26 October 2011

"Opedenga mengongsi" ( Perkembangan Pertanian Karo bagian 1)

Pemandangan Pasar Brastagi
Overzicht van de markt te Berastagi, Karolanden, Sumatra`s Oostkust
1920-1925
Source : Tropenmuseum
Sebahagian besar petani lanjut usia (di atas 60 thn) selalu mengawali pembicaraan mereka mengenai sejarah hortikultura dengan sebuah senyum bahagiaseolah bernostalgia dengan serangkaian sejarah hidup mereka.... Pada saat ini, hasil ladang dibawa ke pasar di Berastagi dengan cara menjunjung di atas kepala (ijujung). Petani harus berangkat dari Desa Gurusinga berkisar pukul 04.00 wib atau 05.00 wib pagi. Pedati (gereta lembu) dapat digunakan, tetapi sewanya mahal dan juga ada rasa takut karena kondisi jalan masih berlubang-lubang dengan kedalaman mencapai 0,5 meter.


PERIODESASI WAKTU BERDASARKAN PENGALAMAN PETANI:
Kajian Antropologi Mengenai Periode Perkembangan Budidaya Hortikultura Di Berastagi Kab. Karo.

Oleh Sri Alem Br.Sembiring (1)
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara

Pendahuluan
Tulisan ini mendeskripsikan bagaimana petani membuat pembagian periode waktu untuk menentukan perkembangan kegiatan pertanian mereka, khususnya kegiatan praktik tanam campuran hortikultura di lahan pertanian mereka. Hal yang menarik dari pembagian waktu berdasarkan kriteria periodesasi versi petani ini adalah bahwa periode itu didasarkan kepada pengalaman-pengalaman historis petani dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain. Pengalaman-pengalaman itu dapat berupa hal yang menggembirakan, menyedihkan, menggelisahkan atau menakutkan yang dibarengi rasa was-was akan kerugian atau keuntungan hasil ladang.

Pengalaman-pengalaman itu bervariasi dari masing-masing petani. Namun mereka dapat mengkaji secara makro apakah situasi itu akan menguntungkan atau merugikan bagi mereka. Secara umum, setiap petani senantiasa cenderung menghubungkan ungkapan pengalaman mereka dengan perkembangan situasi politik pada setiap periode waktu tertentu yang berimbas dengan kegiatan pertanian dan keuntungan atau kerugian yang mereka peroleh dari hasil panen.

Kegiatan budidaya hortikultura yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah kegiatan penanaman bermacam-macam jenis tanaman hortikultura dalam satu lahan pertanian milik petani. Teknikpenanaman semacam ini senada dengan isu saat ini ‘hangat’ dibicarakan kalangan iluwan dengan kata kunci ‘biodiversity’ (keanekaragaman hayati) yang dapat mempertahankan sistem pertanian yang berkelanjutan. Cleveland (1993) menyebutnya dengan ‘sustainable agriculture’ yang sangat penting untuk mempertahankan stabilitas pertanian (lihat juga tulisan Shand 1997).

Sisi Historis Perkembangan Budidaya Hortikultura
Uraian berikut ini akan memberikan suatu penggambaran bahwa periodesasi perkembangan budidaya hortikultura itu juga erat berkaitan dengan aspek perkembangan pengetahuan penduduk, interkasi penduduk dengan para migran, kebijakan pemerintah di bidang politik, perkembangan pemanfaatan sarana jalan dan transportasi, perkembangan pemanfaatan lahan dan secara tidak langsung dengan perkembangan jumlah penduduk.

Deskripsi berikut ini akan menunjukkan aspek ‘the whole’ dari suatu kajian antropologi. Perhatian secara holistik ini cenderung memberikan suatu gambaran yang lebih mendetail mengenai suatu topik yang ditinjau dari banyak sisi dan menunjukkan hubungan antara satu sisi dengan sisi lainnya sebagai suatu sistem terkait (lihat dalam Vredenbregt 1984: Bernard 1994).

1. Periode Zaman Belanda
Apabila kita menanyakan tentang sejarah tanaman hortikultura di desa ini, hampir seluruh petani akan memulai penuturannya dengan kalimat, “dulu pada waktu jaman Belanda ....”. Zaman Belanda merupakan salah satu awal perhitungan sejarah penting bagi petani di Kab Karo, khususnya di Desa Gurusinga.


Kriteria periodesasi itu diawali dengan periode Zaman Belanda. Istilah lain yang digunakan untuk menyebut periode ini adalah opedenga mengongsi (sebelum engungsi), atau opedenga kirim (sebelum adanya pengiriman produk pertanian untuk kebutuhan ekspor). Istilah-istilah ini digunakan penduduk untuk menyebutkan apa yang terjadi pada tahun 1913. Kesamaan perhitungan waktu di antara penduduk berlaku untuk masa sesudahnya, yaitu masa sesudah mengungsi.

Perbedaan penggunanaan istilah ini, seperti opedenga mengongsi atau opedenga kirim cenderung disebabkan beberapa hal. :

Pertama, penduduk mempunyai pengalaman hidup yang sangat menyakitkan selama pengungsian, sehingga melekat dalam ingatannya adalah masa sebelum mengungsi. Beberapa penduduk lainnya menghubungkan dengan waktu pengiriman barang untuk kebutuhan ekspor, karena pilihan tanaman mereka terutama ditujukan untuk kebutuhan ekspor, seperti kentang atau kol. Atau, karena penduduk tersebut mendapat keuntungan besar pada saat adanya pengiriman hasil produksi pertanian untuk ekspor pada awal tahun 1950, sehingga mereka membedakannya antara adanya pengiriman dan sebelum pengiriman barang hasil produksi pertanian.



Pertanian Kol
Kool-aanplant, Karo-hoogvlakte, Sumatra
Date 1900-1940 (globaal)
Source : Tropenmuseum
Author niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer)


Membawa Kol ke Medan menggunakan truk
Kool wordt met behulp van een vrachtauto 
van de Karohoogvlakte naar Medan gebracht,  Sumatra 
Date 1900-1940 (globaal)
Source Tropenmuseum
Author niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer)

Sebahagian besar petani lanjut usia (di atas 60 thn) selalu mengawali pembicaraan mereka mengenai sejarah hortikultura dengan sebuah senyum bahagia, seolah bernostalgia dengan serangkaian sejarah hidup mereka. Menurut mereka, tanaman hortikultura pada Zaman Belanda yang telah menghilang saat ini hanya sedikit. Hanya jenis tangho yang sudah tidak di tanam lagi, karena sangat susah untuk memasarkannya.

Jenis hortikultura lainnya yang saat ini sudah mulai susah ditemukan adalah andebi dan peleng(2). Ketiga jenis tanaman ini adalah tanaman favorit pada Zaman Belanda, begitulah mereka menuturkannya. Ketiganya banyak di tanam di sekitar Gurusinga, khususnya di Tangkulen (Dusun IV), mengingat lokasi dusun ini sangat dekat dengan kompleks perumahan orang-orang Belanda di jalan Udara, tepatnya di desa Gundaling II.

Jenis hortikultura lainnya yang muncul hampir bersamaan adalah kentang bibit Holland (‘Solanun tuberosum L’), kubis (‘Brassica oleracexa/Brassica olerceaevar capitata L’) yang diperkenalkan oleh imigran Tionghoa, sayur putih (‘Brassica campestris var pekinensis Rupr’), dan buncis (‘Phaseoulus vulgaris L’). Buncis merupakan tanaman terakhir pada periode ini (3).

Disamping itu, menurut penduduk juga terdapat beberapa jenis hortikultura local (4), seperti; selada air (sayur parit), tomat lokal (buahnya sangat kecil), labu jipang, labu kuning (labu siam), labu putih (walo), daun labu, dan kangkung.

Pada saat ini (tahun 1946), jumlah penduduk berkisar 202 kk. Pemanfaatan lahan hanya berkisar 60 ha dengan tanaman dominan padi dan jagung. Pada tahun ini juga sudah terdapat beberapa migran Tionghoa menyewa ladang-ladang petani di Dusun IV (Tangkulen) untuk menanam tanaman muda (berusia tiga atau empat bulan), seperti kubis dan kentang. Ladang-ladang petani di dusun IV (Tangkulen) disewa oleh beberapa migran Tionghoa dengan masa sewa berkisar antara 1-3 tahun dan luas ladang mencapai 1- 3 ha. Perjanjian sewa-menyewa disepakati dengan catatan bahwa pihak penyewa tidak diizinkan menanam tanaman padi dan jagung, hanya tanaman muda. Disamping itu, pekerja pada ladang sewaan adalah petani pemilik ladang, dan dapat ditambah dengan pekerja lain apabila dianggap belum mencukupi.

Pada masa ini, petani Gurusinga belum menanam tanaman muda dengan tujuan untuk dijual ke pasar atau untuk eksport, karena tidak memiliki modal dan belum mengetahui cara perawatannya. Pada tahun 1946 ini, sarana jalan desa di kuta (Dudun I dan II) masih merupakan jalan tanah dengan luas 4-5 m. Sementara, di Dusun Korpri (Dusun III) belum ditemukan sarana jalan (transportasi), hanya tersedia jalan tikus menuju Kota Kabanjahe dan Desa Kaban yang merupakan desa tetangga Gurusinga.

Areal-areal perladangan lain masih dibiarkan kosong oleh pemiliknya. Pada saat ini, hasil ladang dibawa ke pasar di Berastagi dengan cara menjunjung di atas kepala (ijujung). Petani harus berangkat dari Desa Gurusinga berkisar pukul 04.00 wib atau 05.00 wib pagi. Pedati (gereta lembu) dapat digunakan, tetapi sewanya mahal dan juga ada rasa takut karena kondisi jalan masih berlubang-lubang dengan kedalaman mencapai 0,5 m (5). Lubang ini disebabkan oleh bekas roda pedati lembu atau kerbau pada musim hujan. Pada saat itu, angkutan bus hanya tersedia pada musim kemarau.


bersambung ke bagian 2




Pekerja bekerja pada pembangunan jalan di Tanah Karo ,Sumatera Utara
Arbeiders werken aan de aanleg van wegen in de Karolanden, Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum


Jalan raya di Berastagi, Sumatera Utara
Autoweg bij Berastagi, Noordoost-Sumatra
Date 1931(1931)
Source Tropenmuseum

(1)   Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis dalam rangka penulisan tesis Magister selama enam bulan di Berastagi, khususnya di Desa Gurusinga yang merupakan Desa terluas areal pertaniannya di Wilayah Kecamatan Berastagi. Tulisan ini secara mikro adalah potret dari Desa Gurusinga khususnya. Setelah dikonformasi dengan beberapa desa lain di Wilayah Kecamatan Berastagi,  maka tidak berlebihan jika penulis mengatakan bahwa apa yang tertera dalam tulisan ini adalah merupakan kondisi makro umum di Kecamatan Berastagi.



(2)   Penduduk tidak mengetahui apa penyebutan tanaman ini dalam bahasa Indonesia. Selain itu untuk menemukan jenis tanaman ini sudah sangat susah satt ini. Penduduk hanya menyebutkan bahwa jenis ini hampir sama dengan jenis petsai (Brassica campestris var. pekinensis Rupr. atau Brassica sinensis).



(3)   Kentang diperkirakan penduduk mulai ditanam pertama kali di Gurusinga pada tahun 1925, dengan jenis bibit Holland yang dibawa oleh pemerintah Belanda. Beberapa penduduk juga mengatakan, bahwa tanaman daun prei dan daun sop juga telah ditemukan di desa lain, namun belum ditanam di Gurusinga.

(4)   Lokal dalam pengertian penduduk adalah, bahwa jenis tanaman tersebut telah ada sebelum kedatangan Belanda atau sebelum mengungsi.

(5)   Menurut petani, persiapan yang dilakukan sangat merepotkan. Pengepakan barang harus selesai sehari sebelumnya. Berangkat dari desa secara berkelompok (antara 5-6 orang) pada subuh pagi hari dengan membawa obor untuk menerangi jalan. Tiba di Berastagi  berkisar pukul 07.00 Wib.

No comments:

Post a Comment