17 Juni 2011

Karo Dulu Dan Sekarang

Karo Dulu Dan Sekarang

Kedai Kopi dan Televisi

Televisi di Kedai Kopi (foto oleh  Aftonun Nuha)

Oleh Pulumun P. Ginting

Oh…Turang
Oh…mbiring Manggisku
Mbiring-Mbiring
Seh Kal Jilena
(Mbiring Manggis – Tumtam)

Sepenggal lirik lagu pop Karo yang sangat populer dan bahkan tidak seorangpun di Karo tidak mengenal jalinan nadanya. Saya terduduk di salah satu kedai kopi dan tidak seorangpun yang tidak mengenal kata globalisasi. Kepopuleran globalisasi mendesak masuk dalam kedai kopi, seperti nada-nada Mbiring Manggis. Saat ini, Karo telah menjadi bagian dari masyarakat global dan bahkan tidak menutup kemungkinan nada-nada globalisasi menjelajah, hingga sudut yang tak terlihat di Karo.

Hadirnya televisi di kedai kopi menjadi tak hanya hiburan, tetapi juga ikut menggerus ingatan akan jalinan nada-nada indah dari pop Karo. Disinilah, di kedai kopi inilah, kedai kopi dan televisi menjadi gambaran pertempuran globalisasi dan tradisi.

Sentuhan budaya global dan budaya lokal telah menjadi persoalan kita saat ini. Saya sebagai seorang seniman musik memahami, ada kebutuhan dari tradisionalitas untuk bersaing dalam kompetisi pasar musik populer saat ini. Mike Featherstone mengatakan, ketika budaya lokal terintegrasi dengan budaya global, dia turut terintegrasi ke dalam struktur yang lebih bersifat impersonal. Di dalamnya pengaturan pasar atau administrasi dijaga oleh elit-elit nasional atau para profesional dan ahli lintas budaya yang mempunyai kapasitas untuk mengenyampingkan proses pengambilan keputusan lokal dan menentukan nasib lokalitas. Kondisi ini menggiring kita untuk secara jelas memahami, globalisasi akhirnya membuat masyarakat lokal yang tadinya komunal menjadi individual.

Dari segi musik, dulu musik-musik Karo dikenal sebagai bagian dari musik seluruh masyarakat Karo. Ketika kita bicara tentang musik pop Karo, kita akan bicara tentang siapa pencipta, terutama penyanyinya. Seperti inilah gambaran globalisasi. Kita tidak lagi duduk dalam kedai kopi untuk bicara tradisi, tetapi aksi-aksi televisilah yang menjadi pusat narasi. Televisi bukanlah setumpuk benda mati, di dalamnya terdapat ideologi globalisasi yang menyiarkan individuasi. Pengaruh globalisasi yang menghantam tradisi akhirnya memaksa kita untuk lebih sering berbincang tentang ekonomi. Musik pop Karo pun hanya menjadi "kertas dinding" tanpa isi tradisi, karena dihantam oleh televisi yang menjadi bagian dari globalisasi, ekonomi dan individuasi.

Jean Baudrillard (1990) mengatakan, anda adalah layar dan televisi sedang menonton anda. Bahkan Idi Subandy Ibrahim menganggap televisi adalah contoh mesin konstruksi citra dipanggung selebriti. Dia memungkinkan semua ranah kehidupan dan budaya, menjadi produk tontonan di dalam masyarakat, tidak terkecuali kematian, terutama kematian selebriti.

Baru-baru ini masyarakat Karo telah terbius oleh berita dari Inggris yang didapatnya dalam televisi. Kedai kopi belum lagi sempat untuk mengingat tradisi sendiri karena ruang-ruangnya diisi oleh kemewahan dan glamornya prosesi pernikahan kerajaan Inggris yang dikemas bak selebriti.

16 Juni 2011

Gendang Kematian dan Kematian Gendang pada Masyarakat Karo


oleh Pulumun Ginting, S.Sn.

Globalisasi menunjukkan wujud yang lain, tidak hanya bermotif ekonomi, juga kebudayaan. Globalisasi kebudayaan telah menggiring masyarakat pada tahapan prosesnya yang ketiga, yaitu era posmodern.

Pada era posmodern, masyarakat mengalami absurditas pada corak berpikirya, terjadi tumpang tindih antara spiritualitas pramodern dan rasionalitas modern. Hal ini juga dialami oleh berbagai kebudayaan tradisi di masyarakat Indonesia. Salah satunya, tradisi lisan -tradisi yang dilangsungkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi- masyarakat Karo yang dalam ritual gendang kematian-nya mulai bersinggungan dengan modernitas. Gendang lima sedalanen, salah satu ensambel dalam ritual gendang kematian mulai digantikan oleh keyboard.

Barker mengakui, wacana globalisasi turut memberikan kekacauan baru dalam konteks perubahan budaya yang saling multidimensional saling terkait dengan bidang ekonomi, teknologi, politik dan identitas. Perubahan yang dianggap chaos ini diantisipasi melalui penyelidikan tentang budaya konsumer, budaya global, imperalisme budaya dan postkolonialitas. Proses globalisasi yang berciri ekonomi banyak mengacu pada sekumpulan aktivitas ekonomi sebagai praktik-praktik kapitalisme dan hal ini terkait dengan isu-isu makna kultural dan proses-proses kultural global (Barker, 2005: 133).

Pada perkembangannya kategori-kategori seni juga mengalami perubahan karena desakan modernitas. Seni tradisional yang dulu merupakan batang tubuh dari proses pengalaman dan pendalaman dalam kehidupan sehari-hari, mulai digantikan oleh seni modern. Pengalaman akan seni merupakan pengalamann estetis, sehingga seni dapat menyelidiki makna-makna kehidupan. Lebih jauh lagi, seni merupakan bagian dari pengungkapan hasrat-hasrat spiritualitas dalam mencari penjelasan mengenai keseimbangan alam semesta, sehingga spiritualitas menjadi penting untuk dipertahankan, dalam arus globalisasi kebudayaan dan kapitalisme saat ini.

Pada dasarnya spiritualitas memang tidak empirik, tapi memiliki-makna-makna yang terwujud dalam artefak-artefak kebudayaan masyarakat. Hal ini karena suatu produk kebudayaan akan selalu terikat pada isi-isi kebudayaannya. Bentuk dan isi merupakan perwujudan dari spiritualitas dan materialitas suatu masyarakat. Absurditas bentuk dan isi, saat ini terjadi karena pergumulan masyarakat dengan arus modernitas dan nilai-nilai tradisionalnya. Bisa saja dalam perwujudan spiritualitasnya, nilai-nilai atau bahkan makna menjadi banal atau kosong.

Prinst (2003) mengatakan keselarasan antara manusia dengan alam akan menyejukkan dan mengharmoniskan irama kehidupan manusia dan lingkungannya. Sebaliknya, setiap ketimpangan (kejanggalan) yang terjadi dalam masyarakat akan mengakibatkan disharmoni (ketidakharmonisan) kosmos (alam) dan masyarakat. Ketidakharmosian ini akan menimbulkan bencana, seperti kemarau panjang atau malapetaka lainnya. Keselarasan atau keseimbangan dalam suatu mayarakat, sering dikaitkan dengan bagaimana mereka beraktifitas sehari-hari. Disitulah yang disebut sebagai kosmologi dapat terwujud.

Selanjutnya, Liembeng (2007), masyarakat Karo meyakini alam dan lingkungan, selain sebagai tempat hunian manusia, juga sebagai tempat hunian bagi makhluk-makhluk lain yang hidup bebas tanpa terikat aturan-aturan yang dikembangkan manusia. Sebab itu dibutuhkan aktivitas-aktivitas tertentu untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya keseimbangan antara makhluk manusia dengan makhluk-makhluk lain. Bagi penulis, inilah yang disebut sebagai perwujudan spiritualitas yang terkait dengan kosmologi masyarakat Karo.

Perwujudan spiritualitas masyarakat Karo sering diutarakan dalam berbagai ungkapan-ungkapan kesehariannya. Salah satunya, ungkapan yang sering diutarakan dalan upacara kematian, yaitu: buk jadi ijuk, dareh jadi lau, kesah jadi angin, daging jadi taneh, tulan jadi batu, tendi jadi begu, yang artinya: rambut menjadi ijuk, darah menjadi air, nafas menjadi angin, daging menjadi tanah, tulang menjadi batu, dan roh menjadi hantu (begu) (Liembeng, 2007: 17). Kalimat tendi jadi begu, menyiratkan bahwa kematian merupakan salah satu perwujudan spiritualitas bagi masyarakat Karo. Hal ini dikarenakan berubahnya roh menjadi hantu (tendi jadi begu), menandakan setelah mati tubuh manusia akan kembali menjadi materi-materi yang dalam lingkungan kesehariannya tergolong benda mati. Roh tetap kekal dalam bentuknya sebagai hal yang abstrak, namun bisa dirasakan eksistensinya. Gendang kematian pun menjadi penting dalam kosmologi masyarakat Karo, karena dalam mati ada hidup dan dalam hidup ada mati.

