30 May 2016

A.V. Novak dan Foto Berwarna Berastagi (1927)



 

Wisatawan dan penulis Archibald Václav Novák terlibat dalam sejumlah besar ceramah di kampus dan aktivitas sastra di Cekoslovakia pada tahun 1920 dan 1930-an, dengan fokus pada non Negara-negara Eropa. Kuliah umum yang dilakukan Novák dibarengi dengan cara yang umum pada saat itu - dengan memproyeksikan slide kaca berwarna sehingga foto hitam putih menjadi berwarna.

Pada tahun 2011 Museum Nasional memperoleh karya Archibald Václav Novák (1895-1979) berupa koleksi 868 slide dan 532 negatif yang diberikan kepada museum oleh cucu Novák ini. 

Sebagai seorang penulis yang ditulisnya bukan hanya perjalanan buku tapi novel populer dan cerita eksotis. Antara 1922 dan 1948 ia terbitkan, dengan rumah penerbitan sendiri di Dolní Mokropsy dekat Praha, total 34 judul sendiri. Selain itu ia juga terbitkan buku oleh penulis asing dengan tema yang sama. 

Dalam karyanya ia menggunakan informasi atas semua pengalamannya  ketika di AS dan Tahiti di tahun 1919-1921 dan dari perjalanannya ke Asia di tahun 1926-1927. Rezim totaliter setelah pengambilalihan komunis pada tahun 1948 mengakibatkan Novák yang menghilang dari masyarakat umum.

Keberhasilan ceramah di kampus-kampus dan buku-bukunya memungkinkan dia untuk melakukan perjalanan lebih lanjut dalam kurun waktu 1926-1927. Kali ini dia sendirian,  karena  istrinya telah melahirkan seorang putri, Jirina. Tujuan dari perjalanannya juga berbeda – Novák ingin mendapatkan materi baru untuk perkuliah dan buku-bukunya. Tujuannya adalah Asia.

Dia berangkat pada musim gugur 1926 melalui Paris ke pelabuhan Marseilles, dari mana ia melakukan perjalanan dengan perahu melalui Port Said melalui Terusan Suez, dengan berhenti di Djibouti dan Aden, danPulau Ceylon (sekarang Sri Lanka). Dia tinggal di ibukota, Kolombo, dan mengunjungi pemukiman pesisir dan kota bersejarah Kandy. Dia kemudian berangkat ke utara, dengan feri  lewat selat ke India. Ia melanjutkan dengan kereta api di India selatan ke Bombay. 

Dari Bombay lanjut, lagi dengan kereta api, melalui Jaipur ke ibukota Delhi, dan dari sana ke Agra, di mana ia mengunjungi makam terkenal dari Taj Mahal. Dia juga berhenti di kota suci Benares (Varanasi) dari sungai Gangga, dan tempat ziarah Buddha  Bodh Gaya. Ia mengakhiri perjalanannya di seluruh India di Kolkata.

Novák merayakan Natal 1926 di atas kapal Inggris Endavana dalam perjalanan ke Malaysia. Berhenti di pelabuhan Rangoon memungkinkan dia untuk melihat sesuatu tentang  Burma (Sekarang Myanmar). Dia mulai perjalanannya sekitar Malaysia di pelabuhan Georgetown di Pulau Penang. Dia telah rencanakan untuk perjalanan ke selatan, tapi hujan lebat dan banjir memaksa dia untuk memilih untuk bepergian dengan perahu sepanjang  pantai ke pelabuhan Sweetenham. Dari sana ia melanjutkan ke ibukota, Kuala Lumpur.

Ia mengakhiri perjalanannya di sepanjang semenanjung  Malaya di pelabuhan Singapura.  Berikutnya tujuan adalah pulau Sumatera, khususnya Kota Medan dan resort gunung   Brastagi (Berastagi). Setelahnya ia melanjutkan perjalanan ke Toba dan 

Dari Sumatera Novák kembali ke Singapura, di mana ia memutuskan arah mana ia akan pergi  berikutnya. Dia tergoda untuk mengunjungi Borneo atau New Guinea, dan dia juga ingin ke Siam (sekarang Thailand) tetapi pada akhirnya memilih untuk pergi dengan perahu ke Indocina Perancis (sekarang Vietnam dan Kamboja).

Berikut ini adalah foto-foto dan slide berwarna karya Archibald Václav Novák yang dimuat dalam buku "Dobrodružtví Na Sumatře" (Praha 1928). Semua foto bersumber dari : Narodni Museum .
 





25 May 2016

Air Minum untuk Medan (1903)



Saluran Air No. 4 oleh K.M. 0.550.
Saluran Air No. 3 oleh K. M. 0.375.

Pengembangan budi  budaya tembakau  di Deli, Langkat dan Serdang di  pantai timur Sumatera telah menyebabkan perkembangan pesat kota Medan. Medan pada tahun 1886  telah menjadi ibukota provinsi, dengan pengalihan dari Bengkalis. Dan pengembangan jalur Kereta Api dilakukan di Medan. Sultan Deli memilih tempat tinggalnya di Medan  dan membangun sebuah istana yang indah.

Secara bertahap jalan dibangun dan juga penerangan listrik.  Penduduk yang semakin meningkat,  kebutuhan air minum untuk keperluan rumah tangga dan mencuci pun tidak mencukupi kota ini.

Medan menderita kekurangan air dan  bahkan tuntutan sederhana kebersihan tidak terpenuhi..

Air Sungai Deli tidak bisa digunakan tanpa proses pembersihan  sebelum dipakai  untuk keperluan rumah tangga, sumur tidak bisa diminum dengan tanpa  proses pembersihan.  Tidak adanya air minum yang bersih setiap tahun timbul kasus kolera dan tipus. Pada tahun 1901 angka kematian  adalah 40 kasus di antara seribu orang.

Penduduk Medan pada tahun 1900 terdiri dari:
Eropa
 : 549 orang
Pribumi :  3.129 orang
Cina
: 7.745 orang
Arab
:  34 orang
Orang  asing lainnya : 1.267 orang
Dengan demikian total
:  12.724 orang

Mellihat situasi ini, Deli Maatschappij dalam rangka  memecahkan masalah ai tertanggal 3 Februari 1903 melakukan kontrak pengerjaan  jangka waktu satu tahun.

Sumber air yang dipilih ada  tiga sumber dekat dengan Roemah Soemboel. Mereka  berasal dari Lau Benterodan (Lau Benteludan) dan memiliki debit air lebih dari 120 liter per detik.  Pemeriksaan bakteriologis oleh  tuan  Dr. J. GC Vriens, Kepala VTTTe divisi \ an Kebun Raya di Buitenzorg. Dr. W. A. Kuenen, dokter dari Senembah Maatschappij dan Dr. H. Durk, seorang profesor di Sekolah Tinggi di Munich. Hal ini terbukti menjadi sangat cocok untuk air minum.

Anggaran biaya konstruksi oleh Bapak Boshuyer ditarik ditutup dengan jumlah ƒ 500.000. Rancangan itu disetujui oleh Mr Dish.

Dari mata air Roemah Soemboel wajib memasok kuantitas hingga 3000 m3 per hari. Per hari dari jumlah total akan dialokasikan 130 M3 per hari untuk distribusi gratis untuk umum, dan selain itu  untuk pemadam kebakaran  akan bebas untuk digunakan. Pembagian gratis ini ke harus dilakukan bagi masyarakat  dengan membuatn minimal  10 hidran, 5 pancuran air minum  dan  3 tempat  pemandian umum.


Tiga sumber yang terletak di Kampong Roemah Soemboel  berada 37 Km  selatan dari kota  Medan dan posisinya berada  500 M lebih tinggi dari kota Medan.  Lokasi ini luasnya  lebih dari 80 Ha dan telah. diserahkan oleh Sultan Deli.

Bangunan sumber air di Roemah Soemboel.

Guru Ponto, Guru Pesik, Guru Tampenawas dan Guru Martin

Guru Ponto (duduk), Guru Pesik ( kiri),  Guru Tampanawas  (kanan), dan  Guru Martin (berdiri di tengah)
Dari buku :  Uit den aanvang der Karo-Batak zending
Penulis :  Ponto, Nikolaas
Tahun Publikasi buku :  1909


Pada 18 April 1890, Nederlands Zendelingenootschap (NZG), mengutus Pdt. H.C. Kruyt dari Tomohon, Minahasa, ke Tanah Karo.  Kruyt tinggal di Buluh Awar yang menjadi pos penginjilan yang pertama di Tanah Karo. Tahun berikutnya dia menjemput empat orang Guru Injil yaitu B. Wenas, J. Pinontoan, R. Tampenawas, dan H. Pesik. Keempat orang inilah yang menjadi rekan Kruyt melakukan penginjilan di Karo. Sebelumnya, keempat orang ini juga bekerja di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.
Pdt. Henri Guillaume (utusan RMG dari Jerman) datang juga dari Saribudolok yang sebelumnya tinggal di Tapanuli. Bersama dengan Pdt. Henri Guillaume, datang pula seorang guru injil, bernama Martin Siregar.
 
Perjalanan di Dusun. Menelusuri sungai Seroewe.
Dari buku :  Uit den aanvang der Karo-Batak zending
Penulis :  Ponto, Nikolaas
Tahun Publikasi buku :  1909
Rumah guru Ponto di  Boeloeh Awar.
Dari buku  :  Uit den aanvang der Karo-Batak zending
Penyusun :   Ponto,Nikolaas
Tahun :  1909

Rombongan Pemusik Karo di Depan Sultan Deli (1920-1921)

 Rombongan pemusik Karo di depan Sultan Deli. Datuk dari Deli menari dengan wanita Karo.
 Karosch orkest den Sultan van Deli hulde brengend. Datoe's van Deli dansen met vrouwen van Karosche hoofden.

Halaman : 133
Tahun : 1920-1921
Penulis : Eerde, J.C. van

24 May 2016

Si Mandoepa





Toeri-toerîn Karo / nipepoeloeng Toean M. Joustra
(1914-1918)

Si Mandoepa



Lit me koenoeken 'ndoebë toeri-toerin si Mandoepa Doea bapana semboejak.

Toeboeh me si Mandoepa ë mentas me goeroe Pakpak Pertandang, merkadang-kadangken poestaka na djati, mertjiken-tjikenken toengkat malekat. E, koendoel m'ia iteroeh sapo sendi gading. E, koeteroeh me bibi si Mandoepa, ibabana kampil. „Man belo kam sitik goeroe nami!' —„Kai kata noe belo?" — „Lït danak-danak 'mbaroe toeboeh; oeari kai nge 'ndia sendah?" - „Toela" — „Erpagi-pagi idjë me toeboehna". — „E di bagë kïn, erbapa ia oealoeh berngi, ernandë empat berngi". — „Agë, koega perbahan?" Nina goeroe Pakpak Pertandang: „Ola ras nandëna, nandëbapana".

E maka ras bibina ia. Bibina me kap ngandoeh-ngandoehsa. E, piah-piah 'mbelin me kap.

Idjënari lït me kap oemoerna doea tahoen, idahna kalak seser; doea kali inehenna, minter datsa. Seser ras kalak ë, ertaroeh si djaoeng-djaoeng, menang! E, idahna kalak satoer teloe kali a minter itehna dalinna; pelimakaliken enggo itehna.

E, ertaroeh ia ras parang 'mbelin, lima isap lebë, menang. E ertaroeh sada sekin, menang. E bagë nina parang 'mbelin: „Oelihken sekinkoe 'ndai". — „Koega maka koe-oelihken?" — „E, koeataken nandendoe-bapandoe" — „Isë dagë?" nina si Mandoepa. . Oelihken dagë sekinkoe 'ndai" — „Enta, koelegi." E, iberëkenna. „Em' bapamoe si neret djala, nandemoe si ertenoen". E, sinik si Mandoepa. E, megogo atë bapana. Oh, anak a, natëna; koedilolah natëna.

'Ndolah, kami 'ngkawil ras anakkoe a, natë bapana, E, idilo bapana: „Ariko, Mandoepa, 'ndo, kita 'ngkawil". — „Ah, la koeëteh 'ngkawil, la akoe enggo koe laoe pë" nina si Mandoepa. „Mari, ngikoet-ngikoet" — „la! Ota dagë, bapa!" E, lawes ia, E, sêh i laoe ikawilina; ikawilina, la sada pë datsa. E sêh ni tapïn lït sada nidjë namo, Liang Bëgoe gelarna.

Nitaktakna idjë, datsa seësta gedangna. „Bitoekaï" nina bapana. „La koeëteh" nina si Mandoepa; „la'nggo koeïdah pë bagëna belinna". E maka bitoekaï bapana. Idahna ibas poedoen; lit poedoen sada, lit poedoen doea sêh sepoeloeh. „lah!'' nina bapana, „binoeroeng si kemali". laboekkenna. „Ah, lawes ita koe roemah". E sêh ni roemah: kimbangken amakkoe, nakë, ngalah koeakap". Ikimbangkenna teloe lapis. Medem ia, erdakan 'ndeharana. Tasak nakan, ingetina, enggo mekêng. E tangis 'ndeharana. E lit sada koeteroeh anak-anak. „O. Mandoepa! bapandoe enggo matë". — „Adön ko, ë dengang akoe ras 'ngkawil '. Iboeatna perpaloe irëwasna nahena ertambar lantjing. E rêh sekalak nari. „Bapandoe enggo matë". Iboeatna ka perpaloe, ipekpekna ka tanna, derko. E enggo bagë rêh toea-toea. „Toehoe enggo matë, mari nehen koe roemah". E koe roemah si Mandoepa, toehoe enggo matë. E, rêh anak-beroe-senina. „Koega nge perbahanta?" Nina si Mandoepa: „nikoerboerken,nitenahken si erdemoe oerat noe djaba, si pesanggeh roehi noe pagë, sabap lït denga tading-tadingen bapa ënda: kerbona lima ëkoer nari, lemboena ë me sipantem; oebatna lima toemba nari ë me sitoengtoengken".

E pepagina ikoeboerken. Isamoen bapa-ngoedana asakai kerina lemboena, kerbona, koedana, kawan-kawanna, nandêna pë, tading sada nari lemboe, djenggina. E me ipantemna. E rêh me perbapan kerina, erderoep sora bedil, bagi kembiri iroengroengken. E, ibabana kampilna, idahina kerina radja-radja. „Ola kal kam megeloet! Sabapna bagê ningkoe, lit itadingken bapa 'ndoebë lemboe enggo isamoen bapa-ngoeda". — „Ia! di bagë kïn, siperang bapa-ngoedamoe!" —

„Oh! 'ntjidoeri langit, koe ajo! ola tama geloetndoe; anem koerang kai gia, entah nakan, entah pola, entah belo, enggo më, 'mboeë ninta."

E, man me kalak kerina, djoedjoer kerina ibahan si Mandoepa, labo sada pë mangë atëna. E, moelih temoeë, lawes si Mandoepa koe roemah.

Asakai erta-erta si Mandoepa enggo iboeat bapa-ngoedana. Isoeroehna si Mandoepa ermakan-ermakan i djoema a, la man pë: sekali man, sekali lahang.

Lit anak bapa-ngoedana, gelarna si Djoembak Makkir-akkir. E me ngenehenlja ia gelgel koedjë. Datsa si Mandoepa sada piso boedal-boedal. E igaroetina ibas boeroeh, piah-piah telap. E, enggo telap, itabahna boeloeh, erpagi-pagi nari sêh pengoeloeï anak-anak maka 'mboelak. E maka ikeretkeretna. E, enggo doeng, ibahanna man toear, itogengna koe laoe, pepagina iëlarna, datsa sepoeloeh kiboel a; asakai 'nggeloeh ipoelahina, si matë iboeatna. E, maka ibahanna ka boeboena. E pë asakai matë asë boeatna. Bagë gelgel. E rêh me kap perik-perik, toektoek besi gelarna. Tenggalak-tenggalak si Mandoepa iteroeh boeloeh, idahna me kap tjinep doea esta bobona ia koendoel, itediskenna, doea depa bobona tedis. Roekoer si Mandoepa: „koega nge perboeat 'ndia? Koepantemlah" natëna." E, iboeatna boeloeh, idjoekdjoekna me kap. „Ola akoe idjoekdjoek" nina perik-perik. „Engkai?" — „Akoe isoeroeh mamandoe, Dibata datas; ënam akoe koeteroeh". Iberëken perik-perik toedjoeh lompat sada, sada piso la nai langlang oelina. Sanga djë 'ndai datsa sada binoeroeng, sada gajo, oelih boeboena. Itengeskenna koedas. Iogë Dibata idas, binoeroeng djadi pirak. gajo djadi soeasa. „Moesil si Mandoepa ningen, itengeskenna pir-ak ras soeasa!" — „Binoeroeng 'ndoebë nini! gajo sada".