03 September 2014

Monang Sinulingga



Monang Sinulingga (Sumber Indonesiabase.com)

 Suka “Main Taruhan” Guna Tambah Nafkah
 (Sinar Harapan, Jumat 3 Mei 1974)


NAMANYA Monang Sinulingga. Orangnya polos dan lucu, bukan main senangnya waktu tahu bahwa fotonya mau diambil dan juga sewaktu dia mau diwawancarai.

Dataran tinggi Tanah Karo Sumatra Utara yang dingin itu, mempunyai penduduk yang hidup dari hasil pertanian terutama sayur mayur, dan biasanya kaum lelakinya menghabiskan waktunya ngobrol-ngobrol dan main catur di warung-warung. Dan, Monang Sinulingga, putera Karo yang tidak tahu nama-nama pembukaan atau pertahanan teori-teori catur yang dimainkan, secara mengagumkan telah berhasil mengalahkan MI Ardiansyah dan Dr. Watulo baru-baru ini di Jakarta.

Sering bertaruh

SEMASA Monang masih bayi, ayahnya meninggal dunia, dan menyusul ibunya 4 tahun yang lalu. Tinggallah Monang bersama tiga saudaranya sebagai yatim piatu.

Pada tahun 1972 dan 1973 dia berhasil memenangkan juara catur Sumatra Utara.

Berapa umurnya sekarang? “Kira-kira 28 atau 29 tahun dan saya tidak tahu pasti tanggal kelahiran saya” katanya.

Dua tahun yang lalu dia sudah berumah tangga. Rupanya Bupati Tanah Karo menaruh perhatian terhadap kebolehan anak ini, sehingga sejak dia menjadi menjuarai catur di Sumatra Utara dia pun diangkat jadi karyawan Kabupaten sebagai pegawai harian dengan gaji Rp 2.600,- satu bulan. Dan dia dapat sebidang tanah sawah. “Sampai sekarang sawah itu belum berbuah” katanya penuh humor. Sebagai tambahan pendapatan sehari-hari dia suka bertanding dengan uang taruhan kecil-kecilan.

“Kawan-kawan sering datang mengajak bertaruh, malahan ada yang mengajak taruhan Rp 200,- sekali main”, katanya dengan gembira. “Dalam sehari rata-rata dapat menghasilkan Rp 500,- sampai Rp 600 “ tambahnya.

DENGAN spontan Monang Sinulingga mengatakan bagaimana gembiranya dia diikutsertakan memperkuat Tim Nasional Indonesia ke Olympiade Catur XXI di Nice, Perancis pada bulan Juni 1974 yang akan datang.

Sejak muda dia mulanya hanya tahu “catur Karo” itu permainan catur gaya Karo yang punya menteri (mesah) dua buah. Saya sebenarnya bukan pemain alam lagi, kata Monang menanggapi julukan yang diberikan kepadanya. “Dulu memang saya bermain tanpa teori” katanya.

Pemain alam?

Sewaktu tahun 1965 Monang memasuki Persatuan Catur Medan. Dia mulai membaca tulisan-tulisn mengenai catur, dari jalannya perandingan dalam majalah atau suratkabar-surat kabar. Bahkan buku-buku catur juga sudah mulai digarapnya.

“Salah satu buku yang saya kagumi adalah buku karangan Dr. Max Euwe (bekas juara catur dunia tahun 1937) terjemahan Indonesia”, katanya sambil menghisap rokok kreteknya.

Monang Sinulingga yang beragama Kristen Protestan ini kalau lagi main catur, merokoknya, wah, seperti lokomotif. Putera Tanah Karo yang hanya mampu sekolah sampai kelas dua SMP karena tidak punya biaya ini rupanya sudah mulai senang membaca buku-buku catur.

Bingung dan Gugup

IBARAT seorang kampung yang masuk kota Metropolitan, yang suka bingung dan gugup lihat “gegap gempitanya” kota ini, begitulah Monang putra Tanah Karo ini. Selasa malam yang lalu ia bingung setengah mati sewaktu berhadapan dengan Grand Master Rusia Paul Keres yang kebetulan datang ke Indonesia untuk melakukan “demonstrasi simultan”.

Sewaktu Paul Keres memulai pertandingan, Sinulingga tidak mengenal dan belum pernah melihat cara pembukaan seperti itu. “Saya jadi bingung saat itu” komentarnya.

Dalam hatinya dia berfikir, ”inikah pertandingan demonstrasi, kalah atau menang jelas saya tidak puas, tapi kalau kalah malunya bukan main”.

Boleh jadi perasaan inilah yang membuat dia menjadi gugup. Alhasil dalam perandingan “demonstrasi simultan itu” dibandingkan dari peserta lainnya, Monang Sinulingga yang lebih dahulu menjatuhkan rajanya.

Diakuinya bahwa pengalaman pahit itu menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupnya. Padahal saat itu pembukaan GM Rusia ini adalah “Varian Keres” pada pertahanan Sisilia. “Keres memang kuat” kata Sinulingga.

Menurut Sinulingga, pemain dunia yang dikaguminya ialah Bobby Fischer karena pembukaannnya. Sedangkan pemain nasional yang paling berkesan ialah Jacobus Sampow dan Johny Suwuh. Boleh jadi karena dia pernah dikalahkan kedua pemain ini.

Punya Tekad

PADA pertandingan seleksi national untuk Olympiade yang akan datang (maksudnya di Junani), minggu lalu di Jakarta, Monang Sinulingga dikalahkan pada babak permulaan oleh Sampow dan Suwuh. Tetapi kekalahannya ini tidak membuat dia patah semangat.

Malahan permainannya semakin mantap dan dengan semangat yang menyala-nyala dia behasil masuk “Enam Besar”.

Dikatakannya mengenai ikutnya dia ke Nice, biarpun bukan pemain inti tidak menjadi soal baginya. “Yang penting ke Olimpyade di Perancis itu untuk cari pengalaman,” komentarnya.

Sebagai orang yang berbicara kepada dirinya sendiri, Monang Sinulingga mengatakan, “sekembalinya dari Perancis nanti mutu permainan saya pasti bertambah”.

Diceritakan Monang, bahwa seorang pemain kawakan catur Medan Dami Panggabean yang memberikan dorongan kepadanya untuk terus main catur. “Olahraga catur dipertandingkan secara nasional dan internasional,” kata Panggabean kepada Sinulingga . Ini yang membuat saya punya tekad katanya.

Dalam masa 20 tahun ini, Monang Sinulingga adalah putra Tanah Karo kedua yang pernah “menggegerkan dunia catur Indonesia” setelah Merlep Ginting.

Merlep Ginting, seorang pemain alam, hampir pernah mengalahkan Master Internasional Belanda Prins pada tahun 1953.

Seorang tokoh masyarakat Sumatra Utara dalam mengomentari prestasi Monang Sinulingga ini mengatakan, “kalau Sumatra Utara punya seorang gubernur seperti Ali Sadikin, pasti manusia seperti ini akan dibina hingga dapat membawa keharuman Indonesia. (PAR/DM) 


 ----------------------------------------------------------------------------


Mejuah juah

Tidak banyak dari kita yang kenal Alm. Monang Sinulingga, seorang atlite internasional di Cabang Catur telah mengharumkan nama Indonesia khususnya Karo di kancah Cabang Catur. Gelar yang di sandang oleh Monang Sinulingga adalah Master Nasional, dia mendapatkan kesempatan gelar master Internasional, tetapi dia menolaknya. apa alasan menolak bulang tanyaku padanya pada wawancara di tahun lalu, "Gelar tidaklah terlalu penting bagi saya, tetapi tetap berkarya dan berprestasi"

Monang sinulingga adalah sosok yang sederhana, bermain di kancah catur internasional tidaklah membuat dia menjadi sombong. Monang Sinulingga telah di panggil, selamat jalan bagimu.

Sebuah wawancara yang saya lakukan tahun lalu, sebelum Alm di panggil..

Monang Sinulingga Di Hari Tua 
Ditulis oleh Eddy Surbakti

Banyak sisi kehidupan yang dapat memperkenalkan Taneh karo ke depan depan masyarakat luas. Taneh Karo yang selalu diidentikan dengan keadaan alam baik secara pariwisata maupun pertanian, keunikan budaya/adat adat dan sisi sisi lain yang menarik untuk dikaji lebih mendalam.

Dibidang olah raga banyak juga masyarakat karo yang mempunyai prestasi dipanggung nasional dan internasional. Monang Sinulingga, pria kelahiran tahun 1946 dengan nilai ELO rating pecatur Indonesia  okteber 2006 (dataterakhir yang diperoleh ) sebesar 2295.

Pria berasal dari desa lingga kab. Karo, pada tahun 1952 menghabis kan waktunya di Namo terasi, Kec. Binjai. Membantu orang tuanya untuk bertani dan bercocok tanam. Sehingga pada tahun 1966 kembali ke kab. Karo .