15 Juni 2011

Saat 200 Unit Tongkang Milik Orang Karo Menyerbu Penang.

Kompas/Mohammad Hilmi Faiq
Seorang warga pergi ke kebun melintasi Jalan Udara yang berlatar belakang Gunung Sinabung di Desa Gajah Ujung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Keuletan Petani Karo Mengagumkan, Sekaligus Mencemaskan

Petani Karo terkenal ulet sejak dulu Prof Karl J Pelzer dalam bukunya “Petani dan Majikan” menuturkan, para pedagang Inggris di Penang penasaran melihat begitu banyak lada asal Sumatera Timur yang diperdagangkan dikota tersebut. Dalam statistik impor Penang tahun 1814 tercatat lada Sumatra Timur yang masuk sebanyak “3000 pikul”. Jumlah ini meningkat tajam menjadi sebanyak 30.000 pikul pada tahun 1822. Lada ketika itu merupakan komoditi primadona karena diminati masyarakat dunia. Tidak aneh kalau kemudian lada asal Sumatera Timur semakin mendunia.Pada tahun-tahun berikutnya peningkatannya menjadi lebih signifikan.

Tergiur  oleh besarnya jumlah lada Sumatera tersebut, Inggris berencana untuk mendirikan Kantor-Kantor Perwakilan Dagang di daerah pantai Timur Sumatera. Apalagi kegiatan perdagangan antara kedua negeri semakin ramai. Untuk rencana itu Asosiasi Pedagang Inggris di Penang mengutus seorang stafnya John Anderson ke daerah tersebut Januari 1823, untuk menjajaki segala sesuatu yang berkaitan dengan perwakilan itu seperti potensi lada yang sebenarnya, jumlah ekspor, jumlah penduduk, watak anak negeri, penguasa yang berwenang , navigasi dan keadaan pelabuhan.

Begitu tiba di Deli, Anderson segera menelusuri sungai-sungai dengan perahu. Ternyata lada yang diperjual belikan di pasar Penang, sebagian besar bersumber dari ladang-ladang orang Karo yang terhampar di sepanjang sungai-sungai di Tanah Deli, Serdang dan Langkat. John Anderson kata Prof Pelzer memuji petani Karo sebagai petani “rajin dan ulet”. Dengan peralatan sederhana seperti babat, parang dan cangkul, para petani Karo mampu membuka semak belukar yang ganas menjadi ladang-ladang lada. Mereka mengerjakan lahan bersama anak dan bini, tidak memakai buruh. 

Mereka juga membuka lahan untuk padi tegalan atau sawah tadah hujan. Khusus untuk ladang padi, mereka bekerja gotong royong bersama kerabat. Dengan sistem bertani seperti itu ternyata produksi lada Karo mampu mendominasi pasar lada terbesar di Asia Tenggara awal abad 19 itu.

Prof Karl J Pelzer, ahli Asia Tenggara pada Departemen Pertanian AS selanjutnya menulis, Anderson menyatakan para penghulu Karo “berpikir tajam”. Orang Karo tidak saja bertani, tetapi juga memasarkannya langsung ke Penang, dengan mengadakan armada sendiri. Mereka yang tadinya hidup di daratan ternyata juga mampu meramaikan pelayaran di Selat Malaka. Tak kurang dari 200 unit tongkang milik orang Karo, sebagai transportasi Sumatera Timur-Penang. Kapal-kapal tersebut membawa hasil pertanian ke Penang dan sebaliknya membawa barang impor termasuk senjata. 

14 Juni 2011

Jangan Lupa, Pendiri Medan Guru Patimpus !



Guru patimpus dan sejarah Medan, Cahaya Medan yang Semakin Redup
Secara historis, Guru Patimpus yang mendirikan sebuah kampung yang belakangan disebut Medan. Tapi, seorang Belanda bernama Jacobus Nienhuys-lah yang menjadi pendorong Medan berubah menjadi sebuah kota besar yang terkenal seantero Eropa, Amerika dan Asia.
Oleh: Indrawan
Penetapan Guru Patimpus sebagai pendiri Medan berdasarkan kesimpulan Panitia Penyusunan Sejarah Kota Medan pada 12 Agustus 1972. Lalu, pada 10 September 1973, DPRD Kota Medan dalam rapat plenonya menerima keputusan yang diambil oleh Panitia Sejarah Kota Medan itu.

Selanjutnya, lewat Keputusan DPRD No 4/DPRD/1975 yang didasari banyak pertimbangan, ditetapkan bahwa hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1590. Penetapan itu berdasarkan waktu pertama kali Guru Patimpus membuka kampung bernama Medan itu. Perkampungan itu posisinya terletak pada pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura (di sekitar kawasan jalan Putri Hijau sekarang), yang diberi nama Medan Putri.

Menurut bahasa Melayu, Medan berarti tempat berkumpul. Di lokasi itu, diriwayatkan merupakan tempat bertemunya masyarakat dari hamparan Perak, Sukapiring, dan lainnya. Medan dikelilingi berbagai desa lain seperti Kesawan, Binuang, Tebing Tinggi, dan Merbau.

Jhon Anderson seorang Inggris yang melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823, mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam di pertemuan antara dua sungai tersebut.

Penetapan hari jadi itu diperkuat juga oleh tulisan Tengku Luckman Sinar (1991) dalam buku The History of Medan. Menurut “Hikayat Aceh” yang tertulis di buku itu, Medan sebagai pelabuhan telah ada pada tahun 1590. Menurut Buku “Riwayat Hamparan Perak” karangan Tengku Lukman Sinar SH terbitan tahun 1971, Guru Patimpus merupakan nenek moyang dari Datuk Hamparan Perak dan Datuk Sukapiring, yaitu dua dari empat kepala suku Kesultanan Deli.

Riwayat Hamparan Perak, dokumen aslinya ditulis dalam huruf Karo pada rangkaian bilah bambu. Tapi, naskah asli Riwayat Hamparan Perak yang tersimpan di rumah Datuk Hamparan Perak terakhir telah hangus terbakar 4 Maret 1946.

Peran Guru Patimpus disambung oleh beberapa orang yang mengembangkan Medan sebagai sebuah kota yang mempunyai bangunan indah dan infrastruktur lengkap.
Seorang yang bisa dikatakan berperan adalah seorang panglima Aceh keturunan India bernama Muhammad Dalik yang bergelar Cut Bintan. Dalam sebuah pelayaran, Cut Bintan yang juga disebut sebagai Gocah Pahlawan sampai di daerah Labuhan. Ia lalu menikahi adik Raja Sunggal (Datuk Itam Surbakti) yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti, sekitar tahun 1632 dan menetap hingga ajalnya.

Pengganti Gocah, anaknya yang bernama Tuanku Panglima Perunggit pada tahun tahun 1669 memproklamasikan berdirinya Kesultanan Deli. Berdirinya Kesultanan Deli ini juga salah satu cikal berdirinya Kota Medan. Nama Deli sesungguhnya muncul dalam “Daghregister” VOC di Malaka sejak April 1641, yang dituliskan sebagai Dilley, Dilly, Delli, atau Delhi. Mengingat asal Gocah Pahlawan dari India, ada kemungkinan nama Deli itu berasal dari Delhi, nama kota di India.

Kesultanan Deli menjalankan politik membuka hubungan dunia luar terutama dengan Belanda untuk mengurangi pengaruh Kerajaan Aceh dan Siak. Masa kejayaan politik luar negeri Kerajaan Deli berada di tangan Sultan Mahmud Perkasa Alam.

Pada tanggal 6 Juli 1863, seorang pemuda Belanda, Jacobus Nienhuys dan beberapa wakil perusahaan dagang JF van Leeuwen en Mainz & Co membongkar sauh kapal Josephine di muara Sungai Deli.

CIMPA, MAKANAN KHAS SUKU KARO

Duel



MUSEUM REKOR INDONESIA 36 JAM NONSTOP TEATER MULTI BAHASA.
DIANGKAT BERDASARKAN KISAH NYATA DARI BUKU "KISAH KARO TEMPO DULU" KARYA JOEY BANGUN
GERTAK LAU BIANG - DALAM SEBUAH MONOLOG

Arsitektur Karo Tempo Dulu dengan Musik Akustik

Karo Expedition - Kelangsungan Rumah Adat Karo (Siwaluh Jabu)

Restorasi Rumah Adat Karo Di Desa Melas

Cikecur

Kampung Karo di Sekitar Perkebunan Tembakau (1883-1888)




