15 June 2011

Saat 200 Unit Tongkang Milik Orang Karo Menyerbu Penang.

Kompas/Mohammad Hilmi Faiq
Seorang warga pergi ke kebun melintasi Jalan Udara yang berlatar belakang Gunung Sinabung di Desa Gajah Ujung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Keuletan Petani Karo Mengagumkan, Sekaligus Mencemaskan

Petani Karo terkenal ulet sejak dulu Prof Karl J Pelzer dalam bukunya “Petani dan Majikan” menuturkan, para pedagang Inggris di Penang penasaran melihat begitu banyak lada asal Sumatera Timur yang diperdagangkan dikota tersebut. Dalam statistik impor Penang tahun 1814 tercatat lada Sumatra Timur yang masuk sebanyak “3000 pikul”. Jumlah ini meningkat tajam menjadi sebanyak 30.000 pikul pada tahun 1822. Lada ketika itu merupakan komoditi primadona karena diminati masyarakat dunia. Tidak aneh kalau kemudian lada asal Sumatera Timur semakin mendunia.Pada tahun-tahun berikutnya peningkatannya menjadi lebih signifikan.

Tergiur  oleh besarnya jumlah lada Sumatera tersebut, Inggris berencana untuk mendirikan Kantor-Kantor Perwakilan Dagang di daerah pantai Timur Sumatera. Apalagi kegiatan perdagangan antara kedua negeri semakin ramai. Untuk rencana itu Asosiasi Pedagang Inggris di Penang mengutus seorang stafnya John Anderson ke daerah tersebut Januari 1823, untuk menjajaki segala sesuatu yang berkaitan dengan perwakilan itu seperti potensi lada yang sebenarnya, jumlah ekspor, jumlah penduduk, watak anak negeri, penguasa yang berwenang , navigasi dan keadaan pelabuhan.

Begitu tiba di Deli, Anderson segera menelusuri sungai-sungai dengan perahu. Ternyata lada yang diperjual belikan di pasar Penang, sebagian besar bersumber dari ladang-ladang orang Karo yang terhampar di sepanjang sungai-sungai di Tanah Deli, Serdang dan Langkat. John Anderson kata Prof Pelzer memuji petani Karo sebagai petani “rajin dan ulet”. Dengan peralatan sederhana seperti babat, parang dan cangkul, para petani Karo mampu membuka semak belukar yang ganas menjadi ladang-ladang lada. Mereka mengerjakan lahan bersama anak dan bini, tidak memakai buruh. 

Mereka juga membuka lahan untuk padi tegalan atau sawah tadah hujan. Khusus untuk ladang padi, mereka bekerja gotong royong bersama kerabat. Dengan sistem bertani seperti itu ternyata produksi lada Karo mampu mendominasi pasar lada terbesar di Asia Tenggara awal abad 19 itu.

Prof Karl J Pelzer, ahli Asia Tenggara pada Departemen Pertanian AS selanjutnya menulis, Anderson menyatakan para penghulu Karo “berpikir tajam”. Orang Karo tidak saja bertani, tetapi juga memasarkannya langsung ke Penang, dengan mengadakan armada sendiri. Mereka yang tadinya hidup di daratan ternyata juga mampu meramaikan pelayaran di Selat Malaka. Tak kurang dari 200 unit tongkang milik orang Karo, sebagai transportasi Sumatera Timur-Penang. Kapal-kapal tersebut membawa hasil pertanian ke Penang dan sebaliknya membawa barang impor termasuk senjata. 


“Orang Karo telah memainkan peranan penting “dalam industri lada” di Sumatera Timur abad 18 dan awal abad 19,” kata Karl J Pelzer .

Keuletan petani Karo tidak hanya di masa silam. Sekarangpun pujian terhadap keuletan petani Karo sering datang dari para peneliti, Petugas Lapangan, mahasiswa praktek (PKL/KKN) dan wartawan yang sering menulisnya di media. Petani Karo sering berkata, masalahnya bukan dalam berproduksi tetapi dalam pemasaran dan harga. Bila pasar bagus, kami bisa meningkatkan produksi melebihi teori ahli.

