28 December 2011

Gua Umang atau Batu Kemang oleh J.H Neumann


Batoe Kemang atau Gua Umang , Siboelangit, 1906


Salah sada dokumen emekap tulisen Pandita JH Neumann tahun 1905, kira kira seratus enem tahun si lewat, judulna “Rumah Umang” (Gua Kemang). I ja kin rumah umang, janah kai kin umang?

Adi nina tua tua kalak Karo, umang emekap sejenis mahluk halus si mirip ras jelma tapi belinna kira kira seperempat belin jelma biasa. Erdalan mungkuk janah tukul tukulna arah lebe, kambal kambalna ngala ku pudi. Umang beluh ngelimun (menghilang), emaka labo teridah adi lakin dua lapis pengenen matanta, pala ate umang kin encidahken bana. Nina kin kunu (konon), nai nai pernah nge anak kuta sekitar Sibolangit babaken umang.

Kenca bene kira kira dua minggu, rempet ia seh i darat kuta. Orang tua, kade kade ras pe anak kuta enggo latih daram daram ise pe la ngidahsa sepulu telu wari dekahna. Emaka nuri nuri me si bene enda ndai maka mbaru denga ia ndahi kerja kerja meriah i sada kuta si sehkal jilena. Erkata gendang, suari berngi, landek landek, man minem, uis mejile, ayam ayam pirak mbentar ras emas megersing, tempa tempa tading ibas astana kerajan si sampur dadih ras tengguli.

Emaka megati nge gel gel i begi anak kuta sora rende ras gendang meriah dauh dauh nari, tapi adi i dahi kempak asal sora, kai pe labo jumpa. Amin bage gia, i kuta Durin Tani deher Sembahe, baluren Lau Betimus lit me ije guha batu bas awak reben. Nina tua tua sidekah eme rumah umang si enggo tadingkenna. Janah terbernehen i tepi lau Betimus lit ka ije ‘batu pertenunen’ ras pe ‘batu penjemuren’. Ibas berngi tertentu deherken rumah umang e megati ka idah kalak sekin tah patuk pesai juma. Begi sorana, tapi la idah jelmana.

Neuman di Batoe Kemang, 1906
JH Neumann tiba tahun 1900 dan belajar Bahasa Karo di Jakarta selama satu tahun. Mulai bekerja di Sibolangit dan sekitarnya 1901 dan wafat di Medan 1949. JH Neumann bukanlah sarjana Theologi. Beliau
ditabalkan sebagai Pendeta setelah teruji kirprahnya sebagai penginjil aktif dan berbuat banyak bagi masyarakat Karo pada zamannya. Dia menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Karo dan beberapa buku cerita alkitab lainnya. Beliau juga menulis Kamus Bahasa Karo – Bahasa Belanda yang pertama. Beliau adalah penginjil yang paling lama melayani di daerah Karo dan ikut membidani lahirnya GBKP. Itulah sebabnya GBKP menabalkan namanya di Sekolah Tinggi Managemen Informatika dan Komputer sebagai STMIK Kristen Neumann Indonesia.

Di tahun tahun awal pelayananya, tepatnya 17 dan 18 May 1906 JH Neumann bersama E.J. Van Den Berg mengulangi kunjungannya ke Batoe Kemang. Mencatat secara detail semua temuannya. 

(Tulisan R. Sitepu, sumber klik)


DE BA TOE KËMANG, NABIJ MEDAN.
DOOR
E.  J. VAN DEN liERG en J. H. NEUMANN',

Nadat reeds door verschillende personen, en ook door ons herhaaldelijk een bezoek was gebracht aan de Roemah Oemang, of ook wel Batoe Kemang geheeten, gingen wij den 17 en 18 Mei 1906 daar weer heen ten einde door opmetingeu dezen steen iu kaart te brengen, en zoodoende er de aandacht van meer bevoegden op te vestigen.

