07 December 2011

DATUK BADIUZZAMAN SURBAKTI, 25 TAHUN MEMIMPIN PERANG SUNGGAL (1872-1895)



Pada tanggal 15 Mei 1872, telah terjadi peperangan antara Rakyat Sunggal (Serbanyaman) dengan tentara kolonial Belanda yang dapat dianggap berakhir pada tahun 1895, dengan dibuangnya Datuk Badiuzzaman Surbakti ke Cianjur, dan Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti ke Banyumas (Besluit No.3 tanggal 20 Januari 1895, pembuangan seumur hidup).

Wilayah Kedatukan Sunggal dahulu terletak di Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara). Ada dua anggapan tentang sebutan nama perang ini , bagi masarakat Melayu yang mendiami Sunggal dan suku Karo yang mendiami hulu pegunungan Sunggal menamakan perang ini dengan nama “PERANG SONGGAL’ (Prof DR.P.J.Veth, “Het Landschap Deli”,TKAG.II hal 162-165), sedang bagi sarjana Belanda menyebutkan perang ini dengan nama “Batak Oorlog” karena medan pertempurannya kebanyakan berada diwilayah pegunungan yang didiami oleh suku Batak Karo.

Perang ini termasuk perang besar di Hindia Belanda ,sehingga dikeluarkan medali khusus untuk itu, ini dapat dilihat pada Daftar dalam piagam di Museum KNIL di Bronbeek (Nederland) dalam Daftar Gespen Van Het Krwis Voor Blanggrijke Krijgsverrichtingen (Clasps Of The Cross for Important War Actions),No Clasp 8,Deli 1872, Occasion North East Cost Sumatera from 14 May-6 November 1872, Royal Degree 11 th June,1873 No.25.

Suku Melayu Sunggal berasal dari Suku Karo (Karo Jawi) bermarga Surbakti, dimana Suku Karo dapat dibagi atas 2 bagian yaitu Karo Dusun (Karo Gunung, yakini Suku Karo yang mendiami daerah pegunungan) dan Karo Jawi, yakni Suku Karo yang turun dari gunung.

Datuk Sunggal (Serbanyaman) berasal dari seorang Karo bernama Sesser Surbakti dari daerah Telu Kuru, berputerakan Si Gajah yang turun gunung mendirikan kampung Sumbuwaiken di kaki Gunung Sibayak, Si Gajah berputerakan Adir Surbakti yang turun gunung ke Daerah Pancurbatu, masuk agama Islam, Adir Surbakti berputerakan Datuk Hitam Surbakti (Raja Sunggal), yang pada tahun 1632 adik perempuannya bernama Nang Baluan kawin dengan Gocah Pahlawan (pada waktu itu ditempatkan oleh Kerajaan Aceh sebagai Wali Negara Imperium Aceh, di wilayah Kerajaan Haru, Sumatera Timur sejak tahun 1612) dari perkawinan ini lahir raja-raja Deli dan raja-raja Serdang, karena Sunggal memberikan sebagian ulayat (daerahnya) kepada Deli (wilayah Kuala Belawan dan Kuala Percut) dan Serdang, selaku Kalimbubu kepada Anak Beru, dan mengangkat Sultan Baru selaku turunan Ulon Janji.

Datuk Hitam Surbakti berputerakan Datuk Undan Surbakti yang anak perempuannya bernama Dayan Sermaidi kawin dengan Panglima Mangedar Alam salah seorang keturunan Sultan Deli, pada tahun 1822 Deli ingin menaklukkan Sunggal dan gagal. Datuk Undan Surbakti berputerakan Datuk Amar Laut Surbakti (tahun 1823) pada masa ini Sunggal melepaskan semua ikatan yang pernah ada dengan Deli, mengeluarkan Cap dan Bendera sendiri, meresmikan Sunggal Merdeka , hal ini dilakukan karena telah terjadi “penghianatan” oleh Deli sebagai anak Anak Beru, yang telah diberi ulayat oleh Sunggal malah ingin menaklukkan Sunggal yang merupakan Kalimbubunya sendiri.

Datuk Amar Laut Surbakti berputerakan Datuk Ahmad (Abdul Hamid Surbakti,gelar Datuk Indera Pahlawan Wazir Serbanyaman Ulon Janji) , pada masa ini Sunggal meresmikan namanya yang lain yakni Serbanyaman, saat itu Sultan Deli (Sultan Osman I) kembali membuka hubungan dengan Sunggal dan Aceh , Instituut Ulon Janji kembali diaktifkan.

Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti lahir di Sunggal pada tahun 1845, anak ke 4 dari Raja Sunggal Serbanyaman, Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti, dari ibu yang bernama Aja Mili bersaudara 7 orang 5 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yaitu Datuk Mohd.Mahir Surbakti, Datuk Mohd Lazim Surbakti, Datuk Mohd Darus Surbakti, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, Datuk Mohd.Alif Surbakti, Aja Amah/Olong br Surbakti dan Aja Ngah Haji br Surbakti. Mempunyai seorang istri bernama Aja Uncu Besar.

Ia menjadi Raja Sunggal Serbanyaman ke IX pada usia 21 tahun dan memerintah Kerajaan Sunggal pada tahun 1866 s/d tahun 1895, menggantikan Datuk Mahini (Kecil) Surbakti (pemangku Raja Sunggal 1857-1866) karena Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti Raja Sunggal ke VIII mangkat pada tahun 1857 dan anaknya Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti pada waktu itu masih dibawah umur (12 tahun). Pada masa mudanya sudah menunjukkan ketauladanan sifat-sifat pemimpin,kuat ilmu agamanya dan sangat dekat dengan rakyat Sunggal disayangi oleh saudara dan rakyatnya. Pada tahun 1865 Missi Belanda dibawah pimpinan Netcher memulai penanaman tembakau oleh Nienhuys didaerah Labuhan (Cats de Raet:Maandrapport December 1865).

Pada bulan Desember 1871 Datuk Badiuzzaman Surbakti memimpin rapat rahasia di sebuah kebun lada, untuk mengantisipasi pengambilan tanah-tanah rakyat yang telah dimiliki/diusahai selama berabad-abad secara turun temurun oleh Maskapai Perkebunan De Rotterdam dan pasca ditandatanganinya Perjanjian Traktat Sumatera .Rapat melibatkan :

a) Rakyat Sunggal terdiri dari Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti Raja Sunggal Serbanyaman),Datuk Sulong Barat Surbakti (Komandan Lasykar),Datuk Mohd.Jalil Surbakti dan Datuk Mohd.Dini Surbakti (Penasihat).

b) Nabung Surbakti sebagai Komandan pasukan Karo yang didatangkan dari daerah pegunungan.

c) Tuanku Hasym mewakili Panglima Nyak Makam sebagai Komandan Lasykar Aceh, Alas Gayo. (Datuk Sunggal mempunyai hubungan yang erat dengan Tanah Alas Gayo dimana leluhur mereka Sirsir/Sesser Surbakti pernah mengadakan pengembaraan dan membuat perkampungan di Tanah Alas Gayo di Lingga Raja).

Pada rapat itu dihasilkan keputusan :
Sunggal, Karo dan Aceh sepakat untuk membina persatuan dan kesatuan dan segala perselisihan yang dilakukan Belanda dengan politik pecah belahnya harus dilenyapkan.

Sunggal, Karo dan Aceh sepakat menentang Belanda serta mempertahankan setiap jengkal tanah warisan leluhur untuk masyarakat.

Sunggal, Karo dan Aceh secara bersama-sama mengusir setiap penjajah yang menjajah daerahnya.
(H.Biak Ersada Ginting : Sejarah Perjuangan Suku Karo Dan Dari Perang Medan Area Hingga Sipirok Area, Penerbit Ravi Bina thn 2002)

Sebagai realisasi dari rapat tersebut ia membentuk suatu badan yang berfungsi sebagai penyusunan bantuan perang dipusatkan di Kampung Gajah/Sitelu Kuru Tanah Karo. Badan ini bekerja untuk mengumpulkan anggota-anggota pasukan perang yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai ilmu yang kuat dengan kebathinan yang tinggi serta keperluan lainnya. Badan ini dipimpin oleh Datuk Mohd.Dini (Kecil) Surbakti dengan mendudukkan wakilnya silih berganti di tanah Karo. Badan ini bertanggung jawab kepada Raja Urung Sunggal Serbanyaman. Sebagai bentuk partisipasi masyarakat terhadap perjuangan tersebut maka setiap rumah tangga di Sunggal memberikan sumbangan wang dari 2 sampai 10 dollar yang digunakan untuk tujuan persiapan pertahanan.
(“In Soenggal is van elk huisgezin een heffing in geld gedaan,van 2 tot 10 dollars met het doel om zich weerbaar te maken”). (Residen Riau,Schiff,kepada GG.No.1184/1 tanggal 7 Mei 1872).

Dia memerintahkan kepada komandan pasukan dan pejuang rakyat Sunggal untuk menempatkan Pernyataan Perang yang menurut adat Karo dinamakan “Musuh Berngin” kepada mereka yang berpihak kepada Sultan Deli dan Belanda akan dibakar.

Hasutan Sultan Deli untuk merenggangkan hubungannya dengan Datuk Mohd.Jalil Surbakti dan Datuk Mohd.Dini (Kecil) Surbakti uwak dan pamannya tidak berhasil.
(“….. dat het hoofd van Sunggal Sri Dirajaonder den invloed staat van zekeren Datoek Ketjil en broeder Dt.Djalil diazich,hoezeer reeds bejaard,naar niets anders steven dan naar onafhankelijkheid van deli en van naburige Langkat”)

Seorang Cina pedagang candu mata-mata Belanda bernama Anton ditangkap oleh Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti,setelah beberapa lama kemudian dilepaskan dari pasungan dan dilarang masuk ke Sunggal menjual candu kepada rakyat. (Polititiek Verslag Resident Riouw 5 Pebruari 1873).

Sejak 15 Mei 1872 Datuk Badiuzzaman Surbakti memimpin rakyat Sunggal dengan mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dengan kekuatan pejuang bersenjata sebanyak 1500 orang. Pada 17 Mei 1872 pasukan Sunggal berhasil menewaskan Angelink dan Schoon serdadu Belanda,melukai beberapa orang termasuk Letnan Lange Komandan Marinir. Pada tanggal 24 juni 1872 pasukan Datuk Sulong Barat meluluh lantakkan pasukan Belanda di Sapo Uruk dan Tanduk Banua, sedangkan pada tanggal 27 Juni pasukan infantry pimpinan Kapten Koops dan artileri dibawah komandannya Van De Meurs diserang kaum gerilyawan seorang tewas dan beberapa orang luka parah. Van De Meurs segera memerintahkan seluruh pasukan meninggalkan benteng dan berusaha sendiri-sendiri menyelamatkan diri menuju kebon Enterprise. (T.Luckman Sinar SH: Perang Sunggal, Percetakan Perwira II Medan,1996)

Untuk memutus hubungan koordinasi antara Datuk Badiuzzaman Surbakti dengan komandan pasukan dan pejuang di daerah Timbang Langkat dan daerah hutan pegunungan maka Asisten Residen Siak ,Locker de Bruijne menetapkan Datuk Badiuzzaman Surbakti menjadi tahanan kota di Labuhan Deli, dan menekannya untuk menyerahkan gerilyawan pejuang rakyat Sunggal kepada Belanda namun strategi Belanda tersebut tidak berhasil. Datuk Badiuzzaman tetap tidak mau menyerahkan mereka kepada Belanda. (Assisten Resident Siak Locker de Bruijne kepada Residen Riau 26 Mei 1872).

