23 October 2011

Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960) bagian 2

PISO SURIT (1960)
Sinopsis :

Wita (Mieke Wijaya), mahasiswi datang ke Tanah Karo untuk mengadakan penelitian budaya. Untuk itu ia menyewa kuda dari Pande (Ahmadi Hamid), orang tua pandir yang mengimpikan punya sado sendiri. Hubungan yang makin lama makin erat, Pande antara lain mengajarkan lagu Piso Surit yang membuat Pande lama-lama jatuh cinta. Segala tindakan Wita dianggapnya balasan cinta, hingga suatu hari ia tak tahan dan berusaha memperkosa Wita. Untung Wita bisa menginsyafkan Pande, yang lalu jadi malu dan lari untuk bunuh diri. Kawan Pande yang disuruh Wita, berhasil mengajak pulang Pande. Wita memaafkan tindakan Pande dan besoknya pulang kembali ke kota. Di jalan Wita ketemu Pande yang memberinya kenangan berupa selendang Karo.

Arti dari Piso dalam bahasa karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang karo. Sebenarnya Piso Surit adalah nama sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara seksama sepertinya sedang memanggil-manggil
seseorang dan kedengaran sangat menyedihkan.

Tarian Piso Surit adalah tarian yang menggambarkan seorang gadis yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung Piso Surit yang sedang memanggil-manggil.

Lagu Piso Surit Diciptakan Oleh Djaga Depari salah seorang tokoh masyarakat karo sekaligus komponis nasional pada masa orde lama. (sumber : klik)

Soekarno dan Djaga Depari

Titles
PISO SURIT
Main Director
BACHTIAR SIAGIAN
Year
1960
Length
Countries
Indonesia
Genre
Series


Actors
Directors
Director Of Photography
Composer
Author
Companies
RENJONG FILM CORP.
Movie Posters
Additional Information
Literary Sources



Catatan tambahan :

Penelusuran tentang Turang dan Piso Surit.

Dalam buku Krishna Sen. Indonesian Cinema: Framing the New Order. London & New Jersey: Zed Books, 1994,  dimuat tentang:

1. Bachtiar Siagian, hal. 24, 36-38, 41-47, 49, 97

2. Films and film-maker (Bachtiar juga disebut pada bagian ini), hal. 36-38

3. Biodata Bachtiar dan karyanya, hal. 41-47

4. Film Turang, hal. 42-43 (Disebut-sebut perwira Sumatra Kolonel Jamin Gintings sebagai salah satu penyandang dana.) Periksa juga berita di Harian Rakjat, 24 Mei 1958 tentang film Turang.

5. Film Piso Surit, hal. 46

6. Tentang sumber, periksa kembali Harian Rakjat dan Bintang Timur (Perpustakaan Nasional di Jakarta memiliki koleksi cukup lengkap tentang kedua koran tersebut. Katalog Perpustakaan Nasional di Jakarta mendata koleksi yang ada dari edisi Th. 2 no. 1 (1951) - Th. 17 No. 9 (1966) atau 15 jilid.

sumber : M. Fauzi (klik)



Biodata BACHTIAR SIAGIAN (ACTOR & FILM DIRECTOR) :



Lahir di Binjai Sumatra Utara, 19 Febuari 1923.

Sebelumnya ia aktif dalam menulis naskah drama, The Blood People, The Blood of Worker, dan Rosanti.

1974 ia belajar menulis skenario dari buku "Pundovkin's Book" , sebelumnya ikut berjuang melawan Belanda dan Jepang.

1955 Bachtiar terjun ke film, langsung sebagai sutradara untuk film "Tjorak Dunia", "Kabut Desember" 1955, "Daerah Hilang" 1956, dan juga merangkap sebagai peran utama dalam film "Melati Sendja" 1956. Dan dalam FFI 1960 ia mendapat penghargaan sutradara terbaik dalam film "Turang" 1957.

Bachtiar juga di kenal sebagai Ketua Lembaga Film Indonesia (LEKRA), karena itu ia lama mendekam di pulau buru, 1977 baru ia bebas.


FILM dan POLITIK
Setelah masa peralihan kemerdekaan, pada tahun 1949, produksi film di Indonesia meningkat dengan pesat dan mencapai puncaknya padata tahun 1955, yaitu mencapai 58 per tahun. Pada saat yang sama terjadi pergeseran sosial dalam industri film, yaitu lebih banyak "pribumi" yang terlibat di dalamnya. Banyak film tentang perjuangan yang dibuat. Pada awal 1960-an dunia perfilman menjadi ajang berpolitik. Sutradara yang menonjol pada waktu itu, a.l. Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik yang berlatar belakang Islam (NU) dan Bachtiar Siagian yang berideologikan komunisme (PKI). Setelah upaya kudeta tahun 1965, Bachtiar Siagian dipenjarakan di Buru dan baru dibebaskan tahun 1979.