Wanneer men den straatweg van Medan naar Bandar Baroe volgt, heeft men even voorbij het dorp Simbahe een voetpad, dat ons uaar de kampong Doerian Tani br engt, een klein dorp aan gene zijde van de Bëtimoes-rivier gelegen. Ongeveer 10 minuten van dit dorp treft men een grooten steen aan die — zie fig. a op Plaat I — een zeer regelmatige gedaante vertoont. Volgens de legende is deze steen de woonplaats geweest van een kabouter, hier omeng of kemang geheeten; vandaar dat de steen den naam draagt van Roemah Oemang = Huis van den Kabouter, of  Batoe Kemang = Kaboutersteen.

selengkapnya klik KITLV-Journals.nl

1 comment:

  1. Dari diskusi di FB Group Jamburta Merga Silima :

    ~ Juara R Ginting : Kamus Neumann diterbitkan tahun 1951 di Medan, 2 tahun setelah ia meninggal dunia di Medan. Kamusnya ini sebenarnya bukan yang pertama untuk Karo--Belanda. Neumann mengembangkan kamus Karo--Belanda yang sudah duluan dibuat oleh Pdt. M. Joustra. Joustra keluar dari Masyarakat Zending Belanda (NZG) dan mendirikan Batak Instituut di Leiden yang pernah mengeluarkan buku Batak Spiegel (Cermin Batak). Joustra lebih suka disebut sebagai etnolog (antropolog) daripada pendeta.

    ~ Juara R Ginting : Tulang belulang J.H. Neumann nantinya dipindahkan dari pekuburan Simpang Jl. Iskandar Muda dengan Jl. Gajahmada ke Sibolangit oleh GBKP. Kelebihan Neumann dibanding para pendeta NZG yang ke Karo, dia memberikan perhatian besar sekali terhadap kepercayaan2 tradisional Karo, terlihat dari publikasinya tentang, a.l.: Si Dayang, Het Persilihi Mbelin, Tempat-tempat Keramat di Karo, Sejarah Karo berdasarkan legende-legendenya. Dia pernah menulis sebuah novel tentang perjalanannya pertama kali ke Karo dengan nama samaran Henk. Di salah satu bagian dia menulis: "Di sinilah Taman Eden itu. Mengapa saya harus memperkenalkan Taman Eden kepada orang-orang Karo yang memang tinggal di Taman Eden?"

    ~ Ita Apulina Silangit : Dalam catatannya tentang gua uamng Neumann memberikan kesimpulan, pembuat gua tidak bisa didefinisikan apakah manusia purba atau umang seperti keyakinan Karo. Sampai sekarang acuan keberadaan gua umang di mana saja di wilayah tradisional Karo masih terpaku pada catatan2 Neuman dan Belanda2 perkebunan.

    ~ Juara R Ginting : Tapi, Ta, ada kok sedikit progress mengenai gua umang walupun masih sangat spekulatif. Menurut arkeolog Ketut Wiratnyana dalam sebuah tulisannya di Tabloid Sora Sirulo, dia menduga gua-gua umang di Karo adalah tempat penyimpanan mayat mirip seperti di Toraja.

    ~ Juara R Ginting : Menariknya pula, hasil survey yang pernah saya lakukan, gua-gua umang hanya terdapat di wilayah tradisional Karo (Langkat Hulu, Deli Hulu, Karo Gugung, Silima Kuta Simalungun, Taneh Pinem Dairi). Tak ada gua sejenis di tempat-tempat lain di dunia ini kecuali di wilayah tradisional Karo itu.

    ~ Ita Apulina Silangit : Ya, aku ingat itu. Cuma, spekulatifnya gua umang di semua wilayah tradisional Karo membuat kita masih ingin tahu sebanyak-banyaknya. Teringat lagi dengan sebuah cerpen Hujan Tarigan tentang gua umang yang di Tanjung, ukirannya di guanya bergambar kapal layar....apa sebenarnya yang disampaikan lewat ukiran2 yang berbeda2 itu?

    ReplyDelete