27 October 2011

RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA (1914-1964) -- bagian 2


Ketika Rakutta Sembiring Brahmana masih anak-anak, beliau sering mengikuti ayahnya dalam acara-acara adat seperti perkawinan, kemalangan, memasuki rumah baru, begitu pun upacara ritual menurut kepercayaan leluhur. Hal ini tidak mengherankan, karena ayah dari Rakutta ini sendiri adalah seorang penetua adat yang kerap kali dipanggil untuk menghadiri berbagai acara. Seringnya Rakutta mengikuti ayahnya dalam berbagai acara adat mengakibatkan lambat laun ia mengetahui mengenai adat-adat karo. Beliau juga sering berdiskusi dengan ayahnya mengenai adat-adat karo yang belum ia mengerti. Dengan demikian maka pemahaman mengenai adat-adat ini akan semakin banyak. Pemahaman Rakutta Sembiring Brahmana terhadap adat karo kelak dituliskannya dalam sebuah buku yang berjudul "Corat Coret Budaya Karo".

Sama halnya dengan anak-anak sebayanya Rakutta Sembiring Brahmana juga menyenangi permainan-permainan yang sering dimainkan pada saat itu seperti sepak bola, catur, kelereng, gasing dan sebagainya. Dia juga dikenal sebagai anak yang pintar. Namun seperti anak-anak pada umumnya, Rakutta juga tidak terlepas dari kenakalan-kenakalan kecil yang sering dilakukan oleh anak-anak. Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah mau mengalah apabila ia merasa apa yang dia lakukan itu benar. Demikian juga ketika adik-adiknya diperlakukan tidak adil oleh orang lain ia akan melawan dan memarahi adiknya itu apabila tidak mau melawan orang tersebut. Sifat seperti ini tetap dipertahankannya hingga ia menikah dan mempunyai anak .Konsep untuk melawan jika benar ia terapkan kepada anak-anaknya kelak. Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari salah satu adik tiri Rakutta Sembiring Brahmana, abang sulungnya ini mempunyai beberapa teman sepermainan yang sangat dekat yakni Ngerimi Ketaren dan Tandel Brahmana. (16)

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana menginjakan usia sekitar delapan tahun tepatnya pada tahun 1924, beliau memasuki bangku sekolah untuk pertama kalinya. Kedua orangtua Rakutta sepakat untuk menyekolahkan anak sulungnya ini di Sekolah Rakyat yang dikenal dengan HIS (Holland Inlandsch School). Pada masa itu belum ada sekolah di Desa Limang, oleh karena itu orangtuanya kemudian menyekolahkannya di Kabanjahe.

Jarak antara Kabanjahe dan Limang cukup jauh sehingga tidak memungkinkan apabila Rakutta Sembiring Brahmana untuk pergi bersekolah setiap harinya dengan pulang pergi, sehingga pada saat itu Rakutta dititipkan orangtuanya di tempat neneknya di Kabanjahe. Sejak saat itu Rakutta Sembiring Brahmana tidak tinggal bersama orangtuanya lagi. Meskipun Rakutta Sembiring Brahmana telah tinggal bersama neneknya, namun kedua orangtuanya kerap kali mengunjunginya dan demikian juga sebaliknya beliau juga sering mengunjungi orangtua dan sanak saudaranya di kampung halamanya Desa Limang terutama pada saat libur sekolah berlangsung. Biaya kehidupan Rakutta Sembiring Brahmana setelah tinggal bersama neneknya di Kabanjahe tetap ditanggung oleh kedua orangtuanya.

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana masih duduk di bangku Sekolah Rakyat yang dikenal dengan sebutan HIS (Holland Inlandsch School) ibu kandung dari beliau yaitu Bayang Tua br Sebayang dipanggil oleh Tuhan Yang maha Esa untuk menghadap kepadaNYA. Peristiwa ini tentunya melukiskan luka yang mendalam bagi Rakutta Sembiring Brahmana yang masih kecil. Kehilangan salah satu orang yang paling dicintainya membuatnya sedikit rapuh. Namun sebagai seorang anak laki-laki yang paling sulung dan berjiwa besar, Rakutta tidak larut dalam kesedihan. Rakutta Sembiring Brahmana pun akhirnya bangkit dan kembali pada kegiatannyaseperti biasa.

Masa Remaja Rakutta Sembiring Brahmana

Setelah tamat dari HIS (Holland Inlandsch School) pada tahun 1927, Rakutta Sembiring Brahmana melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi lagi. Rakutta Sembiring Brahmana melanjutkan sekolahnya di Taman Siswa yang berada di Kota Medan. Selama Rakutta Sembiing Brahmana di Medan, ia tinggal bersama salah satu kerabatnya bernama Hj Harun yang dikenal dengan julukan Pak Haji. Rakutta Sembiring Brahmana tinggal di Kampung Lalang Medan bersama pasangan suami istri yang sudah lama menikah dan tidak mempunyai anak, oleh karena itu mereka kemudian mengangkat Rakutta Sembiring Brahmana menjadi anak angkat mereka. (17) Sejak ia diangkat menjadi anak oleh keluarga Hj Harun, Rakutta SembiringBrahmana mempunyai orangtua kedua selain ayah dan ibu kandungnya yang tinggal di Desa Limang. Selama ia tinggal di rumah Hj Harun, Rakutta Sembiring Brahmana menjadi anak yang mandiri. Rakutta Sembiring Brahmana tidak segan-segan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian dan piring, mengepel lantai bahkan memasak yang pada umumnya dilakukan oleh kaum wanita.


Hal inimenunjukkan perubahan pada Rakutta Sembiring Brahmana kecil menjadi anak yang mulai beranjak remaja. Hal-hal yang tidak pernah ia lakukan di kampung halamanya seperti pekerjaan rumah kini harus ia lakoni. Kerajinan dan kemandirian Rakutta Sembiring Brahmana inilah yang menyebabkan orangtua angkatnya ini sangat menyayanginya. Rakutta Sembring Brahmana menunjukkan bahwa ia bisa menjadi anak yang tidak mengandalkan harta kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya.

Rakutta Sembiring Brahmana masuk ke sekolah lanjutan yang dikenal dengan Taman Siswa pada tahun 1927. Selama sekolah di Taman Siswa ini, ia dikenal dengan anak yang mudah bergaul dan banyak disenangi orang, oleh karena itu tidak mengherankan apabila Rakutta Sembiring Brahmana sangat dekat dengan gurunya, salah satunya ialah Pak Sugondo. Rakutta Sembiring Brahmana juga dikenal sebagai anak yang mempunyai prestasi yang membanggakan karena ia termasuk ke dalam ranking kelas.

Selama bersekolah di Taman Siswa Medan, Rakutta Sembiring Brahmana kerap kali pulang ke kampung halamanya di Desa Limang terutama pada saat sekolah libur. Untuk sampai ke kampung halamanya Rakutta Sembiring Brahmana harus naik angkutan dari Medan yang pada saat itu sangat sulit ditemukan. Satu-satunya angkutan umum yang menghubungkan Medan-Berastagi adalah PMG (PersatuanMotor Gunung). Dengan angkutan ini Rakutta Sembiring Brahmana bisa sampai ke Desa Perbesi dan dari desa ini kemudian perjalanan dilanjutkan lagi ke Desa Limang dengan berjalan kaki. Perjalanan dari Desa Perbesi ke Desa Limang dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 3 jam. Perjalanan ini terpaksa dilakukan karena tidak ada angkutan yang sampai ke desa ini.

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana pulang ke kampung halamanya di Desa Limang, beliau tidak pernah ikut bersama orangtuanya ke ladang atau menggembalakan kerbau. Biasanya selama liburan Rakutta Sembiring Brahmana menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku atau menulis. Rakutta Sembiring Brahmana ini sangat menyenangi buku-buku yang berbau politik. Meski Rakutta Sembiring Brahmana ini tidak pernah ikut bersama orangtuanya ke ladang atau menggembalakan kerbau, kedua orangtuanya tidak pernah memarahinya karena mereka menyadari hobbi dari anak sulungnya ini.

Selama Rakutta Sembiring Brahmana sekolah di Taman Siswa, beliau tetap dibiayai oleh orangtuanya. Biaya kehidupannya terkadang diantar oleh ayahnya ke Medan, lain waktu dikirim lewat pos, dan terkadang juga dibawa oleh Rakutta Sembiring Brahmana ketika beliau ketepatan pulang ke kampung halamannya. Rakutta Sembiring Brahmana mulai menunjukkan ketertarikanya di dunia politik sejak ia masuk ke sekolah Taman siswa. Di sekolah ini beliau ikut dalam organisasi sekolah yang ditujukan untuk seluruh siswa Taman Siswa. Organisasi yang diikuti oleh Rakutta Sembiring Brahmana di Taman Siswa ini berupa organisasi bawah tanah.

Organisasi ini merupakan salah satu organisasi tersembunyi dan tak boleh diketahui keberadaanya oleh pemerintah Belanda. Keikutsertaan Rakutta Sembiring Brahmana dalam organisasi sekolah ini dikarenakan kewajiban yang dibebankan oleh pihak sekolah kepada seluruh siswa Taman Siswa. Guru-guru dari Sekolah Taman Siswa ini kebanyakan berkecimpung di dalam dunia politik, sehingga mereka mengajak siswanya untuk turut serta dalam pergerakan melawan penjajahan Belanda.

Ikut sertanya Rakutta Sembiring Brahmana dalam organisasi bentukan sekolahnya secara tidak langsung menambah pemahamannya akan dunia politik. Didikan dari Taman Siswa ini juga membentuk kepribadian Rakutta Sembiring Brahmana yang berani mengambil resiko dalam menentang penjajah. Rakutta Sembiring Brahmana semakin peka akan nasib bangsanya sehingga ia mau meninggalkan kemewahan yang ia dapatkan dari orangtuanya dan bergabung bersama pejuang-pejuang di era 1930-an itu.

Selama sekolah di Taman Siswa beliau telah masuk menjadi salah satu simpatisan Partai Nasional Indonesia (PNI). Setelah tamat dari Sekolah Taman Siswa Medan pada tahun 1930, beliau melanjutkan kenjenjang yang lebih tinggi lagi. Beliau melanjutkan pendidikannya disekolah yang sama yaitu Taman Siswa Medan.

Pada pertengahan tahun 1930 Rakutta Sembiring Brahmana meninggalkan pendidikannya karena keinginanya untuk masuk menjadi anggota Partindo. Masuknya Rakutta Sembiring Brahmana ke dalam organisasi Partindo tidak terlepas dari dibubarkannya Partai Nasional Indonesia (PNI). 

bersambung

16 Wawancara dengan Riah Sembiring Brahmana di Medan, pada tanggal 17 Juli 2010.


17 Wawancara dengan Mulih Hitdjrah Sembiring Brahmana di Medan, pada tanggal 24 Juli 2010.


No comments:

Post a Comment