01 November 2011

Seni Sastra dan Suara Karo (bagian1)


Berekspresi melalui kesenian merupakan salah satu aktivitas manusia yang sangat umum dalam setiap kelompok masyarakat pada umumnya. Dengan demikian kesenian merupakan suatu kebutuhan yang penting dalam masyarakat untuk mengekspresikan dirinya sebagai manusia yang memiliki perasaan indah, senang, gembira maupun perasaan sedih.

Suku Karo sebagai salah satu etnik dari beratus etnik yang dimiliki Nusantara tentu memiliki keunikan kesenian tersendiri. Keunikan Kesenian Karo ini lah yang menjadi kebanggaan suku Karo dalam menjalankan tutur budayanya.

Berikut ini kesenian-kesenian yang dimiliki oleh masyarakat Karo dalam budayanya.

1.  Seni Sastra
Kesusasteraan Karo memiliki dua bentuk, yakni lisan dan tulisan. Namun, sastra bentuk, lisan lebih dikenal dan lebih sering digunakan dibandingkan tulisan. 

1.1 Sastra Lisan
Pada  umumnya dalam berkomunikasi dengan sesamanya,  orang Karo mempergunakan bahasa Karo. Dalam berkomunikasi atau pembicaraan sehari-hari, penggunaan bahasa Karo ini tidak memerlukan suatu bentuk atau susunan dan aturan yang baku, yang penting apa yang dikehendaki atau yang perlu disampaikan  bisa dimengerti oleh lawan bicara/pendengar.

Namun untuk keperluan tertentu, seperti ungkapan keluh kesah, pembicaraan adat, bernyanyi, dan lain sebagainya dilakukan pemilihan kosa kata yang dianggap paling sesuai. Kosa kata  yang dimaksud adalah apa yang disebut oleh orang Karo sebagai cakap lumat (bahasa halus).

Cakap lumat adalah dialog yang diselang-selingi dengan pepatah, perumpamaan, pantun dan gurindam.  Pemakaian  cakap lumat ini sering dipergunakan dalam upacara adat seperti  Upacara  perkawinan, memasuki rumah baru, dan dalam pergaulan muda-mudi (ungkapan percintaan).

Berdasarkan dari beberapa sumber, seni sastra Karo dibedakan atas beberapa kategori, diantaranya :

1. Tabas-abas (mantra), yaitu sejenis mantra yang diucapkan atau dilantunkan untuk mengobati orang yang sakit. Mantra ini biasanya diucapkan/digunakan oleh seorang Guru sibaso (dukun).

2. Kuning-kuningan,  yaitu sejenis teka-teki yang  biasa digunakan oleh anak-anak, muda-mudi maupun orang tua di waktu senggang,  sebagai permainan untuk mengasah otak.
3. Ndung-dungen, yaitu sejenis pantun Karo yang terdiri dari empat baris. Dua baris terdiri dari sampiran, dan dua baris berikutnya merupakan isi.
4. Bilang-bilang, yaitu dendang duka yang merupakan ratapan seseorang yang sedang berduka. Misalnya kerana teringat dengan ibunya yang telah meninggal dunia; ataupun meratapi kekasih yang telah meninggalkan dirinya kerana sesuatu hal.  Dahulu Bilang-bilang  ini ditulis dengan aksara Karo di sepotong bambuatau kulit kayu, isinya adalah jeritan hati sipenulisnya.  Semenjak dahulu  bilang-bilang ini biasanya  terfokus pada suasana kepedihan/kesedihan. Oleh karena itu ada juga yang mengatakan bilang-bilang sebagai “Dengang duka”.
5. Turi-turin, adalah cerita yang berbentuk prosa yang isinya tentang asalusul marga, asal usul kampung, cerita tentang orang sakti, cerita lucu, dan lain sebagainya. Turi-turin biasanya diceritakan orang-orang tua kepada anak atau cucunya pada malam hari  sebagai pengantar tidur. Beberapa judul ceritanya antara lain:  Beru Patimar, Panglima  Cimpa Gabor-gabor, Gosing si Aji Bonar, dan sebagainya.(ibid & blog Julianus Limbeng).

