Skip to main content

Posts

Kedai Kopi dan Televisi

Televisi di Kedai Kopi (foto oleh  Aftonun Nuha) Oleh Pulumun P. Ginting Oh…Turang Oh…mbiring Manggisku Mbiring-Mbiring Seh Kal Jilena (Mbiring Manggis – Tumtam) Sepenggal lirik lagu pop Karo yang sangat populer dan bahkan tidak seorangpun di Karo tidak mengenal jalinan nadanya. Saya terduduk di salah satu kedai kopi dan tidak seorangpun yang tidak mengenal kata globalisasi. Kepopuleran globalisasi mendesak masuk dalam kedai kopi, seperti nada-nada Mbiring Manggis. Saat ini, Karo telah menjadi bagian dari masyarakat global dan bahkan tidak menutup kemungkinan nada-nada globalisasi menjelajah, hingga sudut yang tak terlihat di Karo. Hadirnya televisi di kedai kopi menjadi tak hanya hiburan, tetapi juga ikut menggerus ingatan akan jalinan nada-nada indah dari pop Karo. Disinilah, di kedai kopi inilah, kedai kopi dan televisi menjadi gambaran pertempuran globalisasi dan tradisi. Sentuhan budaya global dan budaya lokal telah menjadi persoalan kita saat ini. Say...

Gendang Kematian dan Kematian Gendang pada Masyarakat Karo

oleh Pulumun Ginting, S.Sn. G lobalisasi menunjukkan wujud yang lain, tidak hanya bermotif ekonomi, juga kebudayaan. Globalisasi kebudayaan telah menggiring masyarakat pada tahapan prosesnya yang ketiga, yaitu era posmodern. Pada era posmodern, masyarakat mengalami absurditas pada corak berpikirya, terjadi tumpang tindih antara spiritualitas pramodern dan rasionalitas modern. Hal ini juga dialami oleh berbagai kebudayaan tradisi di masyarakat Indonesia. Salah satunya, tradisi lisan -tradisi yang dilangsungkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi- masyarakat Karo yang dalam ritual gendang kematian-nya mulai bersinggungan dengan modernitas. Gendang lima sedalanen, salah satu ensambel dalam ritual gendang kematian mulai digantikan oleh keyboard. Barker mengakui, wacana globalisasi turut memberikan kekacauan baru dalam konteks perubahan budaya yang saling multidimensional saling terkait dengan bidang ekonomi, teknologi, politik dan identitas. Perubahan yang dianggap chaos in...

Saat 200 Unit Tongkang Milik Orang Karo Menyerbu Penang.

Kompas/Mohammad Hilmi Faiq Seorang warga pergi ke kebun melintasi Jalan Udara yang berlatar belakang Gunung Sinabung di Desa Gajah Ujung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Keuletan Petani Karo Mengagumkan, Sekaligus Mencemaskan Petani Karo terkenal ulet sejak dulu Prof Karl J Pelzer dalam bukunya “Petani dan Majikan” menuturkan, para pedagang Inggris di Penang penasaran melihat begitu banyak lada asal Sumatera Timur yang diperdagangkan dikota tersebut. Dalam statistik impor Penang tahun 1814 tercatat lada Sumatra Timur yang masuk sebanyak “3000 pikul”. Jumlah ini meningkat tajam menjadi sebanyak 30.000 pikul pada tahun 1822. Lada ketika itu merupakan komoditi primadona karena diminati masyarakat dunia. Tidak aneh kalau kemudian lada asal Sumatera Timur semakin mendunia.Pada tahun-tahun berikutnya peningkatannya menjadi lebih signifikan. Tergiur  oleh besarnya jumlah lada Sumatera tersebut, Inggris berencana untuk mendirikan Kantor-Kantor Perwakilan D...

Jangan Lupa, Pendiri Medan Guru Patimpus !

  Guru patimpus dan sejarah Medan, Cahaya Medan yang Semakin Redup Secara historis, Guru Patimpus yang mendirikan sebuah kampung yang belakangan disebut Medan. Tapi, seorang Belanda bernama Jacobus Nienhuys-lah yang menjadi pendorong Medan berubah menjadi sebuah kota besar yang terkenal seantero Eropa, Amerika dan Asia. Oleh: Indrawan Penetapan Guru Patimpus sebagai pendiri Medan berdasarkan kesimpulan Panitia Penyusunan Sejarah Kota Medan pada 12 Agustus 1972. Lalu, pada 10 September 1973, DPRD Kota Medan dalam rapat plenonya menerima keputusan yang diambil oleh Panitia Sejarah Kota Medan itu. Selanjutnya, lewat Keputusan DPRD No 4/DPRD/1975 yang didasari banyak pertimbangan, ditetapkan bahwa hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1590. Penetapan itu berdasarkan waktu pertama kali Guru Patimpus membuka kampung bernama Medan itu. Perkampungan itu posisinya terletak pada pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura (di sekitar kawasan jalan Putri Hijau sekarang), yang diberi nama Me...

CIMPA, MAKANAN KHAS SUKU KARO

Duel

MUSEUM REKOR INDONESIA 36 JAM NONSTOP TEATER MULTI BAHASA. DIANGKAT BERDASARKAN KISAH NYATA DARI BUKU "KISAH KARO TEMPO DULU" KARYA JOEY BANGUN GERTAK LAU BIANG - DALAM SEBUAH MONOLOG