Perkebunan Tembakau Hindia Belanda di Sumatera Timur

Dance : Ghost Of Mount

Ngari-ngari Dancing From Karoland

Onggar onggar (Sanggar Seni Sirulo)

13 Juni 2011

Penjual Parang, 1920




                          Indonesia SUMATRA Native BATAK Weapon Seller 
                                                         1920s RPPC

(source : eBay.com)

Indonesia, SUMATRA, BATAK KARO Natives (1903) Litho Stamps


Indonesia, SUMATRA, BATAK Natives (1903) Litho Stamps




 Source : eBay.com






Source : eBay.com

Indonesia Batak Knife "PISO" Karo Sumatra

Indonesia Batak Knife "PISO" Karo Sumatra (source eBay.com)

Item Description
Superb knife of a priest or also called as " piso guru ". Karo Batak. Ornately made hilt in the form of elongated squatting male figure leans back with hands in a prayer- like position and a brass long pointed headdress. The opening of the wooden sheath has a circle of eight standing human figures with uniform hand positions. Another six faces figure also carved decorating the lower part of the hilt. 19th century.











FINE TRIBAL and ETHNOGRAPHIC ART of BATAK KARO part 2




Earring padung 19th century
Karo Batak
North Sumatra
Silver with gold inlaid design
Height 15.5 cm
Used as a headdress ornament these earrings were supported by the wearer’s headcloth.
The double spiral motif has its origins in the ancient dongson culture



Pair of earrings karadu kudung-kudung 19th - early 20th century
Karo Batak
North Sumatra
Gilded silver 
Height 13.5cm
Traditionally worn by aristocratic women at major adat rituals



Pair of earrings karadu kudung-kudung 19th - early 20th century
Karo Batak
North Sumatra
Gilded silver
Height 13cm








Necklace kalung berahmeni 19th century
Karo Batak
North Sumatra
Silver
Length 53cm, 43cm, 34cm
These necklaces were given to young girls as an initial bridewealth gift
to ensure the success of their eventual marriage




Ring cincin tapak gaja early 20th century
Karo Batak
North Sumatra
Gilded silver
Height 4cm
These traditional rings of karo origin served many purposes such as decorative amulets,
as tools for sorcerers and some were said to act as containers for magic potions.

FINE TRIBAL and ETHNOGRAPHIC ART of BATAK KARO





Lamp 19th century
Karo Batak people 
North Sumatra 
Carved wood
Height 44cm



Staff tunggal panaluan early 20th century 
Karo Batak people 
North Sumatra 
Carved wood, fibre and hair
Height 123cm



Ammunition holder paru-paru 19th century
Karo Batak people 
North Sumatra 
Carved buffalo horn 
Length 19cm
Ammunition holders like these are sometimes called baba ni onggang because of their resemblance to the beak of the hornbill. The round lead bullet is removed by bending the prongs open. These examples are profusely decorated with floral and abstract motifs common to Batak iconography



Ammunition holder paru-paru
Karo Batak people 
North Sumatra 
Carved buffalo horn 
Length 21cm



Stopper for medicine container guri-guri 20th century 
Karo Batak
Carved wood
Height 21 cm
Depicts a fighting cock atop the head of a supplicant figure
who in turn squats on the head of a male figure riding a singa



Stopper for medicine container guri-guri 20th century 
Karo Batak
Carved wood
Height 15 cm
Depicts a cicak (gecko) sits atop a kneeling figure who is perched on a male figure riding a singa



Stopper for medicine container guri-guri 20th century 
Karo Batak
Carved wood
Height 9cm
The squatting position is a common motif in the art of South East Asia



Rice barn door pintun jambur Door early 20th century
Karo Batak people 
North Sumatra 
Carved wood 
Height 98 cm
Door with the relief carving of a gecko. The cicak (gecko) represents
the guardian of the house and is considered a fertility symbol


 Container abal-abal 19th - early 20th century
Karo Batak
Bamboo and wood
Height 12cm



Container abal-abal 19th - early 20th century
Karo Batak
Bamboo and rattan
Height 16cm



 Container abal-abal 19th - early 20th century
Karo Batak
Bamboo, wood and horn
Height 16cm
Used to store small objects salt or tobacco



Lime container early 20th century
Karo Batak
Bamboo, wood and horn
Height 18cm 
This type with a flat lid was used by men.




Container kitang early 20th century
Karo Batak
Bamboo, wood and horn
Height 32cm
Bamboo vessel used to carry tuak fermented palm wine