Pada tanggal 30 Juni 1872 kaum gerilyawan berhasil mengusir Belanda di Sapo Uruk,menyerang kebun Enterprise dengan jatuhnya korban dari pihak Belanda dan Cina dimana mereka meninggalkan barang bebannya di tengah jalan. Tanggal 8 Juli 1872 Belanda mengungsikan para keluarga kulit putih karena diserang Lasykar Perang Sunggal di Perkebunan Padang Bulan, Paya Bakung dan Geserverance ke Labuhan untuk dinaikkan ke kapal Banka (F.A.W. Jeeger:”De Expeditie naar Deli,hal 348).

Pada tanggal 10 Juli 1872 datang bantuan pasukan Belanda yang dipimpin Letkol van Hombracht mengambil alih kepemimpinan Kapten Koops di kebun Enterprise Kampung Lalang, pasukan ini mendapat serangan Lasykar Sunggal jatuh korban di pihak Belanda dan Letkol van Hombracht luka parah. Tanggal 20 Agustus 1872 Belanda terpukul mundur di Rimbun. Pimpinan diambil alih Mayor van Stuwe dengan kekuatan 350 orang terdiri dari 1 detasemen artileri, 3 kompi infanteri termasuk 14 orang perwira. Pasukan ini mendapat perlawanan dahsyat di sepanjang Lau Margo oleh Lasykar Sunggal.

Dari keterangan resmi Departemen Pertahanan Hindia Belanda pada tanggal 4 November 1872, pada tahun 1872 saja telah terjadi korban tewas di pihak Belanda sebanyak 31 orang (serdadu Eropa 27 orang Angkatan Darat, 1 orang Angkatan Laut dan Bumiputra 3 orang), luka-luka sebanyak 592 orang (serdadu Eropa angkatan Darat 320 orang, 2orang Angkatan Laut dan Bumiputra Angkatan Darat 270 orang) belum termasuk korban dikalangan prajurit Laskar Sultan Deli dan Laskar Pangeran Langkat, penunjuk jalan dan kuli-kuli. (Krijgsbedrijven van het Rechter half 11 de Batalion Infantrie in het Rijk van den Sultan van Deli van den 11 den Juli tot den 6 den November 1872:Militair Spectator,3e serie,19e deel 1874 hal.265-266).
Uwak,paman dan sepupu Datuk Badizzaman Surbakti (Datuk Mohd.Jalil Surbakti, Datuk Mohd.Dini (Kecil) Surbakti dan Datuk Sulong Barat Surbakti dibuang dan ditahan di Cilacap dengan Besluit Gubernur Jenderal Belanda tertanggal 25 Juni 1873 Nomor 16. Pada tanggal 6 September 1874 Datuk Mohd.Jalil meninggal di Cilacap disusul adiknya Datuk Mohd Dini (Kecil) Surbakti pada tanggal 7 Agustus 1876. (Surat Direktur Pemerintahan Dalam Negeri kepada G.G. No.8462 tanggal 14 Agustus 1876).

Setelah ditangkap dan dibuangnya Datuk Mohd.Jalil Surbakti, Datuk Mohd.Dini Surbakti dan Datuk Sulong Barat Surbakti ke Cilacap, Datuk Badiuzzaman Surbakti mengubah pola perjuangan dari penyerangan secara langsung kepada serdadu Belanda menjadi penyerangan dengan cara membakar bangsal-bangsal perkebunan Belanda dan maskapai perkebunan asing, dengan maksud menimbulkan rasa tidak aman bagi tuan kebun dan keluarganya, menghentikan kegiatan produksi dan ekspansi areal.