Nama : Bachtiar Siagian
Profesi : Sutradara
Tempat Tahir : Binjai, Sumut Tanggal Lahir : 19 Februari 1923
Pendidikan Formal :
Penghargaan Khusus : Penghargaan Sutradara Terbaik untuk film "Turang" dalam FFI 1960

NJANJIAN DILERENG DIENG        1964       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
KAMI BANGUN HARI ESOK          1963       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
DAERAH HILANG              1956       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
KABUT DESEMBER           1955       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
TURANG              1957       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
VIOLETTA            1962       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
PISO SURIT         1960       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
SEKEDJAP MATA              1959       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
NOTARIS SULAMI            1961       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
TJORAK DUNIA 1955       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
BADJA MEMBARA           1961       BACHTIAR SIAGIAN        
Director
MELATI SENDJA                1956       BACHTIAR SIAGIAN        
Actor.Director.



Kesaksian salah satu pemainnya :

Bung Zoubier yang lahir tanggal 22 Januari 1931 di Bireuen, Aceh ikut main dalam filem Turang dan Piso Surit. Sejak usia 13 tahun beliau memang sudah main sandiwara di sekolahnya. Karirnya dapat dideretkan sebagai berikut:

1.Main di film “ Kuala Deli “, yang dibuat pada tahun 1955
2. Main di film “Bintang Pelajar“, yang dibuat pada tahun 1957
3. Main di film “Anakku Sayang”, yang dibuat pada tahun 1957
4. Main di film “Piso Surit ”, yang dibuat pada tahun 1957
5. Main di film  “Turang”, yang dibuat pada tahun 1960. 

Khusus mengenai film “Turang” yang mengisahkan perjuangan orang-orang dari suku Karo pada waktu Revolusi Agustus 45di Sumatra Timur, pemutaran pertamanya dilangsungkan di Istana Merdeka dan disaksikan oleh Presiden Sukarno. Di situlah Bung Zoubier bertemu dan berdialog langsung dengan Presiden Sukarno untuk pertama kalinya. Pertemuan berikutnya dengan Presiden Sukarno terjadi di KBRI di Moscow, ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Uni Sovjet. Saat itu Presiden Sukarno berpesan kepada Bung Zoubier demikian: “Baik-baik belajar, dan cepat pulang”.

Sebagai seniman yang sudah banyak berperan dalam pementasan drama dan pembuatan film, beliau tentu saja banyak berhubungan, bergaul dan bekerja sama dengan Bung Bachtiar Siagian. Karena itu beliau mengenal dekat dan akrab dengan Bung Bachtiar Siagian - Seniman kondang, Ketua Lembaga Film Lekra. Bung Zoubier sangat mengagumi dan menghormati Bung Bachtiar Siagian.

Ketika mendengar berita kematian Bung Bachiar yang menyedihkan itu, beliau terharu dan sangat sedih. Dengan nada marah beliau mencela perlakuan yang tidak manusiawi oleh rezim Orba terhadap Bung Bachtiar Siagian yang semasa Revolusi Agustus 45 aktif dalam pasukan gerilya di Kabupaten Langkat dalam mempertahankan Kemerdekaan RI, dan di samping itu telah banyak pula memberikan sumbangan dalam memperkaya hazanah seni dan budaya Indonesia yang berkepribadian Indonesia.

Pada tahun 1959, Bung Zoubir dikirim oleh Perfi ( Persatuan Film Indonesia ) ke luar negeri, belajar di Institut Kesenian dan Perfileman Negara Moscow atas beasiswa Pemerintah Indonesia. Semasa belajar di teater tersebut, pada tahun 60-an, untuk tujuan lebih memperkenalkan Kebudayaan Indonesia di Uni Sovjet, dibentuk Lembaga Kebudayaan Indonesia, yang diketuai oleh Prof. Intojo, dan Bung Zoubir sebagai Sekretarisnya.

Setelah terjadi peristiwa G-30-S, Bung Zoubier juga menjadi korban kekerasan rezim militer fasis Suharto, karena identitasnya sebagai pendukung kebijakan politik Presiden Sukarno sudah diketahui oleh Atase Militer AD Indonesia di Moscow. Pasport Bung Zoubier dicabut, dan jadilah beliau orang yang terhalang pulang di luar negeri. Pada saat-saat itu juga di Moscow didirikan OPI ( Organisasi Pemuda Indonesia ) untuk tujuan menghimpun orang-orang Indonesia yang tidak bisa pulang dan sedang berada di Uni Sovjet, dimana Bung Zoubir juga masuk menjadi anggotanya. 

Sejak itu Bung Zoubier bekerja di teater Mossoveta, salah satu teater drama terbesar di Moscow. Seluruh pekerjanya ada sejumlah 325 orang, di antaranya 91 orang akteur dan aktris. Semasa hidup di Moscow, Bg. Zoubir telah menikah dengan seorang wanita Warga Negara Uni Sovjet, dan dikarunia seorang putra. (sumber lengkapnya : klik)

No comments:

Post a Comment