02 November 2011

Kisah yang tersisa dari 'Onderneming' Langkat



English: Controller Twerda and mister Bravenboer, land surveyor of the Senembah Company,
visiting the Batak kampung Lau Rempak
Nederlands: Foto. Controleur Twerda en de heer Bravenboer, landmeter van de Senembah Maatschappij, tijdens een bezoek aan de Batak kampong Lau Rempak om de kampong-grens vast te stellen
Date : 1927-1932
Source : Tropenmuseum

Laki-laki separoh baya itu digiring ke rumah pamanku. Dia menunduk malu dengan wajah bengkak bekas tonjokan, dan luka lecet disana sini. Dalam sekejab beranda rumah paman sudah dipenuhi orang-orang kampung yang ingin tahu. Seorang laki-laki berusia kira-kira tiga puluhan maju menghadap paman, menceritakan peristiwa yang terjadi dengan suara bergetar penuh emosi.

Beberapa waktu belakangan ini dia menaruh curiga pada sang isteri yang bertingkah laku tidak seperti biasanya dan menurut bisik-bisik tetangga, sang istri ada ‘main’ dengan laki-laki separoh baya yang juga sudah beristri dan beranak pinak itu. Sang suami yang bekerja sebagai buruh, setiap pagi berangkat bekerja menderes pohon-pohon karet milik perkebunan PT Lonsum (PT London Sumatera).

Hari itu dia bekerja dengan hati gelisah, timbul kecurigaannya apakah laki-laki separoh baya itu sedang melakukan pertemuan sembunyi-sembunyi dengan sang istri yang sekarang tinggal sendirian di rumah? Sang suami minta ijin pada mandor untuk pulang kerumah sebentar, dan kecurigaannya pun terbukti, sang istri sedang……………………………………. (waktu itu aku masih kecil jadi gak paham istilah ............, emangnya lagi ngapain? :)) Kejadian berikutnya… anda tentu sudah bisa membayangkan dan melanjutkan ceritanya sendiri, hehehe...

Kampung itu terletak di tengah perkebunan karet milik PT Lonsum di daerah Langkat. Kakek buyut emakku dari Tanah Karo yang pertama kali merantau dan membuka hutan di daerah itu. Semua suku Karo yang mendiami kampung masih ada hubungan saudara. Setiap kepala keluarga mempunyai lahan lumayan cukup untuk di tanami karet, cengkeh, padi atau tanaman lainnya. Suku Karo mendiami sepanjang sisi jalan dengan berbagai model rumah.


Ada rumah panggung seperti rumah-rumah orang Melayu/Deli, model rumah agak modern berjendela kaca atau model rumah toko/ruko. Berseberangan dengan kediaman suku Karo terdapat perumahan buruh perkebunan yang disebut dengan istilah “Pondok”. Perumahan ini terbuat dari papan dengan model seragam, tersusun rapi di sepanjang sisi jalan berjajar ke belakang.

Pada umumnya buruh perkebunan ini anak keturunan para “Koeli kontrak” yang di datangkan dari Jawa pada jaman kolonial untuk dipekerjakan di “Onderneming” tembakau di tanah Deli. Pola perikatan kerja tempo dulu yang disebut “Koeli kontrak” memaksa secara tidak langsung para koeli untuk “betah” tinggal di “Onderneming”. Karena kenyataannya mereka lebih banyak berhutang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada tabungan untuk modal beralih ke pekerjaan lain, untuk membeli rumah, kebun atau pulang ke kampung halaman.
Nederlands: Foto. Tabaksvelden en schuren behorend tot de Namoe Oekoer plantage,
in de buurt van de Bekoelap rivier.
Date : 1885-1888
Author :G.R. Lambert & Co. (Fotograaf/photographer).
Source : Tropenmuseum
Perkampungan Karo di Namorambe (Deli Serdang Sekarang) Tahun 1880-1890

Cara yang ditempuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup adalah menyetujui “rekruitmen” warisan melanjutkan “sistem kontrak”. Anak para koeli yang hidup pas-pasan dan dibesarkan dalam kondisi yang jauh dari kecukupan, sejak kecil sudah harus membantu orang-tuanya mencari uang dengan memetik tembakau. Sehingga nasib mereka pun sama seperti generasi orang-tuanya, setelah menginjak dewasa menjadi koeli sampai kepada keturunan mereka sekarang menjadi buruh di perkebunan-perkebunan, salah satunya di perkebunan milik PT Lonsum di kampung emakku.

