11 Desember 2017

Nahar Purba dan Awal Kesadaran Nasional di Pancur Batu




Foto : Nahar Purba
Nahar Purba seorang tokoh pergerakan. Dimulai dari PNI (tahun 1928), Partindo (1931),
Gerindo (1937) dan Parpindo (1939). Terus berjuang hingga Proklamasi tahun 1945 hingga tahun 1950.

Pemuda-pemudi Karo yang maju dalam cara berpikir melihat kampung-kampung dijepit oleh perkebunan milik orang-orang Eropah. Kehidupan pincang masyarakat pondok (buruh perkebunan) dan masyarakat Karo dibanding kemakmuran hasil dari perkebunan.

Penduduk kampung-kampung suku bangsa Karo, merasa sengsara karena tanah sumber hidupnya sudah terbatas. Hasil pangan pun terbatas. Beberapa terpaksa memburuh ke perkebunan.

Orang pondok adalah orang-orang kuli kontrak dari suku Jawa, Tamil dan Cina. Mereka hidup dari banyaknya ancaman-ancaman dari peraturan yang dibuat. Tenaga mereka diperas.

Poenale Sanctie berlaku. Poenale Sanctie (pidana sanksi) adalah sebuah sanksi hukuman pukulan dan kurungan badan yang dijalankan oleh kolonial Belanda. Poenale Sanctie menempatkan kuli-kuli kontrak menjadi sapi perahan dan di pihak majikan mereka bebas berbuat. Hukuman tendang, dijemur, dipukul dengan rotan dan penjara kerap diberlakukan pada pekerja.

Atas kesadaran ingin merubah keadaan itu, Saleh Barus memilih keluar dari kampungnya untuk ke Medan. Ia kelahiran Tiga Juhar, kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu (Deli Serdang).

Awalnya ia bekerja sebagai pegawai rendahan di Istana Maimon. Ia yang sudah lama membaca kabar pergerakan di Jawa dan tulisan-tulisan Sukarno sejak PNI berdiri tahun 1927, memutuskan masuk ke Partai Indonesia (Partindo) di tahun 1931. Dan Sukarno juga menjadi pengurus Partindo setelah PNI dibubarkan karena Sukarno dipenjara.


Partindo Cabang Medan diketuai Jakup Siregar. Ikut juga Geliren Sinulingga, M. Ginting Munthe dan Nahar Purba masuk menjadi anggota Partindo.

Beberapa bulan kemudian, Nahar Purba dan Terluda Sembiring Brahmana mendapat mandat dari Djauhari Salim ( Ketua Partindo Andalas Utara) untuk persiapan mendirikan Partindo Cabang Arnhemia (Pancur Batu).

Beberapa pemuda sekitar Pancur Batu tertarik untuk bergabung dengan Partindo. Di antaranya adalah : R. Parinduri, Pa Ngendik Sembiring, K Ketaren, Merei Ketaren, Ngasil Sinuhaji, Kitei Purba dan Selamat. Susunan pengurus segera dilakukan dalam rapat pembentukan Partindo Cabang Arnhemia yang bertempat di salah satu rumah dekat Stasiun Kereta Api. Ketua 1 jatuh pada Nahar Purba. Ketua 2 dipegang Terluda Sembiring Brahmana. Sekretaris dipegang Saleh Barus. Anggota pengurus lainnya : Pa Ngendik Sembiring, Merei Ketaren, Ngasil Sinuhaji, Kitei Purba.

Tahun 1934, menyusul masuknya Keras Surbakti menjadi Penasehat Partindo Cabang Arnhemia. Beliau awalnya adalah pengurus Partindo Cabang Medan.

Keras Surbakti baru berumur 20 tahun saat bergabung dengan Partindo di tahun 1934. Karena kepintaran otaknya dan juga bekas pelajar Taman Siswa, ia segera bisa masuk dalam jajaran pengurus (komisaris) Partindo Cabang Medan.

Perjuangan masalah tanah dan Poenale Sanctie adalah hal utama yang diperjuangkan. Tentu mereka harus berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda dan Sultan.

Dan perjuangan di orang kebanyakan lebih diarahkan untuk menyadarkan dengan propaganda. Dilakukan secara diam-diam karena polisi rahasia Belanda atau PID terus memantau.

Nahar Purba dan Terluda Sembiring ditangkap bulan Agustus 1932 atas tuduhan menghasut rakyat. Ditahan beberapa minggu. Sebelumnya, Soekarno sebagai pengurus pusat Partindo juga ditangkap untuk kedua kalinya yaitu tanggal 1 Agustus 1932.

Partindo yang awalnya adalah kelanjutan dari Partai Nasional Indonesia (PNI), pada pertengahan November 1936 harus bubar. Pada tahun 1933 Partindo telah mempunyai 71 cabang (antaranya ada 24 calon cabang), beranggotakan kira-kira 20.000.

Penangkapan atas diri pemimpin besar dari Partindo itu dan larangan yang ditimpakan padanya tentang berapat, menyebabkan Partindo memasuki suatu tempo yang tidak mengandung aksi.

Partindo Cabang Arnhemia setidaknya telah menciptakan pemimpin-pemimpin revolusioner dan memberi kesadaran pada rakyat kebanyakan. Selanjutnya akan muncul gerakan rakyat yang lebih besar.

Catatan :

Moh. Saleh Barus pernah menjadi Wedana. Anggota DPRD Kabupaten Deli Serdang (1967) dari fraksi PNI Kab. Deli Serdang.


Bahan bacaan : 

Karo dari Zaman ke Zaman Jilid 2 oleh Brahma Putro.


Tidak ada komentar: