03 February 2015

Charles Sayers Melukis di Karo (1939)




 
Charles Eugene Henry Sayers (1901-1943)

Charles Eugene Henry Sayers lahir pada tanggal 14 Oktober 1901 di Gemoeh, Jawa Tengah. Ayahnya bekerja di  perusahaan gula yang berlokasi di Gemoeh. Saat berusia sebelas tahun, ia dikirim ayahnya ke Belanda untuk sekolah. Dari tahun 1920 sampai 1923 ia belajar di Academy of Fine Arts di Amsterdam, di mana ia belajar pada Roland Holst, Derkinderen Jurres dan van der Waay.
 
Akhir 1923 ia menerima penghargaan. Penghargaan ini diberikan setiap tahun kepada seniman yang telah memperoleh prestasi terbaik. Lalu ia mendaftar di Académie des Beaux Arts di Paris dan belajar pada pelukis Lucien Simon dan Baudouin. Sebelum ia kembali ke Jawa pada tahun 1927, ia pergi ke Mesir pada tahun 1926. Pada tahun 1928, karyanya dipamerkan di Lingkaran Seni Batavia dan Surabaya.

Pada tahun 1928 ia kembali ke Paris dan karyanya  dipamerkan di Galerie Bernheim Jeune,  Quotidien, Le Salon des Artistes Français dan di  Le Salon des Artistes Independants. Para kritikus seni, termasuk Gustave Kahn, memberi kata-kata pujian untuk karyanya. Pada tahun 1929 ia melakukan perjalanan ke Italia. Pada tahun 1931 ia diberi tugas untuk mendekorasi aula utama Belanda di East Indian Pavilion pada Pameran Kolonial Internasional di Paris. Ia membuat tiga mural besar. Sayangnya, lukisan-lukisan ini telah lenyap ketika paviliun dilalap api.  Lalu ia melukis "Perjalanan Istana Raja Hayam Wuruk"  saat paviliun dibangun kembali, paviliun yang baru berukuran kecil.

Di Paris ia bertemu Olga Stern dan mereka menikah. Mereka kembali ke Hindia. Setelah kelahiran putri mereka (Wilhelmina Eveline, Bandung 21-11-1931),  mereka sekeluarga menetap di Bali.


Potret Charles Sayers, Olga Stern dan putri mereka Wilhelmina Eveline
Tahun 1933
 Sumber : Tropenmuseum
Pada tahun 1934 ia kembali ke Jawa. Selama di Jawa, ia menerima sejumlah tugas resmi yang penting.  Di Istana Rijswijk  ia melukis empat buah potret Gubernur Jenderal. Di aula Surabaya ia melukis enam buah potret dari walikota kota itu. Untuk paviliun Belanda di India di pameran Expo Dunia di San Francisco, ia menghasilkan empat mural besar pada tahun 1938. Pada tahun 1939 seluruh keluarga pindah ke Sumatera dan Sayers menyewa rumah di Kaban Djahe.


Di sini ia menghasilkan beberapa lukisan, diantaranya :

 

Perkampungan Karo, Sumatera
lukisan oleh Charles Eugene Henry Sayers (1901-1943)
Tahun  1939-1942
Sumber : Venduehuis.com


Dukun in Trance Karo, Sumatera
lukisan oleh Charles Eugene Henry Sayers (1901-1943)
Tahun  1939-1942

Memanen Jagung, Karo, Sumatera
lukisan oleh Charles Eugene Henry Sayers (1901-1943)
Tahun  1939-1942
Sumber : Tropenmuseum
 

Charles Sayers dengan latar belakang Geriten (rumah tengkorak)
Sumber : Tropenmuseum
Ia beberapa kali bekerja di Batavia. Ketika Jepang menyerang Hindia, Sayers ditangkap dan ditahan lalu dibawa ke Burma  untuk bekerja di kereta api Burma. Oleh karena tubuhnya lemah karena kekurangan gizi dan akibat terkena malaria, ia meninggal pada tanggal 15 November 1943, di usia 41 tahun. Ia meninggal di “Kamp Km.114,” Thambyazajat, Burma. 



Charles Sayers termasuk salah satu pionir pelukis di Hindia Belanda. Lukisannya berjumlah lebih dari 320 lukisan, belum termasuk beberapa mural monumental.

No comments:

Post a Comment