnya berkisar 2 Kg (sumber klik). Namun karena disangkutkan juga ke tudung atau kain penutup kepala, maka beban telinga jadi berkurang. Berikut foto-foto serta pemakaiannya : 








17 November 2011

Video : "Mencangkul" di Tanah Karo (1925)

video

Persiapan lahan tanah dengan menggunakan tongkat runcing.
Primitieve oorspronkelijke grondbewerking met puntige stokken



Bij de Bataks was een groot deel van de bewerking van de (sawah)gronden in handen van de vrouwen. De tamelijk dichtbevolkte Batakhoogvlakte was al in de 19e eeuw grotendeels ontbost, zodat ladangbouw er niet meer mogelijk was. De rijst teelt werd hier dan ook grotendeels op sawahs bedreven. Voor grondbewerking had men vaak buffels (karbouwen) die een ploeg trokken of de al natte grond met hun poten tot een gelijkmatige brei omwoelden. Waren er geen buffels (of waren de regens laat), dan werd de grond met de hak bewerkt. Op Sumatra sprak men van 'tjankollen' (van cangkul), op Java (meestal) van 'patjollen' (pacul). (P. Boomgaard, 2001).
Tjangkollen door vrouwen, Karo-Hoogvlakte
date : 1914-1919
Source : Tropenmuseum

14 November 2011

Foto Berwarna Karo Siadi (1930)

Bila selama ini kita selalu menemukan foto-foto hitam putih akan keberadaan masa lalu masyarakat Karo, maka kali ini dapat dilihat dalam foto-foto yang berwarna. Tehnik untuk menghasilkan foto berwarna awalnya dikenal dengan sebutan Autochrome process. Dan teknik ini telah ditemukan sejak tahun 1907 walau dengan biaya mahal dan warna belum begitu sempurna.

Dalam majalah National Geographic Febuari 1930, ditemukan foto-foto berwarna masyarakat Karo yang dihasilkan dengan memakai lensa positif Autochrome oleh W. Robert Moore. Berikut foto-foto dan keterangannya :

A young Karo woman sits on a rock, dressed in traditional clothing.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  W. ROBERT MOORE/National Geographic Stock


Dignity distinguishes the Karo Girl.
This young woman has a clear complexion, large brown eyes, and regular features, but her mouth has been marred by the chipping or filing of her teeth to the level of her gums. She wears a costume of homespun, with a huge silver earring held in place by a point of her padded cap.


Karo Ruler of Malayan Stock, Poses Holding a Wooden Tool 
by W. Robert Moore

13 November 2011

Karo Tahun 1920 dalam Majalah National Geograpic (bagian 3)


A Sumatran family stands outside their large communal house.
Location:              Kampong Kinalang, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Perhatikan atap jerami tertambat, membangkitkan ingatan vila-vila batu di Swiss. Banyak rumah di desa-desa Sumatera berkarakter komunal, tiga atau empat keluarga yang tinggal di tempat tinggal yang sama. Di tempat-tempat di mana penduduk asli telah melakukan kontak dengan Belanda, interior rumah mereka tanpa peralatan modren, seperti tempat tidur, bantal, dan kanopi. Namun rumah-rumah ini lebih nyaman dibandingkan dengan setiap orang lain di Hindia Belanda.


Note the means by wich the thatched roof is anchored, awakening recollections of the stone-weighted chalets of Switzerland. many of the houses in Sumatran villages are communal in character, three or four families living in the same dwelling. In places where the natives have come in contact with the Dutch, the interiors of their homes are not without modren conveniences, such as beds, pillows, and canopies. These houses are more comfortable than those of any other people in the Ducth East Indies.

Native houses in Sumatra stand on stilts.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
 All of the native houses of Sumatra (KARO) are perched on stilts, usually about six feet high.

This practice in home building suggest to some students of ethnology the thought that sumatrans were originally a maritime  and water loving people, who built their houses on posts in the water. They gradually migrated inland, first up rivers and streams, and finally into the interior.

A view of a communal houses in a Sumatran village.
Location:              Karo-Batak, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

Boys watch the grain fields and trigger a device when birds appear.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

A woman pounds grain with native Sumatran tools.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

Karo Tahun 1920 dalam Majalah National Geographic (bagian 2)


Perempuan membantu membangun
Women help build a structure around a Sumatran (KARO) village.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

Seorang perempuan muda Sumatera (KARO) membawa sebuah kemasan di kepalanya.
A young Sumatran (KARO) woman carries a bundle upon her head in the street.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Ibu muda Sumatra (KARO) selalu mengenakan anting-anting perak.
Much significance attaches to the wearing of earrings in the island. Young girls wear them or not, as they choose. Upon marriage the bride must wear the big silver buttons, much after the fashion of our wedding rings. After the birth of the first child or when five years have elapsed, she must remove them. The sagging, buttonless ears of the old women are among their ugliest features.


A Sumatran (KARO) woman walks along her bamboo porch.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Berbeda dengan kebiasaan, lantai teras ini terbuat dari bambu. Lantai sebagian besar rumah menggelayut di tengah. Atap yang dari rumbia, terbuat dari atap daun kelapa.

Contrary to the custom, the floor of this porch is made of whole bamboo poles rather than the split pieces. The floors of most of the houses sag in the middle. The roofs are of thatch, made of the leaves of atap palm. 