Pimpinan penyerangan dan pembakaran bangsal-bangsal tersebut diserahkan kepada adik kandungnya Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti. Sosialisasi strategi ini dilakukan melalui rapat-rapat rahasia yang dilakukan di berbagai tempat termasuk di Kampung Pagar Batu yang dihadiri oleh pemuka masyarakat dan tokoh Lasykar Sunggal sejak tanggal 24 Oktober 1872.

Dalam bulan April 1873 Belanda terpaksa menempatkan pasukannya di kampong Lau Margo, Sei Bahilong, Namu Terasi, Sungai Siput, Gedong Johor dan di Padang Bulan, serta di kampung Sunggal sendiri. Didalam rapat besar antara Assisten Residen Siak bersama Sultan Deli dan Datuk-Datuk Empat Suku, oleh Assisten Residen Belanda terang-terangan diperingatkan kepada Datuk Badiuzzaman Surbakti, jika masih ada gangguan kamtibmas diwilayahnya maka yang paling bertanggung jawab adalah dia, terlebih setelah Sultan Dagang utusan Sultan Deli tidak diketahui kemana lagi rimbanya. (Surat Assisten Residen Siak Locker de Bruijne kepada Residen Riau tanggal 9 November 1872,Nomor LaE4).

Di Deli sendiri selain pembakaran bangsal-bangsal tembakau. Datuk Badiuzzaman Surbakti juga berhasil menggerakkan rakyatnya, sehingga petani tidak bersedia menjual beras kepada Belanda akibatnya Belanda terpaksa mengimpor beras dari Ranggoon. Pada tahun 1886 timbullah gerakan pengacauan di perkebunan (onderneming). Beheerder perkebunan beserta anak-anak dan istri mereka dibeberapa tempat mati terbunuh. Yang lainnya menjadi panik dan ketakutan dan merasa keselamatannya tidak terjamin lagi. Gerakan ini semakin meluas dan secara serentak di perkebunan milik Belanda dan maskapai perkebunan asing pembakaran bangsal dengan ranjau ini mengakibatkan tidak satupun bangsal dapat diselamatkan. (W.H.Schadee:Greschiednis van Sumatra Ooskust,Deel II).

Untuk memecah hubungan orang Karo dan Melayu Sunggal, Pemerintah Belanda menyokong memasukkan Zending Kristen dari Netherland ke Tanah Karo dan Deli Hulu, kemudian menciptakan pula kontelir khusus untuk urusan Batak dan membendung pengaruh Melayu/Islam. Politik pecah belah ini tidak berhasil malah makin mengeratkan hubungan antara orang Melayu, Karo dan Batak yang bertekad untuk membebaskan daerahnya dari penjajahan.(T.Luckman Sinar :Perang Sunggal Percetakan Perwira II tahun 1996).

Dari hasil dokumen intelijen yang diperoleh Belanda melalui penyusupan penghianat-penghianat di Kerajaan Sunggal pada tahun 1894 diketahui bahwa pimpinan tertinggi gerakan pembunuhan dan pembakaran bangsal-bangsal perkebunan sejak 1872 s/d 1895 adalah Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti. (T.Luckman Sinar : Perang Sunggal Percetakan Perwira II tahun 1996).

Pada tahun 1894 Belanda menawarkan perundingan dengan Datuk Badiuzzaman Surbakti untuk mencari jalan keluar mengatasi kemelut di Sunggal selama beberapa minggu dengan menemui Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta. Tawaran tersebut diterima dengan hati yang bersih mengingat usia perang sudah hampir ¼ abad. Setelah berangkat ke Betawi bersama adiknya Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, Datuk Mahmud (sekretaris) dan ajudannya Daim ternyata mereka tidak dipertemukan dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, malah disuruh minta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan yang tentu saja ditolak olehnya, bagi Datuk Sunggal dan rakyatnya sampai matipun mereka tidak mau jongkok-jongkok dan minta ampun kepada Belanda karena itu kepantangan nenek moyangnya.