Pendidikan dari alam dan lingkungan sekitarnya membawa Monang Sinulingga ke pentas percaturan nasional dan internasional. Keahlian Monang Sinulingga bermain Catur Karo, memberikan warna tersendiri dalam memainkan catur international. Hal ini diungkakan oleh Baginda Purba, yang mendampingi Monang Sinulingga saat diwawancarai di warung catur yang terletak di Simpang Samura No. 2 kaban Jahe (11/07).

Memulai prestasinya sebagai pecatur lokal yaitu di beberapa turnamen yang diselenggaran di kab. Karo. Prestasi sebagai pemenang di kab. Karo membawa Monang Sinulingga kencah percaturan tingkat Sumatera Utara.

Secara perlahan-lahan gelar Monang Sinulingga menjadi salah satu nama yang diperhitungkan di tingkat Sumatera Utara karena beberapa kali memenangkan turnamen catur tingkat Sumatera Utara sehingga nama Monang Sinulingga terdaftar sebagai pemain nasional, Karena telah berhasil mengalahkan beberapa pemain catur tingkat nasional.

Keberhasilan Monang Sinulingga dipentas catur nasional membawa nama Indonesia  ke panggung olimpiade pada tahun 1974 di francis dan olimpiade 1984 di Yunani. Selain kedua negara tersebut Monang Sinulingga juga  telah membawa nama Indonesia  Kebeberapa negara seperti Hongkong, Banglades dan Kuala Lumpur.

Di negara Banglades Monang Sinulingga dianugrahkan gelar IM ( International Master ) karena tidak menganggap gelar itu terlalu penting baginya, Monang Sinulingga menolak peanugrahan gelar tersebut, saya beranggapan gelar tersebut tidak terlalu penting, jelas Monang Sinulingga.

Monang Sinulingga juga menceritakan dan menjelaskan beberapa tournamen, kegiatan kejuaraan catur dan beberapa penghargaan penting, yang tetap diingatnya sampai sekarang, disamping banyak sekali kegiatan dan tournament yang dia sendiri sudah lupa. Monang memberikan urutan beberapa turnamen, kegiatan kejuaraan catur dan beberapa penghargaan penting yang dia masih ingat seperti :

Tahun 1966 : Mengikuti kejuaran catur daerah Sumatera Utara, dengan meraih Juara I ( Satu )
Tahun 1972 : Berangkat ke Jakarta dan Mendapatkan Gelar Master Nasional.
Tahun 1972 : Menjadi Pegawai Negeri Disalah satu dinas Pemda Karo .
Tahun 1974 : Olimpiade di Francis.
Tahun 1984 : Olimpiade di Yunani
Tahun 1991 : Mengikuti Piala Habibie, Meraih juara I
Tahun 1991 : Mengikuti Piala Astra.

*Kondisi Monang Sinulingga Pada Saat Sekarang ini*

Sejak tahun 1991 Monang Sinulingga mengalami sakit yang cukup memberikan dampak negatif, bukan hanya terhadap kesehatan, tetapi juga mental dan prestasinya dalam bermain catur.

Saya Terserang penyakit Gula Sejak 1991, ungkap Monang Sinulingga. Pada tahun 1991 saya masih berangkat ke Palembang untuk menghadiri Pekan Olah Raga Nasional di Palembang, tetapi pada saat itu, karena kondisi kesehatan yang kurang baik, saya tidak mengikuti PON yang diseleranggarakan di Palembang.

Saat ditemui di warung catur simpang samura No.2 Kaban Jahe. Kondiri Monang Sinulingga sangat memperihatinkan sekali. Saya sangat kecewa dengan hal ini, kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap atlit catur yang telah membawa nama Taneh karo Dan Indonesia  di pentas Kejuaran catur Nasional Dan internasional.

Hal ini akan menyebabkan Tidak lahirnya Bibit Bibit Pemain baru untuk bidang olah raga catur. Hal ini diungkapkan oleh Baginda Purba.

Sumber : Radio Karo Accees Global


 ------------------------------------------------------------


MONANG SINULINGGA, SI PEMAIN ALAM ITU TELAH TIADA

KABANJAHE, SORA MIDO - Pemain catur Karo ternama, Monang Sinulingga, pada 11 Juni 2008 meninggal dunia dalam usia 62 tahun setelah menderita diabetes basah yang mengrogoti tubuhnya lebih dari sepuluh tahun lamanya. Dia dimakamkan di desa kelahirannya, Lingga. Monang Sinulingga meninggalkan seorang isteri, Piah Malem br Ginting dan 3 putri dan satu putra yaitu Irana Sinulingga, AMD, Wibawa Sinulingga, Spd, Sederhana Sinulingga, Amd dan Datna Sinulingga (mahasiswi semester delapan di Unimed).