Pamanku adalah kepala kampung yang tugasnya antara lain menyelesaikan masalah-masalah yang menimpa warganya. Masalah pencurian, pertikaian kecil atau perselingkuhan kadang mewarnai kehidupan di kampung itu yang melibatkan dua suku, tapi tidak pernah sampai menimbulkan perselisihan antara suku Karo dan Jawa. Dalam banyak hal justru kedua suku ini saling bantu dan dukung.

Paman mengambil orang-orang pondok untuk mengurus kebunnya dan menganggap mereka sudah seperti keluarga sendiri. Paman juga punya toko kelontong yang menyediakan segala kebutuhan sehari-hari. Orang-orang ‘Pondok’ belanja di toko paman dan biasanya membayarnya setelah gajian. Di ujung pondok ada bangunan cukup besar tanpa dinding, dilengkapi panggung dan ruang ganti.

Pada saat gajian atau pada peringatan-peringatan hari besar disitu digelar pasar yang menjual segala macam barang, mainan anak-anak, makanan, juga menampilkan berbagai kesenian secara bergilir seperti Ketoprak, Ronggeng, Ludruk atau Wayang. Saudara-saudara sepupuku yang kost dan sekolah di kota biasanya pulang, ikut menggelar dagangan untuk menambah uang jajan. Mereka juga sudah sangat akrab dengan kesenian-kesenian ini, bahkan bisa begadang semalam suntuk untuk menyaksikan pegelaran wayang.

Dikampung yang didiami suku Karo masih ada bekas sisa-sisa kepercayaan lama yang lazim disebut, Pemena, Pelbegu dan lain-lain. Ini terlihat dari diselenggarakannya secara rutin upacara-upacara yang berhubungan dengan roh-roh atau tendi. Seperti dalam upacara “Erpangir ku Lau” yaitu upacara untuk memulihkan rezeki dengan berlangir ke sungai.

“Ndilo Tendi” adalah pemanggilan tendi dari orang yang dianggap telah mengembara. Upacara Pe (te) rumah Nini’, yang kurang lebih merupakan upacara pemanggilan roh nenek moyang untuk memasuki raga Guru si Baso, sehingga si nini bisa berdialog dengan keturunannya. Upacara-upacara sedemikian, lengkap diikuti dengan segala macam “Sesajen” dan menampilkan seni musik Karo tradisionil. Pada malam harinya ada acara ‘’Guro guro Aron” semalam suntuk, kesempatan untuk bujang dan gadis berkenalan atau ikut ‘’Landek” dan “Rende” ( menari dan menyanyi). Pada saat acara-acara seperti ini, orang-orang yang tinggal di pondok bergabung dengan masyarakat Karo, ikut menyaksikan sebagai hiburan yang menyenangkan.

Sekarang kampung emakku sudah sepi. Sejak paman dan istrinya meninggal, rumah kosong karena anak-anaknya semua hidup di perantauan. Begitu juga dengan keturunan dari keluarga Karo lainnya, banyak yang pergi merantau meninggalkan kampung. Upacara-upacara tidak pernah lagi diselenggarakan kecuali “Guro guro Aron” karena hampir semua suku Karo yang mendiami kampung itu sudah menganut agama Islam. “Pondok” yang berseberangan dengan kampung pun sudah berubah menjadi kebun kelapa sawit. Semoga saja dengan semakin luasnya kebun, buruhnya pun ikut terkena imbas, taraf kehidupannya semakin meningkat. Semoga…..

‘Tiara’ b lampung 27 maret 2010

No comments:

Post a Comment