24 January 2015

Pt. Em. L.A Ginting, Dari Guru, Pejuang Hingga Menjual Mesin Jahit Bermerk "Ginting"

.....saat itu beliau belum memiliki nama atau logo usaha. Sementara salah satu syarat dalam mengisi formulir adalah harus mencantumkan nama atau logo usaha yang terpilih. Tanpa ragu, LA Ginting menulis “Toko Ginting” dengan sebatang kapur tulis di sebuah papan, lalu menggantungkannya di depan tokonya........



Banyak kaum muda yang belum mengenal LA Ginting. Beliau adalah salah seorang tokoh pejuang wiraniaga sukses, yang memulai usahanya dari titik nol. Dengan berbekal ketekunan, keuletan dan kegigihannya, beliau mampu mencapai keberhasilan. Bermula sebagai pedagang kecil, hingga akhirnya melonjak menjadi pedagang menengah, bahkan menjadi importir dan eksportir yang go internasional.

Rahasia kesuksesannya terletak pada keramahannya, kejujurannya, dan sikapnya yang bersahabat kepada setiap orang. Beliau juga sangat menghargai kepercayaan orang lain terhadapnya. Kepercayaan merupakan modal utama bagi beliau dalam menjalankan usahanya.


Untuk itu, kisah hidupnya layak dituliskan kembali dan dibaca. Berikut sekilas perjalanan hidupnya :

Masa Kecil

Lagak Andreas Ginting lahir tanggal 10 Oktober 1918 di Desa Juhar Kabupaten Karo, dari pasangan Rim Ginting dan Ngapul Br Tarigan. Ayahanda beliau memberi nama putra sulungnya “Lagak,” yang dalam bahasa Karo artinya seorang gentlemen.  Sedangkan Andreas diambil dari Alkitab, dengan harapan putranya bertumbu meniru sifat-sifat murid Tuhan Yesus.

Pada usia tiga tahun, LA Ginting sudah ditinggalkan Ibunda tercinta. Tahun 1921, Ibundanya meninggal dunia saat melahirkan putra kedua. Hingga ayahnya menikah lagi dengan Jejer Br Sembiring, dan mendapatkan tiga adik lagi. Sebagai putra sulung dari 5 bersaudara, LA Ginting mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap adik-adiknya.

Penderitaan di masa penjajahan Belanda dan kepedihan di masa kecil tidak mematahkan semangatnya untuk tetap belajar.

Menjadi Guru

Pada tahun 1927, beliau masuk sekolah Zending di Pamah Kabupaten Dairi. Tahun 1929 pindah ke Volkschool di Desa Sarinembah, tahun 1930 melanjutkan ke Vervolgschool (setara SMP-red) di Tigabinanga dan tamat tahun 1933.

Berkat pendidikannya di Vervolgschool, beliau dipercaya mengajar di sekolah-sekolah rakyat yang aktif pada zaman Belanda. Kondisi penjajahan saat itu menyebabkan beliau harus menggunakan berbagai teknik, agar minat belajar murid tetap tinggi. Upayanya memberantas buta huruf membuat dirinya mendapat julukan “bapak guru,” kemanapun beliau pergi.

Di usianya yang ke-20, tepatnya 30 November 1938, beliau memutuskan menikah dengan Kinemkem Br Karo.

Masuknya Jepang pada tahun 1942 mengakibatkan sekolah-sekolah Belanda harus ditutup, termasuk sekolah Zending di Gunung Sayang, tempat LA Ginting mengajar.

Berdagang Tembakau

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, LA Ginting belajar berdagang tembakau. LA Ginting membeli tembakau dari petani di Desa Gunung Sayang yang terkenal sebagai penghasil tembakau, kemudian menjualnya kepada para agen yang datang dari Medan.

Beralih profesi dari seorang guru menjadi pedagang bukanlah sesuatu yang mudah. Namun dengan prinsip “dimana ada kemauan disitu ada jalan,” LA Ginting terus berupaya pantang menyerah.

Satu-satunya modal yang dimilikinya hanyalah modal kepercayaan. Beliau harus sanggup mendapat kepercayaan dari para petani untuk membayar tembakau mereka, setelah barang itu dijual kepada pedagang dari Medan.