Ketika jeruk Pontianak surut dari pasar-pasar Jakarta, petani di Tanah Karo segera memperluas kebon kebon jeruk mereka, untuk mengisi kekosongan pasar. Daerah di sekitar Berastagi, Barusjahe, Barongkersap, Surbakti dan pedesaan di sekitar kaki Gunung Sinabung segera berubah menjadi ladang ladang jeruk rakyat Jeruk Karo yang lebih dikenal dengan jeruk Berastagi atau jeruk Medan, segera memenuhi pasar Induk Jakarta yang menyebar ke pasar-pasar tradisional dan swalayan Jabodetabek, Bandung dan kota-kota di sepanjang Sumatera.

Komoditi jeruk telah mampu meningkatkan kesejahteraan petani yang signifikan, ditandai banyaknya mobil jip parkir di huma-huma atau di rumah-rumah petani. Sebagian mereka bermobil
untuk pergi ke ladang. Hanya saja sekarang jeruk Karo tersaing oleh jeruk luar negeri yang unggul dalam teknologi. Harga yang tak menentu, jalan lintas Sumatera yang lebih sering rusak parah, serta pungli-pungli membuat daya saing jeruk Karo lemah.


Mencemaskan, pebukitan digarap
Dua tahun terakhir harga jagung dan coklat naik terus dan lumayan tinggi. (Harga jagung berkisar antara Rp 2.600 sd Rp 2.900 /Kg dan harga coklat Rp 25.000/Kg). Meski harga pupuk juga terus melambung, tanaman jagung dan coklat tetap jadi tumpuan harapan petani. Dampaknya, seluruh areal pertanian habis ditanami jagung. Didaerah Tanah Karo bagian Tengah dan Barat, mulai dari Sarinembah ke Utara (wilayah kaki Gunung Sinabung Bara) dan ke Selatan (Kecamatan Juhar dan Tigabinanga), ”bagaikan lautan jagung” Denikian juga di Kecamatan Mardingding dan Lau Baleng.
Tingginya harga jagung dan coklat mendorong petani terus berupaya memperluas areal lahannya. Apalagi kepemilikan lahan rata-rata sudah sempit, Cuma 0,5 ha per KK. Akibatnya, setiap jengkal tanah diburu dan digarap. 

Dalam hal ini keuletan petani Karo itu mulai mencemaskan. Karena bukan saja lahan datar yang digarap, tetapi juga lembah, perbukitan mulai dari kaki sampai ke puncak, tak peduli itu tanah negara atau areal resapan air. Sebagai contoh bukit bukit Uruk Mayang, di gugusan Bukit Barisan, perbatasan antara Kabupaten Tanah Karo dan Kabupaten Dairi yang dulu tanah kosong milik negara, sudah berubah jadi ladang jagung. Lereng lereng perbukitan di sekitar desa Kemkem, Gunung dan Kuala yang sebelumnya sudah dihijaukan dengan pinus dicangkuli untuk tanaman jagung.

Demikian juga perbukitan dan lembah lembah disekitar Tigabinaga, Juhar, Kidupen, Mbetong, Keriahen, Kuta Gugung , Pernantin dan lain lain berubah jadi kebun coklat dan jagung. Seperti kata penduduk disana, “ngayak longkik longkik nah isuani “ (tak ada lagi tempat kodok bersembunyi). Dikiri kanan jalan antara Kutabangun – Lau Baleng, sampai perbatasan dengan Aceh Tenggara sekitar 80 km, yang dulu hutan perawan, sebagian sudah jadi ladang kemiri, jagung dan coklat. Hutan hutan di pegunungan di sekitar Mbalmbal Petarum, Perbulan Kec Mardingding di sana sini “dibarbar” (digunduli ), diubah jadi kebon kemiri atau jagung.

Bila “pasukan lapar lahan” dibiarkan terus, dalam waktu singkat hutan Karo akan tinggal kenangan dan siap-siaplah menghadapi banjir. ”Setahun terakhir sungai Lau Gunung dan Lau Bengap di Kecamatan Tigabinanga sudah dua kali banjir besar, menenggelamkan padi yang sedang bunting di persawahan Batugale, Desa Gunung.

Hal yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah desa sebelumnya. Bila hujan turun, air dari langit itu
bagaikan dipancurkan ke sungai -sungai, tak ada lagi akar rumput dan semak sebagai penahan air.
Semua lahan botak, makanya jangan heran bila banjir besar terus muncul tak mengenal siklus
lagi” kata Merga Sebayang, warga desa dalam bincang bincang dengan penulis.

Oleh: Th Sebayang
Penulis adalah mantan wartawan KNI (Kantorberita Nasional Indonesia) di Jakarta.
Sumber :  Gemari IX/Nopember 2008  (pdf)

No comments:

Post a Comment