Pada tanggal 20 Januari 1895 dengan Besluit Gubernur Jenderal Belanda Nomor 3 mereka dihukum buang seumur hidup setelah sebelumnya ditahan di penjara Bengkalis. Datuk Badiuzzaman Surbakti dibuang Ke Cianjur dan adiknya Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti dibuang ke Banyumas.Setelah kabar itu sampai ke Sunggal rakyat Sunggal berkabung selama 3 bulan menunjukkan hormat dan kesetiaan mereka kepada para pejuang rakyat itu.

Massa yang berkabung itu dapat dilihat setidaknya di masjid dan tempat peribadatan lainnya dimana mereka mendoakan pejuang rakyat itu. Karena pertempuran sudah agak mereda, maka Belanda menyatakan Perang Sunggal telah selesai tuntas tahun 1896, padahal kaum grilyawan masih beraksi. Nabung Surbakti mengerahkan seluruh pasukannya menghantam serdadu Belanda di Taluk Banua dan menyabung nyawa di Tanah Karo, dia gugur oleh peluru musuh pada tanggal 14 Agustus 1915 dan hingga kini bermakam di Kampung Kuala,Kecamatan Tiga Binanga Kabupaten Karo. (H.Biak Ersada Ginting : Sejarah perjuangan Suku Karo Dan Dari Perang Medan Area Hingga Sipirok Area,Penerbit Ravi Bina Cetakan I).

Datuk Badiuzzaman Surbakti 2/3 hidupnya sampai akhir khayatnya telah menggagas, memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata bersama rakyat Sunggal, suku Karo, Gayo, Aceh dan suku lainnya dalam mempertahankan wilayah atau tanah Sunggal dari penjajahan Belanda, ia juga memiliki konsistensi sikap dan perjuangan serta jiwa dan semangat Nasionalisme yang tinggi, ini dibuktikannya bersama pejuang Perang Sunggal yang lain mereka tidak pernah menyerah kepada Belanda tetapi ditangkap dan dibuang sampai akhir hayatnya.

Kebenaran sejarah haruslah dapat diungkapkan dengan jelas, adil dan jujur. Perang Sunggal 1872 s/d 1895 ini dapat dijadikan sebagai salah satu peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang heroik dan penuh keberanian dalam menentang penjajahan Belanda. Pengetahuan yang memadai dapat memberikan pemahaman yang benar tentang peristiwa sejarah itu. Dari semua itu diharapkan muncul penghargaan objektif dan sebaik-baiknya terhadap para pejuang secara nasional, maka selayaknyalah Datuk Badiuzzaman Surbakti diangkat dan disahkan Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.

Tahukah Engkau Sifat Pahlawan!
Bila Ia bersungut maka ia bersungut dawai
Bila Ia memandang maka ia bermata kucing
Bila Ia memegang maka ia bertangan besi
Bila Ia merasa maka ia berhati waja
Bila Ia berkarib setia Ia tiada bertukar
Bila Ia berjuang pantang surut Ia biar selangkah
Bila Ia menjumpai maut mati Ia berkapan cindai

Pesan Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti Raja Urung Sunggal Serbanyaman ke VIII kepada anaknya Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti dan Datuk Alang Muhammad Bahar Sri Indera Pahlawan Surbakti.

Sumber : klik 

2 comments:

  1. Ada suatu hal yang menarik disini,
    Nabung Surbakti yang menjadi salah satu panglima perang Sultan Sunggal Surbakti mergana adalah jua tanan kanan dari Batiren Perangin angin alias Pa Tolong (SIbayak Kutabuluh). Apakah ini berarti ada juga link menuju pertempuran di baluran lereng pegunungan di Karo Gugung?atau hanya sebagai kebetulan belaka?
    MAri qta cari tw sama2:D

    ReplyDelete
  2. saya juga keturunan dari sunggal , atok saya bernama datuk syahdan yg bergelar datuk jampal.sangat menarik ,

    ReplyDelete