Usaha beliau ternyata tidak sia-sia. Hal itu terbukti dengan banyaknya masyarakat yang memberikan hasil pertaniannya untuk dijual. Setelah itu, barulah beliau membayar kepada petani. Untuk menanamkan rasa kepercayaan itu, beliau bahkan mengunjungi ladang-ladang petani. Kadang-kadang, dalam sehari, 3 atau 4 kali beliau pergi ke ladang mencari tembakau.

Karena sarana transportasi yang belum memadai saat itu, LA Ginting harus memanggul sendiri barang dagangannya seberat 20 kg dari ladang petani.

Tembakau itu kemudian dipajang di depan rumahnya. Para pedagang asal Medan yang melihat mutu tembakaunya cukup bagus, mengatakan akan membeli tembakau lagi dari beliau.

Karena sudah terjual, sang “Bapak Guru” segera kembali ke ladang petani dan membayar hasil pertanian mereka.

Kepercayaan masyarakat kepada beliau ternyata tidak sia-sia. Semakin hari semakin banyak masyarakat menitipkan hasil pertaniannya untuk dijual kepada agen yang lebih besar. Hari-hari LA Ginting disibukkan dengan transaksi tembakau yang semakin pesat. Pesanan dari para agen tembakau juga semakin besar.

Karena usahanya semakin berkembang, LA Ginting kemudian menyewa gudang kepunyaan Kwan Sun Heng, pengusaha dagang di Pasar Ikan Lama Jalan Kereta Api 104 Medan.

Segala penjualan tembakau dititipkan kepada Kwan Sun Heng, sementara uangnya digunakan untuk membeli barang yang akan dijual kembali di Dairi. Karena pada masa pemerintahan Jepang, para pedagang tembakau diharuskan memasukkan barang-barang keperluan rakyat Dairi, baru mendapat izin dari Gun Seibu.

Dalam mencari barang-barang yang akan dibawa pulang ke Dairi itu, LA Ginting mendapat banyak bantuan dari Kwan Sun Heng. Sedangkan uang hasil penjualan tembakau, terkadang dipakai toke Kwan Sun Heng hingga berbulan-bulan.

Pada masa Agresi Belanda, Kota Medan ditutup, sehingga usaha perdagangan LA Ginting dipindahkan ke Binjai dengan menyewa satu toko di Jalan Bangkatan Binjai. Pemasaran tembakau waktu itu difokuskan ke Pangkalansusu, Pangkalanbrandan, Kwala Simpang, dan Langsa.

Berdagang Pecah Belah

Usai Agresi Militer tahun 1949, LA Ginting memutuskan pindah dari Tiga Lingga ke Sidikalang. Kejelian, ketelitian, dan berbagai perencanaan matang melihat peluang berdagang tetap dipegangnya. Disamping berdagang tembakau yang hanya terlaksana pada hari pekan, LA Ginting juga membuka usaha kedai kopi.

Untuk menjalankan bisnis itu, beliau dibantu seorang pegawainya, Lusius Situmeang, seorang yatim piatu yang sudah dianggap sebagai anaknya.

Pada saat pernikahan Lusius, tahun 1951, LA Ginting membawa peralatan pecah belah dari Medan, seperti piring, cangkir, periuk, gelas, ember, dan lain-lain sebagai kado pernikahan anak angkatnya itu.

Barang pecah belah yang semula menjadi kado pernikahan itu, ternyata disukai para tetangga. Atas permintaan mereka, LA Ginting kembali ke Medan untuk membeli barang-barang yang dipesan para tetangganya.

Keadaan itu mengilhami LA Ginting untuk berdagang barang pecah belah. Namun berdagang seperti itu tentunya membutuhkan modal yang lebih besar lagi. LA Ginting kemudian menceritakan hal itu kepada agen barang pecah belah di Medan. Ternyata agen tersebut dengan senang hati bersedia membantu usaha yang akan dijalankan beliau.

LA Ginting diizinkan membawa barang apa saja yang cocok dipasarkan di Sidikalang. Mengenai uang muka, sang agen tidak mempemasalahkan, yang penting usaha tersebut berjalan lancar. Begitu besarnya kepercayaan agen tersebut, tidak heran jika LA Ginting membawa satu truk barang pecah belah. Bahkan sewa pengangkutan ditanggung sang agen.

Sejak itu, usaha kedai kopi LA Ginting berubah menjadi usaha dagang peralatan dapur. LA Ginting yang sangat mengutamakan nilai seni, berusaha menata barang dagangannya dengan rapi, mulai dari pengepakan sampai pada cara pemasarannya.

