11 November 2011

Upacara Muncang di Dusun Namo Rindang, Kec. Sibiru-biru, Kab. Deli Serdang


Oleh Cox Haleluya

Dusun Namo Rindang, Desa Mbarue, Kecamatan sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang mengadakan ritual muncang yang diadakan di Balai Desa Mbarue pada hari Jumat (28/10/2011).

Acara Muncang ini merupakan sebuah upacara ritual yang dilakukan sebagai wujud penghargaan kepada leluhur kampung dan juga sebagai ajang membersihkan kampung dari roh-roh jahat. Kegiatan ini dilakukan warga setelah mengadakan rapat desa karena adanya seorang warga yang mengaku mendapat perintah dari leluhur mereka melalui mimpi agar melakukan upacara ritual ini. Mereka menamakan leluhur mereka tersebut dengan sebutan Datuk.

Sebelum upacara dimulai warga terlebih dahulu membersihkan makam leluhur yang terletak di kawasan desa tersebut. Setelah itu warga bersama-sama menuju makam dan mengelilingi makam sambil menarikan dikkar, sebuah tarian masyarakat Karo yang gerakannya seperti gerakan silat dan dipimpin oleh 2 orang guru, sebutan bagi seseorang yang menjadi mediator antara roh leluhur dengan masyarakat. Selama kegiatan berlangsung musik tradisional Karo selalu mengiringi, karena menurut mereka musik merupakan sebuah syarat agar ritual ini dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.


Setelah acara mengelilingi makam selesai, warga pun kembali ke balai desa dan mengadakan acara erpenungkuni, dimana dalam acara ini memiliki konsep seperti konsultasi antara warga dengan sang guru yang sudah dimasuki oleh roh leluhur. Kebanyakan dari warga yang berkonsultasi meminta solusi atas permasalahan hidup seperti penyakit yang diderita dan juga menanyakan tentang peruntungannya.

Kemudian upacara dilanjutkan dengan acara puncak, yaitu ritual Jogal, sebuah ritual mengelilingi kampung dalam rangka mengusir roh-roh jahat yang ingin mengganggu kampung dan juga menolak bala dan dipimpin oleh guru yang sudah dirasuki oleh roh leluhur kampung. Pada dahulunya sebelum agama masuk ke daerah ini, rombongan juga masuk ke dalam rumah warga. Namun setelah masuknya agama, ada beberapa warga yang menolak untuk rumahnya dimasuki oleh rombongan jogal. Sehingga, panitia mengambil inisiatif untuk mengadakan jogal hanya mengelilingi daerah desa saja. Rombongan berjalan sambil terus meneriakkan “Halo Palopa !!” sebagai penyemangat massa rombongan. Setelah itu upacara muncang pun berakhir.

Sinar Perangin-angin, salah seorang tetua desa mengatakan bahwa upacara ritual ini seharusnya tetap dilestarikan sebagai wujud penghargaan terhadap leluhur. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Jem Sitepu, seorang tetua yang dalam kegiatan tersebut menjadi anak beru tertua. Kami pasti mendukung jika acara ini dilakukan, karena ini merupakan wujud penghargaan kepada leluhur, ungkapnya mengakhiri wawancara kami.

01 November 2011
Sumber : Kompasiana

1 comment:

  1. Upacara "Muncang" merupakan tingkat tertinggi kebudayaan/tarian suku Karo untuk menghormati leluhurnya. Inilah puncak ciri khas yang merupakan identitas jati diri setiap keturunan suku Karo.

    tapi sayang sudah mulai dilupakan. seharusnya tidak demikian.

    sayang sekali video yang ditampilkan tidak lengkap. kalau ada, mohon diemailkan kepada saya link downloadnya. terima kasih.
    Mejuah-juah!

    ReplyDelete