Menurut data ELO Rating FIDE Pecatur Indonesia per 1 April 2008, tercatat elo rating Monang Sinulingga 2295, berada pada urutan 35. GM Cerdas Barus berada pada urutan kelima dengan 2456, MI Nasib Ginting urutan 13 dengan 2397, MF Sarwan Ginting urutan 22 dengan 2355, dan MN Masa Sitepu urutan 46 dengan ER 2267.

Reaksi
Ketika dihubungi melalui telepon menyampaikan perihal kepergian Monang Sinulingga, Letjen (Purn) Amir Sembiring merasa tekejut. Ndiganai? (kapan). Begitulah biasanya orang Karo menerima kepergian seseorang yang dikenal. Amir Sembiring yang sangat mencintai catur ini merasa sangat kehilangan atas kepergian Monang.

“Secara pribadi saya menyampaikan rasa hormat dan bangga atas prestasinya selama ini di bidang catur. Turut berdukacita sedalam-dalamnya” ujar Amir Sembiring. “Jika dulu pecatur Karo pernah berkecimpung di tingkat dunia, maka perlu dilakukan berbagai kegiatan pembinaan, agar pecatur-pecatur Karo mampu bekiprah kembali di tingkat dunia”.

Harapan seperti itulah yang mendorong Letjen (Purn) Amir Sembiring menggagas turnamen catur Amir Sembiring Cup yang sudah dua kali terselenggara.

“Kalau dilihat prestasinya, patutlah Monang Sinulingga disebut sebagai pahlawan. Karena di masa jayanya dia telah mengharumkan nama suku Karo baik di tingkat nasional maupun internasional” ujar Dolat Sembiring Kembaren, yang di tahun 1980-an menjadi salah satu anggota klub catur Karo di Yogyakarta, “Kilap Sumagan.”

“Selain permainannya memang menakjubkan, Monang Sinulingga juga punya keunikan” ujar Binson Purba, yang juga pernah menjadi pemain andalan “Kilap Sumagan”. Dia lantas terkenang dalam satu partai, Monang berpikir sekian puluh menit lamanya, padahal yang harus digesernya buah rajanya yang diskak lawan.

“Rupanya yang dipikirkannya beberapa langkah selanjutnya” ujar Binson Purba sambil tertawa mengenang episode kehidupan Monang Sinulingga yang meninggalkan begitu banyak kesan.


Debut yang Menggemparkan
Sejak pemunculannya pertama kali di gelanggang catur nasional pada tahun 1972, Monang Sinulingga langsung merebut perhatian para pengamat catur. Sebagai pemain alam, pergerakan buah caturnya sering membuat lawan-lawannya merasa terkejut. Antara lain pengorbanan buah catur yang sudah menjadi ciri permainan catur Karo. Buah catur “tidak begitu berharga” sehingga langkah pengorbanan (erbuang) merupakan bagian dari taktik.

Itulah yang dilakukannya pada kerjurnas tahun 1972 itu sehingga namanya segera populer di balantika catur Indonesia. Saat melawan Master Nasional MHS Nainggolan (DKI Jaya), Monang mengorbankan benteng (tir) untuk kemudian mendapatkan menteri Nainggolan.

Kejutan lainnya, MI Ardiansyah, satu-satunya peserta berpredikat master internasional di turnamen itu, berhasil ditaklukkan Monang. Ketika bertemu dengan pecatur yang tidak kalah hebatnya pada masa itu, MN Arovah Bahtiar, pertandingan berlangsung dengan alot. Terpaksa dilanjutkan keesokan harinya, dan hasilnya, remis.

Tidak ada yang pernah menyangka seorang pemuda dari Tanah Karo sekonyong-konyong muncul dan membuat “dunia persilatan catur nasional” geger. Beberapa pecatur terbaik Indonesia pada masa itu berhasil ditekuknya dengan permainan yang membingungkan lawan-lawannya.

