Skip to main content

Posts

Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960) bagian 2

PISO SURIT (1960) Sinopsis  : Wita (Mieke Wijaya), mahasiswi datang ke Tanah Karo untuk mengadakan penelitian budaya. Untuk itu ia menyewa kuda dari Pande (Ahmadi Hamid), orang tua pandir yang mengimpikan punya sado sendiri. Hubungan yang makin lama makin erat, Pande antara lain mengajarkan lagu Piso Surit yang membuat Pande lama-lama jatuh cinta. Segala tindakan Wita dianggapnya balasan cinta, hingga suatu hari ia tak tahan dan berusaha memperkosa Wita. Untung Wita bisa menginsyafkan Pande, yang lalu jadi malu dan lari untuk bunuh diri. Kawan Pande yang disuruh Wita, berhasil mengajak pulang Pande. Wita memaafkan tindakan Pande dan besoknya pulang kembali ke kota. Di jalan Wita ketemu Pande yang memberinya kenangan berupa selendang Karo. Arti dari Piso dalam bahasa karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang karo. Sebenarnya Piso Surit adalah nama sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung in...

Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960) bagian 1

film “Turang” yang mengisahkan perjuangan orang-orang dari suku Karo pada waktu Revolusi Agustus 45 di Sumatra Timur,  pemutaran pertamanya dilangsungkan di Istana Merdeka  dan disaksikan oleh Presiden Sukarno Poster Film "Turang" (sumber posterjadoel.blogspot.com l") TURANG (1957) Sinopsis : Filem berjudul "Turang" terpilih sebagai Filem Terbaik FFI (Festival Filem Indonesia) tahun 1960 . Bercerita tentang perjuangan Rusli dalam melawan penjajah di Sumatera. Ketika terluka, ia dirawat oleh Tipi. Tumbuhlah rasa cinta diantara mereka tetapi keadaan tidak memungkinkan untuk mereka bersama karena Belanda terus menyerang dan pasukan harus terus berpindah-pindah. Kisah perjuangan gerilya melawan Belanda di Tanah Karo (Sumatera Utara), khususnya di Seberaja, kampung yang pernah jadi pusat komando. Wakil komandan Rusli (Omar Bach) yang terluka diserahkan perawatannya kepada Tipi (Nizmah), adik anggota gerilyawan Tuah (Tuahta Perangin-angin)....

Kebun Tarigan dan Musik Limapuluh Kurang Dua

Pemain Musik Keliling Rondtrekkend orkestje in de Karo-Bataklanden Collectie: KITLV Collectie/Collection: Brinkgreve, J.H. Datum/Date: 1932 Oleh  Arbain Rambey (KOMPAS) MENYADARI bahwa seseorang cuma sendirian di dunia ini, biasanya rasa kesepian akan muncul. Ini yang dialami Kebun Tarigan, pemusik tradisional Karo yang tinggal di Medan. Namun, kesepian Tarigan bukanlah kesepian dalam arti sebenarnya karena ia tidak ditinggalkan siapa pun. "Kesepian" Tarigan-bahkan sudah menjurus menjadi "ketakutan"-timbul melihat kenyataan bahwa tinggal dirinyalah orang yang menguasai musik Limapuluh Kurang Dua dalam tradisi Karo. "Apalagi usia saya sudah 71 tahun. Kalau tidak ada yang meneruskan, musik ini akan punah. Saya sudah cek ke mana-mana. Sudah tidak ada lagi orang yang menguasai musik ini," kata Tarigan dengan prihatin. Musik Limapuluh Kurang Dua adalah deretan lagu-lagu tradisional Karo yang hanya dilantunkan pada acara-acara b...

Teater Tembut-tembut

Salah satu teater tradisional di Sumatera Utara yang cukup terkenal dalam konteks pariwisata global adalah tembut-tembut dari budaya Karo. Di Simalungun terdapat teater Toping-toping atau Huda-huda. Sementara dalam kebudayaan Melayu contohnya adalah bangsawan, tonil, dan sandiwara. Pada masyarakat Toba adalah Opera Batak. Tembut-tembut di daerah Karo yang terkenal sampai sekarang adalah yang ada di daerah Karo yang terkenal sampai sekarang adalah yang ada di daerah Seberaya sehingga sering disebut tembut-tembut Seberaya. Tema ceritanya adalah hiburan bagi raja yang ditinggal mati anaknya. Kapan terciptanya tembut-tembut Seberaya tidak dapat dipastikan secara tepat. Namun dapat diperkirakan berdasarkan tahun serta penyajiannya di  Batavia fair yaitu tahun 1920.  Berdasarkan tahun di atas, para informan memperkirakan  terciptanya tembut-tembut adalah sekitar tahun 1915.  Awalnya berfungsi hiburan. Dalam arti digunakan untuk menyenangkan hati masyarakat yang menonto...

Masyarakat Karo dan Seni Pertunjukannya

Oleh Muhammad Takari Ketua Jurusan Etnomusikologi F. Ilmu Budaya USU 2011 SETIAP kumpulan masyarakat di dunia ini, dalam bentuk etnik, religi, tas, society, bangsa, dan lainnya selalu memiliki ciri-ciri, cita-cita, atau tujuan yang sama, atau didukung oleh gagasan kolektif yang bersamaan. Mereka membentuk kebudayaan atau peradaban yang digunakan untuk menanggapi tantangan yang datang baik dari luar maupun dari dalam kebudayaannya. Mereka mengekspresikan wujud kebudayaan dalam tiga bentuk, yaitu: ide, aktivitas, dan artifak. Sementara isi kebudayaan manusia di dunia ini terdiri dari tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu: agama, organisasi sosial, teknologi, pendidikan, bahasa, ekonomi, dan kesenian. Kesenian adalah unsur dan ekspresi kebudayaan manusia yang berhubungan erat dengan unsur-unsur kebudayaan lain. Setiap masyarakat di dunia ini selalu memiliki kesenian sebagai bagian dari pemenuhan fungsional akan rasa keindahan. Demikian pula kesenian dalam masyarakat Karo. Masyarakat ...

Beru Dayang dan Padi dalam Kepercayaan Orang Karo

Sejarah Padi di Karo Sejarah darimana datangnya padi di Karo sampai saat ini masih belum di ketahui dengan pasti. Namun banyak pendapat-pendapat para ahli menerangkan asal mula padi di Karo. Menurut Brandes bahwa penanaman padi di sawah di mulai sejak sebelum pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha datang ke Karo. (Brandes, 1889 dalam Ferdinandus,1990:426). Ini diperkuat lagi dengan peninggalan-peninggalan yang masih di lihat dalam masyarakat Karo yaitu marga-marga yang ada di Karo. Sembiring Brahmana, Colia, Pandia, Manik, Dan Lingga. Dan sampai sekarang marga-marga ini masih di gunakan oleh orang Karo. Pendapat lain mengatakan bahwa penanaman padi dengan system perladangan diperkirakan   di kenal oleh orang Karo jauh sebelum sekitar 2500-1500 SM, yaitu bersamaan masuknya kebudayaan megalituk tua ke Indonesia (Golden, 1945:138-141). Namun dalam teorinya ini masih ada keraguan karena tidak disertakan dengan bukti-bukti yang kuat. Namun ada satu cerita dalam kebudayaan Karo bahwa padi ...

Sentabi kami man bandu Beru Dayang…

Upacara Merdang – “Sentabi kami man bandu Beru Dayang…” Dahulu sebelum agama Kristen memasuki Tanah Karo, masyarakat tradisional Karo merupakan masyarakat yang bersistem kepercayaan animisme dan dinamisme, sama seperti masyarakat tradisional di daerah Sumatera Utara lainnya. Banyak ritual-ritual yang dilakukan masyarakat Karo waktu itu untuk mencapai keselamatan mereka bersama, demi mempertahankan dan melestarikan hidupnya. Ritual-ritual tersebut antara lain: Upacara Mindo Udan (meminta hujan), Upacara Erpangkir Ngarkari (berkeramas membersihkan diri untuk membuang sial), atau Upacara Merdang (menabur benih). Apa dan Bagaimana Upacara Merdang Merdang adalah upacara yang diadakan pada saat pertama kalinya menanam bibit padi di ladang. Nama lain upacara ini adalah nuan page; nuan berarti menanam, page berarti padi, dan secara keseluruhan berarti upacara menanam padi. Maksud upacara ini adalah untuk memohon kepada beraspati taneh (dewa penguasa tanah) agar memelihara padi yang dita...