15 September 2014

Tugu Kapiten Purba (Kabanjahe)



 

Tugu Kapiten Baru – Ikon Kabanjahe yang Terlupakan



Kabanjahe adalah ibu kota Kabupaten Tanah Karo. Kota yang terletak 62 kilometer di tenggara kota Medan ini bisa ditempuh 2 jam perjalanan darat.

Kabanjahe sebagai daerah yang dingin karena berada di atas 1000 meter DPL sangat terkenal dengan penghasil sayur mayur. Dengan daerahnya yang dingin tersebut maka sangat asyik menikmati suasana kota dengan secangkir kopi Sidikalang di warung kopi Tiga Serangkai. 

Saya tersadar dari lamunan ketika angkutan kota melewati kedai kopi ini dengan musik hangar-bingarnya. Dengan lagu Karo yang khas alat musiknya angkutan kota ini menyadarkan saya untuk kembali melanjutkan penelusuran kota yang sudah lama sekali tidak saya sambangi.

Oya… kadang ketika kita berada di suatu tempat kita lupa untuk melihat lebih detail tentang daerah itu, tetapi ketika kita sudah jauh meninggalkan daerah tersebut baru kita sadar kalau ada sudut tertentu kota yang selama ini lolos dari pengamatan kita.

Nah… hal yang sama terjadi pada saya. Saat itu saya terhenyak karena Tugu Kapiten Purba yang hampir setiap hari saya lewati luput dari pengamatan saya selama ini.

Saya jadi penasaran, apa sebenarnya isi tulisan yang ada di monumen tersebut? Berikut adalah hasil penelusuran saya.

Tahukah anda kalau Kapiten Purba dulunya adalah anggota MPR/ DPR RI?
Beliau lahir di Kaban Jahe tahun 1915 dan meninggal 24 Maret 1973 di Jakarta. Beliau dikebumikan tanggal 26 Maret 1973 di TMP Medan.

Beliau berpangkat terakhir Mayor C.P.M. Purn. dengan NPP. 12831.

Monumen ini dibangun dan diresmikan 10 Maret 1975 yang diprakarsai oleh teman seperjuangan dengan panitia pembangunan keluarga PURBA.



Di sisi kiri monumen tersebut dapat kita lihat visualisasi perjuangan kemerdekaan. Sedangkan di sisi kanannya adalah alat musik Karo. Sayang pada saat itu tidak ada tempat saya bertanya arti dari visualisasi di sebelah kanan dan kiri monumen tersebut. Namun satu hal saya petik dari monumen sederhana ini adalah betapa tingginya apresiasi orang tua kita di masa lalu. Dalam 2 tahun setelah kematian beliau tugu yang megah ini sudah berdiri kokoh di tengah kota Kaban Jahe. Di sisi lain kita saat ini sering melupakan betapa beratnya mendapatkan kemerdekaan yang sekarang dapat kita nikmati.
 
Hari ini saya belajar lagi kalau masa lalu tidak terjadi begitu saja. Masa lalu terjadi dan menentukan masa sekarang. Ada baiknya kita merenungkan masa lalu untuk jembatan kita lebih baik di masa yang akan datang.

MERDEKA………………

No comments:

Post a Comment