Pada tahun itu juga, Monang Sinulingga mewakili Sumut berhasil meraih gelar Master Nasional dengan nilai 8 dari 14 partai, bersama rekannya Pokan Damanik. Juara turnamen MN Jacobus Sampouw memperoleh nilai 9 ½. Sedangkan wakil Sumut lainnya, Thomas Ginting yang di turnamen itu juga mengalahkan MI Ardiansyah, tapi gagal meraih gelar MN karena permainannya tidak konsisten dan hanya berhasil meraih nilai 5.

Disambut Meriah
Ketika pulang ke Tanah Karo, Monang Sinulingga disambut dengan upacara yang meriah. Patutlah dia disebut pahlawan bagi orang Karo, dia telah membuat nama orang Karo harum dan mengukuhkan bahwa Karo identik dengan catur, kurang lebih sama halnya Brazil dengan sepakbola.

Bupati Karo Tampak Sebayang memerintahkan agar ipalu gendang sarune ras perkolong-kolongna. Jamuan makan pun diadakan bagi sang pahlawan itu. Bertempat di Gedung Nasional, Kabanjahe, Monang pun melakukan petandingan simultan. Dunia catur di Tanah Karo pada masa itu penuh dengan gairah. Nama Monang Sinulingga pun menjadi idiom catur di seluruh kedai kopi.

Sebagai penghargaan atas prestasi Monang, Pemda Karo mengangkatnya sebagai pegawai harian di Kantor Bupati. Karena tingakt pendidikan yang pernah dicecapnya hanya SD, dia tetap mengembangkan diri dalam dunia catur. Artinya, hanya untuk urusan gaji saja dia merasa perlu hadir di kantor.

Kesepian
Di balik masa keemasannya itu Monang sempat mengalami sisi yang muram. Tepatnya, dia merasa “kesepian”. Tidak punya sparring partner (lawan tanding) yang “wajar”. Harus dengan pengaturan poor, entah 1 kuda atau gajah dsb. Karena catur sudah menjadi panggilan hidupnya, terpaksalah dia melayani sistem pertandingan seperti itu, yang memang lajim terjadi dimana-mana, tentu saja lit lapikna (taruhan uang).

Sering Monang kalah dan kalah artinya uang keluar. Tapi begitulah langgam dunia catur di Tanah Karo, pertarungan otak untuk meraup rupiah justeru, membuat catur jadi menarik dan menegangkan. Salah satu “forum” yang ternama di seluaruh Kabupaten Karo sebagai tempat mangkalnya para jago catur adalah “loost galuh” di Pusat Pasar Kabanjahe. Umumnya mereka itu hidup dari papan catur. Di sana sering Monang mangkal menunggu lawan.

Monang telah pergi, meninggalkan jejak emas dengan sederet prestasi. Kejuaraan Catur antar kota se-Asia II/1980 di Hongkong, The GM Int Chess Ratung Tournament di Dacca Pakistan, 1980, Kejuaraan Catur antar kota se Asia III/1981 di Hongkong, Turnamen Catur Master Sirkuit Asia I/1982 di Hongkong, Olimpiade Catur ke 25/1982 di Lucerne Swiss, Kejuaraan Catur antar kota Asia IV/1983 di Hongkong, Kejuaraan Catur antar kota Asia V/1984 di Penang, Malaysia, Olympiade Catur di Nice, Perancis tahun 1974, dan Olympiade Catur ke-26 tahun 1984 di Tessalonika, Yunani

Di tingkat nasional, juara 2 beregu putra Pekan Olahraga Wilayah VI se-Sumatera di Lampung tahun 2003, Pekan Olahraga Wilayah I Sumatera-Kalimantan di Padang tahun 1984, Pekan Olahraga Nasional (PON) VIII Jakarta 1973, Catur perorangan terbaik papan pertama PON X Jakarta 1981, juara catur beregu PON X tahun 1981.

Piagam penghargaan yang sudah diterimanya, di antaranya, PON X tahun 1981 mewakili Sumut, Piala Wahono (Direktur Jenderal Bea dan Cukai) tahun 1982 di Jakarta mewakili Sumut, atlet senior putra mewakili Sumut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah tahun 1995.

Monang Sinulingga, dengan kesederhaan dan keluguannya, kekal namanya dalam lembaran sejarah Karo, khususnya di bidang sport olah akal itu. Selamat jalan, sobat. Namamu abadi, beberapa pertandinganmu yang gemilang tercantum dalam buku tulisan dan ulasan Ds. F.K.N Harahap “Belajar Main Catur dari Master-Master Nasional dan Internasional” yang terbit tahun 1974. (sg)


Sumber : SORA MIDO

No comments:

Post a Comment