11 Desember 2017

Kumpul Sinuhaji, Dibuang ke Ambon Hingga Ikut Pertempuran di Surabaya




Tentara India Britania menembaki penembak runduk Indonesia 
di balik tank Indonesia yang terguling dalam pertempuran di Surabaya, November 194


Setelah Partindo bubar, pada tahun 1937  berdirilah Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta. Gerindo didirikan oleh para pemuda pejuang seperti : Amir Syarifuddin, Mhd. Yamin, Sartono, Adam Malik, Adnan Kapau Gani dll. Pendirian cabang-cabang di daerah pun dilakukan,

Di Sumatera Utara, pemuda-pemuda seperti Muhammad Joni (Banteng Gemuk), Jakup Siregar, Mhd. Saleh Umar, Marzuki Lubis, Mualif Nasution, Terluda Sembiring Brahmana, Ibu Hadijah, Andico dll sepakat mendirikan Gerindo Sumatera  Utara. Berkedudukan di Medan dan dipercayakan Mhd. Joni sebagai Ketua I dan Jakup Siregar sebagai Ketua II.

Di Arnhemia (Pancur Batu) pun berdiri, Di tahun 1937, berdiri Gerindo Cabang Arnhemia. Nahar Purba, Terluda Brahmana dan Kitei Purba diutus dari Medan untuk mendirikan Cabang di Arnhemia.  Didirikan pula Ranting-ranting  Gerindo di wilayah Deli Hulu (Karo Jahe).

Tidak mau ketinggalan, di Januari 1938, Kumpul Sinuhaji,  Ngasil Sinuhaji  bersama pemuda-pemuda lainnya berhasil mendirikan Gerindo Ranting Rumah Mbacang, Deli Hulu (Karo Jahe). Masyarakat Rumah Mbacang antusias ikut di dalamnya.

Untuk itu Kumpul Sinuhaji yang aktif  dalam bidang kebudayaan, berusaha mendirikan sebuah teater bernama “Rakab De Trio.” Tujuannya agar Gerindo mendapat perhatian masyarakat luas dan mengembangkan kebudayaan nasional.  Kumpul Sinuhaji mendapat bantuan dari masyarakat, lakon yang dipentaskan selalu mendapat perhatian dari masyarakat ramai.

Lakon yang dipentaskan berjudul :  Sipincang, Perantaian 12, Ali Baba, Sipitung dll.  Sandiwara "Rakab De Trio" berkeliling baik ke kota-kota hingga perkampungan-perkampungan di wilayah perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur.

Kemana saja pertunjukkan bergeser, polisi rahasia Belanda (PID) selalu mengikuti. Di sebuah malam yang naas, Sandiwara Rakab De Trio bermain di sebuah perkebunan di dekat Rantau Parapat.  Lakon yang dimainkan berjudul Perantaian 12. Baru babak pertama selesai, tiba-tiba PID muncul untuk menghentikan. Dilarang untuk dilanjutkan karena berbau politik dan dianggap dapat mengacaukan keamanan.

Kumpul Sinuhaji dan kawan-kawan bersikeras untuk melanjutkan pertunjukkan. Namun PID mengancam akan membubarkan bila pertunjukkan dilanjut. Dan ancaman dengan pistol pun dilakukan  oleh PID.

Seorang pembantu Kumpul Sinuhaji panik saat melihat pistol diacungkan. Reflek ia menangkap pistol tersebut dan merangkul cepat sang  PID.  Kumpul Sinuhaji mencabut pisau Tumbuk Lada dipinggangnya dan menghunus ke perut PID.  PID pun tewas seketika.

Keadaan makin kacau, penonton berlarian pulang  dengan ketakutan. Dan kemudian selusin polisi datang menangkap Kumpul Sinuhaji, sedang pembantunya telah melarikan diri.

Kumpul Sinuhaji ditahan di Rantau Prapat. Dan pengadilan memutuskan ia dijatuhi hukuman seumur hidup dan dibuang ke Ambon. Akhirnya ia meninggalkan Medan dan dibawa bertolak menuju Ambon.

Di Ambon Kumpul Sinuhaji dipenjarakan di tangsi militer Belanda. Dan ia baru bebas setelah Jepang datang. Tentara Jepang sekitar tahun 1942 membebaskan tahanan-tahanan di tangsi militer itu. Kemujuran menghampirinya.

Dengan menumpang kapal layar, ia sampai ke Surabaya. Di sini Kumpul Sinuhaji melamar menjadi tentara Heiho. Di Surabaya ini, Kumpul Sinuhaji  mengganti identitasnya. Namanya menjadi Arifin Hasibuan.

Kumpul Sinuhaji ikut merasakan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang terkenal dengan perperangan Arek-arek Suroboyo. Kumpul Sinuhaji alias Arifin Hasibuan menjadi Komandan Pasukan Tempur Sriwijaya dengan pangkat Mayor.  Wakilnya saat itu adalah Kapten J. Rambe. Kekuatan pasukannya saat itu terdiri dari 500 orang Heiho.


Kapten J. Rambe inilah yang berhasil mengumpulkan  pasukan-pasukan Heiho yang terdiri dari Suku Karo, Toba, Mandailing, Aceh dan Padang yang baru pulang dari Kendari (Sulawesi). Pada waktu itu Surabaya Area berada di bawah komando Dr. Mustopo. Sedangkan Komandan Divisi adalah Kol. Yono Suwoyo. Koordinator pertahanan kota adalah Kolonel Sungkono.

Pada waktu pertempuran di mana tewasnya Brigadir Jendral Malaby dari pasukan Sekutu, pasukan Kumpul Sinuhaji alias Arifin Hasibuan mengambil bagian di daerah Jembatan Merah di samping  Gedung Bank Internatio.

Saat Agresi II, Kumpul Sinuhaji telah berada di Lampung sebagai calon opsir (AL) Pangkalan IA, dibawah komandan Mayor (AL) Hedar. Pernah bertugas di Teluk Betung dengan pangkat Letnan di tahun 1949. Pada tahun 1960 berhenti dari Angkatan Laut RI dengan jabatan terakhir Kepala Pemeriksa/Security S.O.I Markas Besar AL di Jakarta.

Ia memilih hidup berdagang beras dan pada tahun 1977m Kumpul Sinuhaji menjadi Ketua Umum PERDABI (Persatuan Dagang Pengecer Beras Indonesia). 

Sumber bacaan :

Karo dari Zaman ke Zaman Jilid 2 oleh Brahma Putro.

Tidak ada komentar: