26 October 2011

Dari Kehancuran Menuju Bangkitnya Orang Karo Ber-tani (Perkembangan Pertanian Karo bagian 3)

Menjual Kol (foto oleh KALVIN GINTING)
“Ini adalah masa kehancuran”, begitulah ungkapan beberapa petani. Ungkapan seperti ini umumnya berasal dari petani yang cenderung hanya menanam satu jenis tanaman. Jenis tanaman itu adalah tanaman untuk kebutuhan ekspor, seperti; kol, kentang, wortel, daun bawang, atau kol bunga. Seorang petani tua, Pak MG (75 tahun) mengatakan bahwa, pada pada masa sebelum konfrontas, harga lebih sering sesuai dengan yang diharapkan (seri bagi sura-sura). Karena harga tanaman yang diekspor cenderung mahal, dan biaya pupuk dan pestisida tidak semahal saat ini. Apapun alasan petani, mereka cenderung menganggap bahwa masa konfrontasi adalah masa yang ‘lesu’ bagi penanaman sayuran. Hal ini menyebabkan mereka cenderung tidak meluaskan areal perladangan mereka. 

2.2. Saat Konfrontasi

Pemutusan hubungan dengan Malaysia tidak mengurangi penanaman jumlah varietas yang ada. Perubahan yang terjadi hanyalah pada segi jumlah hasil panen yang berkurang. Berkurangnya hasil panen disebabkan karena setiap petani menanam sayuran dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada biasanya.

Pengurangan jumlah penanaman ini terjadi karena pendistribusian hasil panen hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal (Sumatera Utara), dan pengiriman untuk beberapa daerah di luar Sumatera Utara.

“Pada masa ini ladang-ladang kami ada yang sangat beragam, semua ditanam dan semua sedikit jumlahnya, ada juga hanya beberapa macam dan juga ada hanya satu macam, semuanya sedikit”, begitulah Pak KG (60 th) mendeskripsikan situasi saat itu. “Masa ini enak bagi saya, tidak capek berpikir, hanya untuk lokal saja, bisa lebih tenang”, ini reaksi beliau menanggapai situasi yang bagi sebahagian besar orang merupakan awal kehancuran masa depan.

Ketenangan yang dimaksudkan Pak KG adalah dari segi psikologis. Beliau tidak perlu memikirkan modal yang besar. Modal yang diperlukan untuk biaya penanaman menjadi sedikit karena jumlah yang ditaman juga sedikit.

“Kalaupun petani mengalami kerugian disebabkan oleh hasil panen yang jelek karena hawa (perubahan cuaca), atau harga yang kebetulan turun, maka kami hanya rugi sedikit, dan kalau pun kami untung ya.. untung juga sedikit”, begitulah pernyataan Pak KG.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Pak Sm, Ibu AG, dan beberapa petani lainnya. Mereka mengatakan bahwa, bagi mereka yang tidak mempunyai modal besar, konfrontasi tidak berpengaruh besar terhadap pendapatan mereka. Sebab, mereka juga selama ini cenderung menanam beberapa jenis tanaman, dan sangat jarang menanam satu jenis saja untuk ekspor. Karena tanaman untuk ekspor harus ditanam lebih luas, dan itu butuh modal yang besar untuk perawatannya(6).

Beberapa petani lain mengeluhkan masa konfrontasi sebagai masa yang paling merugikan bagi mereka. “Ini adalah masa kehancuran”, begitulah ungkapan beberapa petani. Ungkapan seperti ini umumnya berasal dari petani yang cenderung hanya menanam satu jenis tanaman. Jenis tanaman itu adalah tanaman untuk kebutuhan ekspor, seperti; kol, kentang, wortel, daun bawang, atau kol bunga.

Menurut beberapa petani lainya, pada masa sebelum konfrontasi beberapa jenis petsai, seperti sayur putih juga diekspor ke Malaysia dan Singapura. Para petani hanya mengetahui bahwa pengiriman barang terbesar adalah untuk tujuan Negara Malaysia. Mereka mengatakan bahwa pada waktu sebelum konfrontasi, walaupun harga tanaman tidak sangat mahal, tetapi sesuai dengan harapan . Seorang petani tua, Pak MG (75 tahun) mengatakan bahwa pada harga lebih sering sesuai dengan yang diharapkan (seri bagi sura-sura). Karena harga tanaman yang diekspor cenderung mahal, dan biaya pupuk dan pestisida tidak semahal saat ini.


Beberapa penilaian petani mengenai masa konfrontasi ini cenderung dibandingkan dengan masa sebelum konfrontasi. Beberapa petani membandingkan dengan hal-hal yang menguntungkan mereka pada masa sebelum konfrontasi. Sementara, beberapa petani lain membandingkannya dengan hal-hal yang meresahkan mereka. Apapun alasan petani, mereka cenderung menganggap bahwa masa konfrontasi adalah masa yang ‘lesu’ bagi penanaman sayuran. Hal ini menyebabkan mereka cenderung tidak meluaskan areal perladangan mereka. Keadan seperti ini terus berlanjut hingga normalisasi hubungan dengan Malaysia dipulihkan kembali pada tanggal 11 Agustus 1966.


2.3. Pasca Konfrontasi

Kegiatan penanam hortikultura (khususnya sayur-sayuran) di ladang kembali mulai meningkat setelah normalisasi hubungan baik dengan Malaysia. Peningkatan praktik tanam campuran itu disebabkan karena pengiriman ekspor dibuka kembali pada awal periode ini (sekitar 1970-an). Pada masa ini, tanaman kol merupakan tanaman favorit untuk diekspor.

Beberapa jenis tanaman baru juga berkembang di desa ini, seperti; tomat buah/taiwan, cabai, arcis, lobak taiwan, bit, ketna, pater seli, brokoli, kacang joko (kacang merah). Keseluruhan jenis tanaman ini telah mencapai 24 jenis. Masing-masing jenis tanaman ini terdiri dari beberapa varietas berbeda, misalnya kubis; terdiri dari kol bulat, kol gepeng. Terdapat juga beberapa jenis petsai, seperti; sayur putih, sayur manis, sayur pahit, sayur pendek.

Ditemukan juga beberapa jenis selada, seperti; selada biasa, selada keriting, dan selada krop yang bentuknya sepeerti kubis. Pada tahun 1970-an hingga awal 1980, pemanfaatan lahan untuk perladangan mencapai 150-200 ha. Pada awal tahun 1980, penanaman didominasi oleh tanaman hortikultura, khusus sayur-sayuran. Migran Tionghoa masih mendominasi penanaman kol dan kentang di lahan sewaan dengan luas lahan tanam rata-rata 1-3 ha. Sementara, petani-petani Gurusinga masih sedikit menanam tanaman hortikultura (sayur-sayuran).

Perkembangan pemanfaatan lahan ini searah dengan pebaikan sarana jalan dan transportasi. Pada tahun 1970 ini, sarana jalan di Gurusinga sudah merupakan jalan batu dengan lebar sekitar 5 m, terutama di kuta (dusun I dan II) dan Tangkulen (dusun IV). Sementara, lahan di Korpri (dusun III) masih berupa lahan kosong, hanya terdapat jalan setapak dan digunakan sebagai jalan pintas menuju kota Kabanjahe.

Pada tahun 1970 ini, sarana transportasi dengan bus telah mencapai desa Gurusinga dengan rute melalui Berastagi-Tangkulen (Dususn IV)-kuta (Dususn dan II). Bus ini hanya berjalan satu kali dalam sehari secara reguler. Rute ini ditambah menjadi tiga kali dalam sehari apabila pada hari pekan di Berasatagi. Hari pekan ini hanya berlangsung satu hari dalam satu minggu.

Pada awal tahun 1980 sarana jalan di kuta (Dusun I dan II) dan jalan penghubung kuta dengan Tangkulen (Dusun IV) telah diaspal dengan lebar jalan berkisar 8 m. Daerah Korpri (Dusun III) sudah dibuka pada tahun 1984 dengan kompleks perumahan Korpri (bagi pegawai negeri sipil) dan sarana jalan Korpri menuju kuta telah diaspal selebar 6 m. Pada awal 80-an ini, sebagian besar tanah kosong telah dibuka menjadi lahan perladangan oleh petani-petani Gurusinga (7). Pada saat ini, pemanfaatan lahan telah mencapai 150-200 ha. Sebahagian besar ladangladang tersebut telah diolah oleh petani Gurusinga. Sementara, migran Tionghoa hanya mengolah beberapa lahan saja. Sebab petani-petani Gurusinga tidak bersedia memperpanjang masa sewa ladang milik mereka kepada migran Tionghoa tersebut.

Perkembangan luas perladangan selanjutnya bertambah cepat. Petani telah mulai mengelola sebahagian besar tanah yang diwariskan oleh orang tua mereka menjadi areal perladangan. Tanaman yang dipilih adalah hortikultura (khususnya sayur-sayuran). Pada tahun 1985, sebahagian besar tanah kosong di Dusun IV dan beberapa tanah kosong di Dusun I dan II telah dijadikan areal perladangan . Luas perladangan pada saat itu mencapai 265 ha, dan penduduk Gurusinga bertambah menjadi 360 kk. Penduduk mengatakan bahwa peningkatan areal perladangan ini didukung oleh lancarnya sarana transportasi. Pada tahun 1985, sarana transportasi di Gurusinga telah tersedia setiap hari, dari pagi hingga sore hari.

Pengetahuan petani mengenai perawatan tanaman hortikultura juga telah meningkat. Menurut petani, meningkatnya pengetahuan ini disebabkan karena pengalaman mereka dalam menanam hortikultura pada beberapa tahun sebelum konfrontasi dan juga selama mereka menjadi buruh tani pada migran Tionghoa. Pada tahun 1985 ini, ladang-ladang penduduk telah ditanami dengan tanaman hortikultura secara berkesinambungan. Mereka mengatakan bahwa Tanah telah digunakan untuk penanaman yang tidak mengenal waktu ‘istirahat’ bagi tanah.

Apabila petani menilai bahwa tanahnya telah terlalu ‘capek’, maka petani akan memberi waktu ‘istirahat’ bagi tanah tersebut dengan menanam jagung untuk satu periode tanam. Menurut petani tanaman jagung mampu mengembalikan produktifitas tanah (8). Setelah jagung dipanen, maka petani akan langsung menanam lagi tanaman hortikultura sesuai dengan pilihan mereka masing-masing. Pilihan mengistirahatkan tanah dengan menanam jagung ini cenderung dilakukan oleh hampir semua petani di Gurusinga.

Menurut petani, pada masa ini, mereka telah mulai mencampur tanaman mereka dengan tiga jenis tanaman pada satu lahan, atau pola tanam tumpang tindih (relay cropping) atau pola tanam bertingkat. Petani-petani membedakannya dengan pola pada awal mereka mulai menanam dengan hanya satu jenis tanaman saja, atau hanya mencampur dua jenis tanaman, misalnya kol atau kentang, atau mencampur wortel dengan daun bawang.

Sejak saat ini, peningkatan pemanfaatan lahan bertambah ke arah utara dan barat desa, yaitu ke Dusun III dan ke arah kaki Bukit Deleng Kutu (9). Pada tahun 1990, luas areal perladangan telah mencapai 315 ha. Dengan demikian, hamper seluruh tanah kosong yang tadinya berupa semak belukar telah dimanfattkan menjadi lahan perladangan, baik dari arah timur, barat, selatan, dan utara Desa Gurusinga. Petani-petani Gurusinga menanami ladang mereka dengan pilihan percampuran tanam yang berbeda. Beberapa di antara petani memilih jenis tanaman yang sama. Namun, mereka memilih jumlah yang berbeda untuk masing-masing jenis tanaman tersebut, dan juga memilih penataan ruang yang berbeda untuk ladang mereka. Beberapa petani lainnya memilih penataan ruang yang cenderung sama, namun mereka memilih jenis tanaman yang berbeda. Beberapa di antara petani-petani di Gurusinga juga memiliki keahlian-keahlian khusus dalam perawatan jenis tanaman tertentu.

Bentuk percampuran tanaman yang sangat beragam seperti ini dibarengi dengan kemampuan petani dalam mengelola sumber daya alam dan mengembangkan strategi-strategi baru dan percobaan-percobaan dalam bidang percampuran tanamana atau pola tanam. Aumeeruddy (1995) menyebutkan bentuk percampuran tanaman yang sangat beragam ini dapat terlihat seperti hutan kebun (10).

Penutup

Deskripsi ini memberikan suatu pemahaman bahwa kriteria periodesasi pembagian waktu itu dapat berbeda-beda untuk setiap komunitas. Setiap kelompok atau bahkan setiap individu dapat mempunyai kriteria periodesasi waktu tersendiri berdasarkan apa yang mereka alami dan mereka rasakan dalam kehidupan mereka pada saat itu, apakah saat-saat bahagia atau menyedihkan.

Deskripsi ini juga menunjukkan bahwa setiap lapisan atau sekelompok komunitas memiliki konsepsi tersendiri tenteng untung dan rugi, bahagia dan sengsara. Konsepsi-konsepsi mikro dari petani-petani tersebut mengenai dunia mereka adalah merupakan gambaran dari kondisi makro yang dihadapi oleh pemerintah dalam lingkup yang lebih luas. Ada keterkaitan perkembangan dunia usaha dengan politik, dengan kebijakan perekonomian pada tingkat pusat yang lebih besar. Imbas yang lebih luas adalah bahwa kebijakan pada tingkat makro itu akan dirasakan langsung akibatnya oleh petani-petani kecil di wilayah pedesaan yang bergerak langsung di sektor produksi sebagai produsen.

catatan kaki : 

(6)   Ukuran lahan yang dikategorikan petani dengan luas tidak mempunyai ukuran standar. Bagi mereka yang kurang bemodal besar,  ladang seluas 1000 m2 sudah disebut sangat luas. Sementara bagi petani lainnya, ladang yang disebut luas adalah yang berukuran 5000 m2 atau lebih.

(7)   Tanah-tanah kosong itu selama ini berupa semak belukar karena tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya. 

(8)   Namun, petani-petani di Gurusinga  tidak dapat menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Mereka hanya mengatakan bahwa akar jagung mampu menyerap racun atau semua penyakit yang ada di tanah, dan ‘kumis’ jagung yang jatuh ke tanah menjadi pupuk yang baik bagi tanah. Beberapa petani lain mengatakan bahwa mereka mengetahui hal ini dari pengalaman petani lainnya. Menurut pengalaman beberapa petani, apabila tanaman yang ditanam di atas tanah tersebut sudah sering diserang hama atau penyakit, maka mereka biasanya menanam jagung untuk satu kali periode tanam. Setelah itu tanaman yang ditanam pada lahan tersebut akan kembali berhasil dengan baik.

(9)   Penduduk mengatakan bahwa Bukit Deleng Kutu ini adalah bukit keramat. Mereka menjelaskan bahwa mereka dilarang untuk mengolah bukit ini menjadi perladangan. Petani juga mengatakan bahwa hinggag saaat ini belum ada seorang penduduk yang membuka lokasi perladangan di bukit tersebut dan tidak melakukan penebangan pohonpohon di bukit tersebut.

(10)                       Aumeeruddy (1995) dengan studi ‘phytopractices’ menunjukkan bahwa petanipetani di wilayah tropic (secara individu) telah melakukan seleksi terhadap tanaman liar dan mengembangkan metode-metode tertentu dalam percampuran tanaman (lihat juga tulisan Tahir 1974).


Daftar Pustaka

Aumeeruddy, Y.
1995 “Phytopractices: Indigenous Horticultural Approaches to Plant Cultivation and Improvement in Tropical Regions.” Dalam D.M. Warren, L. J. Slikkerveer. Dan D. Brokensha (eds) The Cultural Dimension of Development Indigenous Knowledge System. Intermediate Technology Publication, hal.308-322.

Bernard, H. Russel.
1994 research Methods in Anthropology: Qualitative and Quantitative Approach. Second edition. California:Sage Publication Inc.

Cleveland, D.A.
1993 “Is Variety More than Spice of Life: Diversity, Stability, and Sustainable Agriculture,”Culture and Agriculture:2-7

Shand, Hope
1997 Human Nature: Agriculture Biodiversity and Farm - Based Food Security. RAFI. Canada: Design Co.

Tahir, S.M.
1974 “Meningkatkan Produktivitas Tanah di Indonesia dengan ‘Multiple Cropping’. Majalah Pertanian. No.30 Tahun ke IV. Jakarta: Dept. Pertanian.

Vredenbergt, J.

1984 Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.


Sumber Tulisan : Repository.usu.ac.id

No comments:

Post a Comment