13 November 2013

Pusi Rendra Buat Johnny Sembiring






Sajak Rajawali

sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

 (Puisi WS Rendra untuk Johnny Sembiring yang dimuat di sampul belakang 
dari buku biografi berjudul Johnny Sembiring: Antara Tembok Dan Tuhan.)

Buku biografi berjudul Johnny Sembiring: Antara Tembok Dan Tuhan, sebelum dibukukan, naskahnya dimuat secara bersambung (selama tiga bulanan) dalam harian Prioritas (yang setelah dibredel pemerintah Orba kemudian berubah menjadi Media Indonesia). Buku ini ditulis olehAgoes M. D. dan A. Husein Kndm dengan  penerbit Kurnia Esa di tahun 1987.



“Mas Rendra” – mengatakan bahwa beliau mengikuti (membaca) cerita bersambung tersebut setiap hari. Dan, bila cerita itu mau difilmkan, katanya, ia ingin menjadi sutradaranya. Sebuah pernyataan yang membuat penulis biografi tersanjung.

Tapi, sayangnya, cerita yang terkandung dalam biografi tersebut tidak memungkinkan untuk difilmkan pada masa itu. Tak bakal ada produser yang berani ambil risiko.

Selanjutnya, ketika cerber itu dibukukan, Mas Rendra ‘menghadiahkan’ sebuah puisinya, Sang Rajawali, yang kemudian di muat di sampul belakang buku Johnny Sembiring tersebut.

Buku itu mendapat tanggapan cukup luas. Resensinya muncul di beberapa majalah berita dan surat kabar. Di antara para penulis resensinya ada yang mengatakan bahwa puisi Sang Rajawali tak cocok untuk Johnny Sembiring.

Tentu saja, penulis biografi tahu sejak awal bahwa (isi) puisi itu memang bukan ‘milik’ Johnny Sembiring, seorang penjahat di tahun 1960an. Tapi kejujuran dan keberanian Johnny Sembiring untuk menelanjangi diri, dikagumi oleh Rendra. Itulah alasan Rendra memberikan puisinya.



No comments:

Post a Comment