Dalam menjalankan bisnisnya, LA Ginting tidak hanya menunggu pembeli, tetapi juga menjajakannya ke rumah-rumah. Pekan-pekan yang ada di kawasan Dairi seperti di Tigalingga dan Sumbul juga dikunjunginya.

Pejuang Kemerdekaan

Di samping  berdagang, LA Ginting juga aktif menjadi Laskar Rakyat, yaitu sebagai Seksi Perbekalan pada Pertahanan rakyat Semesta yang dikomandoi Mayor Selamat Ginting pada Sektor III/VII. Beliau ikut bergerilya melawan Belanda. Sebagai seorang pejuang, LA Ginting telah mendapat sejumlah anugerah penghargaan dari Pemerintah RI.

Diantaranya Tanda Jasa Pahlawan dari Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Soekarno tanggal 5 Oktober 1958. Selanjutnya Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer Kesatu dan Kedua dari Menteri Pertahanan RI tanggal 5 Oktober 1958, Anugerah Cikal Bakal TNI oleh Presiden Soeharto tanggal 19 Februari 1998, serta sejumlah penghargaan lainnya.

Menjadi Importir

Pada tahun 1953, tim survey dari Departemen Perniagaan turun ke Sidikalang untuk memilih usaha yang akan dibantu pemerintah. Melihat bentuk penataan barang dagangan beliau yang sangat rapi, usaha LA Ginting pun terpilih menjadi salah satu usaha yang harus dikembangkan.

Namun saat itu beliau belum memiliki nama atau logo usaha. Sementara salah satu syarat dalam mengisi formulir adalah harus mencantumkan nama atau logo usaha yang terpilih.

Tanpa ragu, LA Ginting menulis “Toko Ginting” dengan sebatang kapur tulis di sebuah papan, lalu menggantungkannya di depan tokonya. Sangat simpel dan ekonomis. Hingga akhirnya beliau mendapat pengakuan dari Menteri Perdagangan sebagai seorang “Importir Midden Stant.”  Hak untuk mengimpor barang dagangan itu hanya diberikan kepada orang tertentu yang memenuhi persyaratan.

Namun untuk menjalankan tugasnya, beliau belum mengerti, apalagi mengenai valuta asing.

LA Ginting kemudian bertanya kepada Djamin Ginting, mantan komandannya yang saat itu menjabat Kepala Staf TT I Bukit Barisan. Djamin Ginting kemudian menyarankan beliau untuk mendatangi Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Hari itu juga LA Ginting mendatangi pimpinan BDNI, Paras Nasution. Atas saran Nasution, beliau membuka rekening di Bank tersebut atas nama Fa Ginting, setelah diaktekan Notaris Sutan Pane Paruhum.

Akhirnya pegawai BDNI lah yang membimbing beliau menjalankan impor barang pecah belah (porselen) dari Jepang, dilanjutkan dengan mengimpor mesin jahit yang diberi merk “Ginting.”  Keikutsertaannya dalam “Importir Midden Stant” membuat beliau bisa mendapatkan barang dengan harga relatif murah, dibandingkan sewaktu berbelanja dari agen di Medan.

Pada tahun 1956, LA Ginting memindahkan usahanya ke Medan dengan akte perubahan menjadi Fa Ginting & Co, tepatnya di Jalan Pattimura. Tahun 1960, lokasi usahanya kembali dipindahkan ke tempat yang lebih strategis, yaitu di Jalan Pemuda baru I No.8 Medan.

Kegiatan perdagangannya telah menampakkan hasil. Bahkan LA Ginting berhasil menyekolahkan delapan anaknya.

Menjadi Eksportir

Kecerdasan dan ketanggapan akan lingkungannya tetap terlintas di benak LA Ginting. Melihat di lokasi usahanya sangat mudah mendapatkan sayur mayur, beliau berniat mengekspor sayur mayur ke Singapura dan Malaysia. Permohonan beliau segera disetujui Departemen Perdagangan Medan, karena pemerintah sangat menginginkan ide-ide seperti yang diusulkannya.

Akhirnya beliau mulai bertugas mengumpulkan berbagai macam sayur mayur dari Kabanjahe dan Berastagi, seperti kol, tomat, bawang, jahe, dan lain-lain.
Modal kepercayaan yang diterapkannya sejak awal berdagang tetap dipegang teguh. Beliau membeli hasil pertanian masyarakat, dan dibayar setelah barang tersebut laku terjual.

