01 November 2011

Seni Tenun (Mbayu) Karo (bagian 3)


5. Seni Tenun (Mbayu)

Pakaian tradisional Karo  tentunya  merupakan salah satu  hasil dari kebudayaan Karo, oleh karena itu, seiring berkembangnya kebudayaan, masyarakat Karo telah  memiliki banyak ragam  pakaian dengan  fungsi-fungsi yang berbeda.

Secara tradisional pakaian ini di tenun oleh para wanita Karo dengan menggunakan kembaya (semacam kapas) yang dijadikan benang dan dicelup dengan alat pewarna yang dibuat dari bahan kapur, abu dapur, kunyit, dan telep (sejenis tumbuhan).

Secara umum pakaian tradisional Karo dapat dibagi  atas  tiga  kelompok, yaitu: pakaian sehari hari, pakaian untuk pesta, dan pakaian kebesaran. Pakaian yang biasa digunakan pria adalah pakaian dengan model batu gunting cina lengan panjang, tutup kepala yang disebut tengkuluk atau bulang dan sarung, sedangkan untuk wanita terdiri dari baju kebaya leher bulat, sarung (abit), tutup kepala (tudung), dan kain adat bernama Uis Gara yang diselempangkan.

Pakaian pesta hampir sama dengan pakaian sehari-hari. Hanya saja, pakaian pesta lebih bersih atau baru dan dikenakan dengan baik, sehingga terlihat lebih sopan,  dan  pakaian kebesaran terdiri dari pakaian dengan aksesoris-aksesoris yang lengkap serta digunakan pada saat pesta saja, seperti pesta perkawinan, memasuki rumah baru, upacara kematian, dan pesta kesenian.

Di bawah ini akan dijabarkan beberapa ragam/jenis  Uis yang ada pada masyarakat Karo,  yaitu antara lain :

Uis Arinteneng
Uis Arinteneng terbuat dari kapas atau kembayat yang ditenun. Warnanya hitam pekat hasil pencelupan yang disebut ipelabuhken. Pakaian ini digunakan untuk alas pinggan pasu tempat emas kawin dan tempat makanan bagi pengantin sewaktu acara mukul (acara makan bersama) pada malam  hari  setelah selesai pesta adat, uis ini juga digunakan sebagai pembalut tiang pada peresmian atau acara adat memasuki rumah baru, dan membayar hutang adat kepada kalimbubu dalam  upacara  adat kematian.

• Uis Julu
Bahannya sama dengan bahan Uis Arinteneng. Warnanya hitam dengan corak garis-garis putih berbentuk liris-liris. Keteng-keteng-nya berwarna merah dan hitam dan disebut Keteng-ketang Bujur. Ada juga  yang disebut keteng-keteng sirat denan diberi ragam corak ukiran serta di sisi ujungnnya terdapat rambut (jumbai). Pakaian ini diguanakan sebagai  Gonje (sarung laki-laki), membayar hutang adat (manehmaneh),  nambari  (mengganti) pakaian orang tua laki-laki, dan  digunakan juga sebagai selimut (cabin).


• Uis Teba
Hampir sama dengan Uis Julu. Perbedaannya ialah garis-garis Uis Teba lebih jarang sedangkan Uis Julu  lebih rapat. Warnanya hitam,  di sisi ujungnya  juga memiliki rambut (jumbai).  Sama seperti uis Julu ,Uis  ini  juga  digunakan untuk maneh-maneh atau membayar hutang adat bagi perempuan yang meninggal, tudung bagi perempuan, mengganti pakaian orang tua (bagi ibu), dan alas pinggan pasu tempat emas kawin sewaktu melaksanakan pembayaran kepada pihak mempelai perempuan dalam upacara adat Perkawinan.

• Uis Gatip
Uis Gatip ini berwarna hitam dan berbintik-bintik putih di tengah, tepian kain warnanya hitam pekat dan ujungnya terjalin dan berumbai. Jenis kainnya lebih tebal sehingga sering disebut dengan  Uis kapal (kain tebal). Uis ini dipakai sebagai ose (pakaian) laki-laki pada upacara-upacara  adat perkawinan, memasuki rumah baru, guro-guro aron (pesta muda-mudi) dsb.

• Uis Jongkit
Warna dan bahan Uis ini sama dengan Uis Gatip, hanya saja Uis Jongkit memakai benang emas dengan motif melintang pada bagian tengah kain tersebut, hingga warna dan bentuknya lebih cerah. Penggunaan Uis ini juga sama seperti Uis Gatip, tapi kain ini sekarang lebih disenangi dan banyak dipakai pada upacara-upacara adat.

• Uis Beka Buluh
Warna dasar kain Uis Beka Buluh ini merah cerah, bagian tengah bergaris Kuning, Ungu, Putih dan pada tepian dan ujung kain terdapat motif-motif ukiran Karo yang dibuat dengan benang emas. Kain ini dipakai sebagai  Bulang (penutup kepala/topi) pada laki-laki, dan juga dipakai sebagai  cekok-cekok (penghias bahu) yang diletakan sedemikian rupa pada bahu laki-laki, selain itu kain ini juga biasa diletakkan di atas tudung wanita.

• Uis Kelam-Kelam
Warnanya hitam pekat, bahan kainnya lebih tipis dari Uis yang lain dan polos tanpa motif, sepintas seperti kain hitam biasa, hanya  saja  kain ini lebih keras dibanding Uis yang lain.  Uis ini biasa dipakai oleh wanita sebagai tudung pada upacara-upacara adat, tudung yang bahannya dari uis kelam-kelam ini  disebut Tudung Teger Limpek dengan bentuknya yang  khas dan unik. Memang  proses pembuatan tudung ini sangat sulit dan unik, hingga saat ini tidak semua orang dapat membuat tudung ini.

• Uis Jujung-jujungen
Warnanya merah bersulamkan emas dan kedua ujungnya juga berumbai benang emas, kain ini tidak selebar kain yang lainnya, bentuknya hampir sama dengan selendang. Uis ini biasanya dipakai oleh wanita dan biasanya letaknya diatas tudung dengan rumbainya terletak disebelah depan. Pada saat sekarang uis ini jarang digunakan, dan kebanyakan telah digantikan dengan uis Beka buluh.

• Uis Nipes
Kain ini jenisnya lebih tipis dari kain-kain lainnya dan memiliki bermacammacam motif dan warna (merah, coklat, hijau, ungu dan sebagainya), uis ini biasa digunakan sebagai selendang bagi wanita.


1. Uis Gatip 

2. Uis Nipes 

3. Uis Jujung-jujungen  

4.  Uis Kelam-kelam

5.  Uis Teba

6.  Uis Jongkit

Selain beberapa jenis Uis yang telah dijelaskan secara singkat di atas, masih terdapat beberapa jenis Uis yang lain, diantaranya :Uis Batu Jala, Uis Gobar Dibata, Uis Pengalkal, dan lain-lain.



No comments:

Post a Comment