Karo Tahun 1920 dalam Majalah National Geographic (bagian 1)

Majalah National Geographic pernah memuat tulisan, "By Motor Through The East Coast and Batak Higlands of Sumatra" yang ditulis oleh Melvin A. Hall. Majalah ini adalah volume XXXVII Januari 1920.  Melvin menembus Sumatera menuju Dataran Tinggi Tanah Karo dengan sepeda motornya.

Berikut ini 28 foto yang dimuat dalam edisi tersebut. Foto-foto ini adalah hasil jepretan Melvin A. Hall sepanjang perjalanannya, berikut urutan fotonya dan beberapa kalimat tanggapan Melivin A. Hall :
Majalah National Geographic volume XXXVII Januari 1920.
A Sumatran caravan makes its way through the highlands
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Iringan angkutan memasuki dataran tinggi, di latar belakang terlihat Gunung Sibayak yang merupakan salah satu gunung berapi. Jalan yang baik hampir tidak dikenal di wilayah sentral sumatra, tapi sepanjang kedua pantai timur dan barat ada dapat ditemukan jalan raya seperti ini, mobil dan motor tidak lagi membangkitkan rasa ingin tahu penduduk asli sumatra. Hanya ada sekitar 200 mil jalur kereta api di pulau ini.

Sebuah mobil melaju melalui hutan jati.
A car drives through a teak forest.
Location :              Near Medan, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Mengemudi melalui hutan jati di dekat medan, sebuah pelabuhan penting di pantai timur laut Sumatra.

Pemandangan Gudang pengeringan untuk memproduksi Tembakau Sumatra.
 A view of drying sheds for producing Sumatran tobacco.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Gudang pengeringan tembakau Sumatera terkenal di dunia. Bangunan-bangunan atap jerami  itu tidak lagi digunakan untuk tembakau, dan lahan yang terlihat datar itu telah ditanam di atasnya pohon-pohon karet, yang sedang ditanam secara luas saat ini.

Dua perempuan Batak membahas berita di pasar.
Two Battak women discuss news at the town market.
Location:              Karo-Batak, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
A little gossip now and then is relished even by primitive women : at a Karo market.

11 November 2011

Upacara Muncang di Dusun Namo Rindang, Kec. Sibiru-biru, Kab. Deli Serdang


Oleh Cox Haleluya

Dusun Namo Rindang, Desa Mbarue, Kecamatan sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang mengadakan ritual muncang yang diadakan di Balai Desa Mbarue pada hari Jumat (28/10/2011).

Acara Muncang ini merupakan sebuah upacara ritual yang dilakukan sebagai wujud penghargaan kepada leluhur kampung dan juga sebagai ajang membersihkan kampung dari roh-roh jahat. Kegiatan ini dilakukan warga setelah mengadakan rapat desa karena adanya seorang warga yang mengaku mendapat perintah dari leluhur mereka melalui mimpi agar melakukan upacara ritual ini. Mereka menamakan leluhur mereka tersebut dengan sebutan Datuk.

Sebelum upacara dimulai warga terlebih dahulu membersihkan makam leluhur yang terletak di kawasan desa tersebut. Setelah itu warga bersama-sama menuju makam dan mengelilingi makam sambil menarikan dikkar, sebuah tarian masyarakat Karo yang gerakannya seperti gerakan silat dan dipimpin oleh 2 orang guru, sebutan bagi seseorang yang menjadi mediator antara roh leluhur dengan masyarakat. Selama kegiatan berlangsung musik tradisional Karo selalu mengiringi, karena menurut mereka musik merupakan sebuah syarat agar ritual ini dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Kuta Kalak Karo

09 November 2011

Pengangkatan Sibayak Sarinembah

Pengangkatan Sibayak Sarinembah, November 1926.
Sumber foto : Tropenmuseum

Tamu dari Eropah saat pengangkatan Sibayak Sarinembah
Tamu pesta dengan latar belakang gunung Sinabung
(Feestgangers tijdens de benoeming van de Sibayak van Sarinembah,
met op de achtergrond de vulkaan Sinabung)
Seorang pawang hujan selama perayaan untuk menandai pengangkatan Sibayak Sarinembah
(Een regenbezweerder tijdens de feesten ter gelegenheid van de benoeming van de Sibayak van Sarinembah)
Pidato oleh inspektur upacara saat Pengangkatan Sibayak Sarinembah.
(Toespraak van de controleur tijdens de benoeming van de Sibayak van Sarinembah)

Perkawinan Putra Sibayak Lingga

Perkawinan Putra Sibayak Lingga, 18 April 1927.
Sumber foto : Tropenmuseum


Saat pernikahan  ditampilkan si Gale-gale dari Toba
Tijdens het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga geven marionetten uit Toba een voorstelling,
Karo, Noord-Sumatra
Een boeienkoning danst tijdens het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga, Karo, Noord-Sumatra
Guru-guru Karo dengan tongkatnya di pernikahan anak Sibayak Lingga
Karo-goeroe's met toverstaven geven een presentatie tijdens het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga, Karo, Noord-Sumatra
Pa Sendi dan keluarga berada dalam panggung/tenda khusus
 Het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga wordt gevierd in een bruiloftstent,
waarin het bruidspaar Pasendi in de opening is te zien, Karo, Sumatra
Pa Sendi, Sibayak Lingga berserta istri dan keluarga
Date : 1914-1919
Source  : Tropenmuseum
Author  : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).