Penutup

LA Ginting hanyalah seorang anak desa yang mengandalkan tekad dan berkat Tuhan, sehingga semua jalan terbuka bagi beliau. Sepatah kata bahasa asing pun tak diketahuinya. Namun dia berhasil mengembangkan sayap usahanya hingga ke luar negeri.

Di usia senja, dalam umur 74 tahun, beliau masih kreatif dan tetap bersemangat mengembangkan usahanya. Pada tahun 1992, LA Ginting masih mampu membuka perkebunan kelapa sawit puluhan hektar di Simalungun.

Kesetiaannya dalam melayani Tuhan sejak masa mudanya juga membuat beliau berhak menerima gelar Emeritas, pada Sidang Sinode GBKP 1984 di Jakarta. Hak Emeritas merupakan tanda kesetiaan dalam pelayanan Gereja selama 20 tahun terus menerus atau sekurang-kurangnya 25 tahun bila pernah terputus.

Demikianlah kehidupan Bapak LA Ginting sejak masa kecilnya hingga hari tuanya. Beliau selalu mengharapkan belas kasihan Tuhan Yang Maha Esa. Beliau hanya mengandalkan Sang Pencipta sebagai penunjuk jalan dan penerang hatinya dalam kegelapan.

Sumber : Pertua Emeritus LA Ginting, Pejuang Wiraniaga, Pejuang Kemerdekaan, serta Pejuang Kerohanian, Dk Em P Sinuraya, Medan, 2003.




==================================


Disunting Oleh: Dk. Em. P. Sinuraya

Kata Sambutan

Masih segar dalam ingatan saya, semua peristiwa-peristiwa masa lalu. Peristiwa-peristiwa tersebut menimbulkan rasa takjub dan heran, betapa besarnya kasih Allah yang telah mejadikan hal-hal yang indah dalam perjalanan keluarga kami pada masa lalu hingga hari ini.

Pengalaman pada masa kanak-kanak terutama pengalaman menanggung derita oleh karena ibunda tercinta cepat meninggal dunia. Almarhumah meninggalkan kami bersama seorang adik yang masih berumur 16 hari. Semua itu kini menjadi kenangan indah yang penuh dengan liku-liku kehidupan yang tak mudah melupakannya.

Pengalama pada masa muda yang dilalui bersamaan dengan zaman penjajahan Belanda, zaman pendudukan tentara Jepang dan masa perang Kemerdekaan RI. Masa muda itu telah melibatkan saya turut dalam perjuangan kemerdekaan RI. Pengalaman dan pergumulan di bidang ekonomi, sejak dari pedagang kecil, menengah bahkan menjadi importir dan eksportir didukung pula dalam pengalaman mengabdikan diri dalam pelayanan gereja, maka saya senantiasa mengucapkan syukur atas bimbingan dan anugerah Allah yang sangat besar.

Pengalaman menjadi  ayah, suami dan kakek juga merupakan pengalaman yang sangat indahnya. Semua pengalaman yang penuh dengan suka/duka tersebut diyakini merupakan dan pertolongan Tuhan, sehingga pada akhirnya kami sekeluarga dapat melaksanakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan berupa kebaktian ucapan syukur: ”Lima Windu Perkawinan” kami “Pt. Em. L.A. Ginting dengan K. br Pinem” diikuti dengan kebaktian ucapan syukur Jubelium 50 Tahun perkawin, yang juga disebut “Pesta Emas” kami, serta kebaktian ucapan syukur pada “Pesta Perkawinan Berlian 60 Tahun” sekaligus peringatan ulang tahun saya yang ke-80. Ucapan syukur yang tiada terhingga kepada Allah yang telah menuntun keluarga kami sampai saat ini.

Buku kecil ini masih jauh dari sempurna, akan tetapi kami berharap agar buku ini bermanfaat dan menjadi kenang-kenangan kepada keluarga, anak cucu dan teman-temean.

Akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada Henni Lumban Gaol dan Dk. Em. P. Sinuraya yang telah membantu dalam pengadaan buku ini.

Sekian dan terima kasih

Syalom,

Medan, Januari 2003

Pt. Em. L.A. Ginting



No comments:

Post a Comment