1.2 Sastra Tulis
Aksara Karo merupakan salah satu bentuk kekayaan sastra Karo. Menurut sejarahnya aksara Karo bersumber dari aksara Sumatera Kuno yaitu campuran aksara Rejang, Lebong, Komering dan Pasaman. Kemungkinan aksara ini dibawa dari India Selatan, kemudian ke Myanmar/Siam dan akhirnya sampai ke Tanah Karo. Aksara ini hampir mirip dengan  aksara  Simalungun dan Pakpak Dairi,  yaitu berupa huruf silabis (semua huruf atau silabel dasarnya berbunyi a) yang biasa disebut: haka bapa na wa yang merupakan enam silabel pertama.

Aksara Karo

Pada umumnya tulisan atau aksara Karo tempo dulu digunakan untuk menuliskan ramuan-ramuan obat, mantra atau cerita. Tulisan ini di ukir di kulit kayu atau bambu yang di bentuk sedemikian rupa agar dapat dilipat-lipat, dan biasanya huruf-huruf ini diukir dengan menggunakan ujung pisau dan setelah itu tulisan tersebut diwarnai (dihitamkan) dengan bahan baku tertentu.
Sumber : http://www.wikipedia.com/karo.html

2.  Seni Suara (Vokal)
Dalam berkesenian, orang Karo tidak mengenal istilah seni suara (vokal), namun biasanya orang bernyanyi sering disebut rende, dan penyanyi berarti perendeende. Jika seorang  perende-ende juga pandai menari (Landek)  dan  sudah biasa bernyanyi sekaligus menari dalam suatu pesta  Gendang guro-guro  aron, maka sebutan uuntuknya telah berubah menjadi Perkolong-kolong.

Kemampuan ini tidak  terbatas hanya pada kemampuan menyanyikan lagu-lagu Karo yang bertemakan percintaan atau muda mudi, namun juga mampu menyanyikan lagu-lagu yang bertemakan  pemasu-masun (nasihat-nasihat) yang secara teks atau liriknya sangat bergantung kepada konteks suatu upacara. Artinya melodi lagu  pemasu-masun memang telah diketahui atau dihapal, namun lirik dari melodi tersebut harus dibuat (dinyanyikan) sendiri oleh  Perkolong-kolong  tersebut pada saat bernyanyi sesuai dengan konteks upacara yang sedang berlangsung pada saat itu.

Diperkirakan pada zaman dahulu masyarakat Karo  belum mengenal seni suara secara nyata. Kemudian dalam perkembangannya muncullah lagu-lagu yang dibawakan seseorang sebagai  ‘Perende-rende’ (penyanyi).  Lagu-lagunya masih cenderung bertema kesedihan, dan lagu ini biasanya dibawakan untuk  pengantar sebuah cerita atau memuja seseorang, juga  dibawakan untuk  menyampaikan doa seperti lagu didong-didong.

Sementara dalam perkembangan selanjutnya budaya Karo mengenal beberapa jenis seni vokal diantara:
• Katoneng-katoneng (nyanyian yang berisikan pengharapan),
• Didong dong (nyanyian yang berisikan nasehat-nasehat),
• Mangmang (nyanyian yang berisikan doa-doa),
• Tangis-tangis (nyanyian ungkapan keluh kesah),
• Turi-turin (nyanyian untuk menceritakan sesebuah cerita),
• Ende-enden (nyanyian muda-mudi).

Penyajian  seni vokal  Katoneng-katoneng dan  Ende-enden dilakukan oleh seorang penyanyi dan penari tradisional Karo  (Perkolong-kolong) di dalam acara adat dan hiburan.  Sementara nyanyian  Mangmang dilakukan oleh seorang  Guru sibaso (Dukun) di dalam upacara yang berkaitan dengan kepercayaan tradisional (ritual). Sedangkan, nyanyian  Tangis-tangis dilakukan pada upacara kematian,  dan didong-dong biasanya dinyanyikan dalam upacara perkawinan.

Sumber : Repository.usu.ac.id

1 comment:

  1. Kalau tentang Seni Sura, saya rasa Karo salah satu suku yang memiliki teknik vokal Senina. Kita bangga "ngerengget" adalah teknik vokal khas Karo atau bisa kita katakan "seroiza" khas Karo dan orang Toba saja yang banyak menghasilkan penyanyi aja gak ada teknik vokal tradisinya. Hehehe...

    ReplyDelete