17 December 2011

Refleksi Antologi PUISI "PINCALA" karya TARIGANU



Usaha Tarigan atau Tariganu
Antologi puisi "Pincala" karya Tariganu, yaitu suatu karya yang afirmatif dengan kebebasan par-excellence mengeksplisitkan kebebasan par-excellence mengeksplisitkan status ontologism manusia sebagai suatu aktus kesadaran vis a vis dengan dunia realitas. Pincala adalah representasi dari manusia tangguh sekaligus suatu tema sentral dalam mengungkapkan misteri manusia.

Pincala, sebuah nama mengacu kepada burung bersuara merdu memiliki kekuatan dasyat, syarat visi dan artikulatif tentang takdir dan masa depan. Panen dan kelimpahan, bisikan tentang masa depan tersuarakan. Pincala analog dengan Hermes, duta penguasa Olympus yang mewartakan pesan kepada manusia merupakan wacana bagi media interpretasi sekaligus sebagai sarana ekspresi pengarang dalam pergumulannya dengan realitas. Melalui Pincala Tariganu mengartikulasikan kebebasan dengan nuansa universalitas serta memposisikan ontologis kehendak sebagai dasar pemahaman manusia yang tertuang dalam ritus dan madah "keagungan manusia" dan bukan "manusia agung" Nietszchean.

Dengan ontology kehendak sebagai titik tolak pemahaman tentang realitas-telah dirintis oleh Aristoteles dan terdogmakan oleh Agustinus, menjadi pegangan Schiller dan terkuduskan dalam diri Nietszche dan termatangkan dalam diri Heiddegger sebagai titik tolak pemahaman ontologi manusia suatu kelana kemausiaan tergelarkan dan dunia realitas dijelajahi. Tradisi tersebut berlanjut pada diri Tariganu si penyair Tanah Karo.

Kesadaran menjadi aktual dalam persentuhannya dengan bahasa dan budaya, etre du monde Merleau-Ponty terpaparkan dalam kepenyairan Tariganu. Makna dan signifikasi manusia terungkap. Kontroversi tentang dirinya sebagai penyair pemula dalam heboh sastra pada dasawarsa lima puluhan di Medan mengantarkannya ke penyair ranum. Dalam rentang perjalanan waktu Tariganu secara pasti mempertegas komitmen dan integritasnya sebagai pengarang dan memproklamirkan diri sebagai humanis realist. Dalam proklamasi tersebut ia meletakkan dimensi antromorpistik Tuhan ke dalam tataran roh sebagaimana Freubach yang mendaulat Tuhan sebagai proyeksi manusia. Orientasi antrophomistik sebagai sublimasi ethis dan pathos suku Karo termuskilkan.

Dengan ketegaran akuntabilitas humanistik ia juga terobsesi untuk merambah humanistas dan mewarnai universalitas. Sekali langkah diayunkan dan sebelumnya tujuan ditetapkan dalam laras pada visi emansipatoris, dengan kepastian kategoris aktualisasi kebebasan dalam aras aktus kesadaran eidetic vis a vis dunian dan realitas.

Dimensi ruang dan waktu, yang sangat sentral dalam fenomenologi, serta dimensi ekatologis berupa intervensi illahi tertorehkan di atas gerbang Kuil Delphia Yunani Kuno, yaitu " Kenali Dirimu", sangat kental dan akrab dalam komunitas Karo. Kesadaran terhubungkan dengan universalitas terkait dengan kondisi objektif globalisasi, dengan situasi politik Indonesia, termasuk di dalamnya krismon, sosok presiden Gus Dur, kegalauan paska Orba, disorientasi dan anomali, tragedi Semanggi, dan mata rantai revolusi ke pembantaian manusia Tienmen. Cina terdudukkan dalam suatu pemahaman realias, yaitu manusia konkrit.

Dengan partisipatoris visi Tariganu tampil prima melampaui konsep manusia Faustis. Ia juga secara dramatis mengatasi manusia abstrak Hegel. Dunia roh tersubordinasikan ke dalam dunia subjek. Manusia memperoleh rohnya kembali.

Segenap unsur konstitutif tersebut yang menopang nalar fenomenon suku Karo diyakini mampu pula menghimpun dan mengartikulasikan jiwa dan zaman (geistzeit) dan tuntutan humanitas. Orientasi pemikiran dan refleksi kognitif komunitas, kesantunan dan kesahajaan, kejujuran dan transparansi serta keberanian, adap dan adab serta ekspektasi Karo terjungkalkan.

Karonisasi barangkali tepat dalam mendudukkan obsesi Tariganu dalam merambah dan memperkaya humanitas. Sebagai seorang realist-humanist. Tariganu tersandingkan dengan gagasan sentral Puskin, yaitu Russifikasi humanitas. Dengan orientasi tersebut bersama-sama dengan masyarakat dunia di lima benua, masyarakat Karo mengaktulisasikan fitrah rekonstruksi diri manusia dalam dunia realitas. Tariganu mensintesakan intuisi ketimuran dan nalar Eropa Barat. Melalui kelabat dan nuansa satire, tragedi dan drama kehidupan serta takdir manusia secara apik terbingkaikan dalam harmoni dunia kolosal.

Dengan semangat Karonisasi tariganu penuh passi merambah permasalahan ontologis manusia dan kebebasan dalam tataran realistik dengan semangat "kehendak" sebagai platforma. Realitas dihadirkan sebagai suatu keniscayaan dan bukan kontigensi. Frasa filosofi tersebut dapat disandingkan dengan semangat neo-Copernikan ala Kantian yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasi.

Keagungan manusia yang menjadi obsesi Tariganu terafirmasikan dalam keniscayaan realitas. Dalam keniscayaan ini pulalah Tariganu berkiprah. Dalam mewujudkan visi emansipatoris tersebut ia berpijak pada formula kembali ke asal. Asal adalah simpul pencarian esensi dan eksistensi sekaligtus landasan kreativitas-dialektis manusia sebagai subjek kesadaran. Segala sesuatu berawal dan kembali kepada asal adalah suatu tema sentral kepuisian Tariganu. Formula yang ditawarkan adalah replantasi.

Dalam percakapan manusia Tariganu, si penyair asal tanah Karo berorientasi pada pemikiran Rusia, Pushkin, secara esensial dan mencengangkan menampilkan suatu diskursus tentang puisi fenomenal sastra Indonesia yang bermuara kepada diaspora pemikiran dan kultur. Sesuai dengan etos kehendak, ia terpanggil untuk memaknai peradaban universal dari titik tolak spektrum lokal. Dalam perspektif tersebut suku Karo sebagai suatu komunitas dikonstatasikan mampu memberikan konstribusi. Ia mencanangkan suatu formula, yaitu kembali ke Tanah Karo, sebagaimana Pushkin mengisyaratkan kemutlakan merujuk kepada daya sublim milik tanah Rusia sebagai titik tolak kelana dan jelajah humanisme.

Sejalan dengan otonomi daerah, platform primordialistik, sebagai moda perenungan dan refleksi mestinya mengisyaratkan fenomena baru dalam sastra Indonesia yang berorientasi pada humanisme dan universalitas. Atas dasar konstatasi ini Tariganu terobsesi untuk mendongkrak dunia puisi yang cenderung lesu-sebagai suatu wacana mimesis dunia realitas seturut dengan pemikiran metafisis Aristoteles-terpastikan karena tampil tegar dalam abad millennium ini. Nuansa primordialistik dan karakterisitik serta keunikan domestik scara ajeg dan pas teracik ke dalam nilai universalitas.

Upaya untuk mewujudkan visi emansipatoris Tariganu mengikuti jejak Rene Descartes dengan mengafirmasikan dimensi nalar sebagai yang primer. Ia juga mendudukkan tradisi, adat, kebiasaan dan moralitas serta religious sebagai platform pemahaman ontologis manusia. Namun berbeda dengan Descartes, terutama dalam prespektif realitas, ia mengisyaratkan pentingnya instuisi disamping nalar.

Konvergensi ranah nalar dan instuisi menyertakan dunia irrasional yang syarat dengan mistik dan mitik oleh penyair oleh Tariganu menjadi suatu energi dasyat, sekaligus terhadirkan sebagai yang fungsional dalam membangun suatu visi humanitas yang berorientasi masa depan.

Jun 24